Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Merusak Hari


__ADS_3

“maaf nona, tapi ini prosedur kami disini” jawab resepsionis itu dengan sopan, Sekretaris itu masih berusaha memberanikan diri menegakkan kepalanya dan tetap tersenyum pada Anjani menatap mereka dengan wajah marah dan mata membunuh.


“apa kalian tidak tahu siapa aku?” tanya Anjani yang tidak bisa lagi menahan rasa marahnya yang membuat 2 resepsionis itu pias seketika dan membuat mereka kesulitan menelan saliva mereka sendiri.


“ada apa ini?” tanya Arbi dengan nada ramahnya ketika iasudah sampai di meja resepsionis itu, ia kemudian melirik genit ke arah Anjani yang masih marah itu,


“maaf tuan, nona ini ingin bertemu dengan tuan Arya, tapi mereka tidak ada jadwal pertemuan sama sekali, ibu Rita tidak memberi tahu kami jika ada tamu untuk tuan Arya hari ini” jawa Resepsionis itu degan menunduk takut pada Arbi, karena Arbi adalah orang yang paling ditakuti di kantor itu, sikapnya tegas dan keras, bertentangan 180 derajat dengan sikap Arya, orang yang paling dicintai karyawan kantor itu.


“kalian ini harus belajar untuk menghormati tamu di kantor kita, nona ini hanya bertanya tentang ruangan Arya” kesal Arbi pada 2 resepsionis itu yang membuat mereka pucat seketika, satu saja kesalahan mereka di mata Arbi, bisa membuat mereka kehilangan pekerjaan di hari itu juga.


“maaf tuan, kami hanya mengikuti prosedur khusus yang diminta ibu Rita untuk tuan Arya” ucap salah satu resepsionis dengan suara gemetar takut.


Arbi melepas nafas kesal mendengar ucapan resepsionis itu, ia sendiri juga tahu bahwa Arya tidak suka bertemu sembarang orang, hingga Arya meminta prosedur khusus itu untuk dirinya, semua orang di kantor itu tahu, tidak sembarang orang bisa bertemu dengan Arya, setiap orang yang ingin bertemu arya harus melewati meja resepsionis terlebih dahulu, dan tentunya juga Rita yang duduk manis di depan pintu ruangan Arya selama jam kerja, memastikan tidak ada orang yang bisa masuk ke ruangan itu tanpa sepengetahuan dan seizinnya.


“ruangan arya ada di lantai 4 nona” ucap Arbi dengan nada lembut dan senyuman manis pada Anjani, Namun Anjani tidak peduli dengan sikap Arbi itu, ia segera pergi menuju lift dan meninggalkan Arbi tanpa berkata apapun dengan sikap juteknya.


“dia manis ya” ucap Arbi sembari tersenyum senang dengan tetap memperhatikan pintu lift yang dimasuki Anjani itu tertutup.


“iya tuan” jawab 2 resepsionis itu serentak dengan nada takut mereka.

__ADS_1


Anjani telah keluar dari lift di lantai 4 gedung 3A Sahabat, ia melirik setiap sudut lantai itu dengan tajam, ‘dimana ruangannya?’ batin Anjani bertambah kesal.


Seorang OB sedang berjalan mendekati Anjani yang sedang berdiri di depan pintu lift. OB itu ingin masuk ke dalam lift untuk turun menuju pantry yang ada di lantai 1 bagian belakang gedung itu.


Anjani kemudian menatap dingin OB tersebut yang membuat OB itu menunduk takut melihat matanya.


“hey kamu, dimana ruangan Arya?” tanya Anjani datar pada OB yang sedang menunggu pintu lift itu terbuka, OB itu menelan salivanya mendengar suara Anjani, “maaf nona, apa nona bertanya pada saya?” tanyanya dengan nada takut, “kamu pikir saya bicara dengan siapa, apa ada orang lain disini selain kamu?” ucap Anjani yang benar-benar kesal saat itu. harinya yang berjalan baik sejak pagi, sekarang hancur karena perasaan marah yang menggebu-gebu kepada Arya.


“maaf nona, apa anda sudah punya janji bertemu dengan tuan Arya?” tanya OB itu menunduk takut, Mata Anjani langsung membulat marah mendengarnya, itu sudah kali ketiga ia mendengar kalimat ‘apa anda sudah punya janji bertemu dengan tuan Arya’ di kantor itu, mulai dari satpam, resepsionis dan sekarang OB pun juga bertanya seperti itu kepadanya.


“Apa kamu sudah bosan bekerja disini?” ucap Anjani dengan dingin menahan amarahnya.


OB itu seketika memucat mendengar ucapan Anjani, tubuhnya bergedik takut bersamaan romanya yang berdiri, ia menelan saliva dengan kesulitan, “nona lurus saja, nanti di ujung belok ke kanan, disana ada sekretaris tuan Arya dan tim arsiteknya tuan Arya” ucap OB itu dengan suara sedikit gemetar, ketika pintu lift terbuka, ia langsung masuk dan menutup lift sembari menutupi embelm namanya agar tidak dilihat oleh Anjani.


“Mana Arya?” ucap Anjani dengan nada marah yang seketika menarik perhatian orang di sekitar itu.


Rita kemudian menoleh ke arah Anjani dan ia langsung berdiri, “maaf nona, pak Arya lagi di luar” jawab Rita dengan ramah tanpa ada rasa takut pada Anjani.


Anjani menarik nafas kasar dan mengeluarkannya, “suruh dia kembali” perintah Anjani, ia kemudian masuk ke dalam ruangan Arya tanpa memperdulikan Rita yang berusaha mencegahnya.

__ADS_1


“astaga,, ini perempuan” kesal Rita, ia kemudian segera mengeluarkan ponselnya untuk menelfon Arya.


Sementara tim arsitektur Arya yang melihat kedatangan Anjani saling berbisik dan menggunjing, beberapa waktu belakangan ini sudah ada 4 perempuan yang baru mereka lihat masuk ke ruangan Arya termasuk Anjani barusan, Sosok yang paling mereka ingat adalah Vanessa karena masuk keruangan itu dengan keadaan memprihatinkan ditarik kasar oleh Ari, dan juga Mila karena penampilannya yang mencolok menggunakan cadarnya. Padahal sebelumnya tidak ada perempuan yang pernah masuk ke ruangan itu selain Rita dan mereka tim arsitektur Arya serta juga para OG kantor itu.


Setelah menelfon Arya, Rita melirik tajam kepada orang-orang yang berbisik-bisik itu yang membuat mereka pias seketika dan kembali bekerja seolah tidak terjadi apa-apa.


Anjani duduk kesal di sofa Arya, laki-laki yang baru dikenalnya itu benar-benar berhasil membuatnya bergejolak karena marah, ia sudah mengenal yang namanya laki-laki sejak SMP hingga SMA, dan setelah tamat SMA ia kuliah dan bekerja 10 tahun di Amerika, hidup bebas disana dengan segala gemerlap dunia, Dan selama itu juga ia mengenal makhluk yang bernama laki-laki, tidak ada satu pun laki-laki yang pernah membuatnya semarah itu.


Padahal laki-laki itu baru dikenalnya dan baru sekali bertemu dengannya, tapi itu sudah cukup membuatnya penasaran sekaligus marah karena ia merasa dipermainkan oleh Arya, 3 minggu ia menunggu Arya untuk mendiskusikan masalah desain, namun pada akhirnya tidak ada satu pun yang diubah, Ia meminta nomor ponsel Arya, tapi ternyata Arya malah memberikan nomor sekretarisnya. 2 hal yang sudah cukup membangkitkan emosinya pada Arya saat itu.


Anjani bangkit dari sofa, ia memperhatikan setiap sudut ruangan Arya itu, ‘ini bagus sekali susunan ruangannya, interiornya juga menarik, simpel dan elegan’ batin Anjani mengagumi ruangan itu, hanya satu hal yang merusak pemandangannya disana, tumpukan dokumen yang berserakan ditinggal Arya tadi.


Anjani sejenak melihat ke arah dinding kaca ruangan Arya yang menampilkan view indah gedung-gedung pencakar langit ibukota.


"Arya, kamu memang luar biasa mendesain ruangan ini, kamu memang arsitek hebat” puji Anjani lagi.


Anjani kemudian memutar kepalanya untuk melihat setiap sudut ruangan itu, ruangan itu benar-benar tersusun rapi dan menarik bagi setiap mata yang memandangnya “kamu luar biasa Arya” puji Anjani lagi.


Ruangan itu jauh berbeda dengan ruangannya dan ruangan ayahnya di Hardi corp, bahkan ruangannya dan ruangan ayahnya tidak ada apa-apanya dengan ruangan Arya itu. hampir 20 menit Anjani masih memperhatikan setiap lekuk ruangan itu dan terus memberinya pujian.

__ADS_1


Matanya lalu tertuju ke sebuah pintu yang ada di sudut ruangan itu, ‘ini ruangan apa’ batin Anjani penasaran, ia kemudian melangkah ke arah pintu itu, dan ketika hendak menarik gagang pintu itu, pintu utama ruangan Arya tiba-tiba terbuka,


“kamu sedang apa?” tanya Arya.


__ADS_2