
Rain tersepona melihat Rian berjalan dengan gagah. Matanya berbinar seolah olah melihat cahaya menerangi sekeliling Rian berada. Rian berjalan dengan Cool.
"Oooh Tuhan... Ini ekspektasi ku yang terlalu tinggi terhadap dia sedari dulu atau dia yang terlewat tampan dan berkharisma? Lihatlah cara ia berjalan, sangat berwibawa. Tapiiii..."
(Peletak) bunyi dahi Rain di sentil Rian membuat ia tersadar dari lamunannya.
Rian menatapnya datar. "Minggir".
"Haaa?" Rain pelanga pelongo tidak mengerti.
Rian mencengkeram kedua lengan Rain dan mengangkat tubuh Rain supaya ia bergeser tidak menghalangi pintu masuk kemudi mobil Rian.
Rain makin di buat kaku. Tidak menyangka dengan apa yang baru saja terjadi. ia berasa melayang sejenak.
(bruuuuummmmbruuuuummmm). bunyi mobil Rian yang baru saja di hidupkan membuat Rain tersadar dan mengingat apa tujuan utamanya menunggu CEO Purnama Group itu.
(toktoktok) kaca mobil di ketuk oleh Rain.
Rian menurunkan kaca mobilnya melihat lurus kedepan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Rain.
"Mas Iyan." Panggil Rain dengan senyum manisnya hingga menampakkan kedua lesung pipinya
"Bicara saja."
Rain mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Rian. Ia dengan cepat meraih dagu Rian dan memutar kearahnya sehingga wajah mereka saling berhadapan supaya ia bisa melihat luka memar di dahinya Rian membuat sang empunya membelalakkan mata. Seketika mata mereka bertemu.
Satu detik, dua detik, tiga detik. pandangan itu sedikit pun tidak beralih, mata itu saling menatap dalam seperti menyiratkan sesuatu yang hanya mereka sendiri yang tahu.
Pandangan Rian turun ke bibir mungil milik Rain. Rian langsung memalingkan wajahnya menghadap ke depan. sedangkan Rain sedikit merasa salah tingkah.
"eh, em, eh, itu... eh, iya. luka di situ nya bagaimana? emm Iya, aku cuma mau memeriksa itu." Rain menunjuk dahi Rian.
"Sudah baikan." Jawab Rian singkat.
"T t tapi memarnya masih terlihat."
"Bukan urusan kamu." Rian langsung menaikkan jendela mobilnya dan menginjak pedal gas.
"Enak saja, itu sudah menjadi urusanku, itu terluka karena aku." Teriak Rain.
Mobilnya semakin menjauh, dan Rain membuang nafasnya melepaskan rasa yang membuat ia gugup setelah kejadian barusan.
*****
__ADS_1
Rain mengetuk pintu kamar Roni, dan langsung masuk.
"Kak, kak, kak. Bangun...." Rain membangunkan kakaknya yang baru saja terlelap.
"Kak, dimana mas Iyan tinggal?" Tanya Rain duduk di pinggir kasur kakaknya.
"Tanya aja sendiri sama orangnya." Roni menjawab dengan masih sangat mengantuk tanpa membuka matanya.
"Iiiih, gimana aku mau nanya, nomernya aku gak punya. Ayooolaaaah kak, beri aku alamatnya. kakak sebut saja." Rain mengguncangkan tubuh Roni. Namun tak ada balasan karena Roni sudah sangat mengantuk.
Senyum Rain mengembang. Ia meraih ponsel Roni di atas meja nakas yang ada di hadapannya.
Ia menarik tangan kanan kakaknya dan mengambil jari telunjuk saja kemudian di tempelkan pada sisi damping ponselnya untuk membuka layar kunci.
"Sok keren kali dia, pake kacamana udah kayak tukang urut." Rain membuka layar ponsel yang terkunci itu, yang pertama kali muncul adalah yang kakak yang sedang bergaya menggunakan kaca mata hitamnya. Kemudian ia membuka kontak. Ia mencari nama Rian disana.
Ia mengklik nama pendek, tidak ada. Nama panjang pun tidak ada. Ia nyerah..
"Kak, nama kontak Rian di ponsel kakak apa?". Rain bertanya dengan sangat lembut
"Bode" Jawab Roni denga bergumam. Untungnya Rain mendengarnya walaupun sedikit kurang jelas.
"Haaaa" Rain membuka mulutnya. Dia berusaha untuk mencerna, menyusun kata-kata yang kurang jelas membentuk suatu kata yang pasti dan nyambung. "Brother kali ya? Sejak kapan dia menjadi saudaramu, kak. coba dulu aja deh."
Ia menyalin nomor kontak Rian ke ponsel nya, dan memberikan nama kontak Rian di ponselnya ialah My Future Husband.
"Apa tidak terlalu cepat ya". Ia menggelengkan kepalanya cepat. "Ah, gak apa apa lah, kan memang future husband aku. Ayah dari anak-anakku. mmuach mmuach." Ia mencium layar ponselnya dengan bahagia. Ia terus menatap nama baru di layar ponselnya yang akan menjadi candu baginya mulai sekarang dan nanti. "My Future Husband" kata-kata itu akan selalu jadi bayang-bayangnya. Ia mengembalikan kembali ponsel kakaknya dan berlari ke kamarnya.
*****
Keesokan harinya, Rain sengaja berangkat ke perusahaan lebih awal. Ia memarkirkan motornya dan berlari menuju parkiran yang biasa menjadi tempat pengistirahatan mobil sang CEO sambil duduk di beton dekat dinding. Ia terus menunggu kedatangan Rian.
Detik ke detik, menit ke menit, ia menunggu kedatangan Rian sambil sesekali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Lebih kurang sepuluh menit berlalu, sebuah mobil masuk ke area parkir menuju parkiran khusus CEO.
Rain pun menghampiri mobil Rian dan berdiri di sampingnya menunggu pintu itu terbuka seperti layaknya seorang bodyguard. waw, istimewa sekali pangerannya Rain.
Rian membuka pintu. Ia melihat Rain dari atas ke bawah. Tampilan Rain kali ini sangat rapi. ia memakai Rok span coklat susu di bawah lutut, kemeja kekinian berwarna mint terdapat pula pita pada leher baju nya, tak lupa wedges andalannya yang ia merasa ini adalah hills yang paling tinggi dan paling terasa nyaman ia gunakan, padahal wedges itu tingginya hanya lebih kurang tiga cm.
Ia memperlihatkan senyuman terbaiknya untuk Rian. Namun Rian berlalu darinya berjalan ke arah pintu utama perusahaan. Rain mengejar Rian dengan sedikit berlari.
"Mas, tungguin."
__ADS_1
Ia terus berlari kecil mengikuti langkah kaki Rian.
"Mas." Panggil Rain lagi.
"Mas." Panggil Rain lebih kuat dan menarik lengan tangan Rian hingga ia menghentikan langkahnya.
"Mas, kenapa gak jawab panggilan telepon ku tadi malam?" Tanya Rain. Ternyata tadi malam Rain telah berusaha menghubungi Rian setelah tiba di dalam kamarnya.
Rian melihat Rain sekilas kemudian turun menatap lengan tangan yang di tarik Rain tadi.
"Ah, iya. Maaf." Seakan mengerti akan kode itu, ia langsung melepaskan pegangan tangannya.
Rian kembali berjalan memasuki perusahaan. Saat itu perusahaan agak sedikit sepi. Rain tetap mengikuti langkahnya membuat beberapa karyawan yang baru saja datang melihat ke arahnya dan membuat para karyawan berpendapat sendiri tentang kedua insan tersebut. Tapi Rain yang bodoh amat dan masih belum dikenal itu tidak memperdulikannya.
"Mas. Apa susahnya jawab telepon aku? Aku kan mau tau keadaan mas." Ia terus mengikuti Rian berbicara lagak seorang kekasih.
"Aku mau tahu, itu lukanya sudah di obatin atau belum? Siapa yang ngobatin?"
"Apa memarnya sudah berkurang atau semakin parah? Perlu di bawa ke Rumah sakit atau nggak?"
"Dan aku juga mau tahu Mas udah makan atau belum?"
"Apakah mas itu udah punya pacar atau belum, atau mungkin mas sudah punya tunangan, isteri?"
"Aduuuuh, sebaiknya jangan deh mas, patah hati Rain kalau itu beneran terjadi."
"banyak lagi deh yang mau aku ketahui tentang mas."
"Semalam aku curi nomer mas sama kak Roni, tapi aku udah minta kok waktu itu kak Roni tidur. Mas tahu gak, nama mas aku tulis apa di ponsel ku?."
"My Future Husband. Keren kan?"
"Nah, mas itu future husband aku, jangan cari yang lain lagi ya mas." Rain to the point.
(Bug)
_
_
_
#Bersambung...
__ADS_1
Like, like, like. Jangan lupa ya manteman😉