
"Ayah!! Kenapa Ibuku sampai melakukan hal tercela seperti itu? Sungguh, Ayah. Bagiku ini benar-benar seperti sebuah Roman Picisan yang tidak masuk akal." Pangeran Surya Kelana menatap kepada putrinya yang tidak percaya dengan ceritanya.
Pangeran Surya Kelana yang sekarang sudah berubah bentuk menjadi seorang manusia yang sangat tampan memandang kepada putrinya yang sudah dewasa dan siap menikah.
"Katakan padaku! Kenapa waktu itu kau bertarung dengan Pangeran Andalas?" tanya Pangeran Surya Kelana pada Putri Ayuningtyas.
Putri Ayuningtyas kemudian menceritakan semuanya kepada ayahnya sehingga ayahnya bisa mengerti kejadian yang sesungguhnya.
"Mereka selalu menganggapku sebagai siluman sesat dan nakal yang harus dibumihanguskan. Mereka selalu mencari gara-gara denganku. Oleh karena itu aku sengaja menghasut kakakku, Raja Abiyaksa untuk menyerang istana kerajaan kucing. Selain itu, istri Pangeran Panji juga sudah dua kali mengalahkanku dalam pertarungan. Aku tidak terima ayah, karena kalah dari perempuan itu." Putri Ayuningtyas terlihat cemberut saat berhadapan dengan ayahnya.
Pangeran Surya Kelana menghela nafas. Kemudian dia berdiri dari tempat duduknya. Pangeran Surya Kelana terus berjalan mondar mandir di sana.
Putri Ayuningtyas yang tidak mengerti dengan kelakuan ayahnya hanya bisa menatapnya dengan lekat dan tidak mampu menanyakannya. Putri Ayuningtyas sangat tahu karakter ayahnya yang keras dan galak.
Satu lagi! Sang pangeran yang merupakan ayahnya memiliki ilmu yang sangat hebat. Bahkan Raja Abiyaksa dan dirinya saja kalah saat melawan Pangeran Surya Kelana. Padahal ilmu mereka berdua bisa di katakan Putri Ayuningtyas benar-benar tidak mampu untuk berbuat sewenang-wenang di hadapan ayahnya yang sakti.
"Baiklah putriku. Sekarang mari kita ke istana keadaan kucing. Aku akan memperkenalkanmu sebagai anakku kepada mereka. Aku bisa menjamin atas namaku dan kehormatanku. Sejak saat ini mereka tidak akan pernah macam-macam lagi denganmu." Putri Ayuningtyas terlihat sumringah wajahnya mendengar yang dijanjikan oleh ayahnya.
Putri Ayuningtyas kemudian langsung mengajak Pangeran Surya Kelana untuk pergi dari sana. Pangeran Surya Kelana melakukan itu karena sekarang dia sudah memiliki alasan untuk mematahkan sumpahnya yang akan tinggal di Hutan Larangan selamanya.
Tidak mungkin dirinya akan membiarkan putrinya hidup di luar seorang diri seperti tunawisma yang tidak memiliki keluarga. Padahal dia adalah keturunan kerajaan kucing yang terhormat.
__ADS_1
Pangeran Surya Kelana juga tidak mungkin memaksa putrinya untuk hidup dan menetap di Hutan Larangan bersamaannya. Padahal putrinya dalam usia pertumbuhan yang sangat suka berpetualang dan hidup di dunia ramai.
Pangeran Surya Kelana tampak begitu sentimental ketika kakinya menginjakkan kaki di pelataran istana.
"Ayah, lihatlah!! Para prajurit dan komandan itu hendak menyerangku sekarang!" Pangeran Surya Kelana kemudian memberikan sebuah token Putra Mahkota kepada komandan yang tampaknya masih baru. Sehingga tidak mengenal dirinya sebagai Pangeran mahkota di istana kerajaan kucing.
"Siapa kau? Kenapa kau memiliki token putra mahkota istana kerajaan kucing?'' tanya prajurit yang tadi menghentikan langkahnya.
Putri Ayuningtyas yang merasa tidak terima ayahnya diperlakukan tidak hormat langsung berdiri di hadapan mereka.
"Kalian semua tidak mengenali siapa yang sedang berhadapan dengar kalian? Ya ampun! Sepertinya kalian sudah bosan hidup." Putri Ayuningtyas terlihat begitu geram kepada para prajurit yang tidak mengenali ayahnya.
"Maafkan putriku yang sudah berbuat lancang kepada kalian. Perkenalkan, Aku adalah Pangeran Surya Kelana yang dulu pernah menjadi putra mahkota di istana kerajaan kucing." Pangeran Surya Kelana terlihat begitu sopan dan berwibawa di hadapan para prajurit dan komandan yang saat ini sedang mengepung dirinya dan Putri Ayuningtyas.
" Panggil Raja kalian kalau kalian tidak percaya dengan ayahku!" Putri Ayuningtyas terlihat begitu arogant dan jumawa sekali.
Pangeran Surya Kelana menegur putrinya agar bisa bersikap sopan kepada para prajurit.
Pangeran Surya Kelana mengingat kembali, saat lima ratus tahun lalu, ratusan ribu prajurit binasa karena perbuatan istrinya yang telah berkhianat padanya. Terlibat air mata sang pangeran mengalir deras, ketika dia melihat ke sekeliling istana yang sudah banyak berubah.
"Tunggulah kalian di sini. ku akan memanggil kan Yang Mulia Raja atau Pangeran Andalas." ucap Prajurit yang tadi menyambut kedatangan Pangeran Surya Kelana.
__ADS_1
Pangeran Surya Kelana hanya mengangguk dan tidak membuat masalah dengan prajurit yang tidak mempunyai dosa apapun kepadanya.
Hati Pangeran Surya Kelana benar-benar sedang nelongsor dan juga melankolis karena masa lalu yang selalu membayangi dirinya dan membuat dia selalu merasa berdosa kepada kerajaan kucing.
"Yang mulia raja dan permaisuri sedang pergi ke dasar jurang untuk menemui Mantan Raja dan permaisuri untuk mengantarkan Pangeran Andalas yang hendak belajar ilmu kanuragan di sana." lapor prajurit kepada Pangeran Surya Kelana.
Pangeran Surya Kelana merasakan jantung yang berdebar sangat kencang ketika mendengarnya.
"Jangan bohong kamu! Mana ada seseorang yang tinggal di dasar jurang? Apa kau sedang melawak?" tanya Putri Ayuningtyas yang terlihat kasar dan tidak punya sopan santun.
Pangeran Surya Kelana cukup terenyuh melihat kepribadian putrinya yang sangat jelek. sekarang dia mengerti kenapa putrinya itu dianggap nakal oleh adiknya dan juga para keponakannya.
"Putriku! Jadilah seorang gadis yang anggun. Kenapa kau kasar sekali sebagai seorang putri kerajaan?" tanya Pangeran Surya Kelana pada Putri Ayuningtyas yang langsung cemberut karena kesal kepada ayahnya sendiri yang juga berpikiran sama seperti yang lainnya terhadap dirinya.
Hal itu membuat sang putri berpikir bahwa memang hanya Raja Abiyaksa yang menerima dirinya dengan tulus dan sangat sayang padanya.
Entah kenapa, gara-gara hal itu membuat hati Sang Putri tiba-tiba saja merindukan sosok Raja Abiyaksa yang selama ini selalu mengerti tentang dirinya dengan sangat baik tanpa pernah menegur ataupun mengadili sikapnya yang arogan dan urakan.
Putri Ayuningtyas mengingat ajaran dari orang yang selama ini dianggap sebagai ayahnya bahwa sebagai seorang putri dirinya harus menjaga Wibawa terhadap orang lain dengan bersikap tegas dan angkuh. Hal itu bertujuan agar tidak diremehkan oleh orang lain yang tidak kenal dirinya secara detail.
'Maafkan aku, Kakak. Kau pasti sekarang sedang kebingungan karena kehilanganku. Jenderal Anom Apakah dia akan murka dengan ketiadaanku di istana kerajaan ular hijau?' batin Putri Ayuningtyas yang seketika merasa bersalah kepada dirinya sendiri. Karena sudah memberikan masalah kepada Raja Abiyaksa yang sudah berbaik hati kepadanya selama ini. Padahal dirinya bukanlah adik kandung sang raja yang sesungguhnya.
__ADS_1