
Hai teman-teman, novel ini adalah lanjutan kisah Arya dan Mila di Novel Menikah Karena Janji, sebelum membaca novel ini, baca novel menikah karena janji dulu ya, biar nggak bingung dengan alur ceritanya, okđđ
.
.
Suasana pagi itu begitu ceria di sebuah rumah mewah yang cukup besar, keluarga kecil yang tinggal disana adalah keluarga yang selalu menghadirkan kehangatan kasih sayang di antara mereka, itulah keluarga Gibran Adinata, sang pengusaha muda yang fenomenal, yang telah mampu mendirikan Adinata group dan menjadikannya sebagai salah satu perusahaan besar di Negara ini.
Gibran adinata telah memulai usahanya dari nol, hingga ia mampu merintis usahanya menjadi salah satu perusahaan besar, dan namanya masuk dalam 5 besar orang terkaya di Negara ini. Kehormatan yang ia peroleh berkat bisnisnya yang terus maju itu tidak membuatnya jumawa, ia tetaplah sosok sederhana yang penuh kehangatan pada setiap orang.
Hari itu adalah hari minggu, dimana keluarga Gibran adinata sedang mempersiapkan diri untuk perjalanan jauh keluar negeri, selain untuk mengurus masalah bisnis, Gibran adinata juga ingin berlibur dengan keluarga kecilnya untuk 2 minggu, untuk itu ia mempersiapkan banyak hal sedari pagi, karena pagi besoknya mereka sudah harus berada di bandara.
âBu,ibu,,,â teriak Indra adinata yang berlari ke kamar ibunya di lantai 1 dari lantai 2 tempat kamarnya berada, ia begitu semangat untuk segera menjalani trip pertamanya keluar negeri, selama ini ayahnya selalu pergi keluar negeri seorang diri, dan meninggalkan ia dan ibunya di rumah, tapi untuk kali itu Gibran adinata mengajak anak dan istrinya untuk berlibur bersama di luar negeri di sela kegiatan bisnisnya.
âada apa sayang? jangan lari-lari, nanti kamu jatuhâ ucap Naina, ibunya Indra yang sedang mempersiapkan bajunya dan baju suaminya untuk liburan mereka, ia selalu tidak suka melihat anak satu-satunya itu berlarian dari lantai 2 menuruni tangga, hal yang selalu membuatnya takut jika anaknya terpeleset jatuh di tangga itu.
âaku boleh bawa semua mainankuâ ucap Indra dengan semangat 45-nya.
âjangan semua Indra, bawa aja 1 atau 2, ayah nggak mau kamu main mainan disana, kita harus habiskan waktu kita bersama tanpa ada kegiatan lainâ suara ayahnya terdengar oleh Indra memasuki kamar itu.
âya ayah, kalau 1 atau 2 nanti aku cepat bosannyaâ keluh Indra pada ayahnya,
Wajahnya cemberut yang membuat Naina dan Gibran begitu gemas pada putra mereka itu.
âya udah, 3 ya, jangan tambah lagiâ ucap Naina sembari menarik lembut pipi Indra.
âok buâ jawab Indra ia kemudian berlari lagi menuju lantai 2,
âIndraaaa, jangan lari-lari naakâ teriak Naina memperingatkan anaknya lagi, dan Gibran hanya tertawa melihat Istrinya yang berteriak,
âkok kamu ketawa bang, anak kamu itu nanti jatuh kalau tiap hari berlari terus di tanggaâ ucap Naina kesal pada suaminya,
âia ketularan sifat ayahnya yang selalu semangat tiap hariâ jawab Gibran mendekat kepada istrinya, ia kemudian menciumi puncak kening istrinya itu dengan kasih sayang, yang membuat Naina memejamkan matanya dan menikmati sentuhan lembut suaminya itu.
âkeningku ini manis ya, hobi sekali kamu menciumnyaâ ucap Naina sembari mengusap bekas ciuman suaminya,
âwajah kamu yang manis, makanya aku menciumi seluruh wajahmu setiap hariâ ucap Gibran tersenyum karena tingkahnya yang tak pernah lupa menciumi setiap inci wajah istrinya itu setiap hari,
__ADS_1
âiih, gombal kamu,â balas Naina menarik wajahnya dari Gibran karena malu,
âtuh kan, nambah manis lagiâ goda Gibran pada istrinya lagi,
âapaan sih bangâ Naina mulai menunduk karena perasaan Malu pada suaminya itu,
âkita udah 7 tahun menikah lo dek, kamu masih aja bersikap malu-malu gini sama suamimuâ
âiih, abang, abang hobi bangat sih ngusilan aku kayak giniâ keluh Naina, karena memang hampir setiap hari suaminya itu terus menggodanya seperti itu.
âayah ibu, 4 yaâ ucap Indra yang tiba-tiba membuat sepasang suami istri itu kaget mendengarnya,
âIndra, 3 ya, ibu bilang 3â Naina kali ini bersuara tegas kepada Indra, yang membuat bocah itu berbalik badan dengan lesu, âyaaaa ibuuuâ ia kemudian melangkah gontai ke lantai 2 tanpa ada semangat sama sekali.
Gibran dan Naina hanya bisa saling pandang melihat kelakuan anak mereka, dan kemudian mereka sama-sama saling tertawa.
Suara bel dari pintu depan mengejutkan mereka, Gibran kemudian berdiri untuk membuka pintu dan meninggalkan istrinya di kamar itu yang masih sibuk memilih pakaian mereka,
âSaniah, kamu kok kesini?â tanya Gibran yang kaget melihat Saniah ketika membuka pintu Rumah,
Gibran bukannya tidak senang dengan kedatangan Saniah, ia hanya tak ingin istrinya menaruh cemburu pada Saniah, karena istrinya tahu bahwa sebelum mereka menikah Gibran telah terlebih dahulu dijodohkan dengan Saniah, namun Saniah menolaknya karena ingin menikah dengan Tito, laki-laki yang ia cintai.
âboleh dong, Saniah, Cuma aku kaget aja kamu tiba-tiba datangâ ucap Gibran mencoba mengelak dari ketakutannya.
âmbak Naina mana bang, aku bawa titipan ayah untuk kalianâ
Gibran lalu melihat tangan Saniah yang membawa sekantong makanan, dan ditangan satu lagi ia membimbing anak perempuannya,
âdi dalam, masuklah, siapa nama anakmu ini?â
âMila bangâ jawab Saniah yang kemudian mengikuti langkah Gibran ke dalam rumah.
Saniah dan Mila lalu berjalan ke arah pintu kamar Gibran, ia memang sudah terbiasa di rumah mewah itu, karena memang ia sering kesana bersama ayahnya untuk mengunjungi Gibran, apa lagi dulu ketika Gibran masih lajang, Saniah dan ayahnya sering berkunjung dan Saniah lah yang sering masak untuk mereka.
Jadi rumah itu memang sudah akrab bagi Saniah, hanya saja Saniah dulu membuat Gibran kecewa karena menolak perjodohan mereka, padahal Gibran sudah jatuh hati sama Saniah.
Setelah menikah, Gibran berusaha menghilangkan perasaannya pada Saniah, ia mencoba mencintai Naina yang merupakan adik dari salah satu teman abangnya, ia hampir setiap hari mencumbu istrinya, menciumi setiap sudut wajahnya dan mengecum keningnya setiap pergi dan pulang ke rumah.
__ADS_1
Ia tak ingin mengecewakan istrinya dan takut jika istrinya mengetahui jika ia masih tidak bisa melupakan Saniah.
Perlahan-lahan ia mampu mencintai istrinya, dan kebiasaanya untuk menciumi istrinya yang dulu ia lakukan untuk melupakan Saniah menjadi kegiatan rutin yang tidak pernah lupa untuk dilakukannya, hingga akhirnya ia benar-benar jatuh cinta pada Naina.
âmbak Nainaâ sapa Saniah yang sudah masuk ke dalam kamar Naina,
âeeh Saniah, siniâ jawab Naina yang kaget dengan kedatangan Saniah,
âduuh, lucunya anakmu ini, siapa namanya?â tanya Naina sembari mengelus lembut pipi tembem Mila yang membuatnya gemas itu,
âMila mbakâ
âkok kamu nggak pernah bawa dia kemari sebelumnya?â,
âselama ini ayah yang merawatnya mbak, mbak kan tahu sendiri masalahku dengan suamiku, jadi ayah nggak mau ngambil resiko, kedua anakku ayah yang ngasuh sekarangâ
Naina mencoba tersenyum pada Saniah untuk memberi Saniah kekuatan menghadapi persoalan hidupnya, walaupun sejatinya dia masih takut jika saja Saniah menggoda suaminya dan menumbuhkan kembali benih-benih cinta yang dulu ada di hatinya suaminya,
âyang kuat ya Saniah menghadapi cobaan iniâ ucap Naina sembari mengelus lembut bahu Saniah,
âbu, nggak boleh nambah lagi ya?â ucap Indra dari ambang pintu kamar itu,, Naina , Saniah, dan Mila kemudian menoleh ke arah Indra.
âIndraaâ ucap Naina dengan tegas,
âduuh, Indra, tambah ganteng aja anak mu mbak" ucap Saniah yang kaget dengan kehadiran Indra, Mata Indra dan mata Mila pun bertemu untuk pertama kalinya,
Melihat kehadiran Mila disana, Indra pun mendekat dan mencoba menyapanya,
âganteng ya mbak, kayak mas Gibranâ ucap Saniah spontan yang membuat raut wajah Naina berubah seketika
.
.
.
Halo kak, sebelum lanjut baca novel ini, jangan lupa baca novel season 1 nya dulu ya kak, Judulnya Menikah Karena Janji.
__ADS_1