
Pagi-pagi sekali Satria sudah siap dengan pakaian biasa karena mereka juga akan berangkat ke daerah itu menggunakan bus agar para bandar narkoba itu tidak curiga dan juga mereka akan menyamar sebagai mahasiswa yang sedang melakukan penelitian tentang perkebunan sawit.
Seperti yang Kinara katakan kemarin malam untuk mengabarinya sebelum berangkat, Satria pun langsung menghubungi Kinara setelah ia selesai menghubungi kedua orang tuanya dan meminta doa dari mereka sebelum berangkat. Satria tidak tahu keadaan di sana bagaimana, apakah ada jaringan atau tidak jadi lebih baik Satria menghubungi mereka sebelum berangkat.
Satria sengaja melakukan panggilan video dan tak lama kemudian panggilan video itu pun dijawab oleh Kinara. Terlihat Kinara yang masih memakai celemek di tubuhnya. Seperti Kinara sedang memasak untuk sarapan.
" Assalamualaikum, Sayang " ucap Satria setelah melihat wajah cantik Kinara di layar ponselnya.
" Walaikumsalam, Mas " jawab Kinara tersenyum dari sana.
" Lagi masak buat sarapan ya? " tanya Satria pada Kinara.
" Iya Mas, aku masak omelet sayur kesukaan kamu buat sarapan " jawab Kinara.
" Wah pasti enak tuh. Sayang banget aku gak bisa cobain " ucap Satria dengan ekspresi wajah sedih.
Kinara tersenyum melihat itu. " Makanya kamu di sana semangat dan cepet tangkap orang-orang itu biar kamu bisa cepet pulang dan rasain masakan aku lagi " ucap Kinara pada Satria.
" Iya Sayang, pasti " jawab Satria juga tersenyum.
" Kamu sudah mau berangkat? " tanya Kinara melihat Satria yang sudah sangat rapi.
" Iya, sebentar lagi aku berangkat tapi sarapan dulu " jawab Satria.
" Kemungkinan besar di perjalanan menuju ke sana gak ada jaringan jadi mungkin ini telepon kita yang terakhir sebelum aku berangkat, tapi aku pasti bakal selalu coba kabarin kami sebisa aku kalau ada jaringan " ucap Satria pada Kinara.
" Iya Mas, aku ngerti kok. Yang penting kamu jaga diri baik-baik di sana " jawab Kinara.
" Kamu juga ya Sayang, jaga hati kamu juga buat aku " ucap Satria masih menatap wajah cantik yang selalu menggetarkan hatinya.
" Iya Mas, aku bakal selalu berusaha jaga hati buat kamu " jawab Kinara tersenyum.
__ADS_1
" Kamu harus semangat di sana dan terus berjuang. Jangan lupa sholat dan selalu berdoa setiap mau lakuin sesuatu. Allah pasti lindungi kamu, Mas " ucap Kinara yang sedang berusaha untuk tidak menangis.
" Iya Sayang " jawab Satria.
Terdengar suara pintu kamar itu diketuk dan tidak lama disusul dengan suara Sandi.
" Satria, cepat keluar buat sarapan " ucap Sandi pada Satria dari luar kamar.
" Sayang, aku harus tutup dulu video call ini. Temen aku sudah manggil buat sarapan dan berangkat " ucap Satria pada Kinara.
" Iya Mas, kamu hati-hati ya " jawab Kinara tersenyum agar Satria tahu kalau dia baik-baik saja dan tidak membuat Satria kepikiran saat di sana.
" Iya Sayang. Aku cinta sama kamu " ucap Satria mengatakan kata cinta itu sebelum ia berangkat.
" Aku juga cinta sama kamu, Mas " balas Kinara tersenyum.
" Assalamualaikum " ucap Satria.
Setelah panggilan video itu pun mati. Satria menghela napasnya panjang lalu meyakinkan jika dirinya bisa melewati semua ini dengan baik.
" Satria, cepetan " teriak Sandi lagi yang sudah tidak sabar menunggu Satria.
Satria segera memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya lalu meraih tas miliknya. Ia harus cepat keluar kalau tidak ingin mendengar Sandi terus berteriak di depan kamarnya.
" Lama banget sih, Sat " ucap Sandi dengan wajah kesal saat Satria membuka pintu.
" Tadi video call sama Kinara dulu " jawab Satria mengunci kamar itu.
Sandi hanya mendengus kesal mendengar penyebab Satria yang lama keluar.
" Dasar ya kalau lagi bucin mah gak inget waktu " cibir Sandi.
__ADS_1
" Yang jomblo gak usah iri deh " ucap Satria mengejek Sandi karena mencibirnya.
Sandi pun menjadi kesal dan bertambah kesal saat Satria berjalan lebih dulu meninggalkannya.
" Lah, gue yang nungguin malah gue yang ditinggal " gerutu Sandi menyusul Satria.
Satria dan Sandi menuju restoran yang ada di hotel itu untuk sarapan bersama dengan rekan-rekan mereka yang lain.
Setelah selesai sarapan dan berdoa bersama, Satria dan semua orang yang akan berangkat ke daerah itu pun masuk ke dalam bus. Selain dua puluh lima orang termasuk Satria, di sana juga ada tiga orang komandan polisi yang akan memimpin mereka dan juga ada lima orang tenaga medis yang kemungkinan akan sangat diperlukan di sana.
Satria memilih untuk duduk di kursi belakang dan selalu saja di sebelahnya pasti Sandi. Entah mengapa laki-laki itu selalu saja ingin menempel padanya. Satria memilih membuka ponselnya dan mengirimkan pesan yang terakhir untuk Kinara.
" Sayang, aku berangkat. Aku sangat mencintaimu dan apapun yang terjadi aku akan selalu mencintai kamu. Kamu harus jaga diri baik-baik ya di sana " ucap Satria dalam pesannya.
Satria mengirimkan pesan tersebut tanpa maksud apa-apa. Di sana apa pun bisa terjadi apalagi tugas ini sangat berbahaya. Bisa saja ia kembali nanti dengan keadaan yang sudah tidak bernyawa. Tapi sebelum itu Satria akan melakukan semuanya dengan baik.
Kemudian Satria memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya lalu melihat ke arah luar jendela. Tak lama kemudian bus itu pun mulai berangkat dan perjuangan mereka semua akan dimulai.
" Siap-siap gak bisa kontekan sama Kinara lagi lo, sebentar lagi pasti jaringannya hilang " ucap Sandi pada Satria di tengah perjalanan.
" Gak papa, gue juga sudah siap " jawab Satria santai.
Dan benar saja, baru satu jam perjalanan mereka tapi jaringan sudah hilang. Mereka juga sudah melewati hutan yang sangat lebat.
Satria memilih untuk tidur dan mengistirahatkan tubuh dan pikirannya karena setelah ini mungkin saja ia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak lagi.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih 😊🙏 Tetap dukung saya ya 😘
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " 😊🙏
Ada juga karya baru saya " Menikahi Ayah Nadia dan Suamiku Seorang Bodyguard " 😘
__ADS_1
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘