Mengejar Cinta Pertama

Mengejar Cinta Pertama
130. Berhenti


__ADS_3

Kinara terus menangis sepanjang hari tanpa melakukan apapun selain sholat dan berdoa agar keadaan Satria secepatnya membaik. Rendra dan Puspa juga tidak mengizinkan Kinara untuk pulang karena mereka takut Kinara akan nekat pergi untuk menemui Satria dan itu sangat bahaya apalagi keadaan Kinara yang terlihat begitu hancur.


" Ra, makan dulu ya " ucap Puspa mencoba membujuk Kinara untuk makan karena Kinara terus menolak saat ia memintanya untuk makan.


" Aku gak laper, Kak " tolak Kinara yang memang tidak merasa lapar dan berselera untuk makan.


Puspa menghela napasnya karena tidak tahu harus membujuk Kinara bagaimana lagi agar ia mau makan.


" Kalau gitu kita siap-siap aja buat ke rumah Ayah sama Bunda sekarang " ucap Puspa pada Kinara.


Kinara menganggukkan kepalanya lalu bangkit dari duduknya.


Ayah Arif dan Bunda Wulan akan mengadakan doa bersama untuk Satria, hanya anggota keluarga mereka saja dan seorang ustadz yang mereka percaya. Papa Lukman dan Mama Santi juga akan mereka undang untuk datang. Mereka juga merasa sangat sedih mendengar kabar tentang Satria, bahkan Mama Santi juga terus menangis.


Kinara pulang ke rumah untuk mengganti pakaiannya dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah Ayah Arif dan Bunda Wulan bersama dengan Rendra dan Puspa.


" Kamu gak boleh tinggalin aku, Mas. Aku gak mungkin wujudin mimpi-mimpi kita sendirian untuk membangun keluarga kecil yang bahagia. Kamu ingat kan janji kamu buat jadiin aku istri kamu dan satu-satunya perempuan yang kamu cintai " ucap Kinara mengusap foto Satria yang belum sempat ia ganti ke dalam bingkai yang baru dengan air mata yang kembali mengalir.


Setelah itu Kinara segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap-siap.


Sebelum berangkat ke rumah Ayah Arif dan Bunda Wulan, Kinara mengirimkan pesan kepada Jeki agar Jeki bisa menyampaikan izinnya untuk tidak mengikuti mata kuliah pada hari itu.


" Jek, tolong izinin gue ya buat mata kuliah hari ini. Gue ada urusan keluarga jadi gak bisa masuk kampus " ucap Kinara dalam pesannya.


Kemudian Kinara keluar dari rumah karena suara klakson mobil Rendra sudah terdengar di depan rumah. Kinara masuk ke mobil itu di kursi belakang sedangkan Rendra dan Puspa berada di depan.


Selama perjalanan mereka semua hanya terdiam karena suasana tidak memungkinkan mereka untuk mengobrol ringan atau bercanda seperti biasanya. Kinara mengingat semua kenangan yang sudah ia dan Satria lalu selama dua tahun terakhir ini. Banyak sekali kenangan indah yang Satria berikan kepadanya sehingga ia tidak akan sanggup jika harus kehilangan Satria. Lagi-lagi Kinara hanya mengusap air matanya yang kembali jatuh dan terus berdoa.


Sesampainya di rumah Ayah Arif dan Bunda Wulan, ternyata Papa Lukman dan Mama Santi sudah berada di sana. Alina tidak ikut bersama mereka dan di rumah bersama Mpok Indun. Kinara memeluk Papa Lukman dan Mama Santi dan mereka mencoba untuk menguatkan Kinara.


Baru setelah itu, Kinara menghampiri Bunda Wulan yang duduk dengan tatapan kosong. Ia mungkin merasa hancur dan terpukul, tentu saja Bunda Wulan merasa lebih hancur dan terpukul dari dirinya. Ibu mana yang tidak hancur saat mengetahui jika anaknya sedang tidak baik-baik saja.


" Tante " panggil Kinara dengan mata yang berkaca-kaca.


Kinara duduk di samping Bunda Wulan. Bunda Wulan menoleh pada Kinara dan tersenyum.

__ADS_1


" Sayang, kamu datang " ucap Bunda Wulan mengusap pipi Kinara.


Kinara tidak bisa menahan tangisnya lagi dan langsung memeluk wanita yang sangat Satria cintai sebelum dirinya.


" Kamu harus kuat ya dan yakin Satria baik-baik saja. Itu juga yang Tante sedang usahakan " ucap Bunda Wulan pada Kinara.


" Iya Tante. Maafin Ara ya, Tante pasti jauh lebih terluka dari Ara " jawab Kinara melepaskan pelukannya.


Kedua wanita berbeda generasi itu pun berusaha untuk saling menguatkan walaupun mereka berdua sama-sama merasa hancur karena takut kehilangan Satria.


***


Di rumah sakit, semua orang sedang harap-harap cemas karena hanya tersisa waktu dua jam dan keadaan Satria belum juga stabil tapi malah semakin melemah. Para dokter dan perawat kembali masuk ke dalam ruang ICU karena Satria yang tiba-tiba sudah kesulitan untuk bernapas sehingga ia terlihat tersengal-sengal dengan keadaan tidak sadar.


" Ya Allah, selamatkan lah Satria. Berikan dia kesembuhan Ya Allah " ucap Sandi dalam doanya.


Sandi sudah tidak bisa tenang dan terus mondar-mandir di depan pintu ruang ICU.


Sedangkan para dokter yang ada di dalam sana pun tidak kalah paniknya karena detak jantung Satria semakin lama semakin melemah.


" Detak jantung pasien semakin melemah, Dok " ucap seorang perawat.


Tiiiiiiit.


Suara itu menandakan jika detak jantung Satria sudah berhenti dan Satria bisa dinyatakan telah meninggal dunia.


" Siapkan alat kejut jantung sekarang " ucap dokter itu.


Perawat pun segera menyiapkan apa yang diminta oleh dokter untuk menyelamatkan Satria.


Dokter itu berusaha sebisa mungkin agar jantung Satria kembali berdetak tapi setelah beberapa kali percobaan, hasilnya tetap sama. Jantung Satria tidak lagi berdetak dan Satria sudah meninggal dunia.


Dokter itu menggelengkan kepalanya dengan wajah yang sangat menyesal karena tidak bisa menyelamatkan pasiennya.


" Bripda Satria telah meninggal dua pada sore hari ini pukul 17.33 " ucap Dokter itu.

__ADS_1


" Kalian lepaskan semua alat bantu di tubuh Bripda Satria, saya akan memberi kabar kepada mereka yang berada di luar " lanjutnya.


Dokter segera keluar dari ruang ICU dan mereka langsung menghampiri dokter itu.


" Keadaan Bripda Satria sudah stabil kan, Dok? " tanya Sandi yang sudah tidak menahan lagi.


" Bagaimana keadaan Bripda Satria, Dokter? " tanya Komandan Anton yang lebih tenang.


Firasat Sandi sudah buruk saat melihat wajah dokter itu yang penuh penyesalan.


" Kami mohon maaf. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Bripda Satria sudah meninggal dunia " jawab dokter itu terlihat sangat menyesal.


Jeder.


Mereka semua yang mendengar itu tentu saja sangat terkejut, apalagi Sandi yang tidak bisa menerima itu.


" Tidak Dokter, Satria pasti baik-baik saja. Satria belum meninggal dunia " ucap Sandi tidak terima Satria dikatakan telah meninggal dunia.


" Sekali lagi kami mohon maaf. Kami akan segera mengurus jenazah Bripda Satria " ucap Dokter itu lalu pergi.


Sandi masih tidak menerima itu, ia masih tidak percaya jika Satria secepat itu meninggalkan kita semua. Beberapa anggota yang ada di sana menahan Sandi karena Sandi ingin menerobos masuk ke dalam ruang ICU.


" Kamu harus kuat Sandi, kita semua sangat kehilangan Bripda Satria. Kamu harus bisa mengendalikan diri kamu " ucap Komandan Anton pada Sandi.


Komandan Anton merasa kesedihan yang teramat dalam mendengar itu. Salah satu anggota polisi kebanggaannya harus pergi secepat ini karena berkorban demi mengamankan negara ini dari para pengedar narkoba.


Sandi hanya bisa menangis dan menyesali mengapa ia tidak bisa melindungi dirinya sendiri sehingga Satria harus berkorban nyawa untuk dirinya. Sandi terduduk dan menyandarkan tubuhnya di dinding rumah sakit.


" Kenapa lo pergi secepat ini, Sat? Apa yang harus gue bilang ke keluarga lo dan Kinara? " ucap Sandi pelan.


Mereka semua membiarkan Sandi menumpahkan kesedihan karena memang diantara mereka, Sandi lah yang paling dekat dengan Satria.


Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih 😊🙏 Tetap dukung saya ya 😘


Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " 😊🙏

__ADS_1


Ada juga karya baru saya " Menikahi Ayah Nadia dan Suamiku Seorang Bodyguard " 😘


Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘


__ADS_2