Mengejar Cinta Pertama

Mengejar Cinta Pertama
19-Pernyataan Cinta


__ADS_3

Rain membuka pintu mobilnya dan duduk di kursi kemudi.


"Mau ngapel kok gak bawa sesuatu?. Aha bawa makan malam aja, mana tau mas Iyan belum makan.hihihi."


Rain berlari kecil kembali masuk kerumahnya mengambil beberapa mangkok di dapur. Ia sudah cukup hapal dengan letak letak perkakas dapur jadi ia tidak perlu mencari lagi.


"Loh non, buat siapa?" Tanya bi Ijah yang sedang mencuci piring.


"Buat ayang bi. Mau apel perdana."


"Wah enak tuh ngapel. Bibi jadi pengen muda lagi."


"Hus, jangan dong bi. kalau bibi muda lagi, pacaran terus tu pastinya. Siapa jadinya yang akan masak?"


"Haha, bercanda non."


"Haha, Rain bercanda juga bi. Tapi kalau bibi mau muda lagi boleh kok."


"Sudahlah neng, bibi sudah kadaluwarsa. Gak bisa balik muda lagi. Hahaha."


Rain mengambil beberapa makan dan memindahkannya ke 4 buah mangkuk dengan menu berbeda, nasi, ayam semur, cumi goreng tepung, cah kangkung, dan tempe bacem.


Rain memasukkan semua makanan ke dalam tas makanan. "Selesai. Waktunya jalan."


"Bi.. Lihat sini deh."


"Kenapa non?"


"Rain udah cantik belom?" Rain menyelipkan sisa rambutnya di belakang telinga.


"Non hari ini sangat cantik, wangi juga. Pacarnya pasti suka."


"Eits, calon pacar, bibi."


"Oh belum resmi ya non?"


"Belum. Bibi jangan buat semangat Rain turun dong." Rain mencebikkan bibirnya.


"Hehe, mana mungkin non. Non jangan nyerah ya. Semangat! Bibi selalu doain yang terbaik untuk non Rain."


"Top markotop (Rain mengacung dua jempolnya). Bibi yang terbaik. Rain jalan dulu."


"Hati-hati non."


Malam ini ia mengikat sedikit rambut bagian atasnya, menyisakan rambut bagian bawah tergerai begitu saja dibelakang, tak lupa ia menambahkan jepitan pita supaya terlihat manis. Ia meninggalkan gaya berpakaiannya yang dominan hitam. diganti dengan kaos putih dan dipasangkan dengan celana jeans, dikakinya terbungkus dengan sneakers putih.


Dengan bidangnya sebagai desainer fashion tentunya ia sangat paham dengan style. Tetapi untuk gaya berlebihan, dia sedikit kurang nyaman hingga ia memilih untuk berpakaian simple, nyaman, dan leluasa untuk beraktifitas.


****


Sekarang ia berdiri melihat apartemen mewah di depannya. Sempat ada sedikit keraguan, namun rasa ragu itu tertutupi dengan tekad nya untuk meluluhkan hati seseorang yang telah lama tinggal dihatinya.


Ia memencet bel apartement nomor 5 tersebut sesuai dengan petunjuk kakaknya. Kali ini ingatannya sudah membaik tidak seperti sebelumnya yang kadang pelupa.

__ADS_1


Lama ia berdiri di depan pintu itu. Setelah memencet bel ke enam kali, barulah pintu itu dibuka.


Rian mengenakan pakaian rumahannya dengan rambut yang masih basah membuat Rain terpesona dengan ketampanan yang berkali lipat.


"Hai.." Sapa Rain dengan melambai tangannya kemudian menyelip rambutnya ditelinga dengan gerakan yang terkesan malu-malu meong. Sebelumnya ia sudah belajar ilmu ini dari internet dan ia hanya berusaha menerapkannya saja.


Rian sedikit terkejut melihat Rain yang datang.


"Mana Roni?" Ia mencari sosok sahabatnya itu namun tak ada


"Kak Roni lagi jemput pacarnya." Jawab Rain.


Rian mengangkat sebelah alisnya.


"Pacar?" Tanya Rian bingung. Rian curiga jika itu hanya akal-akalan Rain saja. Karena setaunya sahabatnya itu belum punya pacar ataupun gebetan.


"Iya, Rain juga gak tau sejak kapan ia pacaran. Yang jelas Tadi ketika mau kesini tiba-tiba pacarnya nelfon."


"Ya sudah, masuk dulu aku ambil ponselmu."


Rian mempersilahkan Rain masuk. "yes, disuruh masuk." Tentunya Rain sangat senang.


Rian menuju kamarnya sedangkan Rain menuju ruang makan tanpa sepengetahuan Rian. Ia menatap kagum dengan interior ruangan yang terlihat megah dan tertata rapi. Walaupun rumahnya sendiri tergolong mewah, tapi apartement Rian lebih mewah dari beberapa tempat yang pernah ia lihat.


Rain menata makanan yang ia bawa di atas meja. Menyedia sepiring nasi dan segelas air. Sengaja ia belum menyertakan lauk di piring itu karena ia sebenarnya belum tahu selera makannya Rian seperti apa. Mungkin ini akan menjadi PR nya nanti.


Rian tiba di ruang tamu dengan membawa ponsel milik Rain, ia mencari keberadaan Rain yang tidak ia lihat disana. Karena ruang makan agak sedikit dibatasi dengan tembok setinggi pinggang orang dewasa, dan karena Rain juga sedang duduk di meja makan membuat Rian sulit menemukannya.


Rain menyusuri ruangan ruangan apartement nya, hingga terakhir ia berjalan ke dapur. Terlihat Rain menatap makanan di atas meja makan dan tak menyadari kedatangannya.


"Eh, mas. Sini duduk, makan dulu. Aku sudah bawa beberapa untuk mas makan." Rain berdiri menarik kursi di sebelahnya untuk di duduki Rian.


"Tidak perlu, saya bisa cari makanan saya sendiri." Rian tidak menerima tawaran Rain


"Untuk apa di cari mas, makanannya sudah ada di depan mata. Sini duduk." Ia menarik tangan Rian yang hanya bisa menurut. Rain duduk di sampingnya.


"Ambil ponsel kamu. Saya rasa kamu sudah boleh pulang." Usir Rian secara halus. Ia selalu saja ingin menghindari Rain.


"Rain ambil ponselnya, tapi Rain belum bisa pulang?" Bantah Rain


Rian mengerutkan keningnya menghadap Rain yang menyiratkan pertanyaan "mengapa"


Rain tersenyum manis. "Mas belum memakannya." Jawab Rain seraya menunjuk makanan yang ia bawa.


"Nanti akan saya makan."


"No no, Rain harus lihat mas memakannya dulu takutnya nanti mas buang lagi." Rain menggeleng pelan kepalanya.


"Pasti saya makan."


"Kalau begitu mas makan saja sekarang." Rian akhirnya mengalah karena ia malas untuk berdebat dengan manusia keras kepala disampingnya dan dia juga belum terbiasa untuk berlama-lama bersama Rain.


Ia menggapai mangkuk cumi goreng tepung. Melihat itu Rain juga bergerak menggapai mangkuk yang sama.

__ADS_1


Mereka saling pandang ketika permukaan kulit mereka bersentuhan. Rain langsung tersenyum.


"Biar Rain saja. Mas bilang saja apa yang mau mas makan."


Rian melepaskan tangannya dan membenarkan duduknya karena merasa sedikit gugup.


"Mas mau cumi ini? tunjuk Rain dengan memegang sendok mengambil beberapa potong cumi."


"Mas mau ayam?" Tanya Rain melihat Rian dan di balas dengan anggukan.


"Tempe bacem sama cah kangkungnya mau?"


"Hm." Rian menjawab dengan hm saja.


"Cukup." Rian menghentikan gerakan tangan Rain yang sedang mengisi cah kangkung ke piringnya.


"Selamat makan, mas." Senyum Rain tak pernah luntur sedikitpun, ia sangat senang melayani Rian. Ia sering memperhatikan mamanya melayani makan papanya. Jadi ia sudah bisa belajar dari orang tua nya. Ia bermimpi ingin seperti mamanya yang lebih mengedepankan kebahagiaan dan memberi yang terbaik untuk suami dan anak-anaknya.


Rain menopang dagunya dengan sebelah tangan dan terus memperhatikan Rian yang terus mengunyah makannya. Merasa diperhatikan, Rian sesekali melirik Rain yang terus mengukir senyum.


"Mas suka cumi ya?" Tanya Rain


"Hm." Jawab Rian tanpa menghentikan makannya.


"Sama dong. Rain itu juga suka sama cumi apalagi masaknya gini, pake tepung. Mas juga suka sama semur ayamnya?" Dan lagi lagi di jawab dengan deheman.


"Cah kangkungnya juga suka?"


"Hm."


"Tempenya juga suka?"


"Hm."


"Kalau sama aku juga suka?"


..... Rian menghentikan gerakan mulutnya yang mengunyah makanan.


"Kok diem?" Tanya Rain yang tidak mendapat jawaban.


Namun Rian melanjutkan makannya lagi.


"Mas, Rain itu cinta sama mas Iyan." Rain spontan menyatakan perasaannya tanpa ragu dan terus memandang wajah Rian dengan senyum yang tak redup.


"Tapi saya tidak.."


_


_


_


#Bersambung...

__ADS_1


Like, like, like. Jangan lupa ya manteman😉


__ADS_2