Mengejar Cinta Pertama

Mengejar Cinta Pertama
7-Misi di Mulai


__ADS_3

*****


Ini merupakan pertama kalinya Rain menginjakkan kaki di perusahaan megah milik keluarga Purnama yang menjulang tinggi itu, terpampang tulisan besar bertuliskan PURNAMA GROUP. Sebenarnya ia malas untuk masuk ke dalam, tapi ia harus melakukannya agar bisa bertemu dengan sang pujaan hati. Ia pun menelfon sang kakak namun tidak ada jawaban. Setelah panggilan ke tiga...


"Hallo, dek." Sambut Roni


"Ikh. Lama banget jawabnya. Kemana sih? Aku udah di depan perusahaan nih." Cerocos Rain.


"Kenapa gak langsung naik aja?"


"Ya mana aku tahu posisi kakak dimana, ruangan kakak pun aku gak tahu."


"Ya udah, Kakak turun sekarang."


"No." Jawab Rain cepat membuat Roni kaget.


"Biar aku aja yang ke ruangan kakak."


"Kenapa gak tanya sama resepsionisnya aja tadi? Kamu naik aja ke lantai 30."


"Ribet ah, Otw (On the way)"


Rain menutup panggilannya, Ia melangkah masuk ke perusahaan yang sangat luas itu, dia menuju meja resepsionis untuk sekedar melapor dan menanyakan letak lift. kemudian ia mengikuti arahan dari resepsionis tersebut.


Para karyawan perusahaan yang melihat, memperhatikan Rain, karena wajah Rain masih asing di lingkungan perusahaan.


Menunggu pintu lift terbuka, ia memperhatikan penampilannya, apakah ada yang salah sehingga para karyawan memperhatikannya.


Ia baru sadar, bahwa penampilannya yang serba hitam, dengan sepatu sneaker, rambut di kuncir kuda. Sangat berbeda sekali dengan para karyawan wanita disana. Tapi Rain tetaplah Rain yang bodoh amat. Seketika ia teringat sesuatu. Ia merutuki dirinya yang bodoh itu, kenapa tidak memperhatikan penampilan.


Ia terus memperhatikan tampilannya sendiri dari atas ke bawah, dan berfikir untuk melanjutkan misi nya atau tidak.


"akh, bodoh amat, udah terlanjur masuk, lanjut ajalah" Rain menyemangati dirinya, sambil merapikan rambutnya dan tersenyum.


Pintu lift terbuka, tak ada seorangpun didalamnya, dan dia pun masuk. ia memencet tombol lift dengan angka 30 itu.


Tak lama pintu lift terbuka. Sampailah ia di lantai 30, letak ruang kerja sang kakak dan pujaan hatinya. Yang ia lihat pertama kali ketika pintu terbuka hanya ruangan yang sangat luas, dan terdapat seorang wanita cantik duduk manis di meja bertuliskan Sekretaris.


Ia pun melangkah lurus kemeja itu kemudian di sapa oleh sang sekretaris.


" Selamat siang, nona. Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya adiknya Roni, kak." Jawab Rain


Sekretaris itu langsung paham, dan menunjukkan ruangan asisten dari bos nya itu.

__ADS_1


"Silahkan nona, ruangannya di sebelah sana."


"Terimakasih, kak"


Rain langsung menuju ruangan yang ditunjuk. Sengaja ia menoleh ke kanan, dan memperlihatkan kepadanya sesuatu yang menarik. Sesuatu itu ialah sebuah pintu berdesain mewah dan elegan, terpampang papan nama ruangan disitu "CEO PURNAMA GROUP". Senyum terbit di bibir Rain, ia membelokkan langkah kakinya ke kanan.


Namun ia di sadarkan oleh sang sekretaris. Sekretaris itu menepuk pelan pundaknya "Maaf nona, ruangan pak Roni nya sebelah sana, bukan di sini".


Rain pun kesal namun menampilkan wajah yang seolah-olah tidak tahu kesalahannya.


"ah, iya kak."


Padahal, Rain hanya ingin mengintip, mana tau ada sedikit celah🤭


Sekretaris berlalu menuju ruangan CEO dengan membawa beberapa berkas. Rain hanya menatap punggung sekretaris itu dan mengintip ketika pintu itu dibuka oleh sekretaris, tapi ia tidak melihat apa yang ia cari.


Rain pasrah, dan langsung membuka pintu ruangan kakaknya.


"Selamat siang, pak asisten" canda Rain sambil berjalan ke arah sang kakak.


Roni yang sedang duduk di kursi kerjanya menggelengkan kepala melihat tingkah sang adik.


"Selamat siang nyona, apa yang bisa saya bantu?" Roni mengikuti candaan adiknya kemudian merebahkan tubuhnya di sandaran kursi sambil memperhatikan adiknya.


Rain ber Hehehe ria. "Ih, aku belum nikah lo, panggil nona saja, Tuan. Hayuk, makan yuk." ia langsung mengakhiri candaannya


Rain membelalakkan matanya "Lama kali kak. Aku udah laper."


"Mau nunggu atau pulang?"


"hmmm, iya nunggu." Rain duduk di sofa dan Roni melanjutkan kerjanya


Rain menscrool aplikasi di Handphonenya, terlihat beberapa video terus bergantian. Tak sabar menungu kakak nya, Rain berinisiatif sendiri.


"Kak, ada berkas yang perlu aku antarkan untuk mas Iyan?"


Roni menjeling mata ke arah adiknya, namun posisi badan dan kepalanya tetap tertuju pada layar komputernya.


"Mau ngapain kamu?"


"Ya aku mau bantu kakak lah." Ia menuju kakaknya, berdiri di belakang kursi dan memijit manja bahu kakaknya. "Kakak ini kan seorang asisten CEO, kerjaan kakak pasti banyak, dan pastinya capek juga dong. Nah, jadi aku sebagai adik yang baik, aku mau bantu kakakku yang ganteng ini. Sini, biar aku bantu kakak antarkan berkas untuk bos kakak."


Roni memutar mata malas "ooh ternyata hari ini kamu bersikap baik sama kakak karena ini, iya? Masih mau mengganggu Rian?".


"Hehehe, bukan ganggu kak, aku cuma mau minta maaf aja. mau berteman juga, lebih juga gak apa apa. Ups." Rain menutup mulutnya seolah terkejut dengan pernyataannya.

__ADS_1


"Ada-ada aja kamu itu."


"Boleh ya kak. Aku mau minta maaf aja kok. Serius."


Roni hanya diam berfikir


"Duarius deh. Boleh ya." Mohon Rain dengan mengeluarkan jari telunjuk dan tengahnya kemudian menggoncang pelan lengan kakaknya


"Janji cuma minta maaf aja ya."


"Iya, janji."


Roni pun me print out berkas yang akan di serahkan kepada bos nya. Kemudian memberikan berkas itu kepada adiknya.


Rain melompat kegirangan. Ia mencium pipi Roni, dan pergi meninggalkan ruangan kakaknya menuju ruangan CEO dengan sebuah berkas di tangan.


"Jaga sikapmu, dek." perintah Roni.


Tiba di depan pintu CEO Purnama Group itu, Rain terhenti.


"Ketuk pintu dulu, atau langsung masuk ya? Kalau aku ketuk pintu, terus dianya nanya siapa, aku mau jawab apa? namaku? gak mungkin, nanti aku gak di kasih masuk lagi. Ya udah deh, langsung masuk aja lah."


Rain merapikan penampilannya lagi sebelum masuk.


Rain langsung mendorong pintu ruangan itu. Yang dilihatnya hanya kursi kosong tanpa penghuninya.


Rian yang sedang tiduran di sofa langsung membuka mata karena mendengar pintu yang dibuka. Ia menoleh ke arah pintu, dan menatap Rain datar.


Sebenarnya ia kesal karena seseorang masuk tanpa mengetuk pintu. Tapi karena melihat itu ialah adik sahabatnya, ia berusaha tenang.


"Kenapa tidak ketuk pintu dulu?"


Rain terkejut mendengar suara Rian yang terkesan dingin. Ia menoleh ke asal suara di sofa dalam ruangan itu.


"mmm..." Ia memikirkan jawaban yang tepat supaya Rian tidak marah. Walau bagaimanapun ia sadar, pertemuan mereka dimulai dengan pertengkaran. Tapi sebelum menjawab, tiba-tiba Rian berkata.


"Ulangi kembali!" Perintah Rian dengan posisi yang masih berbaring di sofa menatap lurus ke atap ruangan itu.


_


_


_


#bersambung...

__ADS_1


Apakah Rian akan marah lagi?


Like like like. Jangan lupa like, komen, dan vote nya ya😉


__ADS_2