Mengejar Cinta Pertama

Mengejar Cinta Pertama
68. Keberangkatan Satria


__ADS_3

Hari ini adalah hari keberangkatan Satria untuk menjalani pendidikan akademi polisi. Kinara akan bertemu Satria untuk terakhir kalinya sebelum Satria pergi. Ia akan pergi ke tempat yang sudah Satria kirimkan alamatnya pada Kinara. Di sana tempat berkumpul semua yang akan menjalani pendidikan sebelum mereka berangkat bersama. Kinara juga sudah menyiapkan hadiah yang ia beli untuk Satria kemarin di dalam sebuah paper bag.


Kinara yang sudah siap langsung pergi menggunakan motor. Kinara melajukan motornya menuju alamat yang sudah dikirimkan Satria.


Tiga puluh menit kemudian, Kinara pun sudah sampai. Ia melihat Satria bersama kedua orang tuanya dan juga Rendra dan Puspa serta Rere.


" Assalamualaikum " ucap Kinara menghampiri mereka.


" Walaikumsalam " jawab mereka.


Kinara mencium tangan Ayah Arif dan Bunda Wulan.


" Kita kira kamu gak bakal datang, Ra. Satria sudah gelisah dari tadi " ucap Rendra pada Kinara.


" Ara pasti datang, Bang " jawab Kinara tersenyum.


Kinara melihat ke arah Satria yang sedang tersenyum padanya. Satria memang tadi gelisah jika Kinara akan terlambat datang dan ia tidak akan bertemu dengan Kinara sebelum ia berangkat.


" Aku seneng kamu datang. Aku khawatir kalau gak bisa ketemu kamu sebelum aku berangkat " ucap Satria pada Kinara.


" Aku sudah bilang kalau aku pasti datang. Aku harus liat kamu sebelum kamu berangkat " jawab Kinara.


Setelah itu terdengar suara dari seseorang yang bertanggung jawab di sana agar para calon taruna akademi polisi untuk mengucapkan kalimat perpisahan pada keluarga karena mereka akan segera berangkat.


Satria mulai berpamitan pada keluarganya satu persatu.


" Ayah, Satria berangkat. Doakan Satria berhasil " ucap Satria pada Ayah Arif.


" Baik-baik di sana. Buat kami semua bangga " ucap Ayah Arif menepuk pundak Satria.


" Iya Yah " jawab Satria.


Satria pun memeluk Ayah Arif sebelum ia berangkat.


Kini Satria menatap Bunda Wulan yang sudah menangis karena harus berpisah dengan Satria.


" Bunda jangan nangis. Jangan buat Satria berat buat berangkat " ucap Satria menghapus air mata di wajah Bunda Wulan.


" Iya Sayang. Bunda gak akan nangis lagi " jawab Bunda Wulan tersenyum.

__ADS_1


" Ingat semua pesan Bunda. Jaga benar-benar kesehatan kamu, di sana gak ada Bunda yang akan selalu mengingat kamu jika kamu malas untuk makan " ucap Bunda Wulan pada Satria.


" Iya Bunda, Satria akan selalu ingat pesan Bunda. Bunda doakan Satria ya " jawab Satria.


Satria pun memeluk Bunda Wulan. Bunda Wulan tidak dapat menahan air matanya saat Satria memeluknya. Satria mencium puncak kepala Bunda Wulan yang terbalut hijab.


Kemudian Satria juga berpamitan pada Kakak dan juga Kakak Iparnya.


" Aku berangkat Kak, Bang " ucap Satria pada Rendra dan Puspa.


Puspa mengusap air mata di sudut matanya. Walaupun begitu ia masih bisa mengendalikan dirinya. Satria memeluk Kakak dan Kakak Iparnya bergantian.


" Re, Om Satria berangkat ya " ucap Satria berjongkok di hadapan Rere.


" Oke. Om Satria semangat ya " jawab Rere.


Satria tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Satria memeluk tubuh kecil Rere dan mencium pipi ponakannya itu.


Satria berdiri lalu pergi ke hadapan Kinara. Kinara mencoba terus tersenyum dan menahan air matanya yang hampir jatuh. Ia harus bisa mengendalikan dirinya agar Satria tidak berat saat berangkat.


" Ra " panggil Satria pada Kinara.


" Aku berangkat ya. Kamu jaga diri baik-baik ya, aku cuma pergi buat sementara. Jaga cinta kamu buat aku. Kamu juga harus percaya kalau aku akan terus mencintai kamu " ucap Satria menggenggam tangan Kinara.


Pertahanan Kinara pun runtuh saat mendengar ucapan Satria. Air mata Kinara jatuh membasahi pipinya. Kinara dengan cepat menghapus air matanya itu dan mencoba untuk tersenyum.


" Iya Mas, aku akan jaga cinta aku buat kamu. Kamu baik-baik di sana, aku nunggu kamu disini. Kamu yang semangat berjuang di sana. Kamu harus buat aku bangga karena jadi milik kamu " jawab Kinara dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


" Aku boleh peluk kamu, Ra? " tanya Satria pada Kinara.


Kinara yang masih berusaha menghapus air matanya pun menganggukkan kepalanya.


Satria menarik Kinara dalam pelukannya. Ia memeluk Kinara dengan sangat erat. Begitu juga dengan Kinara, ia langsung membalas pelukan Satria. Kinara menumpahkan tangisnya di dalam pelukan Satria. Ia sudah mencoba untuk mengendalikan dirinya tapi ia juga begitu sulit untuk melepaskan Satria.


Satria dan Kinara melepaskan pelukan mereka saat mendengar kembali pemberitahuan bahwa harus segera berangkat.


" Sudah ah. Aku jadi gak kuat berangkat nanti " ucap Satria mengusap sisa-sisa air mata Kinara.


Kinara menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Ia tidak ingin membuat Satria semakin berat untuk berangkat.

__ADS_1


" Oh iya Mas, ini buat kamu " ucap Kinara memberikan paper bag yang dibawanya pada Satria.


" Apa ini, Ra? " tanya Satria menerima paper bag itu.


" Nanti kamu juga tau kalau sudah kamu buka " jawab Kinara tersenyum.


Kini Satria harus benar-benar berangkat karena sudah ada pemberitahuan untuk yang ketiga kalinya. Satria mencium tangan kedua orang tuanya dulu sebelum berangkat.


" Aku berangkat " pamit Satria mengusap kepala Kinara dengan lembut.


Kinara menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


Satria mulai berjalan menjauh dari mereka. Satria melambaikan tangannya saat hendak memasuki bus yang akan membawanya. Keluarga Satria dan Kinara pun membalas lambaian tangan itu hingga bus yang membawa sudah pergi dari sana.


" Satria sudah pergi, Yah " ucap Bunda Wulan kembali meneteskan air matanya.


" Sudahlah Bunda, jangan nangis lagi. Satria kan sudah bilang tadi, nanti malah dia kepikiran Bunda malah gak fokus sama pendidikannya. Ia pasti bisa merasakan kalau Bunda sedih terus. Cuma lima bulan dan Bunda pasti bisa " ucap Ayah Arif mencoba menguatkan Bunda Wulan.


" Iya Yah " jawab Bunda Wulan.


Puspa mendekati Kinara yang diam dan terus melihat jalan yang tadi membawa Satria pergi.


" Nanti juga kamu lama-kelamaan akan terbiasa, Ra " ucap Puspa mengusap pundak Kinara.


" Iya Kak " jawab Kinara dengan senyum yang terpaksa.


Kinara mencoba menyembunyikan bahwa ia merasa sedih saat ini dan mencoba untuk terlihat bahwa ia baik-baik saja.


Setelah itu mereka semua pun memutuskan untuk pulang. Begitu juga dengan beberapa orang tua yang mengantarkan anak-anak mereka di sana.


Kinara melajukan motornya di belakang mobil Rendra dan Puspa untuk kembali ke rumah.


" Aku harus bisa, Mas Satria kan di sana buat ngejar cita-cita jadi aku harus rela pisah sama dia. Lebih baik aku berdoa agar Mas Satria selalu dilancarkan di sana " ucap Satria di atas motor.


Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih 😊🙏 Tetap dukung saya ya 😘


Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " 😊🙏


Ada juga karya baru saya " Menikahi Ayah Nadia " 😘

__ADS_1


Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘


__ADS_2