
Sesampainya di rumah Rendra dan Puspa, Satria langsung mengetuk pintu rumah itu dengan keras agar orang yang ada di rumah itu dapat mendengarnya. Tak lama kemudian, Rendra membukakan pintu itu. Tanpa dipersilahkan masuk, Satria langsung masuk ke dalam rumah dengan melewati Rendra. Ia sudah merasa kedinginan karena sebagian pakaiannya basah.
" Dari mana aja kamu, Sat? Bunda nyariin kamu tau gak " tanya Puspa yang saat itu sedang di ruang keluarga.
" Aku tu tadi habis pergi sama Ara terus motorku tiba-tiba mogok jadi kita ke bengkel dulu. Baru kelar dibenerin itu habis magrib dan itu mendung banget. Aku sama Ara bahkan sempet kehujanan di tengah jalan sampai kita berdua basah semua. Hp aku mati dan juga aku dari tadi gak sempet pegang Hp karena abis mandi Ara langsung ngajak makan malam " jawab Satria.
" Jadi dari tadi kamu sama Ara? Hujan-hujan begini berdua di rumah? " tanya Rendra pada Satria.
" Iya, sama Ara. Emang mau sama siapa lagi " jawab Satria.
Rendra memicingkan matanya penuh curiga pada Satria.
" Tapi kamu gak ngapa-ngapain kan sama Ara? " tanya Rendra penuh selidik.
" Ya ngapa-ngapain lah " jawab Satria dengan santainya.
Rendra dan Puspa sangat terkejut mendengar jawaban dari Satria. Pikiran buruk sudah memenuhi pikiran mereka berdua. Wajar saja mereka berpikir buruk karena Satria berada di rumah berdua dengan Kinara dan di saat sedang hujan-hujan begini. Apalagi jawaban Satria itu yang semakin meyakinkan pikiran buruk mereka.
" Kamu jangan macem-macem ya Sat, jangan buat malu keluarga. Kasian Ayah sama Bunda pasti kecewa banget denger ini. Kakak juga kecewa banget sama kamu. Kamu ternyata kayak gini " ucap Puspa pada Satria dengan tatapan kecewa.
" Iya Sat, ini namanya bukan laki-laki sejati " tambah Rendra.
Satria dibuat bingung dengan perkataan kakak dan kakak iparnya itu.
" Ngomong apa sih kalian? Lagian kenapa Ayah sama Bunda harus kecewa? Aku tu ngelakuin hal yang wajar sama Ara " ucap Satria bingung.
Mendengar itu, Puspa pun menjadi sangat marah pada Satria.
" Wajar kamu bilang? Gak punya otak ya kamu " ucap Puspa emosi.
" Apaan sih, Kak? Aku tu cuma makan malam terus ngobrol sama Ara. Itu kan emang wajar, apa hubungannya sama gak punya otak coba " ucap Satria kesal karena ucapan Puspa.
Lagi-lagi Rendra dan Puspa dibuat terkejut oleh Satria. Ternyata mereka sudah salah paham dan berpikir buruk pada Satria dan Kinara.
" Emang kalian kira aku ngapain sama Ara? " tanya Satria setelah melihat ekspresi wajah kaget keduanya.
__ADS_1
" Ya kita kita kalian making love lah. Hujan-hujan begini kan mendukung banget buat itu, apalagi kalian cuma berdua " jawab Rendra.
Mata Satria langsung melotot dan mulutnya menganga mendengar ucapan Rendra. Ia tidak menduga mereka berdua akan berpikir seperti itu.
" Pikiran kalian ya? Gak mungkin lah aku ngelakuin itu sama Ara sedangkan kita belum nikah " ucap Satria kesal.
" Salah sendiri jawaban kamu itu buat kita berpikir buruk kayak gitu " ucap Puspa menutupi rasa malunya karena telah berpikir buruk.
" Iya lo, lagian itu pake nyembul gede banget ya makin yakin kita kalian gituan " tambah Rendra melirik ke celana Satria yang memang mengembung.
Satria pun langsung menutupi bagian itu dengan kedua tangannya. Wajahnya memerah karena ketahuan oleh Rendra dan Puspa.
" Ya wajar kalau ini mah. Bang Rendra kayak gak pernah ngalamin aja " ucap Satria dengan rasa malu.
" Kakak ingetin ya Sat, kamu jangan ngelakuin sesuatu yang bisa bikin malu keluarga dan hal-hal yang dilarang banget kayak gitu. Apalagi kalau kamu sampai merusak Ara " ucap Puspa memberikan peringatan pada Satria.
" Iya Kak, tenang aja. Imanku masih sedikit lebih tebal dari kulit bawang jadi aku masih bisa tahan. Dibawah pengaruh obat perangsang aja aku berusaha nahan, apalagi ini aku sadar seratus persen " jawab Satria.
Puspa sedikit lebih tenang setelah itu. Ia sangat takut jika Satria benar-benar merusak seorang gadis.
Satria hanya memasang wajah kesalnya mendengar itu.
" Ara baik-baik aja. Ara bakal kenapa-napa kalau aku masih di sana " jawab Satria kesal.
" Ya sudah, sana kamu istirahat. Nanti kakak antar baju Mas Rendra buat kamu ganti " ucap Puspa pada Satria.
" Iya Kak " jawab Satria.
Satria segera pergi ke kamar tamu yang biasanya ia tempati jika menginap di rumah itu.
" Kenapa juga masih aktif sih, jadi malu kan " rutuk Satria melihat celananya yang masih menyembul.
Kemudian Satria masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Cara itu yang ia gunakan untuk menghilangkan rasa itu pada tubuhnya.
Baru saja Satria keluar dari kamar mandi, pintu kamar itu sudah diketuk dari luar. Satria pun langsung membukanya karena sudah tahu jika itu adalah kakaknya.
__ADS_1
" Tutup mata kamu, Sayang " ucap Rendra menutup mata Puspa dengan kedua tangannya saat melihat Satria hanya menggunakan handuk saja di pinggangnya.
" Ist, kenapa harus ditutup sih " ucap Puspa menyingkirkan tangan Rendra.
" Itu Satria gak pakai baju " jawab Rendra menatap tajam Satria.
Satria memutar matanya jengah mendengar ucapan Rendra. Rendra memang memiliki penyakit cemburu buta. Jelas-jelas ia adalah adik kandung Puspa tapi Rendra masih saja cemburu.
" Apaan sih kamu Mas, Satria ini adik kandung aku " ucap Puspa yang kesal karena sifat cemburu Rendra.
" Tapi dia tetap laki-laki " jawab Rendra.
Satria yang sudah jengah dengan Rendra pun langsung mengusir mereka berdua.
" Sudah sana kalian pergi. Lagian nganter baju ganti doang pake berdua " usir Satria pada keduanya.
Satria mengambil pakaian ganti dari tangan Puspa lalu menutup pintu kamar itu tanpa memperdulikan dua orang yang masih di sana. Satria segera memakai pakaian ganti itu karena ia sudah merasa sangat kedinginan.
Satria naik ke atas tempat tidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut hingga sebatas leher. Tak butuh waktu lama ia pun sudah terlelap, mungkin karena lelah dan cuaca yang sangat mendukung untuk tidur.
***
Sementara itu, Kinara juga sudah berada di atas tempat tidur tetapi ia masih belum bisa memejamkan matanya hingga sekarang. Ia masih mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu saat ia dan Satria hampir berciuman.
" Akh, kenapa itu selalu muncul di kepalaku sih " ucap Kinara dengan wajah yang merah.
Kinara menutupi wajahnya dengan sebuah bantal dan berusaha untuk segera tidur agar besok ia tidak terlambat untuk bangun.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih 😊🙏 Tetap dukung saya ya 😘
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " 😊🙏
Ada juga karya baru saya " Menikahi Ayah Nadia " 😘
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘
__ADS_1