
"Ha, maksudnya?" Jawab Rain bingung dengan kening mengkerut.
"Keluar! lalu masuk dengan mengetuk pintu!" Rian mulai menekan suaranya.
"What? masa kayak gini aja harus ngulang? mukanya kok bisa seseram itu ya. Jadi takutkan akunya mau masuk kesini lagi" Protes Rain dalam hati. Mau protes langsung, ia takut dimarahi. Alhasil ia mengikuti perintah mas Riannya. Ia keluar, lalu timbul rasa ragu untuk masuk ke ruangan itu lagi.
Bukan Rain namanya kalau mudah menyerah. Gas teruuuus.
Rain mengetuk pintu beberapa kali.
"Masuk" suara datar jawaban dari dalam sudah mengizinkan untuk masuk.
Rain memutar hendle pintu perlahan lalu mendorong pintu itu. Ia langsung melihat ke arah sofa dimana sang CEO tiduran sebelumnya. Namun di sofa tersebut tidak ada tokoh itu.
"Hah, dimana orangnya?" ia semakin bingung.
Rain mengedarkan pandangannya, dan melihat tokoh yang ia cari sedang duduk gagah di meja kerjanya. Rain semakin bingung lagi.
"Lah, perasaan baru saja aku tadi masuk lagi tiduran di sofa deh mas Riannya. Belum sampai 1 menit aku masuk lagi, dia udah pindah duduk di situ. Cepet banget geraknya. Dia jalan atau lari ya? Oooh, aku tahu alasan dia suruh setiap orang masuk harus ketuk pintu dulu. Mungkin karena ini alasannya." Rain tersenyum malu membayangkan tingkah Rian yang seperti itu.
"Ada keperluan apa?" suara bas Rian menyadarkan lamunannya.
"Ah iya, ini mau anter berkas dari kak Roni." Rain langsung berjalan lurus ke arah meja kerja Rian, dan langsung duduk di kursi berseberangan dengan Rian.
Rian memperhatikan Rain. Begitu juga sebaliknya. Rain sangat senang di perhatikan Rian.
"Kenapa duduk?" Tanya Rian sambil menghentakkan berkas ditangannya beradu dengan meja yang menimbulkan suara yang cukup keras.
Rain kaget dan menatap tak percaya, dan langsung berdiri hingga kursinya terdorong dan tumbang ke belakang. Rain segera membetulkan posisi kursinya kembali seperti semula. Rain jadinya merasa serba salah di hadapan seseorang yang bergelar CEO itu. Dia hanya bisa berdiri tegak, diam seribu bahasa.
"Kenapa kamu yang mengantarkan berkas ini?" Tanya Rian dingin.
"A. aku hanya mau membantu kak Roni." Jawab Rain gelagapan.
"Lain kali, biar dia sendiri yang kesini. Silahkan keluar."
"Itu.."
"Silahkan keluar." Potong Rian.
Rain langsung membalikkan badan berjalan ke arah luar, membuka pintu dan menoleh kembali dan merasa tak percaya dengan sikap laki-laki yang di dambakannya itu. Tapi yang dilihat hanya menatap serius lembar demi lembar berkas di depannya.
__ADS_1
Serem amat. Rain pun keluar kembali ke ruangan kakak nya. Tak di sangka, langkah pertamanya memberikan hasil yang sangat buruk. Khayalan yang ia susun sebelumnya situasi yang sangat bahagia, dimana ia bisa mengobrol ringan dan bersenda gurau dengan pujaan hati.
Kekecewaan yang ia bawa ke hadapan kakaknya. Roni tertawa melihat wajah Rain benar-benar di tekuk, bibir di manyun-manyunkan.
"Oloh oloh olohhhh. Sini, adek kakak yang manjanya kelewatan, kenapa mukanya di tekuk gitu, kayak cicak tauu. Siapa yang ganggu ha? " Goda Roni seperti memujuk anak kecil. Dan membuat Rain makin tambah kesal.
Ia diam duduk di hadapan kakaknya tanpa membuka suara. Roni melihat itu hanya senyum.
"Buat kesalahan apa kamu?" Karena ia tahu persis apa yang telah dilakukan sahabatnya itu. Rain terus tak menghiraukan omongan kakaknya. Akhirnya Roni kembali fokus dengan pekerjaannya tanpa menghiraukan Rain.
"aaaaaaaa, sebel.. sebel... hiks hiks" Teriak Rain tiba-tiba dan mengetuk meja Roni dengan kesal. menangis tanpa mengeluarkan air mata.
Roni otomatis kaget melihat adiknya itu.
"Lah, ni anak udah gak beres lagi"
Roni keluar menuju ruangan Bos nya, lalu balik lagi ke ruangannya.
"Yuk makan." Ajak Roni.
"Ikh, kenapa gak dari tadi aja sih?". Jawab Rain masih kesal.
Roni menarik tangan adiknya keluar dari ruangan tanpa menjawab adiknya. Keluar dari perusahaan megah itu, menuju sebuah restaurant di sampingnya.
Kakak dan adik itu duduk di pinggir, tepatnya di dekat dinding kaca yang menampilkan langsung aktifitas masyarakat kota dengan banyak kesibukan. Jalanan yang tidak terlalu padat dengan kendaraan berlalu lalang.
Pelayan restaurant menghampiri mereka dengan membawa buku daftar menu khas restorannya. Alat tulis sudah siap untuk menulis menu pesanan pelanggan. Pelayan menyerahkan dua buah menu ke masing-masing Rain dan Roni.
"Silahkan mas, mbak." Pelayan restaurant mempersilahkan pelanggannya memilih menu
"Mas, chicken steak 1, mau nasi juga 2, charsiu ayam 1, gurame asam pedasnya 1, caramalized butter prawns 1, teriyaki salmond 1. minumnya orange jus aja 2. Udah mas, itu aja. Oh ya, tambah sop iga 1." Rain langsung menyebutkan pesanannya kepada pelayan itu dan pelayan itu menulis dengan sigap pesanan dari Rain.
"Terimakasih mas, mbak. Mohon tunggu pesanannya datang ya. Pelayan tersenyum ramah, lalu mengambil dua menu tadi dan meninggalkan kakak adik itu.
Roni menatap heran Rain dari tadi ketika Rain menyebutkan menu ke tiganya. Rain melihat kakaknya yang terus menatapnya.
"Kakak yang traktir kan?" Tanya nya tanpa rasa bersalah.
"Iya tapi siapa yang akan makan semua makanan itu? Main pesan aja. Kakak belum bilang mau makan apa."
"Ya kita yang makannya. Kan udah di pesan tadi."
__ADS_1
"Iya, itu semua makanan kamu."
"Ya, makanan aku kan makanan kakak juga. Atau mau nambah lagi?" Rain baru mau memanggil pelayan restaurant itu lagi.
"Eh, sudah sudah. Makan yang kamu pesan tadi aja."
"Yakin? Tadi bilang makanan kakak punya belum pesan. Gak pa pa, aku panggil lagi aja pelayannya."
"Bukan gitu maksudnya?"
"Jadi maksudnya gimana?"
"Akh, Sudah lah. Capek ngomong sama kamu."
"Kalo capek gak usah ngomong."
Roni terdiam, ia sudah malas meladeni adiknya yang keras kepala itu. Selama menunggu, mereka hanya diam. Roni fokus dengan gadged nya, sedangkan Rain melihat ke luar jendela.
Makanan yang di tunggu-tunggu pun datang. Dua orang pelayan membawa dan menyusun satu persatu menu pesanan ke atas meja. Rain melihat kaget di meja nya di penuhi dengan banyak makanan.
"Kok banyak gini sih, kak?" Tanya Rain.
Roni setengah berdiri dan menjitak kepala adiknya.
"Aduh, sakit kak." Rain menggosok kepalanya yang sakit.
"Biar kamu sadar. Habisin"
Rain cengengesan ke kakak nya. "Ogheh"
"Selamat malam, kakakku sayang" Ucap Rain
"Makan." Ralat Roni.
"Haha iya makan maksudnya."
_
_
_
__ADS_1
#bersambung...
Like, like, like. Jangan lupa like, komen, and vote nya ya😉