Mengejar Cinta Pertama

Mengejar Cinta Pertama
6-Coba Dulu


__ADS_3

Melihat sang sahabat risih, Roni menarik adiknya hingga melepaskan pelukannya dari Rian.


"Mana kunci mobil lo? Gue bawa mobil lo pulang dulu, Ron. Lo tolong urusin mobil gue." Pinta Rian


"Itu di laci. Ambil saja." Jawab Roni sambil memegang erat adiknya yang memberontak ingin mengejar Rian.


Setelah Rian berlalu.


"Yaaaah, kan udah pergi." keluh Rain


Setelah terlepas dari genggaman kakaknya, Rain menatap kakaknya dengan perasaan tidak senang.


"Kenapa kakak nahan aku?"


"Kamu yang heboh, Kecentilan amat. Kamu gak lihat muka Rian tadi gak suka lihat kelakuan kamu. Main peluk-peluk aja. Jangan pancing emosi dia. Kamu gak kenal dia seperti apa. Masih untung kamu adek kakak."


"Gak suka? Dia gak suka lagi sama aku?" Gumam Rain tapi masih di dengan Roni.


Seketika mata Rain berlinang menahan air matanya yang hendak terjun bebas dari sumbernya. Tak percaya mendapatkan reaksi Rian seakan tidak menginginkannya. Ia menyandarkan kepala di dada bidang sang kakak. Sang kakak pun turut perihatin dan memeluk adiknya itu supaya tenang.


"Dia Iyan ku kak."


"Dia yang selama ini aku tunggu."


"Tapi kenapa dia tidak senang bertemu aku?"


"Apakah selama ini cuma aku yang mencintainya?"


Keluh Rain.


Dan sang kakak hanya diam menyaksikan nasib adiknya yang menunggu pertemuan yang terus dinanti-nantikan ternyata seperti ini. Bukan sang kakak tidak tau dengan cerita percintaan semu dengan harapan-harapan yang indah adiknya itu. Selama ini Roni lah yang menjadi tempat Rain untuk berkeluh kesah tanpa ada yang di tutup-tutupi. Hingga cerita tentang pertemuan pertama kali dengan cinta pertama adiknya itu sudah berkali-kali ia dengar hingga bosan.


Rain melepas pelukan kakaknya dengan wajah sendunya. Ia berjalan keluar menuju kamarnya tanpa bersuara lagi.


Tangisnya pecah ketika ia menenggelamkan kepalanya pada tempat tidur. Memikirkan apa yang baru saja terjadi.


"Tidak-tidak. Ini pasti mimpi. Iya pasti mimpi." Ia menepuk-nepuk pipinya.


Sedetik kemudian ia bangkit. Menghapus air matanya.


"Aku sudah menunggu dia dalam waktu lama. Dan sekarang aku sudah menemukannya. Gak akan ku buat hatiku ini patah begitu saja."


Di kamarnya, Rain memikirkan rencana bagaimana cara untuk memperjuangkan cintanya.


Ia terus membayangkan tindakan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus ia katakan nanti ketika melihat wajah pujaan hati untuk yang kedua kalinya setelah ia menemukannya.

__ADS_1


"Aaaaaaaaa. Aku semakin jatuh cintaaaa. Bagaimana ini?" tiba-tiba ia melompat tak henti di atas kasurnya. Mengingat kejadian tadi pagi yang sangat romantis ketika dia menatap lama mata Rian.


"Tatapan matanya gak berubah sama sekali. Ia tetap mas Iyan ku." Ia terus membayangkan seluruh inci wajah Rian yang tampan itu.


"Tapi kenapa waktu pertama kami bertemu, aku gak mengenalinya? aakhhhh bodoh bodoh bodoh" Rain memukul kepalanya, ia malu sendiri dengan kesan pertama yang ia tunjukkan ketika pertemuan pertamanya setelah sekian lama itu. Ia menyesalinya.


"Gak apa apa. Tenang Rain. Karena semuanya udah terlanjur terjadi. Jadi sekarang aku harus memikirkan cara agar aku bisa bertemu dengan mas Iyan."


Rain terus berfikir.


"Coba dulu, apa salahnya kan?"


"Oke, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Fighting!." Rain menyemangati dirinya sendiri.


*****


Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Seharian ia telah merencanakan dengan matang. Saatnya Rain menjalankan misi itu.


Pagi ini seperti biasa Rain sarapan dengan keluarganya. Ia tersenyum licik dan menyenggol siku abangnya hingga disekitar mulut Roni belepotan dengan selai cokelat pada roti tawarnya.


"Apaan sih dek?" Kesal Roni.


Namun Rain membalas dengan senyuman sambil menaik turunkan alisnya seakan memberi kode.


Tak mengerti akan kode adiknya, "Apa?".


"Ih, kok cuma dilihatin, minum dong." Rain masih mengukir senyum manisnya untuk kakaknya.


"Butuh apa lagi kakakku sayang?" Tanya Rain


Roni bergidik ngeri dengan kelembutan super adiknya dan ia hanya menggeleng kepalanya tanda ia tidak butuh apa-apa lagi. Mereka pun melanjutkan sarapannya.


Setelah sarapan, Rain berlari kearah abangnya yang sudah berada di belakang kemudi mobilnya hendak berangkat ke Perusahaan.


"Kak." Rain mengetuk kaca mobil Roni.


Roni menurunkan kaca mobilnya.


"Ada apa lagi? Kalo mau ikut langsung naik aja" Tanya Roni.


"Ih, bukan itu."


"Jadi apa?"


"Nanti makan siang aku temenin ya" Masih dengan senyum manisnya

__ADS_1


"Tumben?"


"Ih, kok gitu. Aku masih baik lo mau nemenin kakak makan siang" mohon Rain dengan wajah yang di imut-imutkan.


"Kemarin kemana aja? Di ajak selalu gak mau."


"Hari ini mau kok."


"Iya udah. Kakak tunggu." Roni meng iya kan sambil mengacak-acak rambut adiknya. Sebelumnya ia sering meminta adiknya untuk makan siang bersama. Tapi adiknya itu selalu menolak. Entah apa kesibukannya itu, selalu saja punya alasan untuk menolak. Dan kali ini ia tak mau menolak dan banyak berdebat dulu dengan adiknya karena melihat semalam adiknya sangat patah hati. Tentunya ia sangat sayang dengan adiknya ini. Kelihatan saja dari tampilannya Rain berantakan terkesan tomboi. Tetapi hatinya sangat lembut, ketika sudah berhadapan dengan orang yang ia sayang, dia akan manja se manja-manjanya.


"Gak mau pergi sama kakak sekalian?" Tawar Roni


"Gak deh kak, nanti gimana mau ke tempat kerja kakak kalo aku gak bawa kendaraan sendiri?"


"Oke, kalo gitu hati-hati ya, jangan ngebut."


Roni pun melajukan kendaraannya keluar dari kawasan rumah menuju perusahaan tempat ia bekerja.


*****


Setelah menyelesaikan kuliahnya, ia segera membereskan buku dan alat tulis, memasukkannya kedalam tas.


"Mau kemana? Buru-buru kali." Tiba-tiba Bagas menghampirinya.


"Eh, Bagas. Aku mau makan siang sama kak Roni"


"Yaaah, aku baru aja mau ngajak kamu makan siang di restoran seberang yang baru buka itu."


"Emm, lain waktu aja ya, Gas. Aku buru-buru soalnya."


"Ca, aku duluan ya." Pamit Rain pada Ica di sampingnya.


"Oke Rain. Fighting!" Semangat Ica. Rain sudah menceritakan kejadian semalam dengan Ica. Tentunya Ica sempat kaget dan bersyukur akhirnya penantian Rain selama ini sedikit terbayarkan, meski ceritanya tidak seperti yang diinginkan. Tapi Rain dengan semangatnya ingin membuktikan cintanya. Sahabatnya berharap agar Rain tidak akan kecewa bila usahanya berakhir dengan penolakan.


Rain berlari meninggalkan kelas.


"Udah, ayok makan sama gue aja." Ica menepuk bahu Bagas.


"Ya udah, ayok." Pasrah Bagas. Padahal ia ingin memulai hari yang baru dan berencana ingin menjalankan hubungan yang serius dengan Rain. Karena ia merasa hubungannya dengan Rain telah di setujui dan di dukung oleh kedua belah keluarga. Sepertinya hari ini ia kurang beruntung.


_


_


_

__ADS_1


#bersambung...


like, like, like . Jangan lupa like, komen, and vote nya ya😉


__ADS_2