
‘aku akan kembali untukmu, kamu kan princessnya’
‘sekarang kita sama-sama melangkah mengikuti hati kita masing -masing’
‘jika pada akhirnya aku harus pergi dari hidupmu, jangan tahan aku lagi seperti kemarin’
Ucapan Arya yang pernah terlontar kepada Mila sekarang berputar diingatan gadis itu, Mila menarik nafas panjang dan melepaskannya, ia kembali melanjutkan kerjanya membuka kulit bawang membuat gulai ayam untuk Arya.
Pikirannya serasa berkalut dengan keadaan, entah mengapa berita rapat pemegang saham di Adinata group membuatnya merasakan firasat yang berbeda. Vanessa yang sedang memotong daging ayam di kursi di depan Mila melihat wajah Mila dengan penuh penasaran.
“kamu kenapa Mil?, kenapa tampak lemas gitu wajahmu?” ucap Vanessa melihat wajah Mila yang tidak memakai cadar, Mila sengaja membuka cadarnya agar tidak kotor saat memasak.
“ntahlah kak, aku merasa ada hal buruk saja mendengar berita Adinata group” jawab Mila datar.
‘Adinata group?’ batin Vanessa, ia memang melihat berita rapat pemegang saham Adinata group di ponsel dan juga di tv tadi pagi.
“kamu masih memikirkan Arnes Mil” tanya Vanessa dengan nada tak sukanya.
“maksud kakak apa?”
“hubungan kamu dan Arya sudah membaik seperti ini, kamu masih saja memikirkan laki-laki itu” ucap Vanessa dengan kesal.
‘Braaaakk'
Mila memukul meja makan tempat mereka bekerja dengan keras, emosinya terasa meluap mendengar ucapan Vanessa. “aku sudah bilang sama kakak, kalau aku tidak ada perasaan lagi untuk dia”
“lalu kenapa kamu memikirkan masalah Adinata group kalau bukan karena Arnes” ucap Vanessa yang juga tersulut emosi karena Mila menyolot kepadanya. Padahal ia hanya ingin mengingatkan adik iparnya itu agar tidak melakukan kesalahan lagi.
“ini masalah Arya kak, bukan masalah bang Arnes,” Ucap Mila lagi dengan nada semakin marah.
“Arya apanya, nggak ada hubungannya Arya dengan Adinata group sama sekali” balas Vanessa.
Mila tersentak, Vanessa memang belum tahu apa -apa masalah Indra, wajar saja jika kakak iparnya itu langsung berpikir soal Arnes saat ia mengatakan Adinata group.
“udah lah kak, yang jelas ini bukan tentang bang Arnes, tapi tentang aku dan Arya” ucap Mila menahan kesal, ia kembali melanjutkan kegiatannya. ‘kenapa belakangan ini emosiku tak terkendali seperti ini sih, bisa -bisanya aku memukul meja kepada kak Vanessa tadi’
Vanessa menarik nafas kasar, ia melihat wajah Mila yang tampak datar menahan kesal kepadanya, ‘masalah Arya apanya, jelas-jelas masalah Arnes’ batin Vanessa.
Mereka akhirnya memasak dengan suasana berbeda dari biasa, Vanessa yang bersikap seperti biasa, dibalas dengan sikap datar oleh Mila. Suasana diantara mereka terasa lebih dingin.
Siangnya di ruangan Arya, kondisi Mila dan Vanessa tak jauh berbeda, Vanessa dan Mila terlihat tidak terlalu banyak bicara. Hanya Arya yang sering aktif mencairkan suasana sehingga Mila dan Vanessa bisa saling berbicara.
Vanessa merasa emosi Mila sedang labil dan sedikit sensitif, ‘apa ada masalah antara Mila dan Arya?, tapi kelihatannya mereka baik-baik saja,’ batin Vanessa melihat Mila dan Arya secara bergantian.
“kalian kalau udah masak bareng kayak gini, rasanya jadih tambah enak” gumam Arya melahap makanannya.
Mila hanya diam tak menjawab, sementara Vanessa hanya tersenyum tipis kepada Arya, ia tidak ingin mengatakan sesuatu yang membuat Mila semakin bertambah kesal kepadanya.
__ADS_1
Setelah Vanessa pulang, Mila masih disana menemani Arya yang masih duduk di sofa disampingnya, “kamu ada masalah dengan kak Vanessa Mil?” tanya Arya dengan pelan.
Mila hanya menggeleng pelan, “lalu kenapa kalian diam-diaman kayak tadi?”
Mila masih diam tak menjawab, Arya mengusap dahinya karena bingung dengan tingkah istrinya itu, “jangan begitu Mil, nanti kak Vanessa tidak nyaman tinggal sama kita,”
“aku kesal saja sama kak Vanessa Arya, dia menuduhku tentang hal yang nggak-nggak” jawab Mila dengan pelan.
“kalau begitu bicarakan saja baik-baik Mil, jangan diam-diaman kayak tadi”
Seketika ucapan Arya itu membuat Mila melotot kesal ke arahnya, “kamu menyalahkanku Arya?” ucapnya dengan nada sedikit meninggi.
“bukan itu,,,, aku hanya tak ingin kak Vanessa tidak nyaman sama kita, keluarganya kan hanya kita Mil” jelas Arya pada Mila, walaupun ia tidak tahu pasti apa masalah Vanessa dan keluarganya, yang jelas ia bisa menyimpulkan hal itu selama tinggal bersama Vanessa.
“kak Vanessa lagi, kak Vanessa lagi, kamu suka sama dia” ucap Mila dengan tajam.
Arya menelan salivanya mendengar ucapan Mila, ‘Mila kok sensitif gini sih, dikit aja udah langsung nyambar nggak jelas’ batin Arya kebingungan.
“bukan gitu Mil, kamu nggak kasihan dengan kak Vanessa, jika dia tak nyaman sama kita, dia mau tinggal dimana, kalau dia pulang ke rumah, yang ada nanti abangmu akan kasar sama dia agar memberitahu apartemen kita” jelas Arya dengan pelan.
Mila menelan salivanya, ia mulai merasa berlebihan sama Vanessa tadi, ‘kak Vanessa kan nggak salah, wajar saja dia tadi menyinggung bang Arnes, kenapa aku bisa berlebihan gini sih’ batin Mila.
Mata Mila seketika berkaca-kaca, “aku jahat ya Arya, kak Vanessa pasti merasa nggak nyaman sama aku, dia sudah tidak dianggap keluarganya karena bang menikah dengan bang Irman, dan tadi aku malah membuatnya tak nyaman dekat denganku, aku adik yang jahat sama dia” ucapnya dengan nada sedih.
Arya melihat aneh ke arah Mila, ia kemudian meraih bahu Mila dan memeluk istrinya itu, “udah Mil, kamu jangan gini dong, nanti bicarakan saja baik-baik sama kak Vanessa, dia pasti ngerti kok sama perasaanmu”
Mila kemudian mengusap matanya agar air matanya tidak menetes, “kamu masih lemas Mil, kamu tidur ya di kamar, istirahat dulu” lanjut Arya yang melihat mata Mila tampak lesu.
“tapi kamu benar-benar kelihatan lesu Mil, kamu istirahat ya, aku juga mau lanjut kerja”
“aku mau disini, kamu kerjanya di sofa ini aja, duduk dekatku” ucap Mila dengan tegas.
Arya menarik nafas kasar, “iya,,,iya, aku ambil dokumen kerjaku dulu” ucap Arya sembari berdiri mengambil dokumen kerja di mejanya, ia lebih memilih menuruti keinginan Mila daripada harus terjadi masalah lagi nanti, apa lagi emosi Mila tampak labil.
Arya kemudian melanjutkan kerjanya di sofa, sementara Mila memeluk lengannya yang sibuk membolak balik dokumen, “Arya, aku benar-benar punya firasat buruk dengan rapat itu” gumam Mila dengan pelan.
Mila menatap nanar ke arah Arya, Arya sejenak menghentikan kerjanya dan melihat ke arah Mila, “jangan dipikirkan Mil, ini aja kamu udah nampak lemas, nanti kamu bisa sakit jika memikirkan hal itu” ucap Arya mengusap lembut pipi Mila, Ia kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
“maaf ya Arya, aku menganggu kerjamu, tapi aku benar-benar lagi ingin seperti ini” ucap Mila dengan pelan.
“nggak apa-apa Mil, asal kamu senang, aku nggak masalah kok”
Setelah beberapa lama, diantara mereka sudah tak ada suara lagi. Arya melihat ke arah Mila, mata Mila tampak terpejam, dan Arya menarik nafas kasar seketika.
Arya mengusap lembut wajah Mila dan mengecup dalam kening istrinya itu. Ia kemudian melepas pelukkan Mila di lengannya dan segera bersiap menggendong Mila ke kamar.
Baru saja ia mengangkat tubuh Mila, tiba-tiba saja Mila bersuara, “aku belum tidur Arya, turunkan aku,” ucap Mila yang telah membuka matanya dan menatap lembut pada Arya.
__ADS_1
“kamu kalau lemas kayak gini lebih baik istirahat Mil” ucap Arya dengan pelan.
“aku sudah bilang kalau aku mau disini denganmu, apa kamu nggak nyaman kalau aku ada disini?” ucap Mila yang terdengar lemah.
Arya mengernyitkan dahinya, ia kemudian mengalah dan mendudukan Mila kembali disofa. Mila segera memeluk lengan Arya setelah Arya duduk kembali di tempat semula.
“maaf ya Arya, aku membuat kamu tak nyaman, tapi aku benar-benar ingin seperti ini” ucap Mila dengan sendu.
Arya memeluk Mila dan mencium kening istrinya lagi dengan dalam, “nggak kok Mil, aku sayang sama kamu, mana mungkin aku nggak nyaman saat kamu didekatku, aku hanya takut kamu sakit, kamu kelihatannya lemas bangat” ucap Arya menenangkan Mila.
“aku nggak apa-apa kok, nanti juga baikan”
“nanti kalau aku tidur, jangan pindahkan aku ke kamar ya, aku ingin seperti ini sampai kita pulang” gumam Mila lagi, Arya melepas nafas panjang, ia masih heran dengan perubahan tingkah Mila.
Akhirnya Mila benar-benar tidur sembari memeluk lengan Arya, sementara Arya tetap fokus dengan pekerjaannya sembari sesekali melihat Mila.
Walaupun ia tidak tega melihat Mila yang tidur dengan posisi seperti itu, ia lebih memilih menuruti ucapan Mila tadi. Ia tidak ingin emosi istrinya yang tampak labil itu membuat hubungan mereka malah bermasalah.
Arya benar -benar heran dengan perubahan sikap Mila. Ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada istrinya itu. Mereka tetap berada dengan posisi seperti itu hingga jam pulang kantor pun tiba.
Karena Mila masih tidur, Arya tetap melanjutkan kerjanya sampai selesai, pintu ruangan Arya tiba-tiba terbuka, Tomy masuk kedalam tanpa mengetuk pintu itu terlebih dahulu.
Arya melepas nafas kesal dengan sikap orang-orang yang tak pernah mengetuk pintu itu ketika masuk, sementara Tomy melepas nafas panjang melihat Mila tengah tertidur dengan memeluk lengan Arya
“Ada apa Tom?” ucap Arya dengan kembali fokus sama pekerjaannya.
Mata Mila kemudian terbuka mendengar suara Arya, ia mengusap matanya dengan segera dan melihat ke arah Tomy yang melihatnya dengan tatapan tak bersahabat.
“kamu bangun Mil” gumam Arya yang menyadari Mila sudah bangun dari tidurnya.
Mila melihat ke arah Arya untuk menghindari tatapan Tomy, ia kemudian mengangguk dua kali.
“kamu sudah dapat kabar dari rapat itu Arya?” tanya Tomy dengan datar.
“kabar apa?,,,,,kabar kalau laki-laki itu menang” lanjut Arya dengan datar.
“iya, dia menang, itu sudah kita prediksikan, tapi ada kabar lain yang mengejutkan”
“kabar lain?” tanya Arya dengan penasaran. Tomy tampak bimbang ketika hendak bicara.
“keluarga Mila, mereka,,” pintu Arya kembali terbuka, kali ini Ari masuk dengan tatapan tajam seakan siap membunuh ke arah Mila.
“lo Ri” ucap Arya yang kembali kesal karena orang masuk ke ruangannya kembali tanpa mengetuk pintu.
Ari berjalan cepat ke arah mereka dengan mata melotot tajam ke arah Mila, “dari awal gue udah nggak percaya sama perempuan ini” ucapnya dengan dingin sembari menunjuk ke arah Mila.
Arya menarik tangan Ari yang menunjuk ke arah istrinya, “maksud lo apa nunjuk-nunjuk istri gue kayak gini” ucap Arya yang marah dengan sikap Ari.
__ADS_1
“lo belum tahu, keluarga Rakarsa ada dipihak musuh kita, mereka berada di pihak CEO itu, mereka mengkhianati orang -orang yang setia pada ayah lo” ucap Ari menahan marah.
Mata Mila membulat tak percaya, ia menggeleng, “nggak,, nggak munkgin” gumamnya, tubuhnya terasa lemas, lututnya seketika melemah.