Menikah Dengan Pangeran Dari Alam Ghaib

Menikah Dengan Pangeran Dari Alam Ghaib
69. Marah?


__ADS_3

Begitu sampai di istananya, Raja Abiyaksa memeriksa dirinya dan dia menyadari bahwa ternyata dirinya tidaklah diracun seperti yang dikatakan oleh Deniz. Obat yang diberikan oleh Deniz hanyalah multivitamin yang pernah dia lihat ada di alam manusia.


Akan tetapi ada keanehan dari raut wajah Raja Abiyaksa. Dia tidak marah sama sekali mendapatkan Deniz yang telah menipunya mentah-mentah di hadapan banyak siluman yang menghadiri perundingan waktu itu di Aula istana kerajaan kucing.


" Aku tidak menyangka kalau Deniz ternyata sangat nakal. Dia sungguh sangat berani menipuku. Hahaha. Kita lihat saja Deniz, apalagi yang akan kau lakukan padaku. Ketika nanti aku tiba-tiba datang ke istana kerajaan kucing untuk menculikmu dan menjadikanmu sebagai Permaisuriku!" terlihat senyum terukir di bibir Raja Abiyaksa.


Sampai seminggu lamanya. Raja Abiyaksa masih mengunci diri di dalam kamarnya. Bagaimanapun dia tidak bisa mengekspos tentang dirinya yang telah ditipu oleh Deniz. Akan di taruh ke mana wajahnya kalau sampai siluman lainnya mengetahui betapa bodohnya dia telah ditipu oleh Deniz. Jadi mau tidak mau Raja Abiyaksa hanya bisa mengurung dirinya dan pura-pura dalam keadaan di racun.


Setelah satu minggu berlalu. Raja Abiyaksa keluar dari kamarnya dengan wajah yang lebih berseri. Karena walaupun dia menyadari bahwa dirinya tidak diracun oleh Deniz, tetapi Raja Abiyaksa tetap mengkonsumsi obat yang diberikan Deniz kepadanya.


Terlihat Perdana Menteri kerajaan ular hijau menghadap Raja Abiyaksa. Raja Abiyaksa hanya mengerutkan keningnya melihat sang perdana menteri yang seperti khawatir dan cemas akan sesuatu.


" Ada apa dengan wajahmu Perdana Menteri? Kenapa sangat tidak enak dipandang?" tanya Raja Abiyaksa menegur perdana menterinya yang sudah berumur ribuan tahun.


Sang Perdana Menteri kemudian bersujud di bawah telapak kaki Raja Abiyaksa dengan khidmat. Setelah itu dia duduk di tempat yang biasa dia gunakan ketika berada di aula istana kerajaan ular hijau.


" Ada apa sih? Cepat katakan padaku! Kau tidak usah membuatku penasaran begini!" ucap Raja Abiyaksa yang mulai tidak sabar melihat gelagat perdana menterinya yang begitu kesulitan untuk melaporkan sesuatu kepadanya.


Dengan kesulitan dan gugup luar biasa. Akhirnya Perdana Menteri kemudian mulai menceritakan semua yang dia lihat di sebuah padang rumput yang leteknya lumayan jauh dari istana kerajaan ular hijau. Di mana sekarang permaisuri dan Pangeran Abimana menetap dengan penuh kesederhanaan.

__ADS_1


" Maafkan kelancaran hamba yang mulia aja tetapi hamba benar-benar tidak tega melihat kehidupan pangeran Abimana dan juga gusti permaisuri di luar sana. Almarhum Raja sebelumnya pasti akan sangat sedih dan marah kalau mengetahui istri dan anaknya menderita di luar sana!" ucap sang Perdana Menteri dengan raut wajah kesedihan yang terlihat begitu jelas dan bisa terbaca oleh Raja Abiyaksa yang maklum.


Sejenak Raja Abiyaksa memikirkan semua perkataan perdana menterinya yang selalu setia ke kerajaan ular hijau. Bagaimanapun pangeran Abimana adalah adiknya dan permaisuri adalah ibu kandungnya sendiri. Dia tidak bisa membiarkan mereka hidup terlantar di luar sana.


" Perdana Menteri. Kau temuilah Pangeran Abimana dan juga Gusti permaisuri. Asal mereka mau mengembalikan stempel kerajaan maka aku akan memulihkan semua status kerajaan mereka dan mereka bisa kembali menempati istana mereka!" ucap Raja Abiyaksa dengan senyum sumringah di wajahnya. Benar dia sudah siap untuk memaafkan semua siluman yang tidak mau menerima dirinya menjadi raja baru di kerajaan ular hijau.


Termasuk dia akan memaafkan penghianatan adik dan juga ibu kandungnya yang sudah begitu berani membawa lari stemple kerajaan ular hijau yang secara diplomatis berarti mereka telah berkhianat kepada dirinya dan tidak menerima dirinya sebagai raja yang baru di istana tersebut.


Dengan perasaan penuh kebahagiaan dan suka cita. Perdana Menteri langsung mengundurkan diri dan segera menuju ke sebuah padang rumput tempat di mana Pangeran Abimana dan permaisuri sekarang menetap di sana.


Raja Abiyaksa secara diam-diam terus memperhatikan perdana menteri yang saat ini sedang menemui adik dan juga ibu kandungnya. Karena bagaimanapun dia harus memastikan bahwa siluman yang berada di istananya adalah siluman-siluman setia yang tidak akan menusuknya di belakang suatu saat nanti.


Pangeran Abimana yang melihat Perdana Menteri istana kerajaan ular hijau sekarang berada di kediamannya, dia tampak mulai mengerutkan keningnya. Merasa tidak senang dengan kehadirannya.


" Pangeran dan Ibunda permaisuri hamba sudah berbicara dengan Yang Mulia Raja Abiyaksa. Beliau mau memaafkan kalian berdua asal Kalian mau menyerahkan kembali stempel kerajaan yang kalian curi waktu itu dan menerima beliau sebagai raja yang baru di istana kerajaan ular hijau!" ucap perdana menteri berusaha untuk hati-hati Karena bagaimanapun dia tidak mau menyinggung ibu dan anak itu.


Permaisuri terkejut mendengarkan penuturan dari perdana menteri yang dia tahu adalah sahabat dari mendiang suaminya yang telah di bumi hanguskan oleh putranya sendiri.


" Kau tahu sendiri bahwa mendiang Raja telah memerintahkan kami untuk membawa pergi stempel kerajaan ular hijau. Bagaimana mungkin kami akan mengembalikan stempel itu sementara kami tidak menyetujui Abiyaksa sebagai raja baru dari istana kerajaan ular hijau kami?" tanyanya.

__ADS_1


Hati permaisuri masih sakit mengetahui putranya telah tega sekali membunuh suaminya. Sehingga dia sudah menghapus Abiyaksa sebagai putra kandungnya dan memutuskan menjadikan Abiyakas sebagai musuhnya yang harus dibasmi suatu saat nanti.


Pangeran Abimana bisa merasakan perasaan ibunya saat ini yang merasa sedih setelah meninggal ayahnya yang dengan begitu kejam di bumi hanguskan oleh kakaknya yang haus dengan tahta kerajaan.


" Maafkan saya perdana menteri Lebih baik kau pulanglah ke istanamu dan berbaktilah kepada raja baru. Karena kami selamanya tidak akan pernah mengakui Abiyas ka sebagai raja dari kerajaan ular hijau." ucap permaisuri dengan penuh kemantapan dan keyakinan.


" Maka itu artinya kalian berdua harus mati sekarang juga. Karena aku tidak akan pernah membiarkan kalian membangun istana kerajaan ular hijau di tempat lain dan akan mengganggu kestabilan istana kerajaanku! kecap Raja abiyaksa tiba-tiba sudah berdiri di antara mereka bertiga dengan tatapan penuh amarah.


Akan tetapi permaisuri maupun pangeran Abimana tidak merasa gentar sama sekali kepada Raja Abiyaksa di kediaman baru mereka yang hanya sebuah padang rumput sederhana dan tidak memiliki istana maupun rumah permanen.


Setiap hari mereka hanya bermeditasi dalam wujud ular hijau yang mereka miliki dan hanya menampakan diri sebagai manusia. Apabila mereka hendak mencari bahan makanan maupun beraktivitas lainnya.


Bila siang tiba maka mereka akan mewujud menjadi ular hijau dan bermeditasi di lubang yang sudah mereka buat untuk menjadi rumah mereka yang ada di padang rumput sederhana itu.


Walaupun kehidupan mereka sangat sederhana tetapi pangeran abimanah dan permaisuri sangat bahagia dan tidak pernah mengeluh dalam hidup mereka.


" Yang mulia Raja! Tolong maafkan hamba yang bodoh ini. Tolong biarkanlah pangeran dan permaisuri hidup di sini tidak usah memaksa mereka untuk kembali ke istana kita lagi. Maafkanlah hamba apabila telah membuat yang mulia Paduka Raja menjadi marah dan murka!" ucap Perdana Menteri memohon ampunan untuk pangeran Abimana dan sang permaisuri yang telah menolak kekuasaan Raja Abiyaksa di istana kerajaan ular hijau.


Akan tetapi Raja Abiyaksa yang sudah terlanjur merasa tersinggung dan marah dengan ucapan ibunya. Dia sudah tidak mampu lagi menarik kekuatan yang sudah diarahkan ke tangannya dan siap untuk segera menghantam adiknya.

__ADS_1


" Terimalah kematianmu Abimana dan tolong kau sampaikan salamku kepada ayah kita!" setelah mengatakan itu Raja Abiyaksa yang tangah matah kemudian mulai menyerang Abimana yang belum siap untuk bertarung dengan kakaknya.


Di saat keadaan genting itulah tiba-tiba di berbagai pelosok nampak ratusan bahkan ribuan ular hijau yang menyerang Raja Abiyaksa dan membela Pangeran Abimana.


__ADS_2