Mengejar Cinta Pertama

Mengejar Cinta Pertama
187. Temu Manten


__ADS_3

Setelah acara akad nikah setelah, Satria dan Kinara langsung pergi ke kamar Kinara untuk berganti pakaian adat Jawa untuk temu manten yang akan dilakukan hari itu juga.


" Kamu bisa ganti baju dulu setelah itu kita mulai make up " ucap make up artist pada Kinara.


" Baik Kak " jawab Kinara.


Kinara segera masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa pakaian rumahan dan mengganti gaun yang ia kenakan.


" Sayang, aku ke masjid dulu buat sholat dzuhur berjamaah " ucap Satria pada Kinara karena mendengar suara azan berkumandang.


Satria juga sudah berganti pakaian dengan baju Koko dam sarung. Ia akan melaksanakan sholat dzuhur berjamaah di masjid karena tidak mungkin ia sholat di rumah karena rumah sedang ramai dan juga kamar Kinara penuh dengan perlengkapan make up artist.


" Iya Mas " jawab Kinara.


Satria mengulurkan tangannya dan Kinara langsung meraihnya lalu menciumnya.


Setelah itu Satria keluar dari kamar dan pergi ke masjid bersama dengan yang lainnya.


Sedangkan Kinara segera di make up karena acara temu manten akan dimulai pukul dua siang nanti. Elsa dan Ayla juga masuk ke dalam kamar Kinara untuk di make up juga karena mereka akan menjadi pendamping Kinara nanti.


***


Tepat pada pukul dua siang, Satria dan Kinara sudah siap. Mereka menggunakan pakaian pengantin Jawa berwarna hitam. Satria dan Kinara berpisah sebentar sebelum mereka melakukan prosesi temu manten.


Temu Manten atau panggih dalam bahasa Jawa berarti bertemu. Maksudnya bertemu yaitu pertemuan antara pengantin wanita dengan pengantin pria di rumah kediaman wanita untuk melaksanakan prosesi perkawinan secara adat. Dalam acara ini ada tiga belas urutan yang harus Satria dan Kinara lalui.


Acara temu manten atau Panggih ini dimulai dengan mengarak pengantin wanita. Dua Satriyo Kembar atau Joko Kumolo bersama dua putri Domas atau Perawan Sunti mengarak pengantin putri dan kedua orangtuanya naik ke atas pelaminan. Di sini Satria dan Kinara menunjuk Raka dan Sandi serta Elsa dan Ayla karena memang yang menjadi pengarak pengantin serta pembawa kembar mayang haruslah pria dan wanita yang masih lajang.


Pemandu adat mulai memandu acara temu manten pada siang hari itu.


Setelah sampai di pelaminan, Kinara, Papa Lukman dan Mama Santi serta Elsa dan Ayla duduk di pelaminan. Sedangkan Raka dan Sandi akan menjemput Satria dengan membawa Kembar Mayang.


" Raka lucu ya, Ra. Aneh liat dia pakai baju kek gitu " bisik Elsa karena merasa lucu melihat Raka yang biasanya pecicilan menjadi kalem seperti itu.


Kinara pun tersenyum karena ia pun merasa demikian.


" Hust, jangan buat aku ketawa, Sa. Aku harus anggun hari ini " ucap Kinara karena ia takut kelepasan tertawa jika Elsa mengajaknya berbicara.


" Iya Ra, maaf " jawab Elsa.


Setelah itu mereka pun kembali diam.

__ADS_1


Setiba di tempat penjemputan Satria dan keluarganya, Raka dan Sandi akan mengarak untuk bertemu Kinara dan keluarga atau yang disebut Panggih.


Nah, masuklah di acara inti dengan Elsa dan Ayla membawa Kembar Mayang di pundak mereka mengarak Kinara dan keluarga untuk bertemu Satria dan rombongan. Dari arah berlawanan Raka dan Sandi, Satria, dan keluarga menuju ke arah Kinara.


Satria dan Kinara saling melempar senyum saat mereka sudah di pertemuan di tengah dan saling berhadapan.


" Bukannya tadi juga liat Ara dandan gini, kenapa sekarang semakin cantik " ucap Satria dalam hati terus menatap Kinara.


" Fokus Sat, pandanginnya nanti lagi. Itu pemandu adatnya sudah mulai " bisik Rendra karena Satria sudah tidak fokus dan tidak mendengarkan pemandu adat yang sedang bicara.


Satria langsung tersadar dan gelagapan karena ketahuan tidak fokus.


Setelah dipertemukan di tengah-tengah, Satria dan Kinara saling melempar gantal yang setelah mendengar arahan dari pemandu adat. Satria melempar ke arah dada, sementara Kinara melempar ke arah lutut. Gantal sendiri merupakan daun sirih yang ditali menggunakan tali benang putih .


Kemudian acara dilanjutkan dengan prosesi menginjak telur yang dilakukan oleh Satria atau pengantin pria.


" Silahkan injak telur itu, Nak. Lalu pengantin putri basuh kaki suamimu " ucap pemandu adat kepada Satria dan Kinara.


Satria menginjak telur atau ngidak endhog yang telah disiapkan. Dengan posisi berlutut, Kinara membasuh kaki suaminya dengan air yang sudah di persiapkan juga.


Selanjutnya adalah Sinduran, prosesi ini pasangan pengantin akan dipakaikan kain sindur yang berwarna putih dan merah.


Papa Lukman menarik atau membonceng kedua mempelai atau Satria dan Kinara, lalu Mama Santi mendorong dari belakang untuk berjalan menuju pelaminan.


" Hati-hati, Pa " ucap Mama Santi saat mereka hendak menaiki pelaminan.


Sesampai di kursi pelaminan, Papa Lukman memangku kedua mempelai yang duduk di atas pahanya. Ini adalah prosesi timbangan yang harus dilakukan.


" Lebih berat yang mana, Pa? " tanya Mama Santi karena itu termasuk prosesi timbangan.


" Sama saja " jawab Papa Lukman.


Papa Lukman menjawab demikian karena melambangkan jika kasih sayangnya untuk keduanya akan sama rata.


" Kayaknya berat kamu deh, Sayang. Papa bilang gitu biar gak keliatan kalau kamu lebih berat " bisik Satria setelah mereka berdiri berdampingan.


Kinara pun langsung menoleh dan mendelikkan matanya pada Satria.


Satria terkekeh. " Bercanda, Sayang " ucap Satria.


Kinara menggelengkan kepalanya karena di saat seperti ini Satria masih sempat menggodanya.

__ADS_1


Kemudian secara bergiliran dari Ayah Arif dan Bunda Wulan serta Papa Lukman dan Mama Santi akan meminum air degan. Sedangkan Satria dan Kinara diminta untuk duduk di pelaminan.


Acara dilanjutkan dengan kucar kucur. Pada prosesi ini, Satria mengucurkan beras dan uang receh kepada Kinara menggunakan sebuah kain. Adat ini memiliki makna sang suami atau pengantin pria akan memberikan nafkah wajib kepada istrinya.


" Selanjutnya dulangan, pengantin putra dan putri akan saling menyuapi " ucap pemandu adat.


Satria dan Kinara mengambil makanan yang sudah disiapkan dan saling menyuapi makanan satu sama lain, dilakukan sebanyak tiga kali. Sebagai doa semoga antara kedua mempelai akan rukun, saling membantu, dan saling mengerti dalam hidup berumah tangga nantinya.


Seperti dua hari sebelumnya, Satria dan Kinara kembali melakukan sungkeman tapi kini bukan hanya pada orang tua masing-masing tapi pada kedua mertua mereka juga. Satria dan Kinara bersimpuh di pangkuan Ayah Arif dan Bunda Wulan serta Papa Lukman dan Mama Santi secara bergantian. Kalimat yang mereka sampaikan kurang lebih sama yaitu ucapan terima kasih, permohonan maaf dan juga permintaan doa untuk mereka.


Prosesi ini melambangkan bahwa kedua mempelai menghormati kedua orang tua, berterima kasih atas jasa-jasanya, dan memohon restu untuk hidup berumah tangga.


Kinara kembali menangis di pangkuan kedua orang tuanya dan juga mertuanya. Sedangkan Satria sudah lebih tegar sekarang.


" Sudah, Sayang " ucap Satria mengusap punggung Kinara.


Setelah itu selesailah acara temu manten atau Panggih Satria dan Kinara. Mereka turun dari pelaminan dan pergi beristirahat. Acara dilanjutkan dengan makan-makan dan mengobrol dengan para keluarga dan kerabat serta tetangga.


Tapi sebelum benar-benar pergi untuk beristirahat, Satria dan Kinara mengabadikan momen-momen itu bersama keluarga dan sahabat.


" Kita pamit dulu ya. Mau istirahat " ucap Satria karena ia tidak tega melihat Kinara yang sudah kelelahan.


Satria dan Kinara pun langsung pergi ke kamar Kinara. Kinara dibantu oleh make up artist untuk melepaskan pakaiannya dan menghapus make up nya. Sedangkan Satria harus pergi ke masjid karena waktu Ashar telah tiba.


***






Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih 😊🙏 Tetap dukung saya ya 😘


Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " 😊🙏


Ada juga karya baru saya " Menikahi Ayah Nadia, Suamiku Seorang Bodyguard dan Malam Panas Dengan Kak Aska " 😘


Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘

__ADS_1


__ADS_2