
Waktunya pulang...
Seperti biasa, Rain akan menunggu Rian di tempat biasa, di samping mobil Rian terparkir.
Rian hari ini pulang agak telat. Setelah satu jam bertahan disana untuk menunggu, yang ditunggu pun akhirnya datang. Rain terus memperhatikan Rian yang semakin mendekat kearahnya.
"Hai mas." Sapa Rain. Walaupun lelah dan sempat bosan, semangatnya balik lagi bila melihat Rian.
Namun yang disapa tidak menanggapi. Tak seperti sebelumnya, saat ini ia langsung membuka pintu mobilnya membuat Rain yang berdiri disana sedikit terdorong oleh pintu itu.
Dengan gerak cepat Rain mengitari mobil menuju pintu sebelahnya, ia segera membuka dan langsung duduk di kursi penumpang dengan tersenyum manis menghadap depan sejenak Rian.
Rian tetap bisa mengontrol raut wajahnya yang terlihat datar.
"Rain nebeng ya, mas."
"Turun."
"Gak mau."
"Saya bilang turun."
"Rain bilang gak mau." Rain mengikuti kata-kata Rian.
Rian menghela nafas.
"Saya mau langsung pulang. Gak ada waktu buat ngantarin kamu."
"Ya sudah, Rain ikut mas pulang saja."
Rian langsung menoleh ke arah Rain dan dibalas dengan senyum manisnya.
Rian mengalah, ia sudah sangat lelah untuk berdebat dengan orang yang sangat keras kepala itu. Akhirnya ia memasang safety belt diikuti dengan Rain, lalu menghidupkan mesin mobil. Ia tersenyum senang, karena Rian bersedia memberinya tumpangan. Masa bodoh dengan kendaraannya yang tertinggal disana.
Kini mobil keluar dari area perusahaan.
"Mas beneran mau bawa aku pulang ke tempat mas?"
..... hening tak ada jawaban.
"Mas, kita belum nikah loh. Setidaknya nikahin aku dulu dong, baru bisa di bawa pulang." Goda Rain.
.....
"Mas, Jawab dong."
"Mas."
"Biasanya kalau orang yang gak bisa ngomong itu tandanya bisu. Mas gak bisu kan?"
"Kata kak Roni mas belum punya pacar. Beneran gak ada pacar kan?"
ih tetap gak mau jawab. Bikin kesal aja. Sabar Rain. sabar. Rain membatin dengan sesekali mengelus dadanya.
"Mas, berapa banyak sih batu yang numpuk di bibir mas itu?"
Rain mendekatkan wajahnya menyentuh bibir Rian membuat Rain reflek menatap Rain dengan jarak lebih kurang 7 cm. Rian mengerutkan keningnya bingung dengan pertanyaan Rain. Lalu tiba-tiba untuk pertama kalinya Rain menempelkan bibirnya ke bibir Rian membuat orang yang mampu mencuri hatinya itu membelalakkan mata, ia tak sempat menghindar tapi juga enggan untuk menolak.
__ADS_1
zzzzz seperti ada sengatan listrik mengalir ke tubuh keduanya. Mereka sama-sama terdiam saling menatap dengan keterkejutan beserta detak jantung bersahutan.
Untungnya sekarang mobil sedang berhenti menunggu lampu merah berganti dengan lampu hijau.
Suara klakson dari belakang mobil menyadarkan mereka. Mereka menghentikan sentuhan bibir yang tanpa gerakan itu. Rain kembali duduk di tempatnya dan Rian menekan pedal gas mobilnya.
Wajahnya memanas dan memerah seperti tomat, Rain menggigit bibir bawahnya merasa malu dengan tindakannya itu. Sementara Rian terlihat biasa saja.
"Hmm... i i itu ciuman pertamaku." Suara Rain terbata-bata karena gugup, dan dia juga harus memberitahukannya supaya Rian tahu bahwa Rian adalah orang yang sangat penting dan berarti baginya.
"Besok jangan lagi menungguku di baseman."
"Baiklah." Rain tidak berani lagi berbicara. Rain sudah tak mampu untuk berkata lagi. Dia masih merasa gugup, malu, bahagia, campur menjadi satu. Itu adalah ciuman pertamanya dan dia terkesan sangat agresif.
Sebenarnya saat ini, jantung Rian berdegup sangat kencang. Ia mengutuk dirinya sendiri karena terlihat menikmati sentuhan bibir itu. Sungguh dia mampu menutupinya dengan wajah datar itu.
Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam dengan pikirannya masing-masing. Hingga tiba di depan pagar kediaman Rain.
"Sudah sampai."
"Ha?" Ia melihat Rian kemudian melihat ke arah luar mobil yang didudukinya. "Oh iya, sudah sampai. Terimakasih mas." Rain seolah menjadi orang lain. Jantungnya sangat sulit di ajak kompromi.
"Hm." Jawab Rian.
Rain membuka pintu dan langsung menurunkan kakinya, tapi sayang ia lupa menanggalkan safety belt yang masih menempel di tubuhnya. Akhirnya ia tertarik kebelakang hampir jatuh karena pergerakannya yang cepat.
"Glek." Rain menelan kasar ludahnya.
Tubuhnya di tahan oleh tangan Rian dan membetulkan posisi Rain hingga duduk kembali.
"Sekarang sudah bisa turun." Suara bas itu menyadarkan Rain. Tanpa berani menoleh, dia turun dari mobil dan menutupnya kembali.
Ia berjalan cepat sambil memukul-mukul kepala merutuki kebodohannya itu.
"Sungguh memalukan. Aku tak mampu lagi menunjukkan mukaku di hadapannya. Sumpah ini benar-benar diluar kendaliku."
Tindakan Rain tak lepas dari pandangan Rian yang masih belum meninggalkan tempat itu serta tangannya memegang bibirnya. Ia melihat Rain yang berjalan dengan tergesa-gesa sambil memukul kepalanya hingga tubuh itu menghilang di balik pagar putih yang tinggi.
Rain memasuki rumah, ia tak mendapatkan siapapun disana. Ketika ia hampir tiba di depan pintu kamarnya, ia bertemu dengan Kakaknya yang baru keluar dari kamar.
"Heh bocah, dari mana aja baru pulang? Keluyuran lagi?"
Teguran itu tidak dihiraukan oleh Rain karena Rain masih merasakan jantungnya yang masih berdetak kencang. Sepertinya ada yang tidak beres dengan jantungnya. Kejadian sudah beberapa menit berlalu, namun detak jantungnya masih saja kencang.
Rain langsung memasuki kamar dan mengunci pintunya.
"Hah, kesambet apa itu anak? Aneh."
Rain menjatuhkan tubuhnya ke kasur dan menenggelamkan wajahnya.
"aaaaaaaaaaaaaaa." Teriakan keras itulah yang keluar pertama kali dari mulutnya namun teredam dengan kasur.
"Ya ampun apa itu tadi? Mimpi kah?" Ia duduk disisi tempat tidurnya dan menghentakkan kakinya kiri kanan dengan kedua tangan menutup wajahnya.
Sejenak ia terdiam menatap dinding kamarnya mengulang kembali pada rekaman memorinya tentang kejadian tadi.
"Jantung ini, kenapa dia kencang sekali. Membuat aku takut." Ia memegang jantungnya.
__ADS_1
"Mulut ini, kenapa tak mampu berkata-kata lagi." Ia memegang bibirnya.
"Astaga, bibir ini tak akan ku cuci satu minggu."
"Ica, Ica. Aku harus cerita ke ica."
Ia mencari ponselnya di dalam tas. Ia mengacak isi dalamnya namun yang dia cari tak ketemu juga. Tak sabar, ia membalikkan tasnya di atas kasur hingga semua isi didalamnya keluar.
"Lah, Kemana ponselku?" Lalu ia menyibakkan selimutnya. Namun lagi-lagi yang dia cari tak ketemu juga.
Ia pun keluar menuju kamar kakaknya. Lalu ia membuka pintu kayu itu.
"Kak." Sedetik tak ada jawaban.
"Kak Roni." Panggilnya lagi dan tak ada juga jawaban.
Ia berlari menuruni tangga, menuju ruang keluarga. Tak ada juga.
Terakhir dia menuju dapur. Ia menemukan Bi Ijah sedang memasak untuk makan malam. Bi Ijah seorang pekerja di rumah itu selama 7 tahun. Setiap ada nyonya rumah, ia akan membantu nyonya nya memasak, namun jika tak ada maka bi ijah sendiri akan mempersiapkan makanan. Mama Wulan memang wanita yang luar biasa, ia ingin anak dan suaminya tetap bisa merasakan makanan buatannya sendiri.
"Bi, lihat kak Roni gak?"
"Sepertinya lagi di belakang non, memberi makan ikan peliharaan nya." Jawab bi Ijah
"Oh, oke."
"Oh iya, mama sama papa mana?" Tanya Rain lagi.
"Sekitar jam 3 sore tadi nyonya menyusul tuan ke perusahaan, non. Sampai sekarang belum pulang. Kata nyonya tidak perlu menunggu untuk makan malam. Beliau akan makan malam di luar dengan tuan."
"Oh my god, mereka masih aja romantis hingga melupakan anak-anaknya."
"Hehe iya non tuan sama nyonya tetap romantis. Bibi saja iri lihat kebersamaan mereka. Nanti non harus cari suami seperti tuan, sangat pandai buat isteri bahagia."
"Aman bi. Doain aja ya bi. Rain sudah dapat kandidatnya." Bisik Rain
"Serius non?"
"Iya bi. Nanti kalau waktunya sudah tepat, Rain akan kampanye in."
"Beneran ya non, bibi tunggu. pasti ganteng kandidat pilihan non."
"Bibi pinter. Okedeh kalo gitu, Rain mau samperin kak Roni dulu."
"Baik non. Cepat-cepat lakukan kampanye nya ya non, bibi mau ikut beri suara."
"Siap bi."
_
_
_
#Bersambung...
like, like, like, jangan lupa ya manteman😉
__ADS_1