Menikah Dengan Pangeran Dari Alam Ghaib

Menikah Dengan Pangeran Dari Alam Ghaib
Bab 249


__ADS_3

"Maafkan, ayah!" Pangeran Andalas terlihat begitu menyesali apa yang sudah dia lakukan tadi.


"Minta maaf lah kepada Raja Abiyaksa dan berjanji untuk tidak akan mengulangi hal seperti itu lagi!" Raja Abiyaksa tampak terkesiap mendengar apa yang dikatakan oleh Raja Narendra yang selama ini selalu menjadi rival cintanya.


Entah kenapa tiba-tiba hatinya merasa hangat mendapatkan perlakuan seperti itu dari saingannya.


"Sudahlah lupakan saja! Sekarang kau pulanglah ke istanamu dan beristirahat di sana. Satu minggu lagi, aku akan datang ke istana kerajaan kalian untuk melanjutkan pertarungan hidup dan mati di antara kita berdua!" Raja Abiyaksa kemudian menyuruh Raja Narendra untuk pergi dari istana kerajaannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi kepada kalian berdua? Apa yang sedang kalian perebutkan? Kalian benar-benar sangat mengecewakanku!" ujar Deniz.


Pangeran Andalas langsung mendekati ibunya yang kembali sedih mendengar perkataan dari Raja Abiyaksa.


Pangeran Andalas kemudian menghadap Raja Abiyaksa yang tadi meminta untuk terjadi pertarungan lagi antara dia dan ayahnya.


"Ayahku dan kamu sudah bertarung mati-matian selama dua hari dua malam. Bahkan, kau lihatlah! Keadaan kerajaanmu sendiri sampai hancur dan porak-poranda gara-gara pertarungan kalian berdua. Apakah hal itu masih juga belum puas untukmu?" tanya Pangeran Andalas sambil menatap tajam kepada Raja Abiyaksa yang mulai mengedarkan pandangannya melihat kesekelilingnya.


Sang raja melihat istana kerajaannya yang sudah hancur tak berbentuk akibat pertarungan mereka berdua yang berkemampuan tinggi.


Efek dari serangan dari tenaga dalam yang mereka kerahkan sudah menghancurkan banyak tempat dan juga orang-orang yang tidak bersalah yang terkena semburan kekuatan mereka yang luar biasa banyak yang terluka karena ilmu mereka berdua yang dikerahkan dalam pertarungan.


Raja Narendra pun seketika merasa bersalah. Karena sudah begitu sembrono bertarung di dalam istana. Sehingga merugikan banyak pihak yang sekarang menderita karena perbuatan mereka yang di amuk emosi dan amarah.

__ADS_1


"Seandainya kau menerima opsi dari leluhur kami untuk menikah dengan Putri Ayuningtyas, maka tidak perlu lagi ada permusuhan di antara kita dan dua kerajaan pun bisa hidup berdampingan dengan damai." Raja Narendra terlihat menyesali pertarungan yang sudah mereka lakukan selama dua hari dua malam.


"Pertarungan ini tidak memberikan efek positif apapun kepada dua kerajaan. Hanya memberikan kehancuran yang tiada bertepi untuk kerajaanmu yang menjadi lokasi pertarungan kita," Raja Narendra menatap kepada Raja Abiyaksa yang saat ini sedang mengatur nafasnya yang terasa begitu sakit.


Setelah tidak melakukan pertarungan lagi, baru dirasakan bahwa sekujur tubuhnya sudah menderita luka yang sangat dalam. Bahkan darah terus mengucur dari hidung dan mulutnya.


"Pulanglah kalian ke istana kalian. Karena aku harus menyembuhkan luka-lukaku dulu. Setelah aku sembuh, aku akan pastikan datang kembali untuk mencarimu, Raja Narendra! Kita harus menentukan hidup dan mati kita berdua dan menentukan siapa yang berhak menjadi suami dari Deniz!" ucap Raja Abiyaksa yang bebal dan sangat buruk temperamennya. Dia tetap bersikeras ingin melanjutkan pertarungan itu tanpa mendengarkan nasehat siapapun.


Raja Narendra menatap kepada istrinya yang menggelengkan kepala terus menerus dan melarang suaminya untuk menerima tantangan itu.


Hati Raja Narendra mencelos sektika saat dia melihat air mata istrinya yang berderai begitu deras. Raja Narendra selama ini memang paling tidak bisa melihat sang istri menangis karena itu adalah kelemahan dirinya yang terbesar.


"Aku mohon suamiku. Tolong hentikan semua ini! Ayo kita pulang dan tidak usah melayani kegilaan Raja Abiyaksa lagi. Biarkanlah dia dengan otaknya yang tidak beres itu." Ratu Deniz kemudian menatap tajam kepada Raja Abiyaksa yang melotot ketika mendengar apa yang dia katakan.


"Raja Abiyaksa! Kau harus sadar bahwa istriku hanya mencintaiku dan tidak menginginkan untuk menjadi istrimu! Kenapa Kau sangat tidak tahu malu, ingin merampas Istriku dari tanganku?" Raja Narendra berdiri dengan tegak di hadapan Raja Abiyaksa yang tadi hampir saja mendekati Ratu Deniz dan membawanya pergi dari sisinya.


Pengalaman Jenderal Anom yang membawa kabur keponakannya, menjadi sebuah pengalaman yang sangat berharga untuk Raja Narendra. Sehingga dia terus waspada dengan semua pergerakan yang dilakukan oleh Raja Abiyaksa.


"Raja Abiyaksa! Apakah kalau kau melihat aku mati baru kau akan merasa puas? Dan tidak akan lagi mengejar-ngejarku untuk menjadi istrimu?" tanya Ratu Deniz yang sekarang sudah bangkit dengan tatapan nyalang dan suara yang bergetar.


Raja Narendra dan Raja Abiyaksa terlihat khawatir dengan Ratu Deniz yang sejak tadi tidak juga mau melepaskan belati yang ada di tangannya.

__ADS_1


Ratu Deniz melakukan itu semua karena dia sudah putus asa untuk bisa membujuk Raja Abiyaksa yang keras kepala sekali.


Belati itu adalah hadiah dari Raja Narendra untuk Ratu Deniz. Agar Ratunya bisa melindungi dirinya sendiri dari penjahat. Apabila dia tidak bersama dengan sang istri yang kadang sibuk dengan tugas kenegaraannya sebagai seorang raja.


Raja Narendra berusaha untuk mendekati Ratu Deniz. Tetapi dia terus menghindarinya. Untung saja Ratu Deniz tidak menolak kehadiran Pangeran Andalas di sampingnya sehingga Raja Narendra tidak terlalu khawatir dengan kondisi istrinya yang saat ini sedang labil sekali.


"Kalau kematianku akan membuat kalian merasa bahagia dan merasa senang, aku akan merasa sangat bahagia! Raja Abiyaksa! Ketika aku mati tidak ada lagi alasan untukmu bertarung dengan suamiku maupun kerajaan yang dia pimpin! Sudah cukup kau menjadikanku sebagai tameng dari keserakahan dan sikap burukmu. Aku sudah sangat lelah mengetahui itu semua!" Ratu Deniz sudah bersiap untuk menusukkan belati itu menuju jantungnya.


Raja Narendra berusaha untuk mencari celah agar bisa merebut belati yang ada di tangan istrinya.


Raja Narendra tidak mau kalau sampai sang istri meninggal karena belati yang dia hadiahkan pada wanitanya, lalu meninggalkan dirinya sendirian.


Raja Abiyaksa sudah gemetar sejak tadi mendengar ancaman yang diberikan oleh Ratu Deniz kepadanya.


"Aku minta maaf kepadamu, Raja Abiyaksa. Kalau sikap baikku yang menganggapmu sebagai saudara ataupun sahabatku di masa lalu, ketika kita berdua sama-sama berada di alam manusia selama beberapa hari. Telah membuatmu menjadi salah paham kepadaku. Telah membuatmu berpikir bahwa aku mencintaimu. Aku minta maaf!! Aku tidak pernah bermaksud melakukan itu untuk menggodamu ataupun mengganggu perasaanmu! Aku saat itu bahkan hingga saat ini, aku hanya menganggapmu sebagai sahabatku, tidak lebih dari itu!" Raja Narendra sampai meneteskan air matanya karena merasakan kesedihan sang istri yang saat ini berada dalam dilema yang sangat besar, karena perbuatan Raja Abiyaksa yang terus saja mendesak untuk menerima cintanya yang tidak pernah berbalas sejak dulu.


"Aku dan suamiku sudah disatukan oleh takdir sejak lama. Bahkan darah kami sudah disatukan ketika aku baru saja lahir ke atas dunia ini. Hanya maut yang bisa memisahkan kami berdua! Cinta dan obsesimu tidak akan pernah sanggup untuk membuat kami berdua berpisah. Camkan itu! Aku mohon dengan sangat kepadamu, Raja Abiyaksa! Kalau kau memang pernah merasa bahwa aku pernah baik kepadamu di masa lalu. Tolonglah kau lepaskan obsesi gila mu itu untuk memilikiku sebagai istrimu. Aku mohon kepadamu!" Ratu Deniz terus berusaha untuk membujuk Raja Abiyaksa yang terus menatap nanar padanya.


Raja Abiyaksa tidak menduga kalau Ratu Deniz benar-benar bisa mengatakan hal-hal yang akan menyakiti hatinya seperti itu. Padahal cintanya kepada Ratu Deniz begitu tulus dan murni.


"Bagaimana aku bisa hidup tanpamu? Setiap malam aku hanya bisa memimpikanmu untuk menjadi istriku. Deniz! Katakan padaku! Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu datang padaku dan menerima cintaku! Katakan padaku, Deniz! Aku rela melakukan apapun untukmu!" Ratu Deniz malah tambah frustasi mendengar apa yang dikatakan oleh Raja Abiyaksa itu.

__ADS_1


Raja Narendra semakin murka melihat Raja Abiyaksa yang tidak tahu malu mengatakan hal seperti itu di hadapan publik. Padahal Ratu Deniz adalah istrinya dan ibu dari anak-anaknya.


"Sungguh moralmu sangat minim dan kau tidak memiliki martabat sebagai seorang laki-laki! Karena kau memimpikan wanita yang sudah menjadi istri orang lain!" Raja Narendra terlihat begitu murtad ketika menatap Raja Abiyaksa yang tampak tidak mengindahkan apapun yang dia katakan kepadanya.


__ADS_2