Mengejar Cinta Pertama

Mengejar Cinta Pertama
3-Menyerah?


__ADS_3

Di kediaman Cahyaguna, mama Wulan sudah gelisah menunggu kepulangan putri tercintanya. Tak sabar menunggu, dia mengambil telepon genggamnya di atas nakas, dan menekan kontak telepon dengan nama "Princessnya Mama".


*****


Suasana redup di dalam bioskop dengan suara-suara aneh berdengung di telinga disertai pula dengan suara audio yang cukup keras memenuhi ruangan, membuat tubuh meremang hingga penonton berteriak dan terkejut ketika adegan jumpscare nya muncul.


Rain, bagas dan penonton lainnya sedang menampakkan wajah tegang ketika seorang anak kecil terjebak ke dalam tempat yang gelap. Anak itu terkurung di sebuah gudang tua yang sudah lama tidak disentuh tangan manusia. Ia terduduk menahan tangis mencari kakaknya yang terpisah.


Terdengar suara langkah kaki menuju ke arahnya. Anak itu masuk kedalam lemari kayu. Anak kecil memeluk kedua kakinya yang di tekuk dengan badan gemetaran dan keringat bercucuran, kepalanya menunduk, ia merapatkan kedua mulutnya agar tak mengeluarkan suara agar tidak ketahuan. Tak lama suara itu menghilang. Hening... Ia merasakan seperti ada sesuatu yang memenuhi ruang kosong di depannya. ia memberanikan diri mendongakkan kepala dan...


"aaaaaaaaaaaaaaaaa" teriak Rain disebabkan karena getaran yang bersumber dari tas ransel yang ia peluk.


TINUNIIIIIIIT TINUNIIIIIIIT (begitulah kiranya bunyi dering ponsel Rain berbunyi lantang)


Rain malu gak ketulungan, karena dalam ruangan bioskop itu hanya dia saja yang berteriak dan itu cukup membuat Rain menjadi pusat perhatian oleh para penonton lain. Rain menunjukkan gigi rapi yang putihnya sambil menganggukkan kepala kepada para penonton yang melihatnya, sebagai tanda permohonan maaf.


"Lo sih, kenapa HP nya gak di silent?" Bisik Bagas.


"Ya, sorry. Gue lupa." Jawab Rain sambil menekan tombol hijau dilayar ponselnya.


"Hallo ma. Rain lagi di bioskop. Kenapa?" jawab Rain berbisik pada ponselnya.


"Apa? Kamu masih tanya kenapa?" teriak mama Wulan di seberang sana membuat gendang telinga Rain sakit.


"Sayang, ini sudah jam berapa?. Pulang! Tadi pagi kamu sudah janji apa sama papa. Sebelum jam 6 kamu harus sudah nyampe di rumah, mama gak mau tau!" perintah mama Wulan.


"mama, 20 menit lagi dong? tega sekali mama. Setengah enam lah ya ma Rain nyampe rumah. Nanggung filmnya bentar lagi habis" Rain mencoba bernegoisasi dengan mama nya berharap sang mama akan setuju.


" gak ada discount-discount waktu lagi, pulang sekarang! Papamu marah." mama Wulan langsung menutup panggilannya.


Rain menghembuskan nafasnya dan merasa bersalah kepada Bagas karena tidak bisa lanjut menonton bioskop. Sepertinya mamanya sangat marah hingga tidak bisa dibantah lagi.

__ADS_1


"Gas, sorry gue harus pulang. Sirine sudah bunyi nih" Rain mengartikan sirine sudah berbunyi sebagai tanda bahwa mamanya menegaskan untuk pulang.


"Ya udah, gapapa. Ayok kita pulang." Ajak Bagas


"Eh, gak enak kan akunya. Elo duduk aja disini lanjut nonton." jawab Rain merasa tidak enak dengan bagas karena harus mengganggu acara menontonnya.


"Pulang bareng aja. Percuma gue duduk disini sendiri gak ada temen."


"Ya udah deh, ayok. Tapi maafin ya."


"Iya, santai aja kali." Jawab Bagas sambil mengacak rambut Rain.


Mereka pun berpisah langsung dari Mall itu karena sebelumnya mereka menggunakan mobil masing-masing.


Sesampainya di rumah, Rain disambut dengan ocehan sambil mencipika cipiki mamanya, kemudian masuk ke kamar dan segera mandi supaya tidak diserbu dengan omelan mamanya lagi.


Rain menggunakan pakaian rumahan seperti biasanya, kaos oblong dan hot pants, lalu berbaring santai di kasur sambil melanjutkan menonton drakor yang sempat terhenti ia tonton kemarin di ponselnya.


"Ya ampun sayang, tamu kita hampir sampai dan kamu belum siap-siap juga?" Tegur mama Wulan.


"Ini udah siap kok ma." Jawab Rain santai.


"Dengan pakaian seperti ini?"


"Iya ma, kan makan malamnya cuma di rumah"


"Aduh, kamu ini susah ya di kasih tahu. Sini mama cariin pakaian untuk kamu pakai malam ini." Mama berjalan ke arah lemari Rain dan melihat pakaian disana di dominan dengan baju hitam yang tampak biasa.


Rain memang memiliki selera style cewek mamba. Yang hobby dengan fashion yang tergolong simple dan serba hitam.


Sedangkan sang mama kembali ke kamarnya mengambil dress lamanya untuk di kenakan oleh anak kesayangannya.

__ADS_1


"Sayang, pake dress ini, biar anak mama lebih cantik. Mama gak mau denger bantahan kamu lagi." Perintah mama Wulan.


Rain malas untuk berdebat lagi dan segera berganti pakaian.


"Ingat sayang, jaga sikapmu di depan keluarga kolega papamu nanti ya, bisa jadi itu nnti jadi keluarga kamu juga nantinya."


"Mama apaan sih, kok gitu? Aku tu gak suka di jodoh-jodohin gini." Keluh Rain kepada mamanya.


"Kamu kalau gak dijodohin, sampai kapan kamu mau nungguin pangeran yg kamu impi-impikan itu datang menjemput mu?. Sayang, ini bukan seperti drama korea yang kamu tonton, ada opah opah tampan lee min... lee min... apa lah itu yang kamu bilang sama mama. Belum tentu yang kamu tunggu itu mikirin kamu juga. Kamu coba berteman saja dulu dengan anak kolega papa kamu ya, mana tau cocok. Mama tidak memaksa kamu, tapi mama cuma mau bantu kamu supaya tidak tenggelam terlalu dalam lagi dengan masa lalu." Mama menasihati Rain sambil menatap dalam mata dan menangkup lembut wajah anaknya yang di tekuk itu.


"Sayang, dengerin mama! Jangan terlalu berharap sama manusia. Terlebih lagi dengan orang yang kamu tidak tahu keberadaan dan hatinya untuk siapa. Mama tidak mau kamu terluka karena telah menanti kehadirannya dalam waktu lama, namun pada akhirnya tidak sejalan dengan harapan yang selama ini kamu rencanakan sendiri." sambung sang mama.


Rain langsung memeluk erat mamanya dan langsung menitikkan butiran air bening di pipinya. Ia pun sempat memikirkan hal yang sama dengan apa yang dipikirkan mamanya. Hanya saja egonya masih membawanya untuk tetap menunggu orang yang pertama kali berhasil membuat Rain menjatuhkan hatinya hingga sedalam-dalamnya dan tidak mampu untuk membuka hatinya terhadap laki-laki lain.


Bukan sedikit laki-laki yang ingin menjadikan Rain sebagai kekasih hatinya. Namun Rain selalu saja menolak dengan alasan sudah memiliki pacar.


Aku ingin melangkah maju, tapi aku masih ingin tetap larut dalam kenangan. Tapi kata-kata mama semuanya benar. Apakah sudah waktunya aku untuk menyerah?. Batin Rain


Dengan berat hati Rain bertekad dengan perlahan mencoba membuka dirinya untuk orang baru dan meninggalkan bayang masa lalu. Karena dukungan mama yang menyayanginya ini, Ia sudah memantapkan hatinya, jika ia merasa nyaman dengan laki-laki pilihan orang tuanya maka dia akan mencoba membuka hatinya dan perlahan meninggalkan sisa-sisa kenangan masa lalu yang ia kembangkan sendiri itu.


Memang sulit melakukannya, disaat rasa rindu dan penasaran itu belum terjawabkan, malah harus memaksa untuk menguburnya. Tapi ini memang harus ia lakukan, tidak mungkin selamanya dia akan hidup dengan dikendalikan perasaannya yang tak terarah.


_


_


_


##Bersambung....


Like like like, jangan lupa ya😉

__ADS_1


__ADS_2