
Sementara itu, Satria baru sampai di desa yang cukup jauh dari kota sekitar jam delapan malam. Desa itu penuh dikelilingi oleh perkebunan sawit yang memang menjadi mata pencaharian penduduk di sana. Penduduk di sana tidak ada yang mengetahui jika mereka adalah anggota polisi yang melakukan penyelidikan tentang penyeludupan barang-barang terlarang dan narkoba di daerah itu karena ada beberapa penduduk di sana yang menjadi pengonsumsi dan pengedar narkoba. Jadi yang penduduk sana ketahui mereka adalah mahasiswa dan dosen yang sedang melakukan penelitian tentang perkebunan sawit.
Mereka semua turun dari bus termasuk Satria dan Sandi. Mereka juga membawa barang-barang mereka masing-masing. Untuk senjata api, mereka sembunyikan di suatu box yang tidak mungkin mereka curigai.
" Encok pinggang gue lebih dari dua belas jam duduk doang " keluh Sandi karena pinggangnya terasa pegal.
" Gak lo doang kali, pinggang gue juga pegel banget " ucap Satria yang juga merasakan hal yang sama.
Mereka semua berkumpul di rumah kepala desa yang ada di sana. Hanya kepala desa itu lah yang mengetahui siapa mereka dan siap membantu penyelidikan mereka.
" Selamat datang di desa kami " ucap Kepala desa yang bernama Pak Agus.
" Terima kasih Pak, sudah menyambut kedatangan kami " ucap Komandan Anton mewakili mereka semua.
__ADS_1
Di sana juga ada sebagian penduduk yang ikut menyambut kedatangan mereka.
" Bapak-bapak dan Ibu-ibu semua, ini mereka adalah rombongan mahasiswa yang berasal dari Jakarta. Mereka akan melakukan penelitian di desa kita mengenai kebun sawit dan juga mereka akan membantu kita untuk mengembangkan perkebunan sawit kita " ucap Pak Agus memperkenalkan rombongan Satria.
Setelah perkenalan itu di rasa cukup, rombongan Satria dibawa ke rumah yang akan mereka tinggali selama berada di sana. Ada lima rumah yang akan mereka tempati untuk tiga puluh lima orang.
" Saya tinggal dulu Pak, selamat beristirahat " ucap Pak Agus setelah memberikan kunci-kunci rumah itu.
" Iya Pak. Terima kasih banyak " jawab Komandan Anton.
" Huh, capek banget " ucap Sandi langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Sedangkan Satria memilih meletakkan tasnya di depan lemari lalu melepaskan sepatunya.
__ADS_1
" Mandi dulu San, habis itu baru tidur " ucap Satria pada Sandi yang terlihat memejamkan matanya.
" Lo duluan aja Sat, gue mau tidur dulu bentar. Kalau lo udah selesai, bangunin gue " jawab Sandi tanpa membuka matanya.
Satria mengambil handuk, peralatan mandi dan pakaian ganti dari dalam tasnya, lalu ia keluar kamar karena di rumah itu hanya ada satu kamar mandi di bagian belakang. Satria menunggu beberapa temannya yang sudah mengantri lebih dulu untuk mandi. Satria pun memilih untuk duduk di lantai ruang tamu karena tidak ada sofa di rumah itu.
" Sabar ya Ra, kita pasti bisa lewatin semua ini " gumam Satria yang mengingat Kinara.
Satria sebenarnya sangat ingin menghubungi Kinara tapi tidak ada jaringan internet di desa itu. Listrik pun ada saat sore hingga pagi hari saja karena memang desa itu cukup terpencil dan jauh dari kota.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih 😊🙏 Tetap dukung saya ya 😘
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " 😊🙏
__ADS_1
Ada juga karya baru saya " Menikahi Ayah Nadia dan Suamiku Seorang Bodyguard " 😘
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘