
Begitulah hari-hari yang di lewati oleh Dani di kerajaan alam gaib bersama dengan sang istri yang jinak-jinak merpati. Hanya kesabarannya yang telah menaklukkan Putri Seruni yang selama ini selalu menjadi pembuat onar dan terkenal sebagai pembuat masalah.
Sejak dia menjadi istri Dani, sedikit demi sedikit perangai jeleknya mulai diperbaiki. Hal itu benar-benar membuat Raja Abi Saka dan istrinya sangat bahagia.
Sementara itu, Raja Abiyaksa yang terpental jauh sekali, terlihat sedang diselamatkan oleh seorang gadis yang kebetulan sedang lewat di sana.
"Siapa dia? Kenapa tubuhnya penuh dengan luka-luka?" gadis itu kemudian membawa tubuh Raja Abiyaksa yang pingsan dan tidak sadarkan diri.
Gadis itu yang ternyata adalah Halimah, gadis yang dijadikan sebagai tumbal oleh kedua orang tuanya dan ditolak oleh raja Narendra untuk menjadi istrinya. Dia di tugaskan oleh Ratu Deniz untuk merawat taman milik sang ratu.
Selama hari-harinya, Halimah lebih memilih untuk hidup di luar istana. Karena dia ingin hidup bebas dan tidak terkekang dengan aturan istana yang sangat ketat dan tidak dia sukai.
Raja Narendra tidak mempermasalahkan hal itu. Baginya, Halimah tidak menuntut untuk menjadi istrinya itu sudah lebih dari cukup baginya.
Dengan telaten Halimah merawat Raja Abiyaksa di gubuknya yang dibangun oleh pengawal yang diperintahkan oleh raja Narendra. "Siapa dia sebenarnya? Kenapa tubuhnya penuh dengan luka-luka dan sudah hampir satu bulan dia tidak juga siuman. Kasihan sekali." Halimah bermonolog sendiri. Dia hanya memberikan obat-obatan yang dia ketahui yang dia minta kepada tabib istana.
Halimah sepulang bekerja selalu merawat Raja Abiyaksa yang hingga saat ini masih juga pingsan.
Luka-luka yang dia terima akibat pertarungan bersama Raja Narendra memang sangatlah berat. Wajar saja kalau tubuhnya membutuhkan waktu yang sangat lama untuk beristirahat dan memulihkan kondisinya kembali.
Tepat 1 bulan kemudian, setelah Raja Narendra ditemukan oleh Halimah, dia mulai membukakan matanya secara perlahan-lahan.
Raja Abiyaksa mengerutkan keningnya ketika mendapatkan dirinya berada di sebuah gubuk kecil yang reot dan jelek.
__ADS_1
"Aih, kenapa aku seorang raja bisa tinggal di tempat ini?" tanyanya lirih dan tidak suka.
Halimah yang pada saat itu kebetulan baru saja pulang dari bekerja terlihat senang. Ketika dia melihat Raja Abiyaksa yang sudah siuman.
"Ya ampun! Kau sudah bangun? Syukurlah! Apa kau tahu? Kau selama satu bulan lamanya pingsan di rumah ini. Aku benar-benar sangat khawatir dengan keadaanmu." Halimah kemudian mengambil air minum dan diberikan kepada Raja Abiyaksa yang terlihat masih bingung dengan gadis itu yang begitu baik kepadanya.
Melihat kebaikan yang ditunjukkan oleh Halimah kepadanya, serta merta mengingatkan Raja Abiyaksa kepada Ratu Deniz yang juga selalu memperlakukan dia dengan baik di masa lalu.
"Deniz? Kaukah itu?" tanya Raja Abiyaksa seakan tidak mempercayai penglihatannya sendiri.
"Aih!! Aku bukan Deniz! Namaku adalah Halimah. Aku adalah pegawai yang merawat taman milik Ratu dari istana kerajaan kucing!" Raja abiyaksa cukup terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Halimah tadi.
"Kau seorang dayang di istana kerajaan kucing?" tanya Raja Abiyaksa yang sedikit demi sedikit mulai mengingat kembali sesuatu di dalam memorinya.
uUtuk beberapa saat Raja Abiyaksa terpesona melihat kecantikan Halimah yang telah mengingatkan dia kepada Deniz pada saat dulu pertama kali bertemu dengannya.
"Entah kenapa aku merasa bahwa kau sangat mirip dengan wanita yang kucintai. Tapi sayang! Dia tidak pernah mencintaiku dan lebih memilih orang lain untuk menjadi suaminya." Raja Abiyaksa sangat sedih ketika mengingat nasib percintaannya yang begitu memilukan.
Halimah tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Raja Abiyaksa kepadanya.
"Itu artinya gadis itu bukanlah jodohmu! Kenapa kau harus bersikeras untuk sesuatu yang tidak diperuntukkan untukmu?" tanya Halimah sambil menatap Raja Abiyaksa.
"Maksud kamu?"
__ADS_1
Halimah kemudian menjelaskan semuanya kepada Raja Abiyaksa untuk membuat dia sadar bahwa yang dia lakukan selama ini salah. Karena dia telah memaksakan cinta kepada seseorang yang jelas-jelas sudah memiliki suami dan anak.
"Percayalah bahwa jodoh kita sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Kalau wanita itu bukan jodohmu walaupun kau berusaha sampai mati pun tidak akan pernah menjadi milikmu. Tetapi ketika kau sudah bertemu dengan jodohmu, hatimu pasti akan berdesir hebat dan tidak akan bisa mengalihkan pandanganmu darinya. Kamu akan tahu, kekuatan cinta pasti bisa mengalahkan segalanya!" Raja Abiyaksa terkesiap mendengar semua yang dikatakan oleh Halimah.
"Dari mana kita bisa mengetahui bahwa kita telah bertemu dengan jodoh kita yang sudah digariskan oleh takdir?" tanya Raja Abiyaksa yang kemudian berusaha untuk menyadarkan tubuhnya di dinding reot di dalam gubuk itu.
Halimah kemudian membantu Raja Abiyaksa yang tanpa kesulitan. Entah kenapa, untuk beberapa saat lamanya mata keduanya bertemu. Jantung mereka seakan berloncatan. Ah, entahlah!! Hal itu baru pertama kali dirasakan oleh Halimah maupun Raja Abiyaksa.
'Ada apa dengan diriku? Kenapa aku mengalami hal seperti ini? Ketika dulu aku mencintai Deniz, jantungku tidak seperti ini. Ya Tuhan! Apakah aku sedang bertemu dengan jodohku seperti yang dikatakan oleh gadis ini. Tidak mungkin! Bagaimana mungkin aku seorang raja, akan jatuh cinta kepada dayang yang memelihara taman istana dari wanita yang dulu sanga aku cintai? Apalagi, dia adalah gadis yang dijadikan tumbal oleh kedua orang tuanya untuk dijadikan istri oleh raja Narendra. Kalau sampai dunia luar mengetahui fakta ini aku pasti menjadi bahan olokan mereka.' batin Raja Abiyaksa terus saja menolak isi hatinya sendiri.
Akan tetapi pesona seorang Halimah terlalu kuat untuk bisa ditolak olehnya. Apalagi ketelatenan dan kesabaran Halimah dalam menghadapi watak Raja Abiyaksa yang keras dan aneh, benar-benar telah sukses menyentuh relung hatinya yang paling dalam.
Pada bulan kedua, setelah perkenalan Mereka berdua. Terlihat Raja Abiyaksa yang sudah siap untuk meninggalkanku itu.
Halimah saat itu masih berada di tempat kerjanya. "Aih! Kenapa gak di situ lama sekali pulangnya! Aku tidak suka berada di sini sendirian dan kesepian." Raja Abiyaksa yang selama hidup di gubuk itu hidup dengan kesederhanaan dan merendah.
Dia bahkan tidak mengakui namanya sebagai Raja Abiyaksa kepada Halimah. Dia hanya takut, kalau Halimah akan berlari darinya ketika mengetahui fakta itu.
Halimah yang sudah selesai bekerja dia pun pulang menuju ke bukit itu dengan membawa makanan yang dia dapatkan dari koki istana. "Hey, kemarilah kita makan bersama. Hari ini ada perayaan pengangkatan Pangeran Panji menjadi raja baru di istana kerajaan kucing. banyak makanan enak yang di buat untuk semua orang. Untung saja koki istana baik hati dan memberikan banyak makanan untuk kita!" Raja biasa terkejut mendengar berita yang didapatkan dari Halimah.
"Raja Narendra sudah digantikan oleh putranya?" tanya Raja Abiyaksa tampak begitu terkejut.
Halimah kemudian menceritakan semua yang dia ketahui di istana kerajaan kucing.
__ADS_1
" Raja Narendra dan Ratu Deniz, mereka memutuskan untuk mundur dari istana kerajaan kucing dan akan menetap di alam manusia. Mereka kemudian menyerahkan Tahta kepada Pangeran Panji dan istrinya. Ratu Deniz tidak mau kalau sampai mereka berurusan lagi dengan Raja Abiyaksa kalau sampai Raja itu kembali menemukan mereka. Kasihan Ratu Deniz! Dia sampai rela melepaskan tahtanya hanya untuk menghindari Raja Abiyaksa yang selalu memaksakan cintanya yang hanya untuk suaminya." Raja Abiyaksa terlihat kesulitan menelan salivanya sendiri mendengar apa yang dikatakan oleh Halimah.