Mengejar Cinta Pertama

Mengejar Cinta Pertama
2-Ingin Datang


__ADS_3

*****


Tepat pukul 11.00 di perusahaan ternama datang sebuah mobil Lamborghini hitam bergaya mewah itu masuk ke area parkir, dan langsung memarkirkan di tempat khusus CEO.


Pintu di bagian kemudi terbuka, muncul seorang pria bertubuh atletis, wajah tampan dengan rahang yang tegas. Kharismanya mampu membuat para wanita klepek-klepek.


Wanita mana sih yang tidak mencita-citakan memiliki pasangan hidup seperti seorang Riandi Purnama, berumur 25 tahun, putera tunggal dari orang terkaya nomor satu di kota B, tampan, tubuh tinggi dan hot, pengusaha muda lagi banyak uangnya. SEMPURNA. Tapi sayangnya, ia dikenal orang yang datar, sangat dingin, dan juga galak. Itu lah yang menggambarkan seorang Rian, panggilan sehari-harinya.


Tak jarang banyak karyawan wanita di perusahaan milik keluarga Purnama itu tergila-gila dan menginginkan dirinya untuk dijadikan nyonya Rian, atau rela menyerahkan tubuh mereka demi merasakan gagah dan perkasanya seorang Rian dengan one night stand.


Tapi apalah daya, cita-cita para karyawan wanita pengagum Rian hanya mampu menjadi bunga tidur saat mereka tertidur nyenyak di malam hari.


Bagaimana tidak, tak ada yang berani untuk menggoda Rian yang berwajah tampan namun dingin itu, senyumnya bukan jarang lagi terlihat, malah tidak pernah terlihat. Membuat para pegawai wanita takut untuk menggodanya. Salah sedikit saja yang membuat sang empunya badan tidak senang, siap-siap pemecatan langsung di terima detik itu juga.


Cara kepemimpinan otoriter yang ia jalani, membuat tak seorangpun berani melawannya. Oleh sebab itu usahanya melanjutkan bisnis keluarganya ini menjadi semakin maju selama kurang lebih dua tahun ia menduduki kursi kebesaranya sebagai seorang CEO.


Sebagai seorang lulusan Hardvard yang merupakan Universitas terkemuka di Amerika Serikat dan telah melahirkan banyak orang-orang hebat itu, dia telah belajar banyak tentang bisnis, Rian di percaya papa nya untuk mengambil alih kursi CEO itu. Maka dari itu, ia harus berusaha sekuat tenaga untuk menjaga kepercayaan yang di berikan oleh papanya itu dan menunjukkan kepada mama nya kalau dia mampu menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab.


Kembali ke perusahaan,


Rian memasuki ruangan dan duduk dikursi kebesarannya, ia menggenggam erat kedua tangan, menandakan ia sangat marah. Bagaimana tidak, hari ini ia melewati jadwal meeting internal mingguan perusahaan yang baginya sangat penting untuk kemajuan perusahaan yang ia pegang, karena ulah wanita yang ia temui tadi pagi yang membuatnya harus kembali lagi ke apartemen untuk berganti pakaian dengan jarak dari apartemen ke perusahaannya memakan waktu selama satu jam, belum lagi macet karena ada kecelakaan lalu lintas tadi pagi membuat waktunya terbuang lebih lama di perjalanan.


Saat ia sedang fokus berkutat dengan komputernya, terdengar ketukan pintu dari luar. Ia mempersilahkan asisten sekaligus sahabatnya itu masuk.


"Hei Ri, serius amat mukanya," usik Roni.


Yang di usik hanya diam tanpa melirik sedikitpun.


Roni merasa ada yang salah dengan muka sahabatnya itu pun bertanya "Apa karena masalah gak bisa hadir rapat pagi ini, sampai-sampai muka gue yang tampan ini gak mau lo lihat? kenapa bisa telat?" Roni mendudukkan bokongnya di kursi di hadapan sang bos.


"Ini jam kerja" balas Rian dingin


"Come on Ri, sekarang gue bukan lgi jadi asisten lo. Udah waktunya Istirahat".


Rian dengan wajah kagetnya langsung menatap wajah Roni, "Gue baru aja datang Ron."

__ADS_1


"hahaha" tawa Roni melihat wajah shabatnya yang penggila kerja itu. "Iya, tau kok gue. Tapi sekarang udah istirahat. Mau makan siang di mana tuan?" ejek Roni dalam tanyanya.


"Gue mau makan disini. Elu terserah mau makan dimana." celetuk Rian.


"Gue sama lu aja lah, mau dengar cerita, kyaknya ada cerita seru tentang pagi ini".


Roni dan Rian memang sangat akrab, mereka berteman sejak kecil, lalu berpisah karena kepindahan orang tua Rian ke Negara tetangga. Lalu mereka dipertemukan lagi di universitas Hardvard hingga persahabatan mereka berlanjut hingga sekarang. Roni lebih memilih menjadi asisten Rian ketimbang menjadi CEO menggantikan papa nya dengan alasan ingin belajar dulu dari sahabatnya yang pintar kelewat batas ini. Padahal papanya sudah menginginkan waktu untuk pensiun, dan menyaksikan anak sulungnya menggantikannya bekerja.


Ketika mereka sedang berperan sebagai CEO dan asisten CEO, mereka akan serius menjalani peran. Tapi ketika jam kerja sudah berakhir, Roni tak melihat sosok Rian sebagai Bos nya lagi, begitu juga Rian kepada Roni. mereka akan kembali menjadi sahabat yang apa adanya.


Mereka duduk di sofa yang tersedia di ruang kerja Rian sambil menunggu pesanan datang, yang sebelumnya tadi sudah Roni pesankan melewati sekretaris.


"Gue ketemu adek lo." Tiba-tiba Rian memulai bicara santai


"Lo kenal sama adek gue?" tanya Roni kaget, karena setaunya, sahabat dan adiknya itu tidak pernah bertemu.


"Kan lo sering cerita dan kasi lihat foto perkembangan adek lo sama gue"


"oh iya ya" jawab Roni cengengesan "Terus kenapa bisa ketemu?" tanyanya


🤣🤣🤣 Tawa Roni meledak mendengar sahabatnya menjadi korban kebar-baran adiknya itu. "Hebat juga adek gue bisa berbuat gitu sama orang terpandang kayak lo" ejek Roni


"Sialan lo." jawab Rian sambil melempar pena yang dia pegang ke arah Roni dan segera ia sambut. "Untung dia adek lo, kalo gak udah gue kejar dan gue tabrak tu bocah" lanjutnya.


"hehe, jangan lah Ri, walau bentukannya kayak gitu, tetap gue sayang dia. Oh ya, nanti malam papa gue ngundang koleganya, bau-bau nya kayak mau ngadain perjodohan untuk Rain, secara mama gue takut anak gadisnya itu jadi.."


"Iya, nanti malam gue datang." tiba-tiba Rian menyela sebelum Roni menyelesaikan bicaranya.


"Belum gue ajak loh. Tumben, kemaren-kemaren gue ajak gak pernah mau?" tanyanya heran.


"Ya, kan kemaren. Hari ini gue lagi senggang. Jadi ngundang gue datang atau gak nih?" tanyanya seakan terpaksa.


"Ya, tentu lah. Gue tunggu" Roni mengiyakan dengan senang.


Makananpun datang, dan mereka segera makan siang. setelah itu melanjutkan pekerjaan mereka kembali. Sesuai dengan kesepakatannya tadi, Roni akan menanti kedatangan sahabatnya itu ke kediamannya setelah sekian lama Rian tidak datang kerumahnya.

__ADS_1


*****


Di kantin kampus, Rain duduk dengan dua sahabatnya Ica dan Bagas. Bagas duduk di samping Rain menikmati bakso daging favoritnya Rain.


"Rain, setelah kelas ini lo mau kemana?" tanya Bagas.


"Pulang kayaknya." jawab Rain


"Nonton bioskop yuk, ada film horor baru nih, katanya bagus. Lo pasti suka." ajak Bagas.


"Ayok, tapi lo bayarin ya, Gas hehehe." porot Rain yang suka grastisan.


"Iya pasti dia yang bayar lah Rain. Tiap kali nonton sama lo, emang selalunya Bagas yang bayar. Lo cuman nikmatin aja." Potong Ica


"Hehe, syirik amat sih lo Ca. Tapi iya juga sih"


Rain membenarkan perkataan Ica. "Lo ikut gak?"


"Nggak deh, nikmatin aja waktu kalian berdua." Jawab Ica dengan muka tidak sukanya, karena ia terpaksa tidak bisa ikut karena harus segera pulang.


"Tumben nolak ikut?"


"Ada nenek gua di rumah. Ntar gua di omelin sampai 5 episode kalo gua pulang malam"


"Haha, iya deh. Nanti gua ceritain deh tentang film horor yang gua tonton ya sama lo biar gak ketinggalan. hihihi" Rain meniru suara tawa seorang primadona perhantuan.


"Is apaan sih lo. Gak diperlukan. Cerita dari lo udah gak tingting lagi." sebal Ica.


_


_


_


#..bersambung..

__ADS_1


Like nya ya jangan lupa🤗


__ADS_2