
Panji meminta untuk ikut bersama dengan pangeran Narendra dan juga Raja kucing untuk berkunjung ke istana kerajaan ular biru.
" Kamu di sini saja. Kalau ada apa-apa dengan istana kerajaan kita, maka akan sangat sulit untuk menanggung konsekuensinya." ucap pangeran Narendra pada Panji.
" Kalau begitu biarkan kakek saja yang di sini. Aku dan ayah akan menghadap ke kerajaan ular biru. Untuk meluruskan semua masalah ini karena semua ini bermula dariku yang sudah ceroboh dan gegabah!" ucap Panji.
Untuk beberapa saat lamanya Narendra dan sang Raja saling menatap satu sama lain. Karena mereka tahu bagaimana perasaan Panji saat ini yang sedang merasa bersalah.
" Baiklah cucuku. Seperti yang kau katakan. Semua itu memang benar adanya. Karena semua masalah ini memang hanya kau yang bisa menyelesaikannya!" ucap sang raja.
Setelah setuju dengan usul dari Panji. Narendra kemudian meminta kepada Mahaguru untuk ikut menjaga istana kerajaan. Karena bagaimanapun sampai saat ini ancaman dari istana kerajaan ular hijau dan juga Kerajaan monyet masih tetap membuat mereka semua menjadi waspada.
Setelah Mahaguru Standby di istana kerajaan kucing. Narendra dan Panji pun kemudian langsung menggunakan ilmu teleportasi yang mereka miliki untuk segera sampai di istana kerajaan ular biru.
" Ayahanda. Ada apa ini? Kenapa begitu ramai di istana ini?" tanya Panji merasa bingung.
Sepertinya akan ada sebuah perayaan besar di sana. Karena banyak tamu dan juga kemeriahan yang telah disuguhkan oleh istana kerajaan ular biru.
" Entahlah, ayah juga tidak tahu." ucap Narendra sambil mengedikkan bahunya karena tidak paham juga.
Ketika melihat tamu yang dikenal oleh Narendra. Dia pun kemudian mendekatinya dan bertanya sedang ada kemeriahan apakah di kerajaan ular biru.
" Maafkan saya. Apakah ada sebuah perayaan di tempat ini kenapa begitu ramai sekali?" tanya Narendra yang sangat penasaran sekali.
Kedatangan Narendra dan Panji ke istana kerajaan ular biru memang tanpa pemberitahuan kepada pihak istana. Sehingga mereka tidak mendapatkan sambutan kenegaraan dari mereka sebagai tuan rumahnya.
" Loh, Memangnya Pangeran Narendra tidak tahu? Sekarang kan hari pernikahan antara Putri Hana dan juga pangeran Wangen!" ucap siluman itu pada Narendra.
Panji dan Narendra merasa terkejut luar biasa mendengarkan kabar tersebut.
" Apa itu benar?" tanya Panji shock.
__ADS_1
Walaupun Panji tidak mencintai Hana akan tetapi sebagai seorang laki-laki Panji merasa dirinya tidak dipandang oleh istana kerajaan ular biru.
Bagaimanapun putri Hana sudah mengikat perjanjian pertunangan dengan Panji. Bagaimana mungkin kerajaan ular biru dengan seenak hatinya melakukan hal seperti itu kepada mereka tanpa pemberitahuan sama sekali? Sungguh hati Narendra maupun Panji marah luar biasa.
" Sudahlah Panji sebaiknya kita tidak usah mempermasalahkan tentang hal ini lagi. Ayo kita pulang saja!" ucap Narendra mencegah pancj untuk melakukan sesuatu yang nantinya akan disesali oleh mereka.
Akan tetapi Panji tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Narendra.
" Panji! Tolong jangan berbuat hal yang gegabah!" ucap Narendra berusaha mengingatkan putranya agar tetap bersikap sabar dalam menghadapi kenyataan itu.
" Tenanglah Ayahanda. Aku hanya ingin mengucapkan selamat saja kepada mereka. Bagaimanapun aku dan Putri Hana pernah menjadi tunangan bukan? Sejak awal aku memang sudah tahu kalau Putri Hana mencintai Pangeran Wangen. Bukankah ini adalah sesuatu yang sangat membahagiakan ketika mereka menikah?" tanya Panji sambil tersenyum.
Narendra tahu kalau senyum Panji karena terpaksa hanya untuk menghibur dirinya agar tidak khawatir dengan keadaan putranya.
" Putraku. Apa kau tahu? jodoh rezeki dan maut sudah ada yang mengatur kita tidak boleh bertindak gegabah! Kau paham bukan?" tanya Narendra sambil tersenyum kepada putranya yang saat ini sedang berjalan menuju ke pelaminan di mana Putri Hannah dan Pangeran wangen sedang berada di sana.
Raja dan ratu kerajaan ular biru, tampak terkesiap ketika mereka melihat kehadiran Pangeran Panji dan juga pangeran Narendra dalam acara tersebut.
Narendra hanya tersenyum melihat raja ular biru yang wajahnya tampak pucat ketika menatapnya.
" Selamat Raja atas pernikahan putri Hana. Semoga dilimpahi kebahagiaan untuk selamanya!" ucap Narendra berusaha untuk tegar dan tetap sabar. Walaupun sebenarnya di dalam hatinya ada gejolak yang begitu besar dan merasa terhina atas kelakuan mereka yang mempermainkan perjanjian pernikahan kerajaan mereka berdua.
Entah kenapa Narendra sekarang merasa bersyukur sekali. Karena ayahnya tidak ikut bersama dengannya. Kalau tidak sudah dipastikan akan terjadi peperangan antara Kerajaan ular biru dan kerajaan kucing.
" Bagaimana Pangeran bisa datang kemari? maksud saya, dari mana pangeran mengetahui tentang acara ini?" terlihat Raja ular biru begitu gugup menghadapi Narendra.
Panji kemudian bersalaman dengan pangeran wangen dan juga Putri Hana.
" Selamat Hana semoga kau bisa berbahagia dengan laki-laki yang kau cintai!" ucap Panji berusaha tersenyum walaupun sebenarnya hatinya terluka luar biasa.
Panji hanya merasa bahwa istana kerajaan kakeknya sama sekali tidak dipandang oleh kerajaan ular biru yang sudah mempermainkan perjanjian dua kerajaan.
__ADS_1
Hal itulah yang benar-benar sudah membuat Panji merasa sakit hati dan juga terluka.
Bukan karena Panji yang mencintai Hannah ataupun merasa cemburu dengan pernikahan tersebut.
" Terima kasih pangeran. Mohon maaf atas Kejadian ini. pernikahan ini mendadak jadi kami tidak sempat untuk memberikan undangan resmi ke kerajaan kucing! Semoga Pangeran panji bisa menerima pernikahan ini dengan lapang dada!" ucap Hana sambil menatap ke arah Pangeran Panji yang saat ini sedang melihat kepada Pangeran Wangen.
" Jangan khawatir aku tidak masalah dengan pernikahan kalian berdua. Hanya saja tolong nanti sampaikan pada ayahmu. Untuk menyampaikan permohonan maaf kepada kakekku secara resmi karena kalian telah membatalkan perjanjian bilateral dua kerajaan secara sepihak. Hal itu agar menghindari perang di antara dua kerajaan!" ucap Panji berusaha untuk bersikap formal dan tidak terlalu terpengaruh dengan pernikahan itu.
" Kami nanti akan datang secara langsung ke kerajaan kucing untuk meminta maaf atas ketidaknyamanan ini!" ucap Pangeran Wangen yang tersenyum pada Panji.
Panji hanya bisa mengepalkan telapak tangannya melihat senyum Pangeran wangian yang seperti sedang mengejeknya.
Bagaimana mungkin Panji tidak merasa marah kepada Pangeran itu? Padahal jelas-jelas dia telah mengatakan akan melamar Minsi kepada Kyai Ilham tetapi kenapa dia malah melamar Putri Hana untuk dirinya? Padahal dia tahu kalau Hana sudah jelas-jelas bertunangan dengan dirinya?
Walaupun memang panji telah melakukan kecerobohan dengan mencium bibir Minsi dan telah menjanjikan akan melamar Minsi kepada Kyai Ilham dihadapan mereka berdua.
Akan tetapi hingga saat ini Panji tidak pernah benar-benar mewujudkan ataupun merealisasikan apa yang dia katakan kepada Minsi pada hari itu.
Apa yang terjadi pada hari itu murni karena Panji yang terprovokasi dengan ucapan pangeran wangen yang mengatakan akan melamar Minsi pada Kyai Ilham.
" Baguslah kalau kalian sudah memiliki inisiatif itu. Kalau begitu kami berdoa akan kembali ke istana kami. Selamat atas pernikahan kalian berdua!" ucap Panji dengan datar dan nyaris tanpa ekspresi sama sekali.
Pangeran Panji saat ini hatinya sedang terluka dan merasa terinjak-injak harga dirinya sebagai seorang laki-laki karena sudah diperlakukan tidak adil oleh kerajaan ular biru.
" Ayahanda, ayo kita pulang!" ucap Panji kepada Narendra yang saat ini tampak sedang berbincang-bincang dengan raja ular biru yang begitu merasa bersalah atas kejadian hari ini yang benar-benar di luar perkiraan mereka.
" Pangeran panji. Tolong maafkan atas ketidaknyamanan ini sungguh kami pun sangat tidak berdaya. Karena Hana dan Pangeran wangen sudah tidur bersama jadi saya takut akan menghina pangeran panji karena harus menikahi wanita yang sudah diambil mahkotanya oleh pria lain!" terlihat Raja ular biru yang merasa sangat bersalah sekali dengan kejadian hari ini.
Narendra dan Panji tampak terkejut mendengar pengakuan dari sang raja.
Panji menatap kepada pangeran wangen yang saat ini sedang menggenggam telapak tangan putri Hanna dengan begitu erat. Seakan takut untuk melepaskannya.
__ADS_1