Mengejar Cinta Pertama

Mengejar Cinta Pertama
11-Surat Keterangan Magang


__ADS_3

*****


Siang harinya,


*Pesan singkat melalui WA*


Adek Lucknut: Kakakku sayang, ingat adikmu akan magang di perusahaan PURNAMA GROUP seminggu lagiii😘😘


Produk Percobaan: Lah, kok cepet? katanya sebulan lagi?


Adek Lucknut: Lebih cepat, lebih baik 😉😘


Produk Percobaan: Ya


Adek Lucknut: Thanks kakakkuh sayang😘, titip salam kangen sama pangeranku😍😍


Produk Percobaan: (read)


"Jiaaaah read doang. Bilang iya kek, oke kek, yes, atau iya adek cantik kesayangan kakak nanti di sampaikan atau apalah itu. Heeeeh, dasar. Gini nih kalo produk percobaan, untung ganteng, kalo gak jadi produk gagal." omel Rain.


*Nama kontak Rain di handphone Roni ialah "Adik lucknut", sedangkan nama kontak Roni di handphone Rain "Produk Percobaan".


*****


"Permisi kak, kak Roni ada di ruangan?"


"Pak Roni sedang ada meeting nona, sekitar pukul 3 beliau kembali lagi ke kantor."


"Kalau pak Rian, meeting juga ya?"


"Iya, nona."


"Ok kak, terimakasih. Kalau gitu aku tunggu diruangannya kak Roni aja ya."


"Iya silahkan, nona."


Rain sengaja datang tidak memberitahukan kakaknya tentang kedatangannya. Ia mau menyerahkan Surat Keterangan Magang dari kampusnya melalui kakaknya.


Ia duduk menunggu kepulangan Roni di sofa ruangan itu sambil membaca novel online kesukaannya di handphone untuk menghilangkan rasa bosannya selama 2 jam ke depan. Satu jam kemudian tanpa ia sadari, ia tertidur dengan posisi berbaring.


"Peletak" bunyi jidat Rain seperti terhantuk sesuatu


Rain kaget langsung bangun dari posisi tidurnya.

__ADS_1


"Kakak"


Ternyata itu kakaknya yang menyentil jidat Rain.


"Ngapain kesini? Gak bilang-bilang lagi."


"Mau nganter nih surat kak, biar cepet aku magang disini." Rain menyodorkan suratnya dan menaik turunkan alisnya.


"Kenapa gak langsung anter ke HRD?" Tanya Roni


"Haaa, kenapa kakak gak bilang?" Rain bertanya dengan merapatkan gigi dan membelalakkan matanya, dan juga sedikit mendongakkan kepalanya meratakan dengan pandangannya kearah Roni.


"Ya lagian, gak nanya dulu tadi."


"Benar juga." Mata Rain meredup dan membenarkan perkataan kakaknya di dalam batin.


"Terus ngapain dari tadi aku nungguin lama disini kalau ternyata surat ini boleh langsung di anter ke HRD. Mending aku tiduran di rumah Ica, enak ada temen ngobrol, dari pada disini. Wajah tampan mas Iyan pun gak ada kelihatan. Oh, iya, mas Iyan... " Gumam Rain


"Kak..."


"Udah, sana. Turun ke lantai 23, cari ruangan HRD. Kakak udah informasikan kepada mereka. Habis itu pulang, jangan kemana-mana lagi. Dan jangan naik lagi kesini." Potong Roni.


"Yaaah, kak Roni. Aku baru aja mau nanya mas Iyan dimana." Keluh Rain.


"Udah. Sana." Roni mendorong punggung Rain.


"Gak ada. Udah pulang." Balas Roni


"Ih bohong, belum jam pulang juga."


"Udah lah dek, mau antar suratnya sekarang atau cancel aja magangnya?" Ancam Roni.


"Mana bisa gitu." Protes Rain


"Makanya antar sekarang. Ingat jaga sikapmu. Jangan mentang-mentang adik kakak."


Rain mencebikkan bibirnya.


"Boleh ketemu mas Iyan dulu gak?" Rain memaksa menoleh kakaknya dalam keadaan punggungnya yang kembali di dorong kakaknya.


" Gak ada. Dia sibuk, jangan di ganggu." Jawab Roni.


"Yaah, lihat dikit aja, boleh ya." Pinta Rain.

__ADS_1


"Gak!"


Pintu dibuka, lalu Rain di dorong keluar. Pintu langsung di tutup Roni.


Rain dengan muka kesal mendumel di dalam hati.


Tak sengaja, langkah kaki seseorang terhenti dengan posisi menyampingkan Rain, dan sedikit menoleh. Kemudian berlalu menuju lift.


Rain terdiam, melihat sang pujaan hatinya berhenti di depan matanya.


"Pucuk di cinta, kesayangan pun di depan mata."


Rain menyimpulkan senyum, sedikit menunduk, dan memejamkan mata sejenak, merasa agak malu-malu senang.


Ia mengikuti langkah kaki Rian menuju lift. Dan berhenti di samping Rian yang memencet tombol lift khusus petinggi di perusahaan untuk turun ke lantai bawah. Pintu terbuka, Rian langsung masuk ke dalam lift. Tanpa aba-aba, Rain mengikuti Rian masuk, langsung memencet tombol 23 dan berdiri di belakang Rian.


Pintu lift tertutup, dan perlahan mulai turun. Suasana di lift hening. Rain melihat sisi dari punggung Rian yang perfect.


"Duhhh, Lihat aku dong mas. Lihat wajah aku yang imut ini, wajah yang udah lama gak kamu lihat. Lihat aku sekarang. Lihaaat!!. Mungkin kemarin kami malu karena terkejut. Masa iya sampai sekarang masih terkejut" Perintah Rain dalam hati. Namun Rian hanya berdiri tegak dengan wibawanya seorang CEO perusahaan.


"Kok gak ngelihat juga ya. Masak aku yang ngomong duluan? mau ngomong apa nih?. Sapa gak yah? Akhh, nanti gak di jawab lagi. kan krik krik krik nanti jadinya. Lagian nih orang, gak mau gitu nyapa aku dikit aja? Emang pelit, kayak emas aja suaranya. Cobak nanya kabar aku kek, aku udah makan atau belum. Dia gak kangen apa sama aku? Atau dia udah punya pacar? Apa mungkin ia sudah tunangan? Apa mungkin sekarang lagi merencanakan pernikahan? Gak mungkin gak mungkin. Dia kan nyuruh aku nungguin dia, dulu. Ya gak mungkin lah dia selingkuh. Ayo dong, buka suaranya, tanya-tanya aku. Emmm, lama banget. Eh, nanti kalo gak di sapa duluan, mubazir lagi. Nunggu dia yang nyapa duluan, yaa sampe subuh gak akan di sapa kalo kayak gini modelannya sekarang, dingin. Tapi aku nanya apa nih.. Basa basi dulu aja deh. Kalo aku yang mulai turun harga diriku. Ah bodoh amatlah dengan harga diri " Rain melihat bahwa sekarang sudah di lantai 24. Ia pun panik.


"Mmmm, mas udah punya pacar?" Tanya Rain gugup. Ia menunduk menepuk jidatnya sendiri, kenapa pertanyaan itu yang lolos dari mulutnya.


"Silahkan keluar." Jawab Rian datar memandang lurus kedepan.


Lift yang membawa mereka sudah tiba di lantai tujuan Rain, pintu lift pun terbuka. Dengan kaki lunglai ia keluar dari lift, merutuki dirinya sendiri.


"Lain kali jangan menggunakan lift ini jika tidak ada keperluan penting." Terang Rian.


Rain hanya menganggukkan kepala dan mengangkat tangan, menyatukan jari telunjuk dan jempolnya mengisyaratkan kata oke, tanda meng iya kan, tanpa melihat kebelakang.


Lalu pintu lift tertutup lagi.


Mata para karyawan yang berada di sana melihat ke arah Rain, karena menganggap Rain sangat berani masuk ke lift khusus petinggi apalagi di dalamnya ada CEO perusahaan, ada juga sebagian karyawan mengira bahwa Rain adalah saudara atau orang kenalan dekat dengan bos mereka, ada juga yang menyinyir Rain genit.


Rain tak menghiraukan pandangan orang-orang sekitar, menegakkan kembali badannya dan berjalan lurus sambil mencari-cari papan bertuliskan "HUMAN RESOURCE DEPARTEMEN".


Setelah menemui ruangan itu, ia menyerahkan surat keterangan magangnya kepada karyawan yang bertugas di divisi tersebut, tanpa panjang lebar ia pun keluar, sambil mengingat gambaran wajah Rian tadi yang ia lihat sambil tersenyum. Ia tak menghiraukan siapapun yang melihatnya saat ini.


_


_

__ADS_1


_


#bersambung...


__ADS_2