
Mila memolesi wajah Abel dengan balutan make upnya. Tangannya dengan telaten mempercantik wajah yang telah cantik itu. Senyuman bahagia tergambar jelas di wajah Abel. Sementara Vanessa tengah menghias rambut Abel dengan hiasan bunga. Membuat penampilan gadis itu layaknya seperti seorang ratu.
“duhhh, cantiknya sahabatku ini” gumam Mila melihat wajah sahabatnya itu.
Sementara di tempat lain, Tomy tengah duduk menikmati segelas teh di apartemen Arya. Bu Annisa terlihat sibuk dengan menyiapkan sarapan pagi sebelum berangkat ke lokasi akad pernikahan.
Pak Susanto dan Arya juga ada disana, mereka tersenyum melihat Tomy yang tampak gugup menghadapi hari bahagianya itu.
“gimana kemarin pertemuan ayah dengan keluarga Mila?” tanya Tomy yang berusaha mengalihkan pemikirannya. Setidaknya dengan begitu rasa gugupnya juga bisa ia buang.
“ibu dan kakek Mila sangat ramah Tom, mereka terlihat sangat sayang sama Arya” jawab pak Susanto, laki-laki paruh baya itu tengah memegang gelas kopinya.
Bu Annisa menghidangkan lontong sayur di meja makan, makanan yang dulu sering ia siapkan setiap sarapan pagi di rumahnya. “ayo makan dulu, kalian pasti udah lama nggak makan ini” ucap bu Annisa melihat 3 laki-laki penyempurna hidupnya.
Selesai sarapan pagi, Tomy segera diantar oleh Arya, pak Susanto dan bu Annisa ke gedung yang telah di sewa keluarga Abel untuk pernikahan mereka.
Sebenarnya Tomy tidak terlalu suka dengan konsep pernikahan yang menurutnya terlalu berlebihan. Namun ia juga harus menghargai calon mertuanya yang juga menjabat posisi penting di salah satu perusahaan. Tentu ada gengsi yang harus dipertahankan oleh keluarga Abel.
Jam 10 pagi, acara akad akan segera dilangsungkan, Tomy menunduk di meja yang telah disiapkan di dalam gedung itu. Hiasan kain putih bercampur warna merah dan hiasan berwarna kuning emas menghiasi setiap sudut ruangan.
Tomy memakai pakaian khusus berwarna putih yang telah disiapkan Abel untuknya.
Sementara Abel tengah berjalan gugup didampingi oleh Mila dan Vanessa dari arah pintu masuk gedung tersebut. Sesekali Abel mengajak Mila berbicara untuk mengurangi rasa gugupnya.
“Mil, apa kamu segugup ini saat menikah dengan Arya dulu Mil?”
Mila terdiam, gugup?, yang ada dia malah menangis sedih saat itu. Mungkin itulah jalan terbaik yang disiapkan Tuhan untuknya. Jika tidak, mungkin yang menjadi suaminya bukan Arya, tetapi orang lain. Jika boleh berharap, tentu ia ingin menjalani hari akad yang normal seperti Abel dan Tomy, bukan akad kilat yang digelar di ruang rawat kakeknya.
“Mil, aku gugup Mil” gumam Abel lagi.
“tenang aja Bel, tarik nafas dalam, lalu keluarkan” ucap Mila menenangkan Abel.
Gadis polos yang tengah memakai gaun putih itu pun menuruti saran Mila. Ia menarik nafas dalam dan melepaskannya.
Acara akad pun berlangsung khidmat, semuanya bersyukur dalam rasa bahagia, Tomy berhasil melalui prosesi penting dalam hidupnya, walaupun ia harus mengulangi kalimat akad itu 2 kali.
Arya yang tengah duduk di samping Mila di salah satu meja undangan memberikan sebuah kotak kecil ke arah istrinya itu. “ini apa Arya?” tanya Mila melihat kotak berwarna merah ditangannya. “hadian Abel dan Tomy”
__ADS_1
Mila membuka sedikit kotak tersebut, ada kunci di dalamnya. Mila teringat beberapa bulan lalu Arya pernah berkata ingin menghadiahkan rumah untuk Tomy. “kunci rumah ya?” gumam Mila dengan sedikit berbisik.
“iya Mil, rumahnya udah selesai saat aku kembali dari Vietnam” jelas Arya dengan singkat.
Mila tersenyum, ia dan Vanessa bahkan juga telah menyiapkan kado khusus untuk Abel.
Dari posisi mereka bertiga duduk, mereka dapat melihat Abel dan Tomy yang sudah bisa bergandengan tangan dengan senyuman lebar. Bahkan tangan Abel begitu erat di lengan laki -laki yang telah mengucapkan janji suci atas nama Allah untuk menjaga dirinya, mempertanggung jawabkan dirinya dihadapan Allah nanti.
Arya, Mila, dan Vanessa melihat jelas senyuman bahagia Abel, sementara Tomy tampak masih kaku dengan setiap perlakuan yang Abel berikan kepadanya. “Tomy itu polosnya sama kayak kamu ya Arya, dipegang Abel aja udah kaku gitu” ucap Vanessa dengan polos.
Arya dan Mila saling berpandangan, memikirkan seperti apa mereka saling bersentuhan kulit saat pertama kali. Hari itu tangan Arya gemetar saat memakain cincin pernikahan ke tangan Mila. “wah,,nggak kebayang ya, kayak apa malam pertama mereka” ucap Vanessa dengan tertawa tipis.
Dan kali ini Mila ikut tertawa dibalik cadarnya, ia mengingat lagi seperti apa Arya menyentuhnya saat pertama sekali.
Tragedi gemetar itu berputar dikepalanya. “jangan ketawa kamu Mil, nanti malam habis kamu” gumam Arya dengan pelan agar tidak terdengar oleh Vanessa.
*
Arya tengah membantu Tomy berganti pakaian dengan pakaian khusus untuk Tomy di kursi pelaminan. Tomy memperhatikan Arya yang tengah sibuk. mengancingi pakaiannya yang berwarna cream. “ribet ya kalau nikah gini” gumam Tomy.
“Apa kamu melihat Arbi dan Ari tadi Arya?” tanya Tomy pada Arya.
“mereka tadi duduk berdua di belakang, Ari kan ngerokok, mungkin dia lebih milih duduk dekat pintu gedung” jelas Arya.
“Dia nggak sama Karina ya?”
“nggak, aku bingung sama Karina, padahal Ari sangat baik sama dia”
Tomy melepas nafas panjang. “aku malah lebih bingung sama kamu, kamu dulu menyukainya, tapi malah membiarkan Ari memacarinya” gumam Tomy tanpa beban.
“Aku tak yakin kalau aku benar-benar suka sama dia, mungkin hanya obsesi ku saja menginginkan gadis berhijab seperti Karina, lagi pula, aku lebih ingin Ari bahagia dengan orang yang ia sukai.” jawab Arya dengan pelan.
“tapi kenyataan Karina tetap menyimpan perasaan sama kamu sampai sekarang, kamu saja yang terlalu kaku sama Karina, kalau tidak mungkin sekarang kalian sudah punya anak” ucap Tomy lagi sembari memperbaiki lengan pakaiannya yang tampak kusut.
“aku sudah punya Mila Tom" jawab Arya "dia udah lebih dari cukup untukku, dia tulus kepadaku, lagi pula, jika Karina adalah jodohku, mungkin jalan hidupku tidak bersama Mila seperti ini.”
Tomy menarik nafas kasar mendengar ucapan Arya itu, “aku tidak tahu seperti apa hatimu itu, kenapa kamu bisa ikhlas melepas Karina buat Ari sementara kamu memiliki kesempatan besar untuk memilikinya”.
__ADS_1
“ntahlah Tom," gumam Arya, "apa kamu juga ingin bertanya kenapa aku memaafkan Mila atas apa yang ia lakukan dulu?, mungkin jawabannya bukan karena Indra, tapi lebih dari itu”
“Aku nggak nyinggung Mila disini, aku juga bersyukur kamu bersama Mila, dia sudah jauh berubah sekarang. aku tuh berpikir jika kamu berjuang untuk perasaanmu sama Karina dari awal, mungkin Ari akan ikhlas dan tidak seperti ini, Ari tidak akan menghalangi cinta kalian”
Arya tersenyum, semuanya sudah berlalu. Dia dulu berpikir dokter Karina akan bahagia bersama Ari karena sahabatnya itu sangat pandai memperlakukan perempuan, bukan sepertinya yang kaku. Bahkan Mila saja sampai berkali-kali berinisiatif lebih dulu kepadanya.
“doakan saja yang terbaik untuk mereka Tom, kalau mereka tidak berjodoh, mungkin mereka bisa menemukan orang yang lebih baik” jelas Arya.
Tomy kemudian duduk di kursi melihat ke cermin di depannya, ia merapikan rambutnya dengan menyisirnya ke arah kanan. “aku tidak mempermasalahkan mereka Arya, aku hanya bingung, kenapa kamu bisa ikhlas melihat Karina pacaran sama Ari, lagi pula kamu juga tahu Karina terpaksa menerima Ari saat itu, masa kamu tidak ada niatan untuk merebutnya”
“Aku membiarkan Karina memilih, dan dia memilih Ari, lalu kenapa aku harus merebut dia dari Ari, itu pilihannya sendiri” jawab Arya dengan lugas.
“Itu karena Ari mengatakan perasaannya kepada Karina, sedangkan kamu diam-diam saja, kalau kamu berani mengatakannya, Karina pasti memilihmu” ucap Tomy yang mulai kesal dengan Arya. Saudaranya itu sama sekali tidak paham jawaban apa yang ia inginkan.
“aku belum berpikir menikah waktu itu, jadi buat apa aku ikat Karina dengan hubungan yang tidak jelas, mungkin takdirku memang bersama Mila, aku juga tidak siap menikah dengan Mila, tapi karena janjiku sama kakeknya, aku akhirnya harus menikahi Mila”
“sudahlah, aku hanya ingin tahu seluas apa hatimu, jujur saja, jika aku di posisimu, aku takkan sanggup melakukan itu, aku baru sadar ketika aku benar-benar mencintai Abel, aku nggak akan sanggup melihat orang yang aku sukai bersama laki-laki lain” ucap Tomy yang mulai kesal dengan jawaban Arya yang tidak memuaskannya.
“iti berarti aku nggak benar-benar suka sama Karina dulu, mungkin sekedar rasa tertarik saja," ucap Arya, "lagi pula dia bukan istriku, kenapa aku harus merasa sakit saat dia bersama laki-laki lain, beda sama Mila, dia istriku, wajar kalau aku merasa sakit saat dia bersama laki-laki lain, kamu seharusnya hati-hati sama tipuan setan. banyak laki-laki diluar sana yang tidak cemburu saat yang halal baginya disentuh laki-laki lain, tapi malah cemburu saat yang haram baginya disentuh laki-laki lain” lanjut Arya dengan asal.
“emang ada ya?” tanya Tomy yang melirik heran ke arah Arya.
“mungkin aja ada,” jawab Arya dengan tersenyum.
Tomy sejenak berpikir, ia teringat akan sesuatu yang ingin ia tanyakan kepada Arya.
“Arya, katakan kepadaku, seperti apa malam pertamamu dengan Mila?” tanya Tomy yang mengalihkan pembicaraan mereka. Matanya menyorot mata Arya dengan penuh penasaran.
Arya sejenak berpikir, “hmm, aku malam itu tidur dikontrakan” jawabnya dengan singkat.
“ha? serius kamu?” Arya mengangguk pelan menjawabnya.
“masa malam ini aku harus tidur dikontrakan juga” pikir Tomy dengan polos.
“katakan kepadaku, sepeti apa pertama kali kamu menyentuh Mila” tanya Tomy lagi yang membuat Arya berpikir sesaat.
Arya mengangkat tangan kanannya, ia menggerakkan tangannya itu seolah sedang gemetaran. Mata Tomy membulat melihat tangan Arya itu, ia menelan salivanya berkali-kali.
__ADS_1