Mengejar Cinta Pertama

Mengejar Cinta Pertama
9-Lo Sahabat Gue, dan Dia Adik Gue


__ADS_3

Rain memakan dengan lahap makanan yang ia pesan. Roni hanya makan secukupnya saja. Selebihnya Rain yang menghabiskan.


Makanan di atas meja hanya tersisa beberapa bagian yang tidak bisa di makan. Ditutup, Rain meminum jus nya habis.


"Aaaaak" Rain membuka mulutnya lebar karena bersendawa.


"Heh Jorok."Roni membelalakkan mata dan melihat sekeliling. Takut ada yang melihat dan mendengar sendawa adiknya akibat kekenyangan.


"Udah puas makannya?" Tanya Roni.


"Udah donk. Makasih banyak kakak." Rain memberikan senyum manisnya.


"Ayok balik ke Perusahaan."


"Gak mau, aku mau pulang aja. Cukup untuk langkah pertama hari ini. Resek."


"Loh, kok gitu. Gak mau ketemu mas Rian mu? Katanya cinta, kok nyerah". Goda Roni.


"No coment.." Jawab Rain memberi tanda silang dengan kedua tangannya, kemudian berdiri.


"Heh, mau kemana lagi tu?" Tanya Roni.


"Puuulang"


"Tumben gak kelayapan."


"Gak mood"


"Bagus deh. Pulang sana." Rain pun berlalu.


Rain mengambil motornya yang terparkir di perusahaan Purnama Group dan membawa dengan kecepatan sedang membelah jalan.


Walaupun mood nya sudah kembali karena makanan yang banyak masuk ke perutnya. Rain tetap murung di sepanjang jalan. Masih memikirkan cinta pertamanya. Sebenarnya banyak pertimbangan atas tindakannya. Kadang dia ingin menyerah melihat sikap dari sang pujaan seakan benar tidak ada menaruh hati sedikitpun kepadanya. Kadang kala rasa penasarannya yang lebih besar membuatnya ingin tetap maju tak gentar.


Kejadian di perusahaan tadi terus berputar di memorinya sambil tetap membawa haluan motornya mengikuti jalan untuk pulang.


Tiba-tiba ia merasakan handphone nya bergetar di saku celana. Panggilan pertama tak ia hiraukan. Tapi handphonenya bergetar terus membuat ia meminggirkan motornya untuk mengangkat telepon.


Ternyata Bagas.


"Hallo gas?"


"Lagi dimana Rain? berisik amat." Tanya bagas


"Lagi di jalan mau pulang."

__ADS_1


"Gue sama Ica rencana mau mantai. Ikut yuk. Udah lama kan kita gak mantai."


Sejenak Rain berfikir


"Ya udah, tapi jemput gue di rumah ya." Rain meng iyakan. Ia juga ingin melihat laut melepas rasa galaunya.


Tak lama sampai di rumah, Rain yang duduk di halaman rumahnya menunggu jemputan kedua temannya itu, akhirnya yang di tunggu sampai. Merekapun pergi ke pantai menggunakan mobil Bagas. Perjalanan di tempuh selama 1 jam menuju pantai.


Lama mereka bercengkrama dan bermain dengan wajah ceria melepas kekalutan di pikiran, juga cukup untuk mengikis kegalauan Rain hari ini. Ia sangat bahagia karena kedua temannya selalu bisa membuat suasana hidup dengan canda dan gelak tawa.


Akhirnya sore pun tiba. Mereka memutuskan untuk segera pulang.


*****


Sedangkan di perusahaan..


Sebelum pulang kerja, Roni masuk ke ruangan Rian. Disana Rian sedang duduk di sofa, sambil membaca beberapa file.


"Ri, belom kelar kerjanya? udah jam pulang nih." Sapa Roni sambil duduk di single sofa di seberang Rian.


"Udah Ron, tapi ini gue belum mau pulang. Kenapa?"


"Maafin adek gue ya."


"Maaf untuk apa Ron?" Tanya Rian mengalihkan pandangannya ke Roni


"Iya, gapapa kali Ron. Biasa masih bocah." Jawab Rian santai.


Roni sebenarnya tidak suka jika Rian menganggap adiknya bocah, tapi ia tidak menanggapi. Orang yang di hadapannya pun juga orang yang keras kepala dan susah di tebak. Walaupun mereka bersahabat, banyak hal yang Roni belum tahu dengan kehidupan Rian yang ia nilai cukup tertutup.


"Selama ini gue gak begitu tahu dengan hal pribadi lo. Tapi karena adek gue suka sama lo, gue mau nanya dan lo jangan marah, apa lo sekarang memang belum punya pacar Ri?"


"Haha, belum lah Ron. Tahu sendiri gue selalu sibuk dengan pekerjaan, gak ada waktu untuk ngurus pacar."


"Ya mana tau aja diam-diam lo pacaran, ya kan?"


"Haha, gak lah."


"Tapi lo tahu kan Ri, adek gue suka sama lo? Bagaimana menurut lo?"


"Ya biasalah Ron, dia kan masih muda masih kuliah juga, nanti perasaannya itu juga hilang dengan sendirinya." Jawab Rian santai.


"Ri, bukan gitu masalahnya. Dia suka sama lo udah lama. Udah dari jaman orok dulu dia udah suka sama lo. Lo itu cinta pertamanya bagi dia." Protes Roni.


"Kan cinta pertama Ron, cinta monyet, masih ada cinta terakhir. Lagi pula tu anak perjalanan hidupnya masih panjang, dia belum ketemu aja sama orang yang tepat."

__ADS_1


"Anak ini, susah kali di bilangin." kesal Roni.


"Ri, gini ya, lo lihat sendiri hari ini, setelah kejadian kemaren dia tau lo adalah orang yang adek gue tunggu sejak lama, semangatnya itu berkali-kali lipat dari sebelumnya. Tadi, dia berusaha datang kesini, pertama kali dalam sejarah, dengan alasan ngajak gua makan siang, semata-mata hanya ingin lihat elo. Sebelumnya gua ajak dia kesini aja dia gak mau. Dipastikan kedepannya nanti dia akan terus-terusan ganggu lo. Gua paham betul sama dia itu" Roni mencoba menceritakan kejadian hari ini.


"Terus, gue harus ngapain? Biarkan aja lah Ron." Jawab Rian gampang.


"Dan elo buat dia kesal lagi nantinya?" Protes Roni lagi.


"Iya, bagus dong. Nanti dari situ dia akan berhenti gangguin gue. Ya kan?". Rian tersenyum menaikkan alisnya.


"Ri, Lo sahabat gue, dan dia adik gue. Gue gak mau sampai adik gue terluka karena lo."


"Tenang aja, gue gak mungkin berbuat hal kasar sama adik lo. Lo kenal gue orangnya gimana"


"Gue percaya sama lo. Tapi gue akan senang kalo lo bisa terima cintanya Rain."


"Sorry Ron, gue gak bisa."


"Ya udah, gue gak akan maksa lo. Tapi lo harus tau, disini gue merasa serba salah mau bersikap bagaimana sama kalian berdua. Gue gak bisa ngendaliin adek gue yang keras kepala itu. Apa lagi lo. Semoga saja lo bisa ngadapin dan bersikap baik sama adek gue nanti. Dan gue pun akan sering memperingati dia."


"Iya gue usahain."balas Rian.


"Akh.. Gue gak enak sama lo, Ron. Nanti adek gue pasti sering gangguin lo. Gak tau berapa lama akan berakhir. Dan berakhir seperti apa. Sampai saat itu tiba, gue mau hubungan kita tetap sama, tak ada perpecahan antara kita. Gue gak mau kehilangan sahabat seperti lo"


Sejenak keduanya diam.


"Tapi lo gak ada niat gitu buat buka hati untuk adek gue? Gue jamin adek gue bisa menjadi pendamping yang baik buat lo, meskipun agak keras kepala. Sampai kapan juga lo mau sendiri terus?" Tanya Roni penasaran


"Roon." Jawab Rian dengan nada memperingati


"Oke oke, baiklah." Roni sambil berdiri dan berjalan menuju pintu.


"Gue pulang dulu"


Kemudian dia berbalik. "Lo beneran gak ada rasa suka sama adek gue?"


Rian menarik nafas dalam menatap Roni kesal membuat Roni kembali membalikkan badannya karena merasakan sahabatnya itu tidak suka dengan pertanyaannya.


_


_


_


#bersambung...

__ADS_1


Like, like, like, jangan lupa ya😉


__ADS_2