Mengejar Cinta Pertama

Mengejar Cinta Pertama
86. Tamu dari Kalimantan


__ADS_3

Pagi ini, Kinara akan pergi ke rumah keluarga Satria sesuai permintaan Bunda Wulan yang mengajak Kinara untuk membuat rujak buah bersama. Kebetulan juga Kinara sedang tidak ada jadwal kuliah hari ini. Kinara akan pergi menggunakan motornya. Satria ingin menjemputnya tapi Kinara menolaknya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, akhirnya Kinara sudah sampai di rumah keluarga Satria. Kinara sedikit heran saat melihat ada sebuah mobil yang terparkir di depan rumah itu tapi bukan mobil milik keluarga Satria maupun milik Rendra.


" Apa mereka sedang ada tamu ya " ucap Kinara saat turun dari motornya.


Kinara memencet bel yang berada di sebelah pintu utama dan tak lama kemudian, Bu Lastri, asisten rumah tangga keluarga Satria pun membukakan pintu.


" Assalamualaikum " ucap Kinara.


" Walaikumsalam " jawab Bu Lastri.


" Ayo silahkan masuk, Non Kinara " ucap Bu Lastri pada Kinara.


" Iya Bu " jawab Kinara.


Kinara mengikuti Bu Lastri untuk memasuki rumah itu. Saat melewati ruang tamu, Kinara melihat Ayah Arif dan Bunda Wulan sedang mengobrol dengan sepasang suami istri dan ada seorang gadis yang seumuran dengannya. Satria juga berada di sana tapi Satria hanya diam.


" Eh sayang, kamu sudah datang " ucap Bunda Wulan saat melihat Kinara bersama dengan Bu Lastri.


Satria juga begitu senang saat melihat Kinara. Ia memang sudah menunggu kedatangan Kinara dari tadi.


Kinara tersenyum dan langsung menghampiri mereka.


" Assalamualaikum " ucap Kinara.


" Walaikumsalam " jawab mereka.


Kinara segera mencium tangan Ayah Arif dan Bunda Wulan.


" Sepertinya Om dan Tante sedang ada tamu, jadi Ara langsung ke belakang aja ya " ucap Kinara merasa tidak enak mengganggu mereka.


" Baiklah Sayang " jawab Bunda Wulan.


" Bu Lastri, temani Kinara dan bawa semuanya ke taman belakang ya " ucap Bunda Wulan pada Bu Lastri.


" Baik Nyonya " jawab Bu Lastri.


Kinara melirik ke arah gadis itu yang sedang memandangi Satria dengan tatapan yang memuja lalu ia dengan cepat mengalihkan pandangannya.


Setelah itu, Kinara dan Bu Lastri pun langsung pergi meninggalkan mereka di ruang tamu.


" Bun, aku nyusulin Ara ya " bisik Satria pada Bunda Wulan yang duduk di sebelahnya.

__ADS_1


Bunda Wulan pun menganggukan kepalanya mengiyakan.


" Maaf Om, Tante, Ela, saya permisi dulu " ucap Satria pada tamu mereka.


" Iya Satria " jawab Tuan Bambang.


Satria pun langsung berdiri dari duduknya lalu beranjak pergi meninggalkan ruang tamu.


Tuan Bambang adalah rekan bisnis Ayah Arif di Kalimantan. Ia bersama Nyonya Liza, istrinya dan Ela, putrinya, datang ke Jakarta untuk menghadiri acara pernikahan saudara mereka. Mereka menyempatkan untuk mampir ke rumah Ayah Arif dan Bunda Wulan.


" Gadis tadi itu siapa ya? " tanya Nyonya Liza pada Bunda Wulan.


" Oh, itu teman dekat Satria " jawab Bunda Wulan.


Ela yang mendengar itu pun menjadi tidak suka. Apalagi Satria yang langsung pergi setelah kedatangan gadis itu. Ela sebenarnya sangat menyukai Satria apalagi mereka sudah saling mengenal sejak lama tapi Satria selalu saja bersikap acuh kepadanya. Keluarga mereka sering makan malam bersama untuk menjalin kerja sama antara perusahaan mereka.


" Siapa sih cewek itu? Aku gak akan biarin dia rebut Satria dari aku. Lagi pula cantikan aku dibandingkan dia " ucap Ela dalam hati.


Sementara itu, Kinara yang sedang asik mengupas buah-buahan di taman belakang bersama dengan Bu Lastri dikagetkan dengan kedatangan Satria. Satria ikut bergabung bersama Kinara dan Bu Lastri yang duduk di atas sebuah tikar.


" Kok kamu di sini, Mas? Bukannya lagi ada tamu? " tanya Kinara pada Satria.


" Aku males di sana, lagian cuma diem doang dengerin orang tua ngobrol. Mending aku di sini bantuin kamu sama Bu Lastri " jawab Satria.


" Mereka itu rekan bisnis Ayah di Kalimantan. Mereka dateng ke Jakarta karena ada saudara mereka yang mau menikah jadi mereka sempetin buat mampir ke sini " jawab Satria.


Kinara hanya menganggukkan kepalanya mengerti walaupun ia merasa jika gadis yang tadi ia lihat menyukai Satria. Kinara bisa melihat tatapan mata gadis itu pada Satria.


Satria pun membantu untuk mengupas buah-buahan itu, sedangkan Kinara beralih membuat bumbu kacang untuk rujak buah mereka nanti.


" Inget jangan pedes-pedes " ucap Satria saat melihat Kinara memasukkan cabai ke dalam bumbu kacang itu.


Kinara memang sangat menyukai rasa pedas tapi Satria selalu melarangnya memakan makanan pedas karena ia tidak Kinara merasakan sakit perut.


" Iya Mas " jawab Kinara menurut.


Kinara pun melanjutkan untuk mengulek bumbu kacang itu hingga benar-benar halus.


" Sekarang kamu cobain " ucap Kinara pada Satria.


Kinara mengambil satu potong buah mangga lalu memberinya bumbu kacang dan menyuapkannya ke mulut Satria.


" Gimana? " tanya Kinara pada Satria.

__ADS_1


" Sudah pas " jawab Satria sambil mengunyah buah mangga yang tadi Kinara suapkan ke mulutnya.


Saat semua buah sudah dikupas dan dipotong, bumbu juga sudah selesai di buat, Ayah Arif dan Bunda Wulan datang menghampiri mereka.


" Wah, sudah selesai ya " ucap Bunda Wulan lalu duduk di tikar itu lalu disusul Ayah Arif.


"Iya Tante, ini baru selesai " jawab Kinara.


" Mereka sudah pergi, Yah? " tanya Satria pada Ayah Arif.


" Sudah, mereka baru saja pergi " jawab Ayah Arif.


Setelah itu, mereka pun mulai menikmati rujak buah dengan bumbu kacang yang dibuat oleh Kinara.


" Bumbu kacangnya enak banget ini, Bu " ucap Ayah Arif yang mengira bumbu kacang itu Bu Lastri yang membuatnya.


" Bukan saya yang membuat bumbu kacangnya Tuan, tapi Non Kinara " jawab Bu Lastri yang sedang menikmati rujak buah bersama mereka.


" Wah Ra, kamu memang pinter masak " puji Ayah Arif pada Kinara.


Kinara hanya tersenyum menanggapi pujian dari Ayah Arif.


" Ayah bener, bumbu kacang buatan Ara ini memang enak banget " tambah Bunda Wulan.


" Ara seneng kalau kalian semua suka " ucap Kinara tersenyum.


" Calon istri pilihan Satria memang mantap deh " ucap Ayah Arif membuat Kinara malu.


" Jelas dong, Yah " jawab Satria bangga.


Mereka terus menikmati rujak buah itu sambil mengobrol hingga tanpa terasa rujak buah itu habis tidak tersisa.


" Lain kali kita bikin rujak lagi ya, Ra " ucap Bunda Wulan sambil merapikan bekas mereka membuat dan memakan rujak.


" Iya Tante " jawab Kinara tersenyum.


Setelah itu mereka pun masuk ke dalam rumah menyusul Satria dan Ayah Arif yang sudah masuk terlebih dahulu.


Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih 😊🙏 Tetap dukung saya ya 😘


Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " 😊🙏


Ada juga karya baru saya " Menikahi Ayah Nadia " 😘

__ADS_1


Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘


__ADS_2