
Satria menyusul Kinara ke meja makan setelah ia memakai pakaiannya. Untung saja ia meninggalkan beberapa pakaiannya di rumah itu saat menginap dan tidak kesulitan saat keadaan seperti ini.
Satria duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan. Di sana sepertinya Kinara sedang membuat teh hangat.
" Ini teh kamu, aku buat yang baru karena yang tadi sudah dingin " ucap Kinara meletakkan sebuah cangkir berisi teh di hadapan Satria.
" Makasih ya, Ra " ucap Satria tersenyum.
Kinara pun menganggukkan kepalanya.
Satu tegukan teh hangat masuk ke dalam tenggorokan Satria membuat tubuh Satria yang tadi kedinginan menjadi lebih baik.
" Teh buatan kamu memang gak ada lawan. Enak banget dan sesuai selera aku " puji Satria setelah meletakkan cangkir teh itu ke meja makan kembali.
" Syukur deh kalau kamu suka " ucap Kinara tersenyum.
Mereka berdua pun memakan mie rebus yang tadi dimasak oleh Kinara. Satria menghabiskan mie rebus itu dengan cepat. Entah karena rasanya yang enak atau karena Satria yang sedang lapar.
" Mau nambah, Mas? " tawar Kinara saat melihat mangkuk Satria sudah kosong.
" Boleh deh kalau memang masih ada, Sayang " jawab Satria tersenyum dengan menunjukkan deretan giginya.
Kinara tersenyum lalu mengambil mangkuk kosong milik Satria. Kinara segera mengisi lagi mangkuk itu dengan mie rebus yang masih ada di dalam panci.
" Kayaknya laper banget kamu, Mas " ucap Kinara memberikan mangkuk yang sudah ia isi kembali dengan mie rebus pada Satria.
" Iya sayang, aku memang laper banget. Tadi siang aku cuma makan dikit aja saat jam makan siang. Mana tadi kita sempat kehujanan terus dingin jadi makin tambah laper " jawab Satria.
" Ya sudah, sekarang habisin mie rebusnya. Nanti kalau kurang aku masakin lagi " ucap Kinara pada Satria.
Satria kembali memakan mie rebus itu lagi hingga habis tidak tersisa. Begitu juga dengan Kinara.
" Kamu ke depan aja duluan. Aku mau cuci piring dulu " ucap Kinara pada Satria setelah mereka selesai makan malam.
" Aku bantu kamu cucu piring " ucap Satria.
" Jangan deh, kamu tunggu aku di depan aja " larang Kinara.
" Gak papa, aku mau bantuin kamu cuci piring " ucap Satria kekeh tetap ingin membantu Kinara mencuci piring.
Melihat itu Kinara hanya bisa pasrah dan membiarkan Satria membantunya untuk mencuci piring.
__ADS_1
Satria memberikan sabun pada piring dan yang lainnya lalu membilasnya dengan air bersih. Sedangkan Kinara mengelapnya hingga kering dan menaruhnya ke dalam rak piring.
" Kalau dikerjain berdua kan cepet selesai " ucap Satria melihat semua piring sudah bersih.
Kinara ingin mengajak Satria ke ruang tamu setelah semuanya sudah beres tetapi tiba-tiba saja terdengar suara petir yang sangat keras.
Duar.
Kinara yang terkejut dan takut pun langsung memeluk tubuh Satria sambil memejamkan matanya.
" Mas, aku takut " ucap Kinara semakin mempererat pelukannya pada Satria.
" Jangan takut, ada aku di sini " jawab Satria berusaha menenangkan Kinara.
Jujur saja Satria terkejut saat mendengar suara petir yang sangat keras tapi ia lebih terkejut lagi saat Kinara memeluknya dengan sangat erat. Tubuh mereka saat ini menempel dengan dada Kinara yang begitu terasa mengenai dada bidang Satria. Keringat dingin mengucur dari kening Satria. Ia berusaha untuk tidak terpancing dengan itu.
" Astaghfirullah Sayang, kamu buat aku panas dingin kalau gini mah " ucap Satria dalam hati.
Satria ingin sekali meminta Kinara untuk melepaskan pelukannya tapi ia tidak tega. Apalagi Kinara sedang sangat ketakutan saat ini.
" Tenang ya, udah gak ada suara petir lagi. Kamu gak perlu takut " ucap Satria mengusap punggung Kinara.
" Maaf ya Mas, tadi aku takut banget jadi peluk kamu " ucap Kinara pada Satria.
" Iya, gak papa. Kapan lagi coba aku dipeluk kamu kenceng banget kayak gitu " jawab Satria tersenyum.
Kinara merasa malu lagi mendengar itu. Kinara mengerucutkan bibirnya seolah kesal untuk menutupi rasa malunya.
" Ih, apaan sih " ucap Kinara pura-pura kesal.
Satria tertawa kecil mendengar itu. Kinara tetap terus berpura-pura kesal.
Bibir Kinara yang seperti itu sungguh sangat menggoda iman Satria. Ia ingin sekali mencium bibir yang sangat menggoda itu.
" Akh, rasanya pingin aku cium bibir itu " batin Satria saat melihat bibir Kinara yang masih mengerucut seakan meminta untuk dicium.
" Sayang " panggil Satria.
" Apa? " jawab Kinara dengan nada yang ketus.
Satria seakan terhipnotis dan entah dorongan setan dari mana, Satria meraih dagu milik Kinara. Satria mendekatkan wajahnya perlahan pada Kinara. Kinara terpaku dibuatnya, ia ingin sekali menjauh tapi ia juga terpesona dengan wajah tampan Satria. Satria semakin mendekatkan wajahnya dan berusaha untuk mencapai bibir Kinara. Kinara memejamkan matanya saat wajah Satria semakin mendekat.
__ADS_1
Saat bibir mereka hampir saling bersentuhan, sebuah suara dering ponsel Kinara mengagetkan mereka. Satria melepaskan tangannya dari dagu Kinara dan mereka bergerak saling menjauh. Wajah mereka sama-sama memerah karena mereka hampir saja berciuman jika bunyi dering ponsel tidak terdengar.
" Astaghfirullah Satria, sadar. Gak seharusnya kamu lakuin itu, tahan nafsu kamu. Ini gak bener " rutuk Satria pada dirinya sendiri.
" Ya ampun Ra, apa yang hampir kamu lakuin tadi " ucap Kinara menyesal karena tidak menolak Satria.
Kinara tersadar dari lamunannya saat mendengar suara dering ponsel kembali berbunyi. Suara itu berasal dari ponselnya yang berada di meja makan.
" Halo, Assalamualaikum " ucap Kinara mengangkat panggilan telepon itu yang berasal dari Puspa.
" Walaikumsalam " jawab Puspa dari seberang telepon.
" Ra, Satria sama kamu gak? HP Satria gak aktif dan Bunda khawatir banget karena Satria belum pulang " tanya Puspa pada Kinara.
" Mas Satria ada sama aku, Kak. Sekarang kita ada di rumah " jawab Kinara.
Setelah menanyakan keberadaan Satria sambungan telepon itu pun terputus.
" Kenapa? " tanya Satria pada Kinara.
" Kak Puspa nanyain kamu. Katanya Bunda kamu khawatir banget karena kamu belum pulang dan hp kamu gak bisa dihubungi " jawab Kinara sambil melihat ke arah lain.
Kinara masih sangat malu untuk menatap wajah Satria.
" Sayang maaf ya tadi... " ucapan Satria terpotong oleh Kinara.
" Sudah, jangan dibahas " potong Kinara yang tidak ingin semakin malu.
" Ya sudah, aku ke rumah Kak Puspa kalau gitu. Ini sudah malam dan gak mungkin aku pulang " ucap Satria.
" Iya Mas " jawab Kinara.
Setelah itu, Satria pun langsung pergi ke rumah Rendra dan Puspa walaupun hujan masih sangat deras.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih 😊🙏 Tetap dukung saya ya 😘
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " 😊🙏
Ada juga karya baru saya " Menikahi Ayah Nadia " 😘
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘
__ADS_1