
Pagi-pagi sekali bahkan hari masih sangat gelap, Satria dan rekan-rekannya sudah bersiap untuk pergi ke markas para pengedar narkoba itu. Mereka semua menggunakan pakaian khusus untuk melindungi tubuh mereka dari serangan musuh. Mereka semua juga menggunakan kulit sintetis sebagai topeng karena kemungkinan besar wajah Satria dan rekan-rekannya sudah diketahui oleh pelaku itu. Itu dilakukan agar saat mereka gagal nanti, mereka tetap bisa menyamar sebagai mahasiswa tanpa ketahuan. Tak lupa beberapa senjata sudah mereka siapkan dan akan mereka bawa.
" Sebelum kalian berangkat sebaiknya kita berdoa terlebih dahulu " ucap Komandan Anton pada mereka semua saat sudah berkumpul.
Mereka berkumpul di salah satu rumah yang mereka tempati.
" Berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Mulai " ucap Komandan Anton memimpin doa.
Mereka semua pun berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Satria mengadahkan tangannya berdoa dan meminta perlindungan pada Allah. Ia juga membaca surat Al-Fatihah dan melafalkan doa meminta keselamatan dalam hati.
" Berdoa selesai " ucap Komandan Anton.
Satria menangkupkan tangannya dan mengusap wajahnya.
" Kalian harus tetap waspada dan berhati-hati. Lakukan tugas ini dengan baik dan selalu memberi kabar kepada kami di sini. Jika butuh bantuan atau dalam keadaan berbahaya langsung hubungi kami " pesan Komandan Anton.
" Siap, Ndan " jawab mereka semua.
Setelah itu, Satria dan rekan-rekannya pun langsung berangkat ke markas itu dengan Sandi sebagai penunjuk arah.
" Bismillahirrahmanirrahim, berikan kelancaran dalam kami menjalankan tugas ini Ya Allah dan selalu lindungi kami " doa Satria sebelum melangkahkan kakinya.
Mereka semua berjalan melewati hutan dengan jalanan yang terjal. Markas para pengedar narkoba itu memang berada di tengah hutan agar tidak ada yang mengetahui keberadaan mereka.
Setelah berjalan sekitar kurang lebih dua jam, akhirnya mereka bisa melihat markas itu dari jarak lima puluh meter. Mereka bersembunyi di balik pohon-pohon besar yang ada di sana.
" Sepertinya orang-orang yang menjaga markas ini lebih banyak dari kemarin " ucap Sandi saat melihat tujuh orang yang sedang berada di depan markas.
" Tapi dari jumlah, kita masih unggul " tanggap Satria.
" Kita tetap lanjutkan rencana kita, aku bakal ke sana sebagai pancingan. Sandi pastikan salah satu dari mereka bisa kita tangkap untuk menggali informasi dan yang lainnya masuk ke dalam markas itu dan kumpulkan semua bukti " ucap Satria memberikan perintah kepada mereka.
__ADS_1
" Siap " jawab mereka.
Mereka pun mempersiapkan semua termasuk memeriksa peluru di senjata api mereka.
" Aku bakal keluar sekarang. Kalau mereka sudah berhasil aku bawa pergi kalian langsung masuk markas itu " ucap Satria pada rekan-rekannya.
Mereka semua pun menganggukan kepala mengerti.
Satria keluar dari balik pohon memberikan sebuah tembakan ke arah mereka agar mereka semua terpancing.
Dor.
Semua orang yang berada di depan markas itu pun sangat terkejut dan menoleh ke arah seseorang yang memberikan tembakan itu.
" Hey, siapa kamu? " teriak salah satu dari mereka.
Satria pun langsung berlari dan mereka yang berjumlah tujuh orang itu langsung mengejar Satria meninggalkan markas.
" Kalian cepat masuk dan salah satu tenaga medis ikut aku " ucap Sandi pada mereka.
Sementara itu, Satria terus berlari hingga salah satu dari mereka dapat menarik tangan Satria. Satria pun dikepung oleh mereka semua.
" Siapa kamu, hah? Berani-beraninya datang ke markas kami " ucap salah satu dari mereka.
Satria diam dan tidak menjawab ucapan orang itu. Sedangkan Sandi masih bersembunyi dan melihat keadaan kapan ia harus menangkap salah satu dari orang itu.
Karena tidak mendapatkan jawaban dari Satria, akhirnya mereka semua menyerang Satria. Satria yang memang hebat dalam bela diri tetap saja kewalahan saat melawan tujuh orang sekaligus. Satria mengeluarkan senjata api miliknya dan menembakkannya pada mereka hingga salah satu dari orang itu terkena peluru tembakan di betisnya.
" Sialan. Kamu harus mati sekarang karena sudah berani melukai teman kami " ucap orang itu mengeluarkan pisau dari jaketnya, begitu juga dengan yang lainnya.
Satria mencoba untuk tetap tenang. " Lindungi hambamu ini, Ya Allah " ucap Satria dalam hati.
__ADS_1
Perkelahian kembali terjadi dengan Satria yang tetap mencoba melawan mereka walaupun beberapa bagian tubuhnya terkena sayatan pisau itu.
" Aku harus membantu Satria. Kamu tetaplah bersembunyi di sini " ucap Sandi pada tenaga medis itu.
Sandi juga sudah meminta bantuan kepada Komandan Anton dan juga mereka yang berada di markas untuk sebagian datang membantu mereka.
" Lo masih kuat buat lawan mereka, Sat? " tanya Sandi pada Satria.
Satria pun menganggukkan kepalanya.
Mereka kembali melawan mereka tetapi tetap saja Satria dan Sandi merasa kewalahan karena ilmu bela diri mereka juga cukup bagus.
" Lo udah minta bantuan? " tanya Satria saat mereka sudah mulai kehabisan tenaga.
" Iya, mungkin mereka sebentar lagi datang " jawab Sandi.
Satria dan Sandi terus melawan mereka untuk bertahan sampai bantuan datang.
***
Sedangkan di markas, anggota yang lain sudah menemukan cukup banyak barang bukti. Di sana ditemukan beberapa kilo gram sabu-sabu dan juga senjata-senjata ilegal. Mereka membawa semua barang bukti itu.
" Lima orang bawa barang bukti ini ke tempat yang aman dan sisanya ikut aku karena sekarang Bripda Satria dan Bripda Sandi membutuhkan bantuan kita " ucap salah satu dari mereka setelah mendapatkan perintah dari Sandi melaku HT miliknya.
" Kamu juga ikut " lanjutnya pada tenaga medis yang lain.
Mereka semua pun segera pergi dari markas itu dan berpisah dengan tujuan masing-masing.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih 😊🙏 Tetap dukung saya ya 😘
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " 😊🙏
__ADS_1
Ada juga karya baru saya " Menikahi Ayah Nadia dan Suamiku Seorang Bodyguard " 😘
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘