Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Perusahaan Kekuarga


__ADS_3

“jangan menghina orang yang ada di rumah ini, atau aku tak akan segan-segan untuk ribut denganmu” ucap Arya penuh penekanan.


Ia benar-benar tidak tega melihat penderitaan Vanessa selama ini, ia tidak ingin melihat gadis itu terus diperlakukan seperti itu dihadapannya.


“kakak sebaiknya segera ke kamar kak” ucap Arya menarik koper Vanessa dan mengangkatnya ke lantai 2 dimana kamar Vanessa berada, sementara Vanessa hanya menunduk berjalan ke lantai 2 mengikuti Arya. Setelah menaruh koper Vanessa di kamarnya, Arya kemudian segera keluar dari kamar Vanessa.


"kakak disini aja kak, tak usah ladeni mereka" ucap Arya dengan singkat, "nggak Arya, mereka tamu kita, kakek harus layani mereka" jawab Vanessa dengan datar, yang membuat Arya melepas nafas panjang seketika, ia tidak ingin melihat Vanessa di rendahkan oleh orang lain.


Arya dan Vanessa berjalan ke arah tangga, sebelum menuruni tangga, Arya kemudian melihat sejenak ke arah Vanessa, dan ia kembali bertanya pada Vanessa, “kakak yakin mau turun?” tanya Arya dengan ragu.


“iya, kakak nggak apa-apa kok dek” ucap Vanessa meyakinkan Arya.


“kamu jangan seperti tadi lagi ya, kakak nggak mau kamu ribut karena kakak, nanti Mila malah ikut marah lagi sama kakak” ucap Vanessa dengan pelan. Arya menarik nafas panjang dan kemudian turun diikuti Vanessa.


Di meja makan Ardian sudah duduk bersama istrinya Sarah dan juga Mila yang sudah memasukkan carrier Arya dan kopernya ke dalam kamar mereka.


“kalian emang muat di kamar tamu tidur berempat?” tanya Mila dengan bingung memperhatikan Ardian dan Sarah.


“muat kok Mil, jangan khawatir gitu” jawab Ardian dengan santai.


“benar juga sih, badan kak Sarah kan sama kecilnya denganku, pasti muatlah” ucap Mila setengah bercanda kepada Sarah. Candaan itu diikuti tawa mereka bertiga.


Arya yang baru saja sampai di lantai 1 langsung duduk di samping Mila, sementara Vanessa berjalan ke dapur untuk menyiapkan minuman hangat.


Arya melihat santai ke arah Ardian yang tengah menatap ke arahnya. Arya sejenak menarik nafas panjang sebelum membuka suaranya kepada Ardian.


“maaf, aku tadi hanya terbawa emosi, sama capek juga setelah berjalan jauh, sekarang aku harus panggil kamu apa, apakah abang juga seperti Mila?” ucap Arya dengan ramah pada Ardian.


Ardian kemudian tersenyum pada Arya. “seharusnya begitukan, sama seperti istrimu” jawab Ardian dengan santai.


“ok, jadi sekarang apa tujuan kalian datang kemari?, kedatangan kalian sangat mengagetkan kami” lanjut Arya dengan nada berubah santai tanpa ingin berbasa basi dengan Ardian.


“apa kamu tidak ingin mengenal keluargaku dulu?, kenapa langsung berbicara masalah serius seperti ini, kami bahkan menunggu selarut ini untuk menyambut kedatangan kalian” ucap Ardian juga dengan santai.

__ADS_1


Vanessa kemudian ikut duduk di meja itu dengan menyajikan seteko teh hangat di tengah meja,


“kita minum teh aja nggak apa-apa ya” ucap Vanessa dengan nada ramahnya.


“nggak apa-apa kok kak” jawab Arya sembari mengambil gelas dan langsung menuangkan teh bikinan Vanessa di 5 gelas itu. Semua orang yang ada disana melihat dengan seksama apa yang dilakukan Arya.


Arya dengan sikap santainya kemudian menyajikan teh itu kepada Ardian, Sarah, Vanessa, Mila, dan juga dirinya. “Silahkan diminum, teh bikinan kakak iparku cukup enak” ucap Arya masih dengan sikap santainya, ia tidak ingin orang yang ada disana tidak menghargai kehadiran Vanesa, ia merasa Ardian maupun Sarah tidak akan meminum teh buatan Vanessa, untuk itulah Arya menyajikan langsung teh itu kehadapan mereka.


“jadi tadi kita membahas apa?” ucap Arya setelah meneguk teh hangatnya,


Sarah yang juga baru saja meminum teh yang disajikan Arya kemudian tersenyum melihat ke arah Arya, ia mengangkat tangannya untuk bersalaman dengan Arya.


“Sarah” ucapnya dengan ramah. Arya hanya diam, dia tidak tertarik sama sekali dengan sikap ramah Sarah. “aku Arya, maaf, aku tidak menyentuh kulit perempuan” jawab Arya dengan datar.


“oow, its ok, aku suka sikapmu, seharusnya suamiku juga kaya gitu” ucap Sarah masih dengan ramah sembari menarik tangannya.


Sarah kemudian mengangkat tangannya ke arah Vanessa untuk bersalaman dengannya, ”aku Sarah” ucap Sarah dengan sopan, belum sempat Vanessa menyambut tangan Sarah, Ardian sudah menarik tangan istrinya itu, sikap yang membuat Arya menarik nafas kasar seketika, sementara Mila sudah paham seperti apa sikap keluarga besarnya kepada Vanessa, ia hanya bisa menyesali itu semua tanpa bisa melawannya.


“maaf bang, saya rasa anda tidak menghormati kami yang ada disini” ucap Arya dengan nada tak sukanya.


“Kamu bertanya kenapa kami disinikan?” ucap Ardian yang tidak ingin suasana itu menjadi mencekam karena kehadiran Vanessa.


“kami disini karena kakek menyuruhku membawa perusahaan ke Malaysia, semua hutang perusahaan sudah aku bayar, beberapa aset perusahaan akan ku bawa Malaysia,” lanjut Ardian menjelaskan kedatangannya, penjelasan itu juga membuat Mila kaget mendengarnya, sementara Vanessa hanya mendengar itu dengan wajah datar, ia sama sekali tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi di perusahaan.


“apa itu berarti bang Irman tidak akan memimpin perusahaan lagi? “ tanya Mila penuh selidik.


“dia punya kesempatan sampai sebulan lagi, jika keadaan perusahaan tidak membaik, aku akan membawa perusahaan ke Malaysia.” jawab Ardian masih dengan santai.


FB


Ardian tengah duduk santai di teras rumahnya bersama Sarah, sementara kedua anak mereka sedang bermain di pekarangan rumah itu, mereka berdua tengah menikmati waktu sore di halaman rumah kakeknya itu.


Di tengah suasana santai mereka, mobil Irman kemudian masuk ke pekarangan rumah dan, Irman memakir mobilnya di depan mobil Vanessa, Irman kemudian langsung keluar dan melangkah santai ke arah Ardian matanya menampilkan tatapan tajam, namun Ardian hanya santai melihat itu semua.

__ADS_1


“bang” gumam Sarah yang tidak senang melihat kehadiran Irman.


“kamu tenang saja, sekarang temani anak -anak bermain, biar aku yang bicara dengan dia” ucap Ardian menenangkan istrinya.


Sarah kemudian menurut, ia bangkit dari kursi dan kemudian berjalan ke arah putra dan putrinya yang baru berumur 6 dan 4 tahun.


“jadi ini rencana kakek sebenarnya” ucap Irman dengan dingin menatap tajam pada Ardian.


“apa kamu tidak mau duduk dulu?” tanya Ardian dengan santai tanpa peduli dengan tatapan dan nada suara Irman.


“apa kamu pikir bisa merebut perusahaan dariku?” ucap Irman penuh kebencian.


“rumah ini masih menjadi milik keluarga kita karenaku, begitu juga dengan perusahaan, kakek sudah memberimu kesempatan dan kenyataannya kamu gagal” ucap Ardian masih dengan santai.


Irman menarik nafas kasar menenangkan emosinya. “aku bisa mengurus perusahaan, aku hanya perlu suntikan dana untuk memperbaiki finansial perusahaan, kakek sama seklai tidak mau membantuku untuk mendapatkan dana dari Adinata group, jadi kamu jangan berpikir jika aku gagal, aku masih memperbaiki keadaam perusahaan” jawab Irman dengan nada dinginnya.


“jadi apa maumu?, aku hanya menuruti keinginan kakek untuk membawa perusahaan ke Malaysia, lagi pula bisnis ayahku berkembang pesat disana, perusahaan akan jauh lebih baik disana.” ucap Ardian masih dengan santai sembari memandang anak dan istrinya yang bermain di pekarangan rumah, tempat biasa Vanessa menghabiskan waktu sorenya.


“aku ingin perusahaan tetap ada disini, akan aku tunjukkan jika aku mampu mengembalikan perusahaan seperti sedia kala, bahkan bisa lebih maju dari sebelumnya” ucap Irman dengan sinis.


“proses pemindahaan perusahaan ke Malaysia akan memakan waktu lama, aku kasih waktu sebulan untukmu, jika kamu gagal, jangan halangi langkahku untuk membawa perusahaan ke Malaysia.” ucap Ardian yang kali ini berbicara dengan nada datar.


‘sebulan?, sepertinya itu cukup, rapat pemegang saham pasti akan digelar sebelum itu, dan juga Mila juga pasti akan segera kembali kesini,’ batin Irman sembari memejamkan matanya, ia sebenarnya tidak suka dengan itu semua, namun dia juga tidak dapat mengelak karena laki-laki di depannya itulah yang sudah membayar semua hutang perusahaannya ke bank.


“ok, akan ku tunjukkan kepadamu” ucap irman yang kemudian pergi dengan wajah sinisnya.


Sementara Ardian menarik nafas panjang dengan tetap memperhatikan keluarga kecilnya yang sedang bermain di halaman rumah itu.


FB off


“jadi dugaanmu benar Arya, kakek sudah menyiapkan ini semua untuk menyelamatkan perusahaan” ucap Mila dengan datar, ia sedikit kecewa mendengar itu semua, ada perasaan takut jika hidup abangnya akan jatuh miskim karena itu, perasaan seorang adik untuk kakaknya sekalipun kakaknya bersikap tidak sopan bahkan merendahkan kehormatannya.


“aku sudah tahu kalau masalah perusahaan adalah karena ulah perusahaanmu Arya, tapi tenang saja, itu tidak masalah bagiku dan kakek, karena dari dulu kakek memang berniat mengalihkan perusahaan kepadaku, jadi ulah perusahaanmu sangat membantu ini semua, tapi kalau masalah bi Saniah, dia sepertinya tidak senang dengan ini semua, ya, maklumlah, masalah warisan di dalam keluarga, pasti ada masalah seperti ini” jelas Ardian.

__ADS_1


Arya menarik nafas panjang mendengar penjelasan Ardian,, selama ia bisa bersikap tenang dan tidak gegabah mengambil tindakan, semua masalah berat yang ia hadapi pasti bisa ia lalui, itulah prinsip yang ia pegang sehingga ia bisa berada di titik itu, tidak gegabah untuk kembali ke Adinata group tanpa memperhitungkan kekuatan yang ia memiliki, termasuk tidak gegabah menceraikan Mila disaat gadis itu menyakitinya. Prinsip yang membuatnya masih bertahan hidup detik itu, dan prinsip yang membuatnya masih bisa bersama Mila, walaupun ia harus merasakan pahitnya di sakiti.


‘aku harus tenang dan sabar menghadapi ibu, mungkin ibu sama seperti Mila, butuh kesabaran untuk membuatnya bisa menerimaku’ batin Arya.


__ADS_2