Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Badai


__ADS_3

Arya mempercepat jam pulangnya sore itu, ia harus memangkas dulu rambutnya yang panjang untuk menuruti keinginan anaknya. Walau berat sekali hatinya untuk itu, ia tetap melakukannya, demi keinginan malaikat kecilnya.


Setelah memangkas rambut, Arya segera pulang dengan menjalankan mobilnya lebih cepat dari biasanya. Entah mengapa dia begitu merasa rindu pada 2 malaikat hidupnya yang tengah menunggunya di rumah.


Setelah memakir mobilnya, Arya melangkah dengan cepat menuju lantai 15, tempat mereka tinggal di gedung apartemen mewah itu. Saat membuka pintu apartemennya, sang istri sudah menunggu sembari duduk di ruang tamu, pemandangan yang selalu ia rindukan setiap masuk ke dalam apartemen mereka.


“assalamualaikum” ucap Arya dengan suara manjanya.


“walaikumussalam” jawab Mila dengan pelan, Mila melihat kagum kepada suaminya, matanya tak bisa berkedip melihat penampilan Arya dengan rambut pendek, setiap lekuk wajah Arya terlihat dengan jelas. Menggambarkan ketampanannya yang selama ini tersembunyi oleh rambut panjangnya yang sering tampak kusut.


“apa aku sudah bertambah tampan sekarang?” canda Arya pada Mila.


Mila kemudian tersenyum, “malaikat kecil kita sedang tersenyum melihat ayahnya yang sudah potong rambut” jawab Mila dengan rasa senang karena Arya menuruti keinginannya semalam


“apa bundanya tidak mau memuji ketampanan ayahnya” goda Arya pada Mila.


Mila segera mendekat dan mencium tangan suaminya. Dan Arya kemudian mencium kening Mila seperti biasa.


“kenapa suamiku bisa tampan seperti ini?” ucap Mila menatap lekat wajah Arya dari dekat.


Arya tersenyum, ia mengelus lembut pipi Mila yang masih terbatasi oleh cadar berwarna hitam, “kalau aku tidak tampan, apa kamu tidak mau denganku?” tanya Arya dengan pelan.


“hmmmm gimana ya?” ucap Mila seolah berpikir panjang mencari jawaban untuk pertanyaan Arya.


“ohhhh, jadi kamu melihatku cuma dari fisik saja”


“nggak lah, aku mencintaimu karena hatimu, hatiku hanya untuk hatimu Arya” jawab Mila dengan tersenyum.


“duuhhh, udah lancar ya istri ku ini menggombali suaminya” ucap Arya sembari mencubit pelan pipi Mila, ia benar -benar dibuat gemas melihat tingkah istrinya itu.


“aku sama sepertimu tidak bisa menggombal” ucap Mila dengan cemberutnya.


“iya,, aku tahu, kamu jujur dari hatimu mengatakannya”


Arya kemudian segera melepas sepatunya, sementara Mila mengambil tas Arya untuk membawanya ke kamar. Setelah melepas sepatunya, Arya kemudian ikut melangkah ke kamarnya dan seperti biasa dia melihat Vanessa yang tengah menonton tv di ruang tengah.


Arya kemudian masuk ke dalam kamar, Saat ia melepas dasi dan jas kerjanya, ia dapat mendengar suara gemericik air dari arah dalam kamar mandi. 'Mila lagi mandi ya'

__ADS_1


Arya menarik nafas panjang, ia dengan segera mengeluarkan dokumen yang ia dapatkan dari dokter Karina. Sejenak ia melihat surat yang telah ia simpan dengan map coklat.


Sejak ia melihat isi surat itu, hatinya bergemuruh, antara marah dan sedih. Apa yang dilakukan Irman benar-benar tidak bisa ia maafkan. Laki-laki itu sudah membuat kehidupan Vanessa terasa menyakitkan setiap saat.


Arya kemudian kembali ke ruang tengah dan duduk di sebelah Vanessa. “kamu mau dek?” tanya Vanessa menawari Arya brownies yang ada di atas meja ruang tengah apartemen mereka.


Arya tersenyum ia kemudian memberikan map coklat itu kepada Vanessa, “kakak buka nanti malam ya, apa pun keputusan kakak, aku terima, aku hanya ingin kakak tetap disisi Mila, Mila sangat menyayangi kakak” ucap Arya dengan nada penuh harap.


Ia tidak ingin merahasiakan itu lagi, sudah cukup kesakitan yang dirasakan oleh orang sebaik Vanessa. Gadis sebaik Vanessa tidak seharusnya diperlakukan seperti itu. “apa ini dek?” tanya Vanessa melihat map itu dengan penasaran.


“buka aja nanti malam kak” gumam Arya, ia kemudian mencicipi brownies yang dibuat Vanessa bersama Mila.


“hmmm, ya udah, kakak simpan di kamar dulu ya” jawab Vanessa, ia kemudian bangkit menuju kamarnya, sementara Arya menarik nafas kasarnya seketika.


Vanessa menatap lekat map coklat itu, 'ini isinya apa? kesehatan kandungan Mila?, tapi tadi Mila bilang kandungannya baik -baik saja, kenapa bukanya harus nanti malam?'


Vanessa segera menyimpan map itu di lemarinya, ia membuang jauh -jauh rasa penasaran.


*


Mila baru saja keluar dari kamar mandi, ia melihat Arya tengah duduk di meja hiasnya sembari melihat beberapa dokumen, hal yang membuat Mila kesal melihat suaminya itu.


“kamu udah pulang dari kantor, tapi tetap saja bekerja” ucap Mila dengan kesal.


“aku kan nunggu kamu Mil, nggak ada salahnya kan sambil membaca dokumen ini” ucap Arya dengan santai.


Mila mendekat ke arah Arya dan menyentuh kepala Arya, rambut pendek Arya terasa gemas sekali untuk segera ia pegang.


“kenapa?” gumam Arya.


“malaikat kecil kita ingin memegang rambut ayahnya” jawab Mila dengan tersenyum tipis.


“ya udah, pegang aja sepuasmu, aku akan duduk disini sampai kamu puas memegangnya” jawab Arya dengan tersenyum.


“Arya, gimana rapat kemarin,?” tanya Mila dengan pelan.


Arya seketika melihat Mila dengan tatapan tidak sukanya, “aku sudah bilang jangan pikirkan masalah itu, apa kamu mau ku cium lagi”

__ADS_1


“katakan saja Arya, aku ingin mendengarnya, aku akan selalu kepikiran jika tidak tahu apa yang terjadi, jika kamu memberi tahu aku semuanya, aku akan belajar ikhlas untuk menerimanya, itu jauh lebih baik dari pada aku kepikiran terus, jika aku ikhlas, semuanya bisa menjadi terasa ringan” ucap Mila dengan menatap sendu mata Arya.


Arya kemudian memegang tangan Mila dan menciumnya dengan dalam, “abangmu yang memberikan suaranya kepada mereka Mil, mungkin Arnes menawarinya sesuatu sehingga ia memberikan sahamnya untuk mereka,”


Mila menarik nafas dalam, ia mengangkat kepalanya dengan pelan, mencoba tegar menerima keadaan itu, “apa kamu marah sama keluargaku Arya?”


“aku harus marah sama siapa Mil?, kamu?, kakek?, ibu?, yang jelas kamu sendiri tahu seperti apa abangmu” jawab Arya dengan suara datar.


Mila melepas nafas panjang, ia tidak boleh terlalu menyalahkan keluarganya sendiri. “apa kamu masih ingin memegang rambut ini?” tanya Arya untuk mengalihkan pikiran Mila, ia meletakan tangan Mila yang ia genggam ke kepalanya.


Mila tersenyum melihat Arya, tingkah suaminya itu terlihat lucu dengan senyuman yang memperlihatkan gigi Arya. “kamu harus segera mandi, kita mau segera pergi”


“pergi kemana?”


“aku mau makan di luar malam ini, sekalian sama kak Vanessa”


“apa kamu sudah ngidam sesuatu?” tanya Arya dengan antusias kepada Mila.


Mila tersenyum tipis kepada Arya, “masa aku kepengen sesuatu kamu bilang ngidam, sesekali makan di luar nggak apa -apa kan”


“apa kamu mau makan malam yang romantis? aku akan segera booking satu restoran jika kamu mau”


“Arya, nggak usah jadi orang lain, aku lebih suka seperti kamu yang apa adanya, simpel, nggak neko-neko. itu yang membuat aku semakin sayang sama kamu”


Arya kemudian mendekat kepada Mila dan memeluk istrinya itu, ia benar -benar bersyukur karena Mila mau menerimanya dengan apa adanya dirinya. Namun Mila seketika mendorong tubuh Arya, “ihh kamu, mandi dulu sana, baru peluk-peluk, nanti aku mual karena bau badanmu” keluh Mila kepada Arya.


"waktu di hotel kamu bilang aku nggak bau badan kok"


"ihh Arya, hidung ku rasanya lebih sensitif sekarang, aku nggak tahan dengan bau parfummu" rutu Mila.


"parfum ini kan kamu sendiri yang beli Mil,"


"Aryaaaa,," ucap Mila dengan kesal.


“iya,, iya aku mandi,” Arya kemudian berlalu pergi ke kamar mandi.


Mila kemudian segera memakai gamis dan jilbabnya, karena ia hanya memakai celana panjang dan baju kaos lengan panjang saat keluar dari kamar mandi tadi.

__ADS_1


Setelah berpakaian Mila menarik nafas panjang, ia melihat pintu kamar mandi dengan tatapan penuh harap, suara gemericik air sesayup terdengar dari dalam kamar mandi. Tanpa disadarinya, Mila mengelus lembut perutnya yang masih rata “nak, kita akan selalu sama -sama seperti ini ya, ayah, kamu sama bunda, doakan bunda sama ayah agar kuat menghadapi badai ini” gumamnya dengan penuh harap.


__ADS_2