
Hari sudah semakin malam dan juga langit sedang mendung malam itu. Kinara pamit untuk segera pulang karena takut akan terjebak hujan.
" Ara pulang dulu ya Tante, Om " pamit Kinara.
" Biar aku anterin, Ra " ucap Satria pada Kinara.
" Iya Sayang, biar Satria antar pulang ya " sambung Bunda Wulan.
" Ah gak usah, Ara juga kan bawa motor " tolak Kinara.
" Gak baik kamu pulang sendiri malam-malam begini. Kayaknya juga mau hujan jadi biar Satria yang antar kamu pulang. Gak boleh ada penolakan " ucap Ayah Arif tidak ingin dibantah.
" Ya sudah " jawab Kinara pasrah.
" Aku ganti baju dulu bentar " ucap Satria.
Satria pun pergi ke kamarnya untuk mengganti baju dan juga mengambil jaketnya.
" Ra, kita pakai motor kamu aja ya. Nanti aku pulang bisa pesan taksi online " ucap Satria setelah kembali.
Kinara menjawab dengan anggukan kepala.
" Kita berangkat Yah, Bun " ucap Satria mencium tangan kedua orang tuanya dan diikuti Kinara.
" Kalian hati-hati ya " ucap Bunda Wulan pada Satria dan Kinara.
" Anterin sampai rumah dengan selamat anak gadis orang " tambah Ayah Arif.
" Ayah sama Bunda tenang aja, aku pasti jagain Ara " jawab Satria.
Setelah itu mereka pun langsung pergi. Satria melajukan motor Kinara dengan kecepatan sedang membelah jalanan malam itu.
Belum lama mereka berdua berkendara, hujan sudah turun mengguyur bumi. Satria mengajak Kinara untuk berteduh karena hujan cukup deras.
" Ra, kita neduh dulu ya " ucap Satria pada Kinara.
" Iya Sat " jawab Kinara.
Satria membelokkan motor itu saat melihat sebuah rumah kosong di sekitar sana. Satria menghentikan motor itu tepat di depan sebuah rumah kosong. Satria dan Kinara turun dari motor lalu berlari menuju teras rumah kosong itu.
" Gila, deres banget hujannya " ucap Satria setelah melepaskan helmnya.
" Iya, sampai kita basah semua ini " tambah Kinara mencoba mengeringkan kemeja yang dipakainya.
Hujan yang begitu deras membuat pakaian mereka basah semua, terutama Kinara yang tidak menggunakan jaket.
Satria mencoba membuka pintu rumah kosong tersebut. Angin yang semakin kencang sehingga tidak memungkinkan mereka terus berada di luar.
" Kita masuk dulu, Ra " ucap Satria saat berhasil membuka pintu tersebut.
Kinara pun masuk ke dalam rumah kosong itu mengikuti Satria. Kinara melihat sekeliling yang memang hanya ada ruangan kosong yang berdebu. Sepertinya rumah itu sudah lama tidak dihuni.
__ADS_1
" Duduk, Ra " ucap Satria menarik tangan Kinara untuk duduk.
Kinara pun patuh, ia duduk di sebelah Satria.
" Aku kabari Papa dulu deh, takut mereka khawatir. Apalagi ini hujan deres banget, gak tau kapan redanya " ucap Kinara mengambil ponselnya di dalam kantong celananya.
Saat ia menyalakan ponselnya ternyata sinyal di dalam ponselnya hilang.
" Lah, gak ada sinyal " ucap Kinara pelan.
" Kenapa, Ra? " tanya Satria.
" Sinyal di hp aku hilang. Aku ngabarin papa, pasti mereka khawatir sekarang " jawab Kinara.
" Aku gak bawa hp lagi " ucap Satria.
Satria memang jarang membawa ponselnya jika hanya pergi untuk sebentar.
" Udah kamu tenang aja. Semoga aja hujannya cepet reda " ucap Satria yang melihat Kinara cemas.
" Iya Sat " jawab Kinara.
Satria dan Kinara berada di rumah kosong dengan keadaan gelap. Satria pun berinisiatif untuk membuat api unggun untuk penerangan apa lagi ia juga melihat Kinara yang sudah menggigil karena kedinginan.
Satria melihat beberapa potongan kayu di sudut ruangan. Ia pun langsung mengambilnya.
" Kayaknya ini bekas perapian " ucap Satria.
" Kamu mau ngapain, Sat? " tanya Kinara.
" Aku mau buat api biar agak terang. Apalagi ini juga udah mulai dingin " jawab Satria.
Setelah cukup lama berusaha menyalakan api akhirnya api itu pun menyala. Satria kembali duduk di sebelah Kinara. Mereka mencoba menghangatkan tubuh mereka di depan api tersebut. Satria menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya lalu setelah terasa hangat ia meraih tangan Kinara dan menggenggamnya agar hangat.
" Anget, kan? " tanya Satria pada Kinara.
Kinara pun menganggukkan kepalanya.
Satria terus melakukan itu tapi Kinara terlihat masih kedinginan.
" Dingin banget ya " ucap Satria pada Kinara.
Lagi-lagi Kinara menganggukkan kepalanya.
Satria melepaskan jaket yang ia pakai lalu memakaikannya pada tubuh Kinara.
" Loh, kok kamu pakein ke aku sih. Kamu kan juga pasti dingin " ucap Kinara pada Satria.
" Udah gak papa, aku kan cowok pasti kuat " jawab Satria tersenyum.
" Lagian ini baju aku gak terlalu basah. Liat kamu tuh basah semua " ucap Satria.
__ADS_1
Akhirnya Kinara pun menerima jaket itu apalagi ia merasakan udara yang semakin dingin.
Sementara itu di rumah, Papa Lukman dan Mama Santi sangat cemas karena sudah pukul sepuluh malam tapi Kinara belum juga pulang apalagi hujan sangat deras di luar.
" Ara kemana sih? Sudah malam tapi belum pulang juga " ucap Mama Santi cemas.
" Tenang dulu Ma, mungkin Ara masih di rumah Mas Arif " ucap Papa Lukman mencoba menenangkan Mama Santi.
Papa Lukman juga sangat khawatir dengan Kinara tapi ia mencoba untuk tenang.
" Alina ini sudah malam, kamu ke kamar ya terus tidur " ucap Papa Lukman pada Alina yang juga berada di ruang tamu menunggu Kinara.
" Iya Pa " jawab Alina.
Setelah itu Alina pun pergi ke kamarnya.
" Papa coba hubungin Mas Arif dulu dan tanya Ara masih di sana atau gak " ucap Papa Lukman mengambil ponselnya.
" Iya Pa " jawab Mama Santi.
Papa Lukman berusaha untuk menelepon Ayah Arif dan tak lama panggilan telepon itu pun dijawab oleh Ayah Arif.
" Halo, Assalamualaikum " ucap Ayah Arif di seberang sana.
" Walaikumsalam " jawab Papa Lukman.
" Ada apa, Man? " tanya Ayah Arif.
" Ini Mas, Ara belum pulang sampai sekarang. Apa Ara masih di sana? " ucap Papa Lukman.
" Ara sudah pulang dari sini Man, tadi diantar Satria dan Satria sampai sekarang juga belum pulang " jawab Ayah Arif.
Mendengar itu Papa Lukman pun semakin khawatir.
" Ya ampun, kemana mereka? " ucap Papa Lukman.
" Kamu jangan khawatir Man, mungkin mereka neduh dulu. Soalnya gak lama setelah mereka pergi itu langsung hujan " ucap Ayah Arif.
" Iya Mas, ini nomor Ara juga gak aktif soalnya " jawab Papa Lukman.
" Mungkin gak ada sinyal, kita gak tau mereka terjebak hujan dimana. Nanti aku coba suruh orang cari mereka kalau sampai hujan reda tapi mereka gak pulang juga. Satria juga gak bawa ponselnya " ucap Ayah Arif.
" Iya Mas " jawab Papa Lukman.
Mereka menyudahi panggilan telepon itu setelah mengucapkan salam.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih 😊🙏 Tetap dukung saya ya 😘
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " 😊🙏
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘
__ADS_1