
Pangeran Surya Kelana kemudian memakamkan jenazah Putri Asuman yang dia halangi proses binasanya menjadi abu dengan menggunakan kekuatan yang dia miliki.
Hingga saat ini jenazah Putri Asuman masih utuh tersimpan di dalam sebuah peti yang berada di dalam sebuah Goa di hutan larangan.
Selama ini Pangeran Surya Kelana hidup bersama jenazah Putri Asuman di sana.
Setelah memastikan jenazah wanita yang dicintai aman, Pangeran Surya Kelana kemudian langsung menuju ke kerajaan buaya putih untuk membalas dendam apa yang sudah dilakukan oleh mereka terhadap istana kerajaan kucing.
Pangeran Surya Kelana merubah tubuhnya menjadi seekor kucing raksasa yang sangat ganas dan mengerikan karena saat ini dirinya sedang diamuk oleh amarah dan juga dendam kesumat yang sangat besar terhadap kakak dari Putri Asuman.
Raja dan permaisuri istana kerajaan kucing yang menjadi ibunda Pangeran Surya Kelana, terlihat begitu prihatin melihat keadaan Putra mereka yang begitu menyedihkan.
Pangeran Surya Kelana bahkan Mengabaikan semua nasehat dari punggawa kerajaan maupun Abdi dalam yang bekerja di istana kerajaan ayahnya.
Pangeran Surya Kelana bersih kekeh ingin menghancurkan istana kerajaan buaya putih dengan tangannya sendiri.
Pangeran Surya Kelana yang memiliki ilmu yang sangat hebat, hanya dalam waktu 1 minggu, dia telah berhasil membumihanguskan istana kerajaan buaya putih dengan memimpin seluruh pasukan yang berada di bawah kepemimpinannya.
Pangeran Surya Kelana tidak merasa bahagia dengan keberhasilannya tersebut akan tetapi dia selama satu bulan lebih terus menangis di depan peti jenazah Putri Asuman.
Kedua orang tuanya datang membujuk untuk sang pangeran kembali ke istana kucing lagi. Akan tetapi dia menolak dan meminta kepada kedua orang tuanya untuk menutup tempat itu dan dijadikan sebagai Hutan Larangan bagi istana kerajaan kucing untuk selamanya.
Pada saat itu, permaisuri bahkan sampai menangis dan membujuk putranya untuk mau meninggalkan hutan tersebut dan memakamkan jenazah istrinya. Tetapi Pangeran Surya Kelana tetap bersikeras tidak mau melakukan itu.
"Aku akan menetap di Hutan Larangan ini sebagai bentuk hukuman untuk diriku sendiri yang sudah membuat istana kerajaan kita mengalami kemalangan yang begitu buruk. Maafkan aku, ibunda!" Pangeran Surya Kelana menangis tersedu di dalam pelukan ibunya.
__ADS_1
"Aku akan selamanya disini dalam bentuk asliku. Ibunda!! Maafkanlah putramu yang lemah ini dan sudah membuatmu kecewa. Maafkan aku!" Pangeran Surya Kelana akhirnya menyuruh kedua orang tuanya untuk meninggalkan Hutan Larangan dan tidak ingin ditemui oleh siapapun selamanya.
Setelah raja dan permaisuri meninggalkan hutan tersebut, Pangeran Surya Kelana kemudian memasang pagar gaib di tempat itu agar tidak ada siapapun yang bisa melihat ataupun menembus tempat itu tanpa seijin dirinya.
Flash back off
Pangeran Surya Kelana saat ini masih asik menatap rembulan. Hatinya selalu disibukkan untuk mengenang tentang hubungannya bersama Putri Asuman yang amat dia cintai.
Pangeran Surya Kelana menoleh ke belakang, ketika di belakangnya dia mendengar suara seseorang.
"Siapa kau? Berani-beraninya kau menembus Hutan Larangan yang menjadi kekuasaanku?" tanya Pangeran Surya Kelana yang terlihat menggeram karena marah keasyikannya melamun terganggu.
Pangeran Surya Kelana dengan sekali loncat sudah berada di hadapan seseorang yang tadi bersembunyi di semak-semak.
Putri Ayuningtyas yang kabur dari pernikahannya bersama Jenderal Anom. Dengan terpaksa dia akhirnya harus menampakan wujudnya di hadapan sang pangeran yang berwujud sebagai kucing raksasa yang sangat besar.
"Katakan padaku! Ada urusan apa kau datang lagi kemari?" tanya Pangeran Surya Kelana pada Putri Ayuningtyas yang masih membeku di tempat.
Putri Ayuningtyas tidak mengerti dengan dirinya sendiri karena dia begitu tidak berdaya ketika berhadapan dengan kucing raksasa yang saat ini sedang menggeram di hadapannya.
Ketika kucing raksasa itu hendak menerkamnya, tiba-tiba saja sebuah kalung berwarna merah darah, terlempar dari leher Putri Ayuningtyas ke atas tanah dan hal itu tertangkap oleh mata sang pangeran.
Pangeran Surya Kelana kemudian mendekati kalung itu dan tampak terkejut sekali.
"Dari mana kau mendapatkan kalung ini?" tanya Pangeran Surya Kelana pada Putri Ayuningtyas yang sejak tadi sudah waspada dengan serangannya.
__ADS_1
"Sejak aku bayi, kalung ini sudah berada di Leherku. Kenapa? Kau punya masalah apa dengan kalung milikku?" tanya Putri Ayuningtyas pada Pangeran Surya Kelana yang terus menatap ke arahnya.
Pangeran Surya Kelana tiba-tiba saja berubah wujudnya menjadi seorang manusia yang sangat tampan di hadapan Putri Ayuningtyas.
"Kau adalah putriku dengan Putri Asuman. Pantas saja Sejak pertama kali aku melihatmu aku merasa auramu begitu familiar untukku." Putri Ayuningtyas tampak terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh kucing raksasa yang tadi sangat menyeramkan sekarang telah berubah menjadi seorang pangeran yang sangat tampan dan gagah dihadapannya.
Putri Ayuningtyas melihat Pangeran itu terus menetap kalung yang ada di tangannya. "Ayah, ibu!! Karena bertemu dengan putriku, tubuhku secara otomatis langsung berubah menjadi manusia. Maafkan aku yang sudah mengingkari janjiku untuk selamanya berwujud sebagai kucing raksasa. Aku akan menggantinya dengan bunuh diri untuk menghukum kesalahanku ini." Putri Ayuningtyas terbelalak mendengar apa yang dikatakan oleh laki-laki yang mengaku sebagai ayahnya.
"Eh, kau pria gila! Kau mengaku sebagai Ayahku dan sekarang kau malah ingin bunuh diri di hadapanku? Apa kau sedang bercanda?" tanya Putri Ayuningtyas kepada sang pangeran yang sekarang menatapnya dengan bersimbah air mata.
"Istriku! Kenapa kau tidak pernah bercerita padaku bahwa kau memiliki seorang putri dariku? Kenapa?" monolog Pangeran Surya Kelana sambil terus mendongakkan kepalanya ke atas langit.
Putri Ayuningtyas akhirnya duduk di hadapan laki-laki yang sejak tadi masih saja menangis sendiri dan terlihat mengacuhkan dirinya.
"Kembalikan kalungku padaku! Dan jangan coba-coba kamu ngaku-ngaku sebagai Ayahku! Karena kita berbeda jenis, tahu gak?" tanya Putri Ayuningtyas pada Pangeran Surya Kelana.
Pangeran Surya Kelana kemudian meletakkan tangannya di atas kepala Pangeran Andalas. Ajaib! Putri Ayuningtyas seketika berubah menjadi seekor kucing yang sangat cantik.
Putri Ayuningtyas sangat terkejut dengan perubahan dirinya. "Selama ini kau diberikan cangkang sebagai siluman ular hijau karena kalung ini telah menekan aura milikmu yang sesungguhnya. Tetapi bentuk sejatimu adalah seekor kucing. Apa sekarang kau sudah percaya bahwa aku adalah ayahmu?" tanya Pangeran Surya Kelana pada Putri Ayuningtyas.
Putri Ayuningtyas masih syok dengan kenyataan itu bahwa ternyata dirinya adalah seekor kucing sama seperti Raja Narendra yang dia sukai.
"Bagaimana mungkin aku seekor kucing? Padahal seumur hidupku aku hidup sebagai siluman ular hijau." Pangeran Surya Kelana kemudian memperlihatkan sebuah batu yang ada di dalam kalung yang dimiliki oleh Putri Ayuningtyas yang ternyata menyimpan memori dari Putri Asuman.
"Maafkan aku suamiku. Aku terpaksa merahasiakan kelahiran putri kita darimu. Aku sengaja menyembunyikan dia di istana kerajaan sahabatku karena kedua orang tuaku dan juga kakakku berniat untuk membunuhnya. Aku memberi nama putri kita Putri Ayuningtyas. Seperti nama yang sudah kau berikan kepadanya ketika dia masih berada di dalam kandunganku. Apa kau ingat? Dulu aku pernah bertanya kepadamu tentang nama yang ingin kau berikan kepada anak kita." Pangeran Surya Kelana terlihat menangis saat dia melihat kepingan memori yang tersimpan di dalam batu yang digunakan oleh Putri Ayuningtyas semasa hidupnya.
__ADS_1