
"Kak.. kak.. kak.." Panggil Rain seperti orang panik berjalan mendekati Roni yang sedang memberi makan ikan peliharaannya di kolam membuat Roni juga ikut panik?
"Kenapa dek?"
"Aku sangat butuh bantuan kakak sekarang." Rain menggapai pergelangan tangan kiri Roni.
"Iya, apa langsung ngomong. Kenapa?" Masih dengan rasa paniknya
"Hp Rain hilang, tolong telfonin? Genggaman paniknya berubah menjadi manja dengan menggoyang-goyangkan tangan Roni.
"Ya elah, dek. buat orang panik aja." Kesal Roni.
"Hehe, canda aja kak. Tapi ini serius loh, hp Rain hilang di kamar. Ayok, bantu cariin." Rain menarik kakaknya tapi tidak ada gerakan karena Roni menahan tubuhnya.
"Ih ayok." pinta Rain.
"Tunggu kakak selesai memberi makan ikan-ikan ini dulu."
Rain menghempas pelan tangan kakaknya.
"Ikan di sayangin, adek nya sendiri di cuekin. Sini biar aku beri makan ikannya biar cepat selesai."
"Ikan gampang di atur. Kamu gak bisa di atur. Makanya lebih sayang sama ikan. Nih ambil. Beri nya dikit-dikit aja" Roni menyerahkan satu botol makanan khusus ikan.
"Huh, besok ikan disini semua aku goreng."
"Eh, jangan coba-coba ya. Sebelum kamu goreng ikannya, kamu kakak rendangin dulu."
"Kok aku sih." Rain menatap tidak suka dengan kakaknya.
"Ya kan kakak lebih sayang sama ikannya."
"Ih, sebel. Nih makan jangan sampai kelaparan." Rain berbicara sama para ikan yang menunggu diberi makan. Tangannya menabur banyak makanan secara terus menerus membuat Roni kaget.
"Cukup-cukup. Kamu bisa membunuh mereka." Roni menahan pergerakan tangan Rain yang masih ingin menabur makanan.
"Biar aja mati sekalian. Jadinya gak ada saingan lagi."
Roni mengalah dari pada ikan-ikannya pada mati karena kekenyangan. Membiarkan Rain membantu memberi makan bukan lah solusi yang bagus.
"Yuk kita ke kamar. Cari ponselnya." pujuk Roni.
"Gitu kek dari tadi." Rain memberikan sisa makan di botol itu pada Roni dan masih mencampakkan satu genggam makanan ikan yang masih di tangannya ke kolam.
Roni tidak sempat menahan pergerakan tangan Rain memegang kepalanya dengan kedua tangannya dan menatap nanar ke arah ikan-ikannya yang tampak bahagia diberi banyak makanan.
Sementara adiknya itu berlalu begitu saja meninggalkan kakaknya bersama para ikan.
Sesampainya di kamar Rain.
"Kamu tarok dimana tadi ponselnya?"
"Ya kalau tahu gak mungkin Rain minta bantuan kakak." Jawab Rain masih kesal
Iya juga kakaknya, sudah tahu ponselnya hilang, ditanya lagi dimana hilangnya. kalau tahu dimana, bukan hilang namanya.
"Iya sebentar kakak coba telfon."
tut..tut..tut..
"Ada bunyinya gak?" Tanya Roni.
"Gak ada." Rain terus membolak balik tas, selimut, bantal, dan mengintip di bawah kasur.
"Kamu silent ya ponselnya?" Tanya Roni lagi karena tak ada terdengar suara ponsel Rain disana hingga panggilannya terputus.
"Gak aku silent kak."Jawab Rain.
__ADS_1
"Coba kita cari di mobil."
"Oh iya mobil. Ayok."
Mereka berdua berjalan bersama menuju bagasi. Mobil ada disana namum motor yang menghilang.
"Mobil ada kak, motornya yang gak ada. Kayaknya ponselnya ada di dashboard motornya deh" Satu tangan Rain memegang kepala dan satunya lagi diletakkan di pinggang. Dia memang sering meletakkan ponselnya di dashboard motor karena gampang ketika di jalan ia memantau ponselnya.
"Kamu gimana sih. bisa-bisanya ponsel di simpan di situ." Tanya Roni dengan sedikit marah.
Rain hanya terdiam memikirkan motor dan ponselnya masih dengan gaya yang sama.
"Kakak coba telfon lagi."
Tut..tut..tut..
"Hallo." Jawab dari seberang. Roni sangat mengenal suara itu. Ia melirik Rain. Yang dilirik sangat antusias, siapa yang menjawab panggilannya. Ia mengangkat dagunya seakan bertanya kebada Roni.
"Hallo." Merasa tak ada jawaban, akhirnya ia bersuara lagi
"Lo Ri?" Tanya Roni masih melirik adiknya. Tapi disana Rain masih penasaran siapa yang ada di seberang.
"Oh, Roni. Iya, Hp adek lo ketinggalan di mobil gue."
"Ketinggalan di mobil lo? Sejak kapan kalian dekat?" Tanya Roni.
Rain menutup mulut dengan kedua tangannya, matanya melebar. Ia kaget bukan main. Sekarang dia sudah tahu siapa yang menjawab, dan sudah tau juga ponselnya ketinggalan dimana. Ia pun teringat dengan kejadian sebelumnya bersama Rian.
"Bukan begitu. Tadi adik lo maksa ikut pulang."
Roni semakin kesal di buat adiknya. Rain hanya menyengir.
"Maafin adek gue ya. Nanti gue ambil ke apartement lo."
"Iya Ron."
"Untung otakmu ada di kepala, kalau diluar pasti juga ikut hilang." Roni berjalan masuk kembali ke rumah.
Rain mengejar dan menangkap lengan kakaknya.
"Jauh-jauh sana, ntar pikunnya nular." Roni berusaha melepaskan lengannya, namun Rain memeluk erat lengan kokoh itu.
"Ayok jemput ponselku?"
"Gak perlu di jemput. Di buang aja. Nanti kakak suruh Rian buang ponselnya dari rooftop."
"Jangan gitu dong kak. Ponsel itu masih penting buat aku."
"Kalau penting gak mungkin lupa."
"Ih Ayok jemput."
"Nanti biar kakak sendiri saja yang ambil."
"Itukan ponsel Rain kak, Rain juga harus ikut. Sudah kangen sama ponselnya."
"Kamu itu bukan kangen sama ponselnya."
"hehehe, kangen ponselnya seluas samudera, tapi kangen sama orangnya seluas semesta." Rain merentangkan kedua tangannya mengekspresikan betapa besar rindunya itu.
"Lebay." Toni mengusap wajah adiknya. dan Rain hanya terkekeh.
"Ayok, pergi sekarang." paksa Rain
"Nanti setelah makan malam. Rian juga mau istirahat dulu."
"Kalau bisa sekarang kenapa harus nanti."
__ADS_1
Rain mendapat jelingan mata kakaknya.
"Nanti atau tidak sama sekali."
"Hehe iya iya, nanti aja deh kalo gitu." Rain mengalah. Sebenarnya ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Rian. Kali ini ia harus menahannya karena kunci pertemuan kali ini ialah kakaknya.
Kakak beradik itu berjalan ke kamar masing-masing.
Diseberang sana, Rian yang baru saja melewati gerbang masuk kawasan apartement mewahnya. Tiba-tiba suara dering ponsel berbunyi di lantai dasar mobilnya. Ia sudah bisa menebak itu ponsel punya siapa. Mungkin terjatuh bersamaan dengan Rain yang hampir jatuh tadi. Namun ia tetap menjalankan mobilnya menuju baseman apartemen.
Setelah ia memberhentikan mobilnya disana, ia menjawab panggilan setelah ponsel itu berdering untuk yang ke dua kalinya.
"Produk Percobaan." batinnya sampai mengerutkan dahinya. Entah siapa gerangan yang di beri label Produk percobaan tersebut.
"Hallo." Sekali tak ada jawaban.
"Hallo." Setelah yang kedua kalinya akhirnya ada jawaban. Ketika ia mendengar jawaban itu dia langsung tahu siapa produk percobaan itu, Roni sahabatnya. Ia sempat sedikit menertawakannya tapi tidak mengeluarkan suara.
Panggilan berakhir setelah mendengar Roni yang akan mengambil sendiri ponselnya, dia pun segera keluar dari mobilnya membawa ponsel itu.
Selesainya makan malam, Roni mendapat panggilan telefon dari seseorang yang baru saja hari ini berstatus sebagai pacarnya.
"Astaga, mati aku. aku sudah berjanji menjemput Tiara." Gumam Roni. Dia pun mengangkat panggilan itu.
"Hallo Tia."
"Apa?, jadi kamu masih disana?"
"Oh maaf Tia, aku lupa. Sekarang juga aku kesana menjemputmu."
"Jangan ngambek dong. Aku beneran lupa."
"Iya iya, tunggu sebentar saja ya."
Panggilan itu terputus.
Roni beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Rain yang mendengar kakaknya menjawab panggilan. Ia berjalan ke kamar mengambil kunci mobilnya dengan terburu-buru membuat Rain mengejarnya.
Ia menahan tangan Roni.
"Kak, mau kemana? Ponselku bagaimana?"
"Kakak mau jemput pacar kakak. Kamu ambil sendiri saja."Jawab Roni buru-buru
Bagai di terpa angin segar "Oke, alamatnya dimana?"
"Nanti kakak kirim ke ponselmu."
"Aku kesana mau ambil ponselku. Gimana sih."
"Apartement Hydrangea, lantai 10 no 5." Roni kemudian ia melanjutkan langkahnya ke kamar.
"Sejak kapan dia punya pacar? Perasaan kemarin masih jomblo" Rain bergumam dan menaikkan bahunya.
"Tau ah. Yang penting malam ini ketemu lagi sama ayang hihihi. I am coming my baby."
Rain melenggang kembali ke kamar untuk bersiap-siap, karena dia akan pergi bertemu lagi dengan si pencuri hatinya.
Sepertinya Roni sudah ketularan sifat pelupa adiknya deh.
_
_
_
#Bersambung....
__ADS_1
Like, like, like,. Jangan lupa ya manteman😉