Mengejar Cinta Pertama

Mengejar Cinta Pertama
14-Mengorek Info dari Kakak


__ADS_3

*****


Rain duduk di sofa ruangan Roni. Merebahkan tubuhnya.. diam.. menatap langit-lagit ruangan itu tanpa bersuara.


"Apakah dia memang seperti itu?" Rain tiba-tiba bertanya dengan nada pelan, tapi tak dihiraukan Roni.


"Kaaak." Teriak Rain


"Apa sih dek, hobby kali teriak-teriak. Suaramu itu jelek kalau teriak. cempreng."


"Lagian, orang nanya gak di denger. Udah budeg apa gimana? makanya cepat nikah biar gak mudah budeg."


"Berisik."


"Hmm.. Jadi gimana?" Tanya Rain lagi


"Apanya yang gimana?"


Rain melihat kakaknya. Kemudian duduk di kursi seberang di meja kerja Roni.


"Kak, aku mau nanya, tapi kakak jawab jujur ya!" pinta Rain.


"Nanya apa?" Roni menaikan satu sisi alisnya.


"Gini, kakak kan dulu kuliahnya sama dengan mas Iyan, tapi kenapa kakak gak pernah bilang sama aku?"


"Seingat kakak udah pernah bilang sama kamu kalau kakak berteman dengannya ketika awal masuk kuliah dulu. Dan kakak gak tahu kalau dia orang yang kamu ceritakan. Lagian kamu bilangnya mas Iyan mulu, tapi gak nyebut namanya lengkapnya."


"Hehe, iya aku dulu juga gak tahu nama lengkapnya."


"Lalu salah kakak dimana?"


"Salah sih karena gak pernah mau pertemukan kami." jawab Rain tak mau kalah.


"Dia dulu gak pernah mau kakak ajak main ke rumah."


"Kenapa?"


"Alasannya lebih betah duduk di apartement nya. Biasa deh, seorang introvert memang suka seperti itu. Eh tapi dulu pernah sekali dia nganter kakak aja sampai depan, gak masuk. Sempat ketemu papa, mama."


"Rain kemana?" Ia menanyakan dirinya sendiri kepada sang kakak.


"Kamu kan sukanya keluyuran."


Dibalas cengiran oleh Rain


"Ooo, apa mas Iyan punya Pacar kak?"


"Gak punya katanya."


"Serius kak?."


"Iya, duarius malah."


"Dulu.... masa-masa kuliah, dia pernah punya pacar?"


"Sepertinya tidak."


"Ya pasti gak punya lah, karena Rian di takdir kan hanya untuk Rain seorang." Jawab Rain percaya diri membuat Roni merinding mendengarnya.


"Dia orangnya cukup tertutup masalah pribadinya. Tapi setau kakak dia punya satu teman wanita yang sering ngunjungin dia."

__ADS_1


"Ha? Deket banget?" Tanya Rain penasaran dengan membesarkan bola matanya.


"Iya, banget. Sebelum kuliah pun mereka sudah dekat. Setau kakak keluarga mereka juga sudah saling kenal."


"Mereka ada hubungan lebih dari sekedar teman?" Rain memajukan wajahnya di hadapan Roni.


"Yeeey, mana gua tau." Roni menoyor kepala Rain dengan jari telunjuknya.


"Ih, kakak. Ini Rain lagi serius."


"Iya, tau. Dulu kata Rian mereka hanya berteman."


"Beneran nih kan kak?"


"Iyaaa"


"Cantik gak?"


"Cantik."


"Cantikan Rain apa dia?." Tanya Rain


"Cantikan dia lebih feminim, kalem, manis. Gak kayak kamu yang....." Roni melihat penampilan Rain dari atas ke bawah seolah menilai dan pandangan itu juga diikuti oleh Rain memandang dirinya. "yaah, gitu deh."


"Iiiih, kakak kok gitu."


"Hehe, Adek kakak ini juga cantik asalkan berpenampilan lebih berwarna dan meninggalkan dunia kelaki-lakiannya itu."


"Mau gimana lagi kak, udah biasanya kayak gitu dari dulu. Lagian terlalu berwarna itu norak tau."


"Ya gak terlalu juga sih. Setidaknya jangan hitam terus. Bagaimana mau dilirik? laki-laki takut mau dekat, tau gak?"


"Idiiih meremehkan pesonaku ya? Gini-gini Rain tuh banyak yang minat, banyak yang ngantri. Akunya aja yang belum mau buka pendaftaran."


"Sudah cukup. Tapi yang tadi itu beneran cuma temen kan kak? Aku masih gak bisa terima."


"Iyaaa temen."


"Okeeey, makasih kakakku sayang." mencolek dagu kakaknya.


"Makin semangat aku untuk mengejar cintanya sang pangeran."


"Yeee, Sekolah itu selesaikan dulu."


"Eh, tapi kak. Dia dingin banget sama aku."


"Ya, dia memang gitu. Lebih baik kamu nyerah aja deh. Kakak lihat cewek modelan kamu gini, jauh dari tipe idaman Seorang putera tunggal dari keluarga Purnama. Udahlah kecil, gak pandai rawat diri, kurus, hidup lagi."


"Iiiiikhhhh" Rain menepuk-nepuk bahu Roni dengan tangan kanan dan kiri bergantian.


"Resek. Gini amat punya kakak. Gak ngedukung adeknya. Kenapa sih, mama ngelahirin kakak? Nambah beban aja."


"Heeeh, sadar diri." Roni menyadarkan Rain.


"Hehe. Oke kak, kita lihat aja nanti. Bagaimana jika suatu saat nanti aku berhasil menaklukkan hati seorang Riandi Purnama? Aku pasti bisa mencairkan kulkas yang terhitung 12 pintu itu"


"Jika kamu bisa melembutkan hati Rian yang batu itu, kakak akan belikan kamu tiket konser EXO VIP plus mobil yang kamu mau. Gimana?"


"Haaaah, serius kak? BTS juga ya." Rain tidak percaya.


Roni menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Okee, deal ya." Rain berjalan keluar dengan hati bahagia.


"I'm coming EXO. Bagaimana rupa wajah D.O. ku jika dilihat langsung ya?, Canyoel juga, Kai juga, Sehun, Baeki, aaaa semuanyaaa. pasti ganteng banget pacar-pacarku. aaaaah, jadi gak sabar. Aaa mas Taetae ku juga, si bunny jungkook ku juga, semuanya deh. Tapiiii, mas Iyan tetap nomber 1, emmuach emmuach." Rain bermonolog.


Seketika ia menghentikan langkahnya, dan berbalik badan ke arah kakaknya.


"Kak, laper." Rain memasang puppy eye nya.


"Makan sendiri."


"Kantin dimana?"


"Lantai 3."


Rain mencebikkan bibirnya. dan menadah tangan kanannya.


"Duit."


Roni memutar bola matanya. Sudah biasa ia menghadapi cobaan seperti ini. Sebagai kakak yang baik, Ia mengeluarkan sehelai uang 100ribu dari dompetnya, kemudian memberikannya kepada Rain.


"Untuk sebulan."


Sebenarnya ia punya uang sendiri di rekeningnya jatah dari orang tua, tapi Rain lebih suka meminta kepada sang kakak.


Senyum Rain menghilang "Pelit."


Ia pun berlalu dengan cepat menuju lantai 3 dimana letaknya kantin. Ia harus buru-buru karena 30 menit lagi waktu istirahat akan habis. Ia harus mengisi perutnya agar tidak lapar. Rain termasuk orang yang tipenya tidak boleh telat makan, karena ia memiliki riwayat sakit maag.


Setibanya di kantin ia bertemu dengan teman baru satu divisinya dan duduk di sebelah Devi. Kedatangannya menimbulkan pertanyaan dari si rempong setengah mateng, Vina alias Vino.


"Kamu dari mana sih, Rain. Kok baru nyampe sini. Aku sama Devi udah selesai makannya, mau balik keruangan."


"Tadi ketemu temen bentar, habis itu pusing nyari kantin, jadinya lama deh." Rain beralasan.


"Ooh, kirain kemana. Lantas kamu anak baru, takutnya kamu mau genit-genit lagi." Balas Vino.


"Hus, jangan ngomong sembarangan." Bantah Devi


Rain hanya tertawa "Gak lah, aku mana berani sis. Oh ya, kalau kalian mau duluan juga gak apa apa kok, aku makan sendiri aja, gak perlu nungguin."


"Kami nungguin kamu aja lah Rain, balik kerja bareng aja kita, ya kan beb?." Tanya Vino pula pada Devi. Mulut Vino memang sedikit lemes, tapi solidaritasnya tergolong tinggi.


"Iya dong beb." Jawab Devi menyetujui


"Hehe, okedeh. makasih ya Sis, Vi. Aku makannya gak lama kok."


*****


Waktunya pulang kerja.


Rain buru-buru menuju area parkir menunggu Rian keluar. Ia berdiri dekat dengan posisi parkir mobil mewah milik Rian.


30 menit ia menunggu, akhirnya yang ditunggu datang juga. Berjalan lurus dari kejauhan bagaikan putera mahkota yang gagah seperti tokoh di drama-drama yang biasa Rain tonton. Walaupun Rain terlihat agak tomboi, tapi Rain suka menonton drama romantis seperti drama korea, Thailand, dan China akibat racun dari sahabatnya Ica. Berawal dari Ica yang selalu memaksanya menonton bersama, akhirnya ketularan sampai sekarang.


_


_


_


#Bersambung....

__ADS_1


Like, like, like. Jangan lupa ya manteman😉


*Introvert adalah orang yang lebih senang menghabiskan waktu sendirian atau bersama satu dan dua orang teman terdekat mereka dibandingkan berada dalam keramaian.


__ADS_2