
*****
Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 PM. Tamu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Rain menuruni tangga. Semua mata tertuju kepada Rain. Cantik dan anggun, potongan dress biru muda menampakkan kulit putih bersihnya. Sangat berbeda dengan Rain yang biasanya yang selalu mengenakan pakaian serba hitam.
Dipertengahan tangga ia melirik kearah para tamu. Dan matanya tertuju kepada lelaki yang ia yakini itu adalah anak dari kolega papanya itu. Matanya membesar kaget, senyum terukir di bibirnya dia mempercepat langkahnya. Berlari menghampiri lelaki itu. Hilanglah sudah aura keanggunannya.
"Bagas." Sapa Rain tidak percaya sambil menepuk pundak bagas.
"Hehe, kamu cantik hari ini." Bagas memuji Rain.
"Jadi sebelum-sebelumnya aku gak cantik gitu?." Tanya Rain pura-pura kesal
"Eh, bukan gitu maksud aku. Sebelumnya cantik juga, cuma hari ini lebih cantik lagi. Beda aja dari yang biasa." Jawab Bagas merasa serba salah
Para orang tua hanya senyum-senyum dan saling pandang mendengar percakapan anak mereka.
Rain menyalami orang tua Bagas dan menyapa dengan sopan.
"Kalian saling kenal?" tanya mama Bagas penasaran.
"Iya ma. Rain temen kuliah aku."Jawab Bagas.
Dan semua yang mendengarnya ber oh ria dan sangat senang tentunya. Mereka bersyukur karena tidak perlu bersusah payah untuk para orang tua memperkenalkan dan menyatukan kedua anak muda itu lagi.
"Berhubung anak-anak kita sudah pada saling mengenal, dan jam makan malam juga sudah tiba, mari kita makan malam dulu. Setelah makan baru kita ngobrol lagi. Bagaimana?" Ajak papa Reza
"Nah saya setuju ini." jawab papanya Bagas.
Papa Reza merangkul papanya Bagas dan mengiring semua orang disana menuju ruang makan.
Sekarang mereka memulai makan malam di meja makan keluarga Cahyaguna, diiringi dengan pembicaraan ringan dan goda-goda Roni sang kakak untuk adiknya yang membuat semuanya tertawa.
Tiba-tiba bell rumah berbunyi membuat semuanya bertanya-tanya.
Dan Roni membuka mulutnya
"Kayaknya itu Rian, ma, pa. aku lupa memberi tahu kalau dia mau kesini malam ini."
"Wah, bagus dong. Segera jemput dia masuk." Perintah papa senang.
Roni pun menjemput sahabatnya itu dan membawanya ke ruang makan.
__ADS_1
Semua mata melihat kedatangan sahabat Roni itu dengan senyum. Tentunya mereka sangat mengenal pebisnis muda sukses yang satu ini. Namanya sudah sangat besar dengan keberhasilannya selama memimpin perusahaan keluarganya. Dengan umurnya yang muda sudah mampu disegani oleh para pebisnis lainnya.
Tapi semua orang di ruang makan kaget ketika Rain tiba-tiba berdiri dan menunjuk ke arah sahabat kakaknya itu dengan mata hampir copot,
"kamu?".....
sejenak hening
"Kenapa sayang?" tanya mama Wulan
"Dia siapa ma?" Tanya Rain bingung, kenapa bisa pria menjengkelkan ini mengenal dekat keluarganya.
"Kamu gak tahu? dia ini kan sahabatnya kakak kamu"
Rain terdiam. Sejak kapan kak Roni bersahabat dengan pria ini? Kok aku gak pernah tahu. Matanya terus memperhatikan Rian
Rian menyapa semua orang yang berada diruang makan tanpa menghiraukan kekagetan Rain yang masih berdiri memperhatikannya.
"Silahkan duduk nak Rian." Papa Reza mempersilahkan.
Rian duduk disamping Rain yang masih menatapnya kesal dan penasaran. Perlahan Rain juga duduk.
"Mari semuanya, silahkan dilanjutkan makannya." papa Reza juga mempersilahkan semuanya untuk melanjutkan makan yang sempat terhenti karena kedatangan Rian.
"Kok kakak bisa berteman dengan dia sih?" bisik Rain ke Roni masih dengan penasarannya
"Ya bisa lah" Jawab Roni
"Sejak kapan? kok aku gak tahu?"
"Ya iya lah gak tahu, kan kamu gak pernah mau ambil tahu. Kalau kakak mau cerita, selalu kamu potong dengan cerita masa lalu mu itu." Kesal Roni. Masih dia ingat ketika dia jarang sekali punya celah untuk bercerita dengan adiknya itu. Dan mereka juga tidak punya waktu panjang untuk menghabiskan waktu bersama. Apa lagi semenjak Roni memilih untuk melanjutkan study nya di Amerika.
Terdengar dentingan peraduan sendok dengan piring di ruang makan itu.
Setelah makan, mereka berpindah duduk di ruang tamu.
"Terimakasih makan malamnya, pak Reza." Papa Bagas memulai bicara.
"Jangan sungkan Pak Endra. Saya senang karena anda sudi datang dan makan malam di rumah saya ini"
"Iya pak Reza, saya pun senang bisa makan malam disini. Semua hidangannya enak, ya kan ma?." Tanya pak Endra kepada isterinya.
__ADS_1
"hehe, iya. Enak sekali lo jeng." sahut isterinya dan memberitahu mama Wulan.
"Syukur jika kalian menyukainya." jawab mama Wulan.
"Oh ya, saya tidak menyangka jika anak kita saling mengenal, bahkan sudah berteman dekat di kampus."
"Kami juga gak nyangka jeng. Tidak pernah teman laki-laki anak gadis saya ini datang ke rumah. Kadang cuma nganter sampai depan pagar aja, tanpa masuk dulu. Jadi kami kurang mengenal teman laki-lakinya itu." cerita mama Wulan sambil memegang tangan puterinya dan Rain hanya tersenyum menanggapi.
"Bagus lah jika seperti itu jeng." mama Bagas menanggapi. "Kamu sudah punya kekasih, nak?" Tanya mama Bagas blak-blakan.
"Belum, tante." jawab Rain.
"Bagus deh. Tante tidak berharap lebih, nak Rain. Kalian pun sudah tau apa maksud kedua keluarga kita berkumpul malam ini, tapi kami tidak mau memaksa kalian, jalani saja pertemanan kalian dulu. Mudah-mudahan kedepannya nak Rain dan anak tante ini semakin dekat, ya. Jika kalian sudah merasa cocok, kabarin kami secepatnya. Kami ingin kalian menikah atas dasar cinta." mama Bagas berbicara dengan sangat berharap sambil menepuk sayang paha puteranya, dan Bagas menanggapi dengan senyum senang.
"Semoga berjodoh." harap mama Wulan.
Semua yang ada di ruangan itu tertawa senang sambil meng aminkan, kecuali sahabat kakaknya itu yang hanya mendengar dan menunjukkan muka datar, tanpa berniat mencampuri percakapan kedua keluarga di hadapannya.
Setelah itu mereka sibuk dengan obrolan mereka masing-masing. Para perempuan berkumpul bercerita tentang kesehariannya. dan para lelaki seperti biasanya lebih membahas ke arah pekerjaan.
Selesai pertemuan itu, keluarga Bagas pamit untuk pulang. Diikuti dengan Rian juga ikut pamit pulang. Sang tuan rumah mengantar mereka ke depan pintu. Setelah mobil keluarga Bagas menjauh. Rian pun masuk kedalam mobilnya. Namun sayangnya mobil mewah seorang CEO muda itu tidak bisa di hidupkan.
"Gak bisa hidup mobilnya, Nak?" Tanya papa Reza.
"Iya om, tiba-tiba gak bisa hidup." Jawab Rian
"Luar mobil aja kelihatan keren, tapi mesinnya butut." Senyum mengejek Rain sambil melenggang masuk kedalam rumah.
Semuanya hanya melihat punggung Rain yang menjauh.
"Ya udah lah Ri. Nginep aja disini semalam. Besok juga libur. Kapan lagi lo mau nginap di rumah gue. Sudah lama gue gak tidur bareng lo." Goda Roni sambil mencolek dagu Rian, dan Rian menepis tangan Roni.
_
_
_
#bersambung...
like, like, like. Jangan lupa ya😉
__ADS_1