
Rain langsung terpaku dengan posisi tangannya masih memegang pintu.
"Ma ma ma maaf." Ia kelabakan. Hanya itu yang terlepas di mulutnya.
Rian yang terduduk di lantai memegang kepalanya yang sakit akibat benturan dengan pintu yang didorong keras oleh Rain. Belum lagi bokongnya yang mencium lantai putih mengkilap itu.
Dahinya terlihat memerah. Melihat itu, Rain langsung duduk memeriksa kondisi kepala Rian. Namun, ketika tangannya hendak menyentuh kebagian yang sakit, tangan Rain di tepis oleh Rian.
"Ceroboh." Sebuah kata yang di ucapkan pelan oleh Rian.
"Mas, maaf. Rain gak sengaja." Rain ikut berdiri ketika Rian yang sudah bangkit meninggalkan ruangan itu, namun kata maafnya tidak dihiraukan oleh Rian.
Sementara Roni hanya melihat kejadian yang barusan terjadi di hadapannya sambil menahan tawa. Adik satu-satunya dan sahabatnya. Ia tidak berniat untuk ikut campur persoalan sepele itu menurutnya. Ia mengenal sahabat dan adiknya. Tidak mungkin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di antara mereka. Karena itu ia membiarkannya saja.
Namun, ada satu yang ia khawatirkan tentang mereka. Ia khawatir akan perasaan adiknya yang terlihat terlalu dalam terhadap sahabatnya itu. Cerita demi cerita dari Rain tentang Rian, bagaimana tatapan mata Rain menceritakan itu memiliki arti tersendiri yang menandakan bahwa Rain sangat menanti akan kehadiran dan balasan perasaan yang sama oleh Rian kepada adiknya. Bukan hanya sekedar rasa penasaran dan mainan cerita masa kecil saja seperti yang di katakan oleh Rian. Ia takut jika adiknya terluka karena ekspektasinya sendiri.
"Akh, nambah masalah lagi kan jadinya." Kesal Rain. Srakan baru tersadar harus berbuat apa. Ia harus segera mendapatkan maaf.
Ia berlari mengejar Rian. Ia menghadang jalan Rian sambil berjalan.
"Mas, maafin ya. Rain gak tau mas ada disana." Mohon Rain dengan memasang jari sepuluh. (Sudah kayak lebaran aja, memasang jari sepuluh)
Karena sedang marah sekaligus menahan malu Rian menyingkirkan Rain ketika tiba di depan pintu ruangannya.
Begitu pintu dibuka, Rian masuk ke ruangannya, langsung duduk di kursi yang biasanya ia duduki untuk bekerja sambil memegang dahinya yang sakit. Rain sangat panik dan terus mengikuti Rian. Bukan rencananya untuk bertemu dengan sang pujaan hati dengan situasi seperti ini. Rasa bersalahnya akan sakit yang di dapatkan Rian akibat dari kecerobohannya membuat paniknya bertambah. Takut jikalau Rian semakin membenci dirinya.
Ia mencoba untuk memeriksa kondisi dahi Rian. Perlahan ia memajukan tangannya ke daerah kepala Rian yang luka. Kulit mereka bersentuhan, Rian kaget dan langsung menjauhkan kepalanya. Rain otomatis menarik kembali tangannya.
"A.. a.. aku mau memeriksa lukanya." Rain terbata-bata sambil ragu menunjuk ke arah lukanya.
"Emang kamu dokter? perawat?" Tanya Rian kesal.
"Bukan." Rain menggelengkan kepala lemah dan menunduk.
Rian hanya diam, melihat Rain sekilas yang penuh dengan penyesalan akan perbuatannya.
Rain perlahan melirik. Ia khawatir dengan kondisi Rian.
"Izinkan aku memeriksa luka di dahi mas". Izin Rain sedikit takut.
"Tidak perlu."
"Aku mau mempertanggung jawabkan perbuatanku aja, mas." Tanggung jawab? ah lu kira hamil? Protes Rain dalam hati dengan perkataannya sendiri
__ADS_1
"hmm." Rian mengalah dan memperlihatkan lukanya.
Rain melihat luka itu tidak terlalu parah, tapi pasti sangat sakit akibat hantaman keras pintu yang di dorong kuat oleh Rain. Rain langsung berlari ke arah kulkas yang ada di pojokan ruang kerja, sebelumnya ia pernah melihat terdapat kulkas di ruangan itu, jadi ia lebih cepat bertindak.
Disana terdapat berbagai jenis minuman dan beberapa makanan yang tersedia. Rain langsung mengambil sebotol air mineral dan membawanya ke Rian.
Tanpa izin dia langsung menempelkan botol air mineral dingin itu tepat di luka memar Rian. Rian sedikit menolak karena sentuhan awal botol air dingin itu dengan lukanya. Rain tetap menempelkan dengan pelan.
Karena itu wajah mereka hanya sedikit berjarak. Rian terus memperhatikan gerak gerik Rain. sementara Rain tetap fokus dengan memberi tindakan pada luka itu sambil sedikit melirik khawatir pada wajah Rian, ia berharap lukanya seketika menghilang, dan terus merutuki kecerobohannya didalam hati.
"Ini sedikit bisa mengurangi lukanya. Maafkan aku ya mas." Entah berapa kali kata maaf terus keluar di mulut Rain.
"Mungkin setelah ini lukanya jadi sedikit biru. Benturan pintu tadi terlalu keras. Aku gak tahu kalau tadi mas juga membuka pintunya dari dalam. Tapi asal mas tahu aku gak berniat membuat mas luka kok. Aku gak sengaja" Bela Rain pada dirinya.
Rian hanya diam memperhatikan Rain.
"Mas." Panggil Rain karena merasa pernyataannya tidak di respon.
"Silahkan keluar, saya bisa melakukannya sendiri." Rian langsung mengalihkan pandangannya. Ia mengambil alih botol air mineral dingin itu dari tangan Rain yang di tempelkan di lukanya. Seketika kulit tangan mereka bersentuhan membuat Rain salah tingkah tapi masih bisa ia kendalikan.
Rain merasa senang dan di sisi lain ia semakin merasa bersalah.
"Ee, biarkan aku merawat lukanya sebentar lagi saja. Setidaknya dengan itu aku bisa sedikit tenang, mas."
"Saya bilang keluar!" Perintah Rian.
"Keluar!" tekan Rian.
"Tapi Rain harus olesin salep dulu di luka mas, biar cepat sembuhnya." Rain tetap kekeh.
"Tidak perlu."
"Mas, please.. kali ini aja. Itu luka karena perbuatan Rain, jadi Rain gak enak hati kalau belum selesai merawatnya." Paksa Rain. Namun yang di paksa hanya diam.
Rain berinisiatif mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan mencari kotak P3K dan ketemu. Tanpa ba bi bu dia langsung mengambil kotak berwarna putih tersebut. Membawanya ke meja kerja dan membuka kotak tersebut untuk mencari obat oles untuk luka memar. Untungnya obat oles yang dimaksud sudah tersedia.
"Maaf ya mas." Kata maaf, tapi bermaksud untuk meminta izin kepada tuan punya badan.
"Hmm." Mau menolak pun Rian sudah tidak punya alasan. Dia hanya menerima supaya Rain segera pergi setelah selesai mengobatinya.
Rain menyibak sedikit rambut bagian depan Rian agar lukanya bisa terlihat jelas dan di obati dengan mudah.
"Ya ampun, lukanya sudah membiru." Ucap Rain lirih sambil mengoles obat.
__ADS_1
Rian sedikit merintih ketika Rain tidak sengaja menekan pelan lukanya.
"Maaf, sakit ya? Rain akan mengolesnya dengan perlahan. Semoga salep ini bisa membantu."
Setelah itu Rain langsung mengembalikan kotak P3K nya ke tempat semula dan balik lagi berdiri di samping Rian. Sedari tadi Rian hanya memperhatikan apa yang dilakukan Rain tanpa mau merespon banyak segala omongannya.
"Selesai." Kata Rain tersenyum manis.
"Silahkan keluar." Balas Rain dengan nada agak bersahabat.
Rain pun pasrah berjalan ke arah pintu.
"Rain." Panggil Rian.
"Iya?." Jawab Rain antusias langsung membalikkan badannya. Yes, dia manggil aku.
"Ini di kantor. Karena kamu sekarang bekerja disini, bersikaplah seperti halnya di kantor. Jangan panggil saya mas lagi ketika masih di jam kerja." Tutur Rian memperingati.
"Iya, mas." Jawab Rain lemas melanjutkan langkahnya ke pintu. Kirain mau ucap terimakasih. Fiuuh..
Tapi sejenak ia berbalik lagi melihat Rian"Tapi mas maafin aku kan karena kejadian itu kan?" Rain menunjuk dahi Rian yang terluka.
"Hmm." Rian hanya ber dehem.
Menurut Rain walaupun yang keluar hanya dehemam tapi itu termasuk kabar gembira yang berarti Rian sudah memaafkannya. Rain bersorak didalam hati.
Ia tersenyum manis kepada Rian dan dibalas lirikan sebentar saja oleh Rian.
"Terimakasih pak bos. Besok Rain kembali lagi memeriksa keadaan lukanya." Jawab Rain senang. Ia ada alasan lagi buat bertemu dengan pak bos, panggilan barunya. Memang pintu membawa berkah, hihihi. batin Rain
"Berarti di luar jam kerja masih bisa manggil mas lagi kan, pak bos?" Ia mencondongkan sedikit badannya sambil berkata pelan dengan alis yang di naik turunkan tapi Rian bisa mendengarkannya.
Lagi-lagi ocehannya hanya di balas lirikan saja.
"Ih, dingin amat."
Merasa tidak diperlukan lagi, Rain segera keluar dari ruangan orang yang sekarang sudah menjadi bos nya itu.
_
_
_
__ADS_1
#Bersambung...
Like, like, like. Jangan lupa ya manteman (teman-teman)😉