
FB
Bu Saniah baru saja selesai membersihkan dirinya sore itu, ia hendak kembali ke rumah sakit untuk menemani pak Sarman disana. Setelah selesai menghias diri dengan polesan make up tipis, ia kemudian keluar dari kamarnya untuk segera kembali ke rumah sakit.
Baru saja ia keluar dari kamar, matanya membulat kaget melihat Irman dan pak Tito tengah duduk di ruang tamu apartemennya.
“Irman, bang Tito” gumam bu Saniah yang tak percaya dengan apa yang ia lihat, momen seperti itu sangat jarang sekali terjadi.
“duduk Saniah, ada hal penting yang harus kamu lakukan untuk Irman” ucap pak Tito dengan dingin.
“aku mau kembali ke rumah sakit, ayah sedang menungguku” ucap bu Saniah berlalu pergi.
Namun pak Tito segera menarik lengan bu Saniah dan menatap tajam ke arahnya, “berikan kuasa saham itu kepada Irman,” ucapnya penuh penekanan.
Bu Saniah balik menatap tajam pada pak Tito, “apa hak kamu memintaku seperti itu?, saham itu milikku, bukan milikmu atau Irman,” balas bu Saniah dengan tanpa rasa takut pada suaminya.
Pak Tito tersenyum sinis pada bu Saniah, “kamu mau membuat malu keluarga Rakarsa, aku tahu banyak teman tidurmu yang memegang saham di Adinata group, aku bisa menghubungi mereka lagi jika kamu mau, mereka pasti juga masih ingat dengan perempuan secantik kamu” ucap pak Tito dengan sinis kepada bu Saniah.
Hati bu Saniah tertusuk tajam, matanya memerah penuh amarah dan ‘PLAAAAAK’ tamparan keras bersarang di pipi pak Tito.
“laki-laki jahannam, kamu sudah menghancurkan hidupku, janji-janji palsumu sudah membuatku menolak bang Gibran, seharusnya aku bisa mendapatkan kehidupan yang baik dan bahagia bersama bang Gibran” ucap bu Saniah menahan rasa sedih di hatinya.
“ibu,, jangan bahas masa lalu lagi, aku butuh saham kakek di rapat pemegang saham Adinata group bu, aku butuh itu agar perusahaan tidak dibawa Ardian ke Malaysia” ucap Irman sembari berdiri menatap ibunya yang telah terlepas dari pegangan ayahnya setelah tamparan tadi.
Bu Saniah menunduk lemah, ia memang tidak bisa hadir di rapat itu, nama keluarga Rakarsa menjadi taruhannya. Akibat kelakuannya dulu, sekarang ia malah menjadi aib bagi keluarganya sendiri.
“berikan ke kepada Irman surat kuasamu dari pria tua yang hampir mati itu, ini demi masa depan Irman” ucap pak Tito tersenyum sinis, ia kemudian berlalu pergi meninggalkan bu Saniah.
“dasar pria brengsek, dari dulu kamu tidak pernah bertanggung jawab kepada Irman dan Mila, hanya ayahku yang membesarkan mereka, dan sekarang tanpa tahu malu kamu hidup dari uang yang diberikan Irman dari perusahaan ayahku” ucap bu Saniah terisak sedih.
__ADS_1
Pak Tito tetap berlalu pergi tanpa peduli dengan ucapan bu Saniah, “berikan kuasa saham itu kepadaku bu, sahamnya akan tetap menjadi milik ibu, aku hanya perlu surat kuasa untuk rapat itu” gumam Irman yang tidak mau tahu masalah orang tuanya.
“ibu tenang saja, kakek tidak akan tahu kepada siapa suara saham itu aku berikan” lanjut Irman lagi sebelum berlalu pergi meninggalkan ibunya.
FB off
“Rahman sangat percaya kalau kalian akan berada di pihak kami, tapi ternyata kepercayaan Rahman tak terbalas sama sekali” ucap Haris dengan datar.
Mata pak Sarman membulat tak percaya, ia melihat ke arah bu Saniah yang tampak pias mendengarkan ucapan Haris. “apa maksudmu Haris?,”
“apa anda masih ingin mengelak tuan Sarman yang terhormat” ucap Haris dengan sinis.
Haris masih ingat perintah pak Abdul kepadanya, ‘temui Sarman, pastikan dia menunjukkan wajahnya, kita tidak bisa membuang nona muda kita dari sisi tuan muda, nona muda kita sedang mengandung darah Adinata, kita harus melindunginya’
“Saniah” ucap pak Sarman dengan nada sedikit meninggi
“ayah itu” gumam bu Saniah menahan takut.
“aku memberikan kuasanya kepada Irman yah, a,,,aku tidak bisa datang ke rapat itu” ucap bu Saniah tertunduk lemah.
Wajah pak Sarman memerah penuh amarah, putrinya telah membuat kesalahan besar. Kepercayaan singa -singa Gibran akan hilang kepadanya. “kamu tahu apa yang kamu lakukan?, aku sudah bilang jangan khianati mereka, tapi kamu malah memberikan kuasa saham itu kepada Irman yang berada di pihak Aliando” geram pak Sarman dengan marah, jantungnya berdetak cepat memompa darah ke kepalanya.
“maaf yah, aku benar-benar nggak bisa datang, aku nggak bisa bilang apa alasannya, tapi aku benar-benar nggak bisa datang” ucap bu Saniah dengan nada berharap ampun ke pak Sarman. Wajah tertunduk lemah, air matanya menetes menyesali dirinya dulu.
“dari dulu kamu selalu mengecewakanku Saniah, dari dulu,” ucap pak Sarman mencoba mengendalikan kondisi tubuhnya yang terasa mulai tak stabil.
Haris menatap kasihan ke arah mereka berdua, namun hal itu harus ia lakukan. Memastikan keluarga nona mudanya berada di pihak yang sama dengannya.
“sepertinya masalah kalian cukup berat, aku harap kalian tidak akan marah kepada kami jika cucu laki-laki mu itu akan berakhir di penjara, pengkhianat memang harus disingkirkan” ucap Haris dengan datar, kemudian tanpa pamit ia berlalu pergi keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Bu Saniah segera berjalan menuju pak Sarman dan memeluk ayahnya itu, “maaf yah, maaf, aku tidak ingin mengecewakan ayah, tapi aku benar-benar tidak bisa datang” ucap bu Saniah dengan matanya yang basah.
Mata pak Sarman berkaca-kaca menerima kenyataan itu, pikirannya kalut tak karuan, “jangan anggap lagi Irman itu anakmu, dari dulu dia selalu menentangku, ia selalu berlawanan denganku” ucap pak Sarman menahan amarahnya.
“tapi yah, aku yang mengandung, aku yang melahirkannya, mana mungkin aku,,,,”
“dan aku yang membesarkannya, jangan bela dia lagi” ucap pak Sarman dengan suara tegas pada bu Saniah.
“Cuma Mila yang menuruti keinginanku, cuma dia satu -satunya yang mengerti dengan kakeknya ini, kamu jangan membenci Arya lagi karena masalah perusahaan kita, aku ingin segera bertemu mereka bertiga, hanya mereka yang bisa membuat hati menjadi tenang” ucap pak Sarman yang merasa sedih dengan keadaan Saniah, dua anaknya yang lain dapat menjalani kehidupan dengan baik, namun Saniah harus terjebak dalam kehidupan yang menyakitkan.
*
Sementara itu di ruangannya, Arya melihat tiket pesawat ke Vietnam sebanyak 3 buah yang ia pegang. “lo udah siapkan semunya Bi?” tanya Arya melihat Arbi dengan tatapan tak senang.
“kalian bertiga akan pergi kesana, cuman 2 hari kok, tapi gue udah siapkan hotel untuk 3 hari jika lo mau jalan-jalan dulu disana, untuk refresh pemikiran istri lo juga, kehamilannya pasti butuh pemikiran yang lebih rilex” ucap Arbi dengan santai.
“jadi Ari sudah memberi tahu lo”
“udah, gue harus menemui Mila untuk mengucapkan selamat untuknya" ucap Arbi yang sejenak terhenti untuk menarik nafas singkat.
"lo berangkat lusa, biar gue yang anterin kalian ke bandara” lanjut Arbi dengan santai.
Arya melepas nafas kasar, dia kemudian mengusap keningnya dengan pelan. Arbi dapat memahami makna tingkah sahabatnya itu.
"lo tenang saja, bawa Mila pergi dulu, biar kami yang urus masalah Irman, gue tahu ini akan sulit nanti, tapi dia memang harus disingkirkan, jika Mila tidak ada disini, dia nggak akan tahu, ya setidak sampai kondisi janinnya benar-benar sudah kuat di rahimnya,” jelas Arbi lagi.
“lo sampai berpikir sejauh itu Bi,” gumam Arya dengan pelan.
“gue sekarang malah seperti orang cacat yang harus bergantung semua hal pada kalian” lanjut Arya merutui dirinya sendiri.
__ADS_1
“dulu saat gue lari dari rumah, gue yang merasa cacat karena bergantung hidup sama lo, dari dulu kita sudah seperti ini, saling menopang satu sama lain, jadi lo jangan merasa kayak gitu, hal-hal seperti ini yang membuat kita merasa saling memiliki” ucap Arbi menatap santai ke arah Arya.