
Dengan penuh penyesalan dan kesedihan, Panji dan Narendra kemudian kembali ke kerajaan kucing. Hati mereka sedih akan tetapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa karena nasi sudah menjadi bubur.
" Kelihatannya Pangeran Wangen memang sudah merencanakan semua itu. Aku yakin Ayahanda! Dia berpura-pura ingin melamar Minsi hanya untuk memancing putri Hana bereaksi. Bodohnya aku! Aku malah masuk ke dalam jebakan dia!" ucap Panji dengan murka.
Terlihat Pangeran Narendra menepuk bahu panji dan berusaha untuk menenangkan putranya.
" Sudahlah Putraku legowolah dengan kejadian ini mungkin ini adalah jalan takdir untuk memperlihatkan bahwa kalian berdua memang tidak dijodohkan dan di takdir kan untuk bersama. Lagi pula kamu juga kan tidak mencintai Putri Hana. Kalaupun kalian menikah Pasti kalian akan kesulitan untuk bisa menemukan kebahagiaan bersama!" Pangeran Narendra berusaha untuk terus menasehati putranya agar bisa legowo menerima kenyataan itu.
" Panji juga tidak tahu apakah mencintai Hana atau tidak. Tapi yang jelas, harga diri Panji sebagai seorang laki-laki merasa sangat terinjak-injak Ayah. Jelas-jelas kerajaan ular biru yang datang kepada kita dan mereka juga yang menawarkan perjanjian bilateral itu pada kita. Akan tetapi kenapa mereka juga yang melanggarnya begitu saja?" tanya Panji.
" Ingatlah kamu yang sudah berbuat ulah dengan mencium Minsi dan mengatakan akan melamarnya." Narendra kembali mengingatkan putranya bahwa semua itu memang adalah kesalahannya.
" Aku yang terkena jebakan Pangeran Wangen yang sengaja melakukan sandiwara itu. Dia benar-benar bajingan yang menyebalkan! Ayah, kalau kita mengajukan perang dengan Kerajaan monyet, apakah kita akan kalah?" tanya Panji dengan mata berapi-api.
Narendra tampak menggelengkan kepalanya benar-benar kehabisan cara untuk membujuk putranya yang saat ini sedang galau dan marah setelah mengetahui tunangannya menikah dengan wanita lain.
" Sudahlah Panji! Ayo kita pulang sekarang juga ke kerajaan kucing. Entah kenapa Ayah merasa khawatir kalau terjadi hal yang buruk dengan kerajaan kita!" ucap Narendra menyatakan tentang perasaannya saat ini kepada Panji.
Panji pun mengganggu dan menyetujui usul dari ayahnya.
Dengan kekuatan yang mereka miliki. Mereka pun kemudian melakukan teleportasi untuk segera sampai ke kerajaan kucing.
Saat mereka sampai di istana kerajaan Kucing, etapa terkejutnya Mereka melihat istana dalam keadaan porak poranda.
" Ada apa ini ayah?" tanya Panji kebingungan.
" Entahlah anakku. Ayah tidak tahu! sebentar Ayah akan mencoba untuk berkomunikasi dengan mahaguru!" setelah mengatakan itu Narendra pun Kemudian bermeditasi untuk melakukan komunikasi dengan Maha gurunya yang kemarin dia percaya untuk menjaga istana kerajaan kucing.
__ADS_1
Akan tetapi begitu lama tetap tidak bisa menghubungi Maha gurunya. Seperti ada awan tebal yang menghalangi komunikasi tersebut.
" Bagaimana ayah?" tanya Panji dengan mengerutkan keningnya.
" Sulit sekali nak. Ayahanda tidak bisa untul menembus kabut tebal yang menghalangi komunikasi kami!" ucap Narendra.
Panji kemudian duduk bersila dan berusaha untuk memanggil sama guru tetapi hasilnya sama saja.
" Apa yang sebenarnya terjadi dengan kerajaan kita?" tanya Panji benar-benar merasa sangat penasaran.
Ketika ada warga yang melintas di hadapan mereka. Mereka pun kemudian bertanya kepada orang tersebut.
" Ada apa ini? Kenapa istana kerajaan porak poranda begini?" tanya Panji pada warganya.
" Tadi ada seorang kyai yang ngamuk mencari putrinya. Dia membakar banyak sekali perkampungan warga karena merasa kesal tidak menemukan putrinya berada di sini!" ucap warga itu.
" Sudahlah Panji. Ayo sekarang juga kita menuju ke istana dan menemui kakek dan nenekmu!" ucap Narendra pada putranya.
Dalam sekejap saja mereka berdua sudah berada di istana kerajaan dan di sana pun sama terjadi porak-poranda.
" Siapakah Kyai yang dimaksud oleh warga tadi? Perasaan kita tidak punya musuh seorang Kyai." monolog Narendra sambil melirik ke arah Panji yang sedang melihat ke arah kakeknya yang saat ini sedang terbaring lemah di lantai.
" Kakek! Ada apa ini kek? Kenapa istana kita seperti ini?" tanya Panji benar-benar merasa penasaran dengan apa yang saat ini dia lihat.
Panji benar-benar berharap. Apa yang dia lihat sekarang adalah sebuah mimpi dan ketika dia bangun istana kerajaannya masih seperti sedia kala.
" Kakek, kakek baik-baik saja kan?" tanya Panji sambil mengangkat tubuh kakeknya untuk dibaringkan di ranjang kamar kakeknya.
__ADS_1
Raja kucing terlihat begitu lemah dan sayu matanya. Dia begitu kesulitan untuk menjawab pertanyaan Panji.
" Panji seorang Kyai datang mencari putrinya yang bernama Minsi yang katanya telah menghilang dan diculik olehmu. Apakah itu benar cucuku?" tanya sang raja dengan begitu susah payah.
" Minsi diculik olehku? Bahkan sejak kejadian di kediaman ibunda. Aku tidak pernah menemui dia lagi." Ucap Panji dengan penuh kekhawatiran dan juga rasa heran yang luar biasa di dalam hatinya.
" Apa kau benar-benar tidak menculik wanita bernama Mimpi itu? Tapi bagaimana mungkin Kyai itu begitu yakin mengatakan kalau kau yang sudah menculiknya." ucap saja kucing dengan begitu susah payah.
Kelihatannya sang raja telah bertarung dengan sangat hebat dengan Kyai Ilham. Terlihat luka dalam yang begitu serius di dalam tubuh Sang Raja hanya dengan satu kali tatap saja.
" Di mana maha guru kenapa sejak tadi kami berusaha untuk menghubunginya tetapi tidak juga berhasil untuk menembusnya seperti ada Awan Gelap yang menghalangi komunikasi kami," tanya Narendra yang saat ini sedang duduk di samping ayahnya yang tanpa kembang kempis kesakitan.
Sang raja dengan begitu perlahan dan juga susah payah dia pun kemudian menceritakan sepak terjang Kyai Ilham yang tiba-tiba saja datang ke istana mereka dan menanyakan keberadaan Putrinya yang berdasarkan Pengakuan dari Kyai Rasyid bahwa putrinya telah diculik oleh Panji.
" Kyai itu telah membawa mahaguru ke alam manusia dan menyanderanya dia mengatakan kalau ingin untuk membebaskan maha guru maka kalian berdua harus datang ke rumahnya dengan membawa Minsi!" ucap sang raja dengan susah payah.
Terlihat sang raja yang batuk-batuk dan mengeluarkan darah sehingga membuat Panji dan Pangeran Narendra menjadi khawatir dengan keadaannya.
" Kakek Istirahatlah dulu. Aku akan mencari tabib istana untuk mengobati kakek!" setelah mengatakan itu Panji langsung menghilang dari hadapan kakeknya sementara itu Narendra masih penasaran dan masih bertanya kepada ayahnya tentang keberadaan ibundanya yang dari tadi tidak dia lihat.
Terlihat sang raja yang begitu muram dan sedih.
" Ibumu saat ini sedang berada di kamar perawatan tabib istana. Dia mengalami luka yang sangat serius. Oleh karena itu tadi ayahanda menyuruh kepada ibumu untuk beristirahat dengan ditemani oleh tabib dan juga dayang istana. Pergilah Narendra Lihatlah ibumu!" ucap sang raja sambil mengibaskan tangannya menyuruh Narendra untuk meninggalkan dia sendirian di kamarnya yang entah kenapa sekarang terasa begitu sepi karena tidak ada sang istri tercinta yang selalu menemaninya setiap saat.
Narendra merasa terhiris hatinya melihat kesedihan di wajah sang ayah dan terus batuk-batuk dan mengeluarkan darah segar.
" Ayahanda raja beristirahatlah. Aku akan berusaha untuk berkomunikasi dengan Deniz dan bertanya situasi di sana." ucap Narendra kepada ayahnya.
__ADS_1
" Pergilah ke alam manusia bersama dengan Panji dan bebaskanlah Mahaguru. Kasihan dia telah menjadi korban karena permasalahan kita dengan Kyai itu!" pesan Raja kepada Narendra.