
Abiyaksa merasa bahagia sekali setelah melihat Deniz yang keluar dari Pondok Pesantren Kyai Rasyid untuk bertemu dengannya.
" Syukurlah kalau kau sudah sembuh Deniz. Aku sangat khawatir mendengarkan the status kalau kau sekarang hilang ingatan dan tidak ingat siapapun lagi!" ucap abiyaksa merasa sangat bahagia melihat Deniz sekarang tersenyum kepadanya.
Deniz kemudian mengajak Abiyaksa untuk menjauh dari Pondok Pesantren Kyai Rasyid karena dia tidak mau kalau sampai Abiyaksa mati terbakar oleh pagar gaib yang sudah diciptakan oleh Kyai Rasyid untuk melindungi pondok pesantrennya dari pengaruh negatif.
" Keadaanku memang maju mundur. Kadang aku tidak ingat siapapun. Kadang aku pun seperti orang gila yang benar-benar sangat menyedihkan. Saat pikiranku jernih, maka aku bisa mengingat semuanya. Ya begitulah nasibku sekarang Abiyaksa. Setelah aku melahirkan, hidupku seperti di ujung tanduk." ucap Deniz bercerita tentang situasinya saat ini kepada Abiyaksa.
" Deniz. Ayolah ikut bersama denganku. Aku akan berusaha untuk menyembuhkanmu. aku yakin aku pasti bisa membuatmu kembali normal seperti dulu!" ucap abiyaksa sambil menggenggam telapak tangan Deniz dan berusaha untuk meyakinkan Deniz untuk ikut bersamanya.
" Tapi Abiyaksa, Aku tidak mau kalau nanti suamiku mengetahui aku pergi denganmu. Dia pasti akan mengamuk. Aku tidak mau hal itu terjadi Abiyaksa. Bagaimanapun aku adalah seorang istri ada hati suamiku yang harus kujaga!" ucap Deniz sambil menundukkan kepalanya tampak begitu tertekan hatinya.
Dari kejauhan tampak harimau putih yang berjualan dengan begitu gagah ke arah mereka berdua.
Deniz yang merasa takut kalau sampai Abiyaksa bertarung lagi dengan Kyai Rasyid, dia pun kemudian menyuruh Abiyaksa untuk segera meninggalkan kediaman Kyai Rasyid.
" Pergilah Abiyaksa. Aku tidak mau kalau sampai terjadi pertumpahan darah di sini!" ucap Deniz membujuk kepada sahabatnya untuk meninggalkan dia sendiri di pondok pesantren Kyai Rasyid.
Akan tetapi Abiyaksa menolak keinginan sahabatnya karena dia ingin sekali membawa Deniz untuk ikut bersama dirinya dan dia akan berusaha untuk menyembuhkan Deniz.
" Ikutlah bersama denganku Deniz. Aku akan menyembuhkanmu aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup dalam penderitaan!" ucap abiyaksa berusaha untuk membujuk Deniz ikut bersamanya.
__ADS_1
Pada saat Abiyaksa hendak menarik tangan Deniz tiba-tiba saja muncul dua cahaya biru dari atas langit dan menarik tangan Deniz dari genggaman tangan Abiyaksa.
Abiyaksa terkejut sekali melihat dua cahaya biru yang kini telah berubah menjadi dua pria tampan yang memiliki wajah hampir mirip.
" Ibu!!!" ucap seorang pemuda yang begitu tampan mendekati Deniz kemudian memeluknya dengan begitu erat.
Narendra Senang sekali melihat Deniz yang akhirnya bertemu dengan Putra mereka. Pangeran Panji!
" Panji dia adalah ibumu. Kita beruntung karena kita tidak terlambat! kalau tidak ibumu pasti sudah dibawa pergi oleh orang siluman itu!" ucap Narendra sambil menatap sinis ke arah Abiyaksa yang sedang menatapnya dengan penuh kebencian.
Bagi Abiyaksa hanya Deniz yang selalu menghargainya sebagai seseorang. Sia membenci semuanya. Karena mereka selalu menganggap bahwa dia adalah siluman jahat yang layak untuk dibasmi untuk selamanya. Sementara Deniz selalu memperlakukan dia dengan baik oleh karena itu Abiyaksa benar-benar tidak ingin kehilangan Deniz di dalam hidupnya.
" Ibu akhirnya kita bertemu juga!" Deniz benar-benar terkejut melihat pemuda tampan berusia sekitar 15 tahun sekarang berdiri di hadapannya sambil tersenyum begitu manis dan tampan.
Deniz menatap Narendra yang mengerti kenapa Deniz bertanya seperti itu. Memang pertumbuhan putranya sangat cepat. Sehingga dia pun tidak percaya bahwa sekarang putranya sudah berusia 15 tahun dan tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat tampan persis seperti ayahnya.
" Cepat kata! Siapa dia? Aku baru melahirkan beberapa bulan yang lalu. Rasanya tidak mungkin sekarang putraku sudah sebesar ini!" ucap Deniz merasa sanksi dengan apa yang dikatakan oleh Narendra.
" Dia memang benar-benar Putra kita sayang. Aku memberikan nama pangeran Panji kepadanya." ucap Narendra sambil menggenggam telapak tangan Deniz yang sudah sangat dia rindukan.
Selama ini Narendra sibuk melatih putranya bersama dengan Mahaguru. Agar bisa menjadi seorang ksatria tangguh yang sangat hebat dan memiliki ilmu yang sangat tinggi. Oleh karena itu sekarang Deniz sudah mulai sadar dan bisa mengingat kembali tentang kisah mereka berdua.
__ADS_1
" Ibu. Apakah kau tidak mau menganggapku sebagai anakmu?" tampak pemuda tampan itu seperti merasa kecewa kepada Deniz.
Kyai Rasyid yang sekarang sudah berubah menjadi manusia. Berdiri tegak di belakang Deniz dan berusaha untuk melindungi Deniz dari segala kemungkinan buruk.
" Deniz pemuda itu memang benar-benar adalah putramu. Dia adalah setengah siluman dan setengah manusia jadi tidak heran kalau pertumbuhannya sangat cepat!" ucap Kyai Rasyid sambil tersenyum kepada Narendra dan juga pangeran Panji.
Sementara itu Abiyaksa. Dia terus menatap kepada Panji dengan tatapan tidak senang. Bagaimanapun Abiyaksa menginginkan Deniz untuk menjadi istrinya. Kalau sekarang Narendra dan Panji bertemu dengan Deniz lagi, maka dia akan kehilangan kesempatan untuk bisa bersama dengan Deniz.
" Abiyaksa, pergilah. Aku mohon padamu. Jangan membuat lagi keributan di sini. Aku sudah lelah sekali dengan peperangan yang selalu kau buat dengan mengatasnamakan cintamu kepadaku." Abiyaksa benar-benar merasa kecewa mendengarkan perkataan Deniz yang mengusirnya.
" Deniz. Ayolah ikut denganku. Aku mohon! Di atas dunia ini tidak ada yang lebih mencintaimu daripada aku!" ucap Abiyaksa masih belum mau menyerah untuk membujuk Deniz agar mau menerima cintanya.
" Lancang! Deniz adalah istriku dan dia adalah ibu dari anakku. Bagaimana mungkin kau berani sekali mengajak istriku untuk ikut denganmu? Sementara ada aku dan putraku di sini yang pasti akan selalu menjaga istriku dengan baik!" ucap Narendra sambil mengepalkan kedua tangannya menahan emosi yang begitu besar di dadanya terhadap abiyaksa yang selalu membuat masalah.
Pangeran Panji langsung berdiri di hadapan ayahnya dan menawarkan diri untuk bertarung dengan Abiyaksa.
" Ayah biarkan aku saja menghabisi dia. Sekalian aku ingin menguji ilmu baru yang kemarin diberikan oleh maha guru. Aku yakin kalau aku sudah sanggup untuk melakukan itu!" ucap Pangeran Panji dengan senyum bahagia ketika dia memikirkan akan bisa menggunakan ilmu baru yang kemarin dilatih olehnya dari sang Mahaguru yang hebat.
" Kalau kau menganggap aku sebagai ibumu maka biarkanlah sahabat ibumu ini untuk pergi dari sini!" ucap Deniz sambil menatap kepada Pangeran Panji yang melotot mendengarkan perkataan ibunya.
" Ayah kenapa ibu malah membela musuh kita?" tanya Pangeran Panji yang merasa heran dengan ibunya yang mengatakan bahwa musuh mereka adalah sahabatnya.
__ADS_1
" Dia adalah sahabatku kalau kau berani melukainya maka aku tidak akan mau mengakuimu sebagai anakku!" ucap Deniz sambil menatap tajam kepada Panji yang merasa tersinggung dengan ucapan ibunya.
" Ayah aku akan kembali ke istana kerajaan kucing. Aku merasa kecewa dengan ibuku sendiri yang lebih menganggap penting Abiyaksa daripada diriku!" hanya dalam hitungan detik Pangeran Panji sudah menghilang dari hadapan Deniz.