
Satu pekan kemudian...
Tiba hari yang dinanti-nantikan Rain setelah sekian lama ia tidak melihat wajah sang kekasih. Eh, kekasih masa kecilnya, dan ia pastikan pujaan hatinya akan menjadi kekasih sampai akhir hayatnya.
Tinggi sekaliii impiannya Rain..
Hari ini ia bangun lebih awal. Hari pertamanya magang membuatnya bersemangat.
"Syalalaaa lalaaaa." Rain berdendang ria berlari kecil menuruni tangga menuju ruang makan.
"Seneng banget anak mama satu ini." Tegur manis mama yang sedang menyajikan roti ke piring papa Reza.
"Ya dong, ma." Jawab Rain.
Mama Wulan tersenyum ikut senang melihat puteri bungsunya yang bersemangat. Lebih bersemangat lagi melihat tampilan sang puteri sangat rapi, memakai rok span selutut, dipadukan dengan kemeja putih. Wedges hitam menambah kesan feminim didiri Rain. Ia tampil beda hari ini. Dengan persiapan matang sebelum tiba hari kerja, Rain telah berbelanja keperluannya supaya terlihat semakin cantik karena setelah ini banyak rencana yang akan ia laksanakan.
"Mama suka lihat kamu yang seperti ini. Cantik. Turun sarapannya juga cepet." Puji mama Wulan.
"Iya dong ma, hari pertama magang, Rain harus memberikan kesan terbaik, supaya bos besar juga terkesan. hehehe." Kekeh Rain dan di balas senyuman mama.
"Bos besar? Bukannya kamu hanya magang di bidang desain? Emangnya berkaitan dekat dengannya?" Tanya mama Wulan. Mama wulan sama sekali belum mengetahui yang sebenarnya terjadi. Rain belum mau menceritakannya.
"Berkaitan dong ma. Ini itu sebagai wujud terimakasih Rain sudah di izinin magang di sana." Rain beralasan. Padahal bukan itu alasan sebenarnya
"Sudah dewasa ternyata anak papa. Duduk di dunia kerja harus lebih serius, walaupun sekarang masih magang. Beri yang terbaik untuk perusahaan dimana kamu bekerja ya sayang." Papa mulai menasehati putrinya karena ia tahu betul bagaimana sikap Rain yang selalu saja penuh dengan gurauan.
"Iya pa, papa tenang aja. Rain tau kok menyesuaikan diri dimana Rain berada." Rain menenangkan papa Reza.
Roni datang dari arah tangga. Duduk di kursi yang biasa ia duduki ketika makan bersama keluarga.
"Kak, nebeng ya." Pinta Rain melihat ke arah kakaknya.
"Iyaa." Jawab Roni agak lemah.
"Kok lemes amat, Nak? Liat adek kamu tuh. Semangat banget dianya." Tanya mama Wulan kepada Roni. Melihat Roni yang sangat lesu padahal masih pagi, berbanding terbalik dengan Rain yang sudah over semangat.
"Eh, nggak lah ma. Aku hanya kurang tidur aja."
"Emm, anak mama. Walaupun pekerjaanmu penting, kesehatanmu lebih penting, sayang."
"Iya, ma."
Di sampingnya, Rain tak menghiraukan kakak nya yang sedang lesu. Ia sedang makan dengan sangat bahagia sambil membayangkan kegiatannya di kantor bertemu dengan sang kekasih hati.
__ADS_1
"Hayuk kak, berangkat." Ajak Rain.
Roni mengiyakan ajakan Rain
Rain membuka pintu mobil, dan ia teringat sesuatu.
"Emm, kak. Aku gak jadi ikut kakak ya. Aku bawa mobil sendiri aja. hehehe."
"Hmm, Ya udah. Hati-hati." Roni memutar bola matanya.
"Sorry." Kenapa tu anak loyo kali udah kayak ayam hilang induk Rain mengintai kakaknya dari pintu mobil dengan kakaknya yang sudah siap mengemudi. Ia merasa bersalah karena membuat kakaknya terburu-buru.
Rain tidak ingin ikut pergi kerja bareng kakaknya karena ia tidak mau karyawan yang lainnya memandang remeh dirinya. Ia akan berusaha untuk menjadi mandiri walaupun di perusahaan ada kakaknya menjabat sebagai asisten dari CEO Purnama Group.
Ia menuju ruangan yang akan dia tempati selama magang di perusahaan ini sebagai Fashion Desainer.
"Silahkan Ariana , ini ruangan anda." Karyawan yang mengantarkan Rain mempersilahkannya.
"Terimakasih bu."
Rain berjalan masuk ke ruangannya. Disana juga ada beberapa karyawan yang bertugas di bidang yang sama. Rain merasa agak deg-degan karena ia melihat beberapa karyawan menatapnya serius.
"Selamat pagi. Saya Ariana, panggil saja Rain, mahasiswa magang disini. Mohon bimbingannya ya." Rain berinisiatif memperkenalkan dirinya, walaupun agak ragu.
"Selamat pagi juga Rain." Jawab semua yang berada di sana.
Di ruangan itu terdapat satu orang lelaki berumur 27 tahun, seorang wanita 24 tahun, dan seorang wanita lagi berumur sekitaran 40 tahunan, dan diyakini bahwa ia paling senior di bidang ini.
"Hai Rain, selamat datang di divisi kami. Aku Vino" Sapa seorang yang mengaku namanya Vino, sambil mengulurkan tangan.
Rain menyambut uluran tangannya dari laki-laki tampan dihadapannya. "Hai, Aku Rain." Jawab Rain.
"Aku Devi." Sambung seorang wanita yang diperkirakan berumur 24 tahun.
"Jangan sungkan sama kami ya. Kami asyik kok orangnya. hehehe. Ya kan Beb." Sambung Devi lagi.
"Beb? Pacarnya ya?" Rain mengira Devi adalah pacar dari Vino si ganteng itu.
"Haha, pacar? Ih sorry sorry aja gue pacaran sama yang setengah mateng."
Tiba-tiba si Vino menepuk Devi dengan lemah gemulai membuat Rain membelalakkan mata.
"Ku cabut omonganku, dialah pria cantik. Gak ku sangka di balik badan lakiknya ada nama Vina di dalamnya."
__ADS_1
"Hehe, iya mbak Devi. Terimakasih ya." Jawab Rain seolah biasa saja.
"Oh ya, umur kamu berapa? Panggil aku Devi aja, biar kita lebih akrab."
"Tapi kalau sama aku kamu harus panggil sis, ya beb. Gue lebih tua dari kalian pada. Anak ini aja yang gak mau panggil gue sis. memang kurang didik ni anak." Ucap Vino sambil mengetuk pelan kepala Devi.
"Ih, sakit." Devi menepuk kuat punggung Vino.
"Aw. sakit bok." elus Vino pada bahunya
"Oke, Devi, Oke mas Vino eh sis Vino. hehe. Maaf aku belum terbiasa. Oh ya, umur aku 20 tahun." Rain menertawakan tingkah keduanya. Ternyata tak semenegangkan seperti yang dia fikirkan.
"Ekhm. ekhm. Sudah perkenalannya?" Tegur seorang wanita yang lebih senior dari mereka. refleks mereka langsung terdiam.
"Hehe, udah buk. Ini mau bekerja lagi." Jawab Devi.
"Selamat bekerja bersama kami Ariana. Saya Evi. Jika ada yang perlu dipertanyakan tentang pekerjaan, boleh langsung ke saya, jangan sungkan oke." Giliran Ibu Evi yang memperkenalkan diri. Di Divisi ini, ia memang agak disegani karena ia lebih tua, dan menjadi ketua divisi Design.
"Terimakasih bu." Jawab Rain.
Di penghujung jam kerja akan tiba jam istirahat, Devi memberi kode kepada Rain untuk makan siang bersama.
"Sttt, nanti makan siang bareng yuk."
"Maaf, Vi. Hari ini aku gak bisa ikut dulu." Bisik Rain.
"Mana mungkin aku bisa ikut makan siang bersama mereka di hari pertama magang ku disini. Tujuan utama ku belum aku capai hari ini, untuk ketemu mas Iyan ku." gumam Rain sambil membayangkan wajah Rian.
Ia berencana akan ke ruangan kakaknya nanti. Mana tahu ada rezekinya untuk melihat wajah pujaan hati.ðŸ¤
Lima menit lagi mau jam istirahat. Kaki nya sudah merasa sangat gatal untuk segera berlari menuju lantai atas. Mau keluar cepat, ia masih ada rasa gak enak dengan Ibu Evi, yang masih duduk di meja depan.
Dan ketika ibu Evi sudah beranjak dari kursinya, ia langsung berjalan menuju lift. Tapi sayang, sepertinya lift masih lama mengantarkannya ke tujuan. Ia pun mencari tangga darurat, dan menaiki satu persatu anak tangga supaya tidak ketinggalan dengan kakaknya. Ruangan kerjanya hanya berjarak dua lantai dari ruangan khusus petinggi.
"Gini amat berjuang untuk cinta."
Tepat, tibanya dia di lantai 30 itu, ia berlari menuju pintu ruangan Roni dengan tidak sabaran, langsung ia dorong pintunya, dan "Bugh" Suara sesuatu bertabrakan dengan pintu.
_
_
_
__ADS_1
#Bersambung...
Like, like, like Jangan lupa ya 😉