
Rain menabrak punggung Rian yang kekar. Mereka berhenti tepat di depan pintu lift dan Rian memencet tombol lift.
Rain mengelus dahinya akibat tubrukan itu. Ia mengangkat pandangannya dan hanya punggung Rian yang ia lihat.
"Saya tertidur." Rian menolehkan wajahnya ke kiri sedikit melihat Rain dan hanya dua kata itu lolos dari mulutnya dengan nada yang bersahabat. Ia langsung masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan ketika pintu lift terbuka meninggalkan Rain yang masih berdiri di tempatnya.
"Nah, jawab gitu kan enak." Rain sedikit lega meskipun semua pertanyaannya belum terjawab.
ia semakin menjadi pusat perhatian dan perbincangan para karyawan yang mempertanyakan hubungan antara atasannya dengan wanita itu. Rain yang terlalu dengan terbukanya mengejar bos dingin itu membuat para karyawan disana senyum mengejek. Rain hanya cuek saja.
"emm, lumayan. Cukup lah untuk pembangkit semangat hari ini. hehe." Rain bermonolog sambil menunggu pintu lift umum terbuka.
Ia berjalan masuk ke dalam ruangan dengan sangat ceria. Ia tak menemukan keberadaan Ibu kepala Divisi disana.
"Selamat pagi Devi." Sapa Rain bersemangat kepada rekan kerjanya itu yang lebih dulu tiba.
"Pagii." Jawab Devi.
"Masih semangat-semangatnya ya di hari kedua ini."
"Hehe, harus dong Vi. Ini kan masih pagi, sangat baik jika hidup kita di penuhi dengan semangat. Biar kerjanya juga semangat." Jawab Rain
"Waaah, semangat pemuda yang seperti ini ni yang aku suka. mengingatkan aku dulu ketika menjadi aktivis sewaktu kuliah." Sambung Vino yang baru memasuki ruang kerja.
"Widiiih, keren tuh. Aktivis ya sis. Hidup mahasiswa! Gak nyangka kamu juga aktif masa kuliah" Rain bersemangat sambil mengepalkan tangannya dan mengangkat ke atas seperti tangan semangat seorang pejuang.
"Alaah, mau aja kamu di tipu sama dia Rain. Kuliahnya saja selesai lima tahun" Kini Devi yang bersuara.
"Yaa, begitulah aku terlalu menikmati masa-masa ku menjadi mahasiswa hampir abadi itu, hingga aku melupakan tugasku untuk selesai tepat waktu. Kamu beb, jangan di tiru ya. hehehe." Colek Sis Vino untuk Rain dengan gemulai.
"hahahhahahaha." Rain dan Devi kompak tertawa.
****
"Yes, akhirnya jam istirahat tiba. Aku duluan ya vi, sis." Rain bersemangat untuk melanjutkan aksi pendekatannya.
"Eh, gak bareng kita lagi kamu Rain? Mau ketemu siapa sih kamu?" tegur Vino ketika Rain hendak keluar dari ruangan, kebetulan hari ini ketua divisi lagi tidak ditempat, jadi Rain leluasa untuk langsung keluar dulu.
"Mau ketemu pujaan hati. Daaaa." Bisik Rain tapi masih bisa di dengar oleh kedua rekannya. Ia pun berlalu menuju tempat dimana sang pujaan hati kerja.
"Apa maksudnya pujaan hati? Apa dia punya crush di kantor ini?" Tanya Vino penasaran.
"Mungkin saja iya, soalnya kemarin juga begitu." Jawab Devi.
"Sudahlah beb, nanti saja kita tanyakan. Jadi sekarang kita mau makan siang dimana?" Sambung Devi.
__ADS_1
"Aku pengen ganti suasana loh beb, bosan makannya di kantin terus."
"Sama sih, gimana kalo kita makan siang di restaurant Lucky aja?"
"Boleh, tapi aku selesaikan kerjaan dulu ya beb." jawab Vino
"Oke, aku juga."
Disisi lain, Rain yang baru saja sampai di lantai 30 tak menemukan sekretaris cantik di tempatnya, sehingga ia langsung masuk ke ruangan Roni. Namun ruangan itu kosong. Begitu juga dengan ruangan Rian. Kosong juga. "Kemana perginya mereka? apa aku telat? huhh, gagal deh rencana mau makan siang bareng."
"Dari pada gak ada temennya mending aku telfon bagas, perusahaan nya kan gak jauh dari sini, kangen juga sama tu anak."
Tut. tut. tut. Rain melakukan panggilan
"Hallo Rain, baru aja mau nelfon. Tapi udah keduluan." Jawab Bagas di seberang.
"Kemana aja sih lo, lama gak nongol?"
"Kemaren gue lagi sibuk dengan proyek yang di serahkan papa ke gue. Jadi gue harus fokus supaya para dewan direksi percaya sama gue."
Bagas memang lagi berusaha untuk mengambil alih posisi direktur utama di perusahaan yang papa nya bangun.
"Widih, keren nih calon direktur. Sekarang masih sibuk gak?"
"Gak sih. Kenapa, kangen ya? haha"
"Oke tepat, gue juga pengen makan sama lo, gue kesana sekarang ya."
"Oke gue tunggu, bye." Rain menutup panggilannya.
Ia pun meninggalkan lantai dimana tempat CEO perusahaan itu bekerja menuju restaurant yang di sebutkan.
Ia memasuki restaurant itu, matanya langsung melihat ke arah meja makan kosong yang pernah ia tempati ketika makan bersama kakaknya.
"Untung masih kosong, jadi gampang gue lihat mas Iyan dan kak Roni masuk ke perusahaan nanti." Gumam Rain.
Ia sudah memesan beberapa menu makanan untuknya dan untuk Bagas. Dia memang suka seenaknya memilih menu makanan sendiri untuk siapapun yang makan bersama dia. Makanan yang ia pesan pun juga tidak aneh-aneh dan sesuai dengan selera teman makannya. Alasannya biar lebih cepat saja.
"Hai Rain. Sudah lama nunggu?" Sapa Bagas langsung duduk di seberang Rain.
"Hm karena pesanan belum datang, jadi belum lama deh kayaknya."
"Kok kayaknya? haha."
"Suka-suka gue dong. Gak usah bawel deh, gas."
__ADS_1
"Yeee, sensi amat. Gimana magangnya? betah gak?"
"Betah dong gas. Lo sendiri gimana. Proyeknya berhasil?"
"Masih dalam pengerjaan sih Rain, dikit lagi selesai. Doain ya semoga gue berhasil supaya bisa nikahin lo. haha." Jawab Bagas sedikit menggoda Rain dan di sambut dengan tawa.
"Rain." Panggil Devi yang baru masuk restaurant. Sedangkan yang di panggil langsung menoleh ke asal suara.
Vino langsung melihat arah pandang rekannya ke orang yang ia kenal sedang duduk dengan seorang lelaki. Ia pun menarik tangan Devi.
"Oh, jadi ini beb pujaan hati kamu? ganteng loh beb" Seloroh Vino melirik dari atas ke bawah memperhatikan Bagas.
"Boleh gabung kan?" Tanya Vino lagi langsung duduk di sisi kiri Bagas. Diikuti dengan Devi di sisi kanan Rain.
"Kirain kalian makan di kantin lagi. Kebetulan banget. Kenalin nih temenku, Bagas."
"Vino, rekan satu divisi Rain yang paling ganteng." Vino sebenarnya bukanlah pria setengah mateng yang baru dimasak langsung di angkat masih banyak mentahnya. Ia tetap berpenampilan layaknya laki-laki hanya saja sikap yang diperlihatkannya lebih lembut, gestur tubuh yang gemulai, dan mulutnya yang lemes.
"Ya iyalah paling ganteng. Di divisi kita kan cuma kamu sendiri laki-laki." Pernyataan Vino mengundang gelak tawa mereka.
Setelah berkenalan, makanan yang sudah Rain pesan pun datang, tapi belum untuk pesanan yang baru di pesan oleh Vino dan Devi. Mereka pun menunggu semua pesanan datang baru makan secara bersama.
"Nih ikan saos kesukaan lo sudah gue pesan. Baik kan gue?" Tanya Rain pada Bagas sambil meletakkan Sepiring nasi dan ikan saos di depan Bagas.
"Tau aja lo kesukaan gue. Makin sayang deh gue sama lo." Jawab Bagas. Sebelumnya mereka memang sudah sedekat itu. Jadi kata sayang sudah tidak asing lagi di telinga Rain dan dia tidak mempermasalahkan itu.
"Ya iya lah tau. Setiap makan lo selalu ngingatin gue untuk pesan ini menu."
"Ya sekarang ada kemajuan, gak perlu gue ingatin, sudah lo pesan. Thank you." Jawab Bagas meraih kepala Rain untuk mengelus rambut Rain. Bukan elusan lembut yang di dapat, Bagas malah mengacak rambut Rain.
"Ih kebiasaan, rambut gue jadi acakadul. Mulai besok kalo gue ketemu lo, gue harus pake penutup kepala."
"Percuma, penutupnya gue lepasin dulu sebelum gue acak. hahaha."
"Dunia berasa milik berdua ya beb. Kita disini cuma ngontrak." Sindir Vino yang dari tadi hanya memperhatikan interaksi dua insan itu yang terlihat seperti pasangan romantis.
"Hahaha, sorry sorry. Lupa kalo ada yang ngontrak disini." Jawab Rain
Tanpa mereka sadari ternyata ada yang mendengar interaksi mereka di balik tembok yang berada di belakang Rain.
_
_
_
__ADS_1
#Bersambung...
Like, like, like. Jangan lupa ya manteman.