
Bunda Wulan membuka matanya setelah cukup lama pingsan, bahkan Ayah Arif sampai memanggil seorang dokter kepercayaannya karena Bunda Wulan tidak segera sadar. Bunda Wulan kembali menangis saat mengingat apa yang menyebabkan dirinya pingsan dan tidak sadarkan diri.
" Ayah, Satria Yah. Anak kita " ucap Bunda Wulan menangis kembali.
Ayah Arif pun menarik Bunda Wulan ke dalam pelukannya dan mencoba untuk menenangkannya. Ia pun sama khawatir dan terlukanya saat mendengar kabar mengenai putranya itu tapi Ayah Arif berusaha untuk tegar dan menguatkan istrinya.
" Bunda tenang ya, Satria sudah di tangani oleh dokter terbaik di sana. Anak kita itu laki-laki kuat jadi pasti dia akan baik-baik aja " ucap Ayah Arif pada Bunda Wulan.
Tidak jauh berbeda dengan Bunda Wulan, Puspa juga terus menangis di dalam pelukan Rendra. Adik satu-satunya sekarang dalam keadaan kritis tentu saja ia sangat khawatir.
" Ayah, kita ke Medan ya sekarang. Bunda mau liat Satria, Bunda mau temani anak kita " ucap Bunda Wulan pada Ayah Arif.
Ayah Arif melirik Rendra karena ia tidak tahu mereka bisa tidak menemui Satria jika mereka pergi ke Medan.
" Bunda, sebaiknya kita semua tetap di sini. Kita tidak akan bisa menemui Satria walaupun kita pergi ke Medan karena keberadaan Satria sekarang sedang disembunyikan. Hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya dan kita sebagai keluarganya. Satria di sana sudah dijaga dan dirawat oleh orang-orang terbaik. Kita hanya bisa mendoakan untuk kesembuhan Satria di sini " ucap Rendra mengerti kode dari Ayah Arif.
" Kenapa? Bunda mau ketemu Satria, Ayah. Satria anak kita, kenapa mereka melarang kita untuk menemui anak kita " bentak Bunda Wulan semakin histeris.
Perasaan Bunda Wulan begitu hancur saat putranya dalam keadaan seperti ini ia tidak boleh menemuinya. Ayah Arif pun semakin mengeratkan pelukannya pada Bunda Wulan.
" Bunda tenang ya. Bunda dengarkan Ayah, Satria seperti ini karena mencoba menangkap pelaku kejahatan dan pasti bos dari orang-orang itu akan mencari keberadaan Satria. Jika kita pergi ke Medan untuk menemui Satria dan mereka semua mengetahui itu maka itu sangat berbahaya juga buat Satria. Jadi kita tetap berada di sini dan mendoakan Satria sampai keadaannya membaik dan semua pelaku kejahatan itu tertangkap semua. Bunda gak mau kan Satria semakin bahaya dan sekarang Satria lagi gak bisa melindungi dirinya sendiri " ucap Ayah Arif memberikan pengertian kepada Bunda Wulan agar tidak memaksa untuk pergi ke Medan menemui Satria.
__ADS_1
Mendengar itu Bunda Wulan pun sedikit demi sedikit menjadi lebih tenang. Bunda Wulan hanya terdiam dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
" Rendra bawa Puspa ke kamar kalian. Kasian anak-anak kalian pasti sekarang mencari papa dan mamanya " ucap Ayah Arif pada menantunya itu.
" Iya Yah " jawab Rendra.
Setelah itu Rendra dan Puspa pun keluar dari kamar itu. Ayah Arif meminta Bunda Wulan untuk beristirahat dan menemaninya karena takut Bunda Wulan akan nekat melakukan hal yang buruk di keadaan yang sedang tidak baik-baik saja seperti ini.
***
Sementara itu di rumah sakit, semua orang yang menjaga Satria dibuat sangat cemas termasuk Sandi karena tiba-tiba perawat mengatakan jika detak jantung Satria melemah. Mereka semua menunggu di depan ruang ICU karena para dokter dan perawat sedang menangani Satria di dalam.
" Lo harus baik-baik aja, Sat. Kalau lo pergi ninggalin gue dengan cara kayak gini, gue gak mau anggep lo temen gue lagi. Lo kenapa harus nyelametin gue sih, jadinya lo yang kritis kan sekarang " ucap Sandi menatap Satria yang sedang dipasang alat-alat penunjang oleh dokter dari jendela kaca ruang ICU.
Sandi dan yang lainnya langsung menghampiri seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.
" Dok, Bripda baik-baik saja kan? " tanya Sandi tidak sabar karena ia sangat khawatir.
Komandan Anton menepuk pundak Sandi dan meminta Sandi untuk tenang. Komandan Anton juga meminta pada dokter itu untuk menjelaskan keadaan Satria.
" Detak jantung Bripda Satria masih sangat lemah saat ini. Beruntung tadi perawat cepat datang jika tidak mungkin Bripda Satria sudah kehilangan nyawanya. Kami sudah melakukan semua yang terbaik yang kami untuk Bripda Satria. Untuk saat ini kami akan memantau terus perkembangan Bripda Satria hingga detak jantung kembali normal. Tapi jika dalam waktu dua puluh empat jam masih tidak stabil juga, kita hanya bisa menunggu keajaiban dari Tuhan " ucap dokter itu menjelaskan.
__ADS_1
Sandi mengusap wajahnya dengan kasar mendengar kabar yang entah baik atau buruk, yang pasti ia harus memastikan jika keadaan Satria harus sudah stabil dalam waktu dua puluh empat jam.
" Saya meminta kalian terus berdoa untuk kesembuhan Bripda Satria karena doa yang sangat diperlukan oleh Bripda Satria. Besok malam pukul tujuh malam jika keadaan Bripda Satria belum stabil saya meminta kalian untuk berkumpul di sini " ucap dokter itu lalu pamit untuk pergi.
Semua orang yang ada di sana terus berdoa sembari menjaga Satria di depan ruangan itu agar saat ada perkembangan dari keadaan Satria mereka cepat mengetahuinya.
" Apa kita akan memberikan kabar ini pada keluarga Satria, Ndan? " tanya Sandi merasa keluarga Satria perlu mengetahuinya agar bisa mendoakannya juga.
Komandan melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
" Jika besok pagi keadaan Satria belum juga stabil kita akan memberitahu mereka. Untuk sekarang biarkan mereka istirahat karena mereka pasti juga sangat terpukul mendengar kabar ini " jawab Komandan Anton.
Sandi pun menganggukan kepalanya mengerti.
Komandan Anton sebenarnya sudah meminta Sandi untuk beristirahat malam itu agar kondisi tubuhnya cepat pulih tapi Sandi terus menolak karena ia juga ingin menjaga Satria dan mengetahui tentang semua perkembangan keadaan Satria.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih 😊🙏 Tetap dukung saya ya 😘
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " 😊🙏
Ada juga karya baru saya " Menikahi Ayah Nadia dan Suamiku Seorang Bodyguard " 😘
__ADS_1
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘