
Setelah menempuh perjalanan sekitar kurang lebih delapan jam, akhirnya Satria sampai di rumah sakit Bhayangkara TK II Medan. Mereka semua bersyukur karena Satria masih bisa bertahan walaupun tubuhnya semakin melemah selama perjalanan yang jauh dan dengan alat bantu seadaanya.
Para dokter dan perawat langsung menyambut kedatangan mereka karena Komandan Anton sudah menghubungi mereka saat berada di dalam perjalanan. Mereka datang dengan sembunyi-sembunyi agar para pelaku itu tidak mendapatkan informasi mereka karena para pelaku itu bukan orang sembarangan.
Satria langsung di bawa ke ruang ICU setelah mendengar tentang keadaan Satria sebelumnya. Satria memerlukan penanganan khusus karena keadaan Satria juga sudah sangat lemah dan bisa dibilang sedang kritis.
" Bripda Sandi, sebaiknya Anda juga segera mengobati luka-luka di tubuh Anda " ucap salah satu tenaga medis.
Sandi terus menolak saat ia ingin mengobati lukanya karena Sandi terus meminta para tenaga medis fokus pada Satria yang jauh lebih parah.
" Baiklah " jawab Sandi.
Setelah itu Sandi pergi ke sebuah ruangan untuk mengobati luka-lukanya. Sedangkan Komandan Anton dan yang lainnya menunggu di depan ruang ICU untuk mengetahui keadaan Satria selanjutnya.
" Bagaimana keadaan Bripda Satria, Dokter? " tanya Komandan Anton saat salah satu dokter keluar dari ruang ICU.
" Keadaan Bripda Satria saat ini kritis karena telah kehilangan banyak darah dan luka-luka di tubuhnya cukup parah, tapi kita bersyukur karena luka tusukan di dada bagian kanannya tidak mengenai organ-organ vital Bripda Satria. Kami sedang menyiapkan golongan darah untuk Bripda Satria karena Bripda Satria membutuhkan banyak sekali darah " jawab dokter itu menjelaskan keadaan Satria.
" Jika ada diantara kalian yang memiliki golongan darah O, bisa mendonorkan darah kalian. Kami tidak bisa menjamin persediaan kami bisa memenuhi kebutuhan darah Bripda Satria " lanjut dokter itu.
" Baik Dok, terima kasih banyak " jawab Komandan Anton.
Setelah itu beberapa anggota polisi yang ikut ke rumah sakit yang memiliki darah dengan golongan O langsung melakukan transfusi darah untuk Satria. Mereka akan melakukannya agar Satria tetap selamat karena Satria dalam bahaya seperti ini karena berkorban menjadi umpan untuk mendapatkan bukti-bukti untuk kasus yang sedang mereka tangani.
" Bagaimana keadaan Satria, Komandan Anton? " tanya Sandi pada Komandan Anton.
Sandi sudah selesai diobati dan berganti pakaian. Sebenarnya perawat yang mengobati luka Sandi sudah menyuruh Sandi istirahat tapi Sandi tetap bersikeras untuk mengetahui keadaan Satria.
" Satria sekarang sedang kritis karena kehilangan banyak darah, tapi syukur organ-organ vital Satria tidak terkena luka tusukan itu " jawab Komandan Anton.
Sandi mengusap wajahnya kasar karena mengetahui keadaan Satria yang sedang kritis, tapi hatinya sedikit lega karena dugaan-dugaan buruknya jika organ-organ vital Satria juga terkena tusukan pisau itu tapi kemungkinan besar Satria tidak akan bisa selamat.
__ADS_1
Sandi mendudukkan tubuhnya di samping Komandan Anton, sedangkan yang lain pergi melakukan transfusi darah dan juga membersihkan diri di ruangan khusus di rumah sakit itu.
" Ini semua karena Satria menyelamatkan aku " gumam Sandi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Ternyata itu masih bisa di dengar oleh Komandan Anton. Komandan Anton menepuk pundak Sandi dan membuat Sandi menoleh.
" Kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Ini semua sudah resiko dari profesi yang kalian pilih dan kalian jalani ini. Satria melakukan itu karena ingin melindungi kamu dan kita memang harus saling melindungi satu sama lain " ucap Komandan Anton agar Sandi tidak menyalahkan dirinya sendiri.
" Saya hanya menyesal mengapa saya tidak bisa lebih kuat lagi melawan orang-orang itu sehingga Satria tidak perlu melindungi saya dan ia hampir kehilangan nyawanya seperti ini " jawab Sandi sendu.
" Kalian sudah melakukan yang terbaik, termasuk juga kamu. Sekarang yang perlu kita lakukan mendoakan agar keadaan Satria segera membaik. Kita juga harus waspada dan bersiap-siap jika mereka melarikan diri dan melakukan penyerangan terhadap kita " ucap Komandan Anton.
" Iya Ndan " jawab Sandi.
Setelah itu Komandan Anton meminta Sandi untuk beristirahat karena keadaan Sandi juga banyak mengalami luka sayatan. Sandi pun menurut karena ia juga merasa tubuhnya sangat lemah.
" Lo harus tetep baik-baik aja, Sat. Gue gak mau nyampein pesan-pesan lo ke keluarga lo dan Kinara. Gue gak sanggup " ucap Sandi menatap langit-langit ruang perawatan dimana dirinya berada sekarang.
***
Sementara itu, Rendra yang sedang berada di rumah Ayah Arif dan Bunda Wulan baru saja mendapatkan kabar tentang keadaan Satria. Ia mendapatkan kabar itu dari Komandan Anton agar Rendra mengabarkan kepada kedua orang tua Satria. Tapi kabar itu sangat dirahasiakan sehingga Komandan Anton memilih melalui Rendra agar dan meminta kabar itu tetap dirahasiakan hingga semua pelaku itu tertangkap.
Sandi juga sempat berbicara pada Rendra untuk tidak memberitahu keadaan Satria kepada Kinara sebelum keadaannya baik-baik seperti yang Satria katakan sebelum Satria tidak sadarkan diri.
" Kenapa, Mas? " tanya Puspa saat melihat wajah panik Rendra setelah menerima telepon.
" Aku baru saja mendapatkan kabar buruk " jawab Rendra mengusap wajahnya.
Wajah Puspa pun berubah ikut panik mendengar itu, begitu juga dengan Ayah Arif dan Bunda Wulan.
" Kamu bawa anak-anak masuk ke dalam karena aku harus menyampaikan sesuatu yang penting sama Ayah, Bunda, dan kamu " pinta Rendra pada Puspa.
__ADS_1
Puspa menurut dan membawa kedua anaknya untuk masuk ke dalam kamar mereka yang ada di rumah itu.
" Apa yang mau kamu sampaikan, Ren? Kabar buruk apa dan siapa yang menelepon kamu tadi? " tanya Ayah Arif setelah Puspa kembali.
" Iya Ren, ada apa sebenarnya? " tambah Bunda Wulan yang perasaan semakin tidak enak.
Rendra menarik napasnya sebelum berbicara, ia tidak mungkin menutupi ini semua dari mereka.
" Satria sekarang sedang dalam keadaan kritis di rumah sakit di Medan, Satria... " ucap Rendra terpotong oleh Bunda Wulan.
Mereka semua sangat terkejut mendengar itu dan seakan tidak percaya dengan apa yang Rendra katakan.
" Jangan asal ngomong kamu, Ren. Satria pasti baik-baik saja " potong Bunda Wulan dengan air mata yang mulai membasahi wajahnya, begitu juga dengan Puspa.
" Bunda, tenang dulu " ucap Ayah Arif yang mencoba menenangkan Bunda Wulan.
Ayah Arif pun meminta Rendra untuk melanjutkan apa yang ia sampaikan tadi.
" Satria tertusuk oleh salah satu pelaku di lengan dan dadanya saat sedang mengumpulkan barang bukti. Beruntung organ-organ vital Satria tidak terkena pisau itu. Tadi Komandan Anton yang memberikan kabar dan kita diminta untuk merahasiakan ini dari orang lain karena bisa saja semakin berbahaya untuk mereka " ucap Rendra.
Bunda Wulan pun semakin menangis histeris mendengar itu. Perasaan tidak enaknya sekarang terjawab setelah mendengar putranya sedang dalam keadaan kritis.
" Satria " teriak Bunda Wulan dalam tangisnya.
Beberapa detik kemudian Bunda Wulan pun tidak sadarkan diri, beruntung Ayah Arif sigap menangkap Bunda Wulan sehingga tidak terjatuh di lantai.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih 😊🙏 Tetap dukung saya ya 😘
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " 😊🙏
Ada juga karya baru saya " Menikahi Ayah Nadia dan Suamiku Seorang Bodyguard " 😘
__ADS_1
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘