Menikah Dengan Pangeran Dari Alam Ghaib

Menikah Dengan Pangeran Dari Alam Ghaib
Bab 251


__ADS_3

Raja Abiyaksa terlihat acuh saja mendengar nasehat dari semuanya. "Cinta kalian tidak terlalu kuat untuk Ratu Deniz! Oleh karena itu kalian mudah teralihkan. Aku berbeda dengan kalian. Aku tidak akan pernah membiarkan hatiku ternoda karena memikirkan wanita lain!" Raja Abiyaksa rupanya memang bebal dan sangat sulit untuk dinasihati siapapun.


"Mungkin hanya kematianku yang bisa membuatmu menghentikan rasa penasaran yang ada di hatimu." ucapan Ratu Deniz benar-benar mengagetkan semua orang yang ada di sana.


Semua mata tertuju kepada Ratu Deniz yang saat ini sedang bersimpuh di samping suaminya. Dengan gerakan yang sangat cepat tiba-tiba saja Ratu Deniz mengambil pedang milik Raja Narendra yang ada di sampingnya.


Hampir saja Ratu Deniz mengarahkan pedang itu menuju jantungnya. Untung saja Berarti Raja Narendra langsung memeluknya dan membuang pedang itu ke samping dan menjauhkan dari Deniz.


Deniz menangis dalam pelukan Raja Narendra yang selalu dia cintai hingga detik ini.


"Hanya kematianku yang bisa menyelesaikan semua masalah ini, suamiku. Kematianku mungkin akan membuat Raja Abiyaksa terbuka lebar matanya. Bahwa aku hanyalah seonggok daging yang tak berguna ketika aku sudah mati. Semua makhluk yang ada di atas dunia ini pada dasarnya sama saja. Hanya saja, bagaimana cara kita memandang dia dalam kehadirannya di sisi kita, yang membuat dia nampak berbeda dari orang lain. Suamiku! Aku yakin setelah kematianku, Kaupun bisa membuka hatimu untuk wanita lain dan menikah lagi. Aku benar kan? Lalu untuk apa kalian semua melakukan pertarungan ini yang hanya membuat hatiku rasanya begitu sakit, melihat kalian yang saling menyakiti satu sama lain. Kalau kalian benar-benar masih menghargai dan menganggapku sebagai orang yang kalian cintai. Tolong hentikan semua permasalahan ini. Untuk yang kesekian kalinya aku memohon kepada kalian." Ratu Deniz terlihat menangis tersedu-seduh karena begitu sedih hatinya.


Karena melihat semua orang hanya terdiam dan tidak ada yang berani bicara, akhirnya Raja Narendra memutuskan untuk keluarganya kembali ke istana kerajaan kucing.


Raja Abiyaksa tidak menghalangi mereka untuk meninggalkan istana kerajaan ular hijau. Karena dia sudah sangat lelah dan tidak sanggup lagi untuk melawan Raja Narendra.


'Aku maka mendatangi Raja Narendra ke Istana Kerajaan Kucing untuk bertarung lagi. Aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan cintaku karena aku hanya mencintai Deniz. Aku tidak peduli dengan apapun juga!' Raja Abiyaksa bermonolog dengan dirinya sendiri, ketika dia akhirnya meninggalkan semua tamu yang merasa penasaran dengan pertandingannya dengan Raja Narendra.


Pangeran Wangen dan istrinya juga berpamitan kepada Raja Abiyaksa. Setelah mereka melihat keluarga Raja Narendra berpamitan juga.


Akan tetapi mereka tidak jadi pergi, karena mencari Maha guru dan leluhur mereka yang sampai sekarang masih belum juga menemui Raja Narendra.

__ADS_1


"Pangeran Andalas kau panggillah gurumu. Kita akan segera meninggalkan istana kerajaan ular hijau, kami berpisah karena kami harus menjalankan tugas masing-masing." Raja Narendra kemudian memerintahkan kepada putranya untuk melakukan telepati atau berkomunikasi dengan Mahaguru.


Raja Narendra kondisinya saat ini sudah benar-benar terluka dan tidak mampu untuk melakukan sesuatu yang lebih berat lagi.


Pangeran Andalas sudah memiliki banyak ilmu, setelah berguru kepada Mahaguru dan juga Raja serta Ratu yang terdahulu. Sekarang ilmu yang dia miliki semakin matang dan sempurna.


"Ayah aku mengalami kesulitan untuk menembus pagar gaib yang menghalangi keberadaan Mahaguru dan leluhur kita." Pangeran Andalas kemudian membuka matanya dan melaporkan apa yang dia lihat ketika itu.


Raja Narendra menatap kepada istrinya yang masih merasa sedih atas pertarungannya bersama Raja Abiyaksa. Raja Narendra benar-benar merasa bersalah kepada Ratu Deniz, karena dia telah memberikan kesedihan kepada istrinya yang pasti merasa khawatir dengan kondisinya saat ini.


"Baiklah Putraku. Lebih baik kita pulang dulu saja ke Istana Kerajaan Kucing. Nanti setelah kondisi ayah sudah membaik, Ayah akan mencoba untuk melakukan telepati agar bisa berkomunikasi dengan mereka. Ayah merasa khawatir dengan kondisi mereka berdua yang pasti mengalami banyak kesulitan untuk bisa menemukan jiwa sepupu kamu!" Ratu Deniz hanya diam saja dan tidak mengatakan apapun.


"Tolong antarkan saya ke dunia manusia, karena saya ingin menenangkan diri di sana." Raja Narendra terkejut mendengar apa yang dikatakan istrinya.


"Sayang! Kenapa kita pergi ke alam manusia?" tanya Raja Narendra merasa tidak nyaman untuk bertanya kepada istrinya.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin pergi ke alam manusia dan bertemu dengan kedua orang tuaku di sana. Kau lakukan saja apapun yang kau inginkan bersama Raja Abiyaksa. Karena aku tidak peduli sama sekali!" Raja Narendra bisa merasakan kemarahan di dalam suara sang istri.


Raja Narendra beberapa kali mencoba untuk menggenggam telapak tangan istrinya tetapi selalu ditepis oleh Ratu Deniz.


Ratu Deniz sampai saat ini masih marah kepada suaminya yang mau saja melayani kegilaan Raja Abiyaksa yang selalu saja suka mencari gara-gara dengan mereka berdua.

__ADS_1


"Aku akan menetap di alam manusia bersama kedua orang tuaku. Silahkan saja kalian berdua kalau mau bertarung, sampai mati pun aku tidak peduli. Yang jelas! Siapapun yang menang dari kalian ataupun yang kalah dari kalian, kalian tidak akan bisa memilikiku. Karena aku adalah makhluk bebas dan merdeka! Aku tidak akan pernah membiarkan diriku menjadi bahan keegoisan kalian berdua!" Raja Narendra menghela nafas berat.


Sungguh sesuatu yang ini sangat sulit baginRaja Narendra, saat melihat kemarahan istrinya.


"Sayang, aku akan menemanimu. Kalau kau memang ingin menetap di alam Manusia. Kebetulan sekarang Pangeran Panji dan Minsi sudah berada di alam siluman. Biarkanlah mereka yang melanjutkan pemerintahan di istana kerajaan kucing." ucap Raja Narendra sambil mencoba tersenyum buat istrinya.


Akan tetapi Ratu Deniz langsung memalingkan wajahnya dan tidak menggubris apapun yang dikatakan oleh Raja Narendra.


"Tidak usah! Karena aku ingin hidup sendiri di sana bersama dengan kedua orang tuaku. Kalian tidak usah mengikutiku. Kalian jalani saja kehidupan kalian sebagai siluman yang bebas dan merdeka. Sama seperti diriku yang berhak memutuskan apa yang akan aku lakukan. Aku tidak akan pernah mencampuri urusan kalian!" Ratu Denis rupanya benar-benar serius mengamuk kepada suaminya.


Saat ini hati Ratu Deniz memang benar-benar sedang kacau dan dia tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk menghentikan pertarungan antara Raja Narendra dan Raja Abiyaksa.


Dari pada dirinya kembali merasakan sakit hati. Ketika nanti melihat pertarungan mereka lagi, lebih baik dirinya menghindar dan membiarkan kepada mereka untuk memikirkan langkah hidup mereka sendiri. "Bukankah kau sangat suka bertarung dan memamerkan kemampuan silat yang kau miliki? Lanjutkan saja!" Raja Narendra kesulitan menelan salivanya sendiri melihat amarah sang istri yang benar-benar sudah tidak mampu untuk diredakan lagi olehnya.


Raja Narendra melirik kepada Pangeran Andalas dan meminta bantuan kepada putranya agar mau membujuk ibunya supaya membatalkan keinginannya untuk menetap di alam manusia tanpa dirinya ikut serta.


"Kalau ibunda akan menetap di alam manusia, aku pun akan menetap di sana bersama dengan ibunda. Apa kalian ingat? Bukankah dulu kalian memberikan tiga opsi kepadaku?" Raja Narendra menatap tajam kepada putranya yang ternyata memiliki misi sendiri.


"Apakah benar kalau kau ingin sekolah seperti manusia biasa?" tanya Ratu Denis kepada putranya yang begitu bahagia ternyata ibunya tidak marah kepada dirinya.


"Ibunda! Aku pun ingin mencicipi. Bagaimana rasanya sekolah di dunia manusia. Aku pernah melihat mawar yang berangkat ke sekolah dan itu rasanya sangat menyenangkan!" Pangeran Andalas terlihat begitu bahagia saat dia membayangkan tentang sekolah di alam manusia seperti Mawar.

__ADS_1


__ADS_2