Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Hutang Budi


__ADS_3

‘Ya Tuhan, apa sekarang waktunya aku untuk memilih, siapa yang harus ku pilih, apa aku harus memilih orang yang aku cintai, atau orang yang aku takutkan kepergiannya jika meninggalkanku’


Mila masih terdiam memikirkan itu semua, sementara Arya hanya bisa mengusap wajahnya frustasi karena tidak mendengar jawaban dari Mila. Ia benar-benar tidak mengerti sama sekali dengan gadis yang saat ini tengah diam membatu di depannya.


Arya kemudian berdiri, dan kembali rasa takut itu merasuk ke dalam hati Mila, “kamu mau kemana?” tanya Mila dengan nadanya yang khawatir.


“aku mau tidur, aku capek, jangan masuk ke kamar” ucap Arya datar tanpa menoleh ke arah Mila. Ia memang harus beristirahat sekarang, dari kemarin ia begitu lelah menempuh perjalanan jauh, ditambah semalam ia juga tidak tidur, sudah saatnya ia memberi sedikit waktu untuk tubuhnya beristirahat.


Ia sebenarnya lebih ingin tidur di kontrakan kecilnya, tapi melihat sikap Mila, mungkin hal itu akan membuang energinya lagi, karena ia yakin Mila tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.


Arya segera masuk ke dalam kamar, sementara Mila melihat itu semua hanya bisa membuang nafas kasar, ia kecewa dengan dirinya sendiri yang masih belum bisa untuk memilih, ‘ya Tuhan, mengapa hatiku harus seperti ini, mengapa begitu sulit untuk hatiku memilih Arya, padahal aku begitu takut kehilangannya’ batin Mila meratapi dirinya.


Setengah jam Mila hanya memandang kosong pintu kamarnya, air yang diberikan Arya sudah habis ia minum, ia kemudian berdiri membersihkan gelasnya dan gelas Arya yang masih ada di meja itu. Mila mencuci gelas tersebut masih dengan perasaan yang campur aduk, perasaan senang karena Arya telah kembali, perasaan sedih karena Arya bertahan hanya karena ia memegang rahasia tentang Indra dan perasaan kecewa karena ia belum bisa memilih Arya dengan hatinya.


Mila menatap sejenak tangannya yang telah basah oleh busa sabun, ‘apa sekarang aku harus belajar untuk melakukan semua pekerjaan rumah, selama ini aku dimanjakan oleh pembantu di rumah ini, dan sekarang pekerjaan rumah dikerjakan oleh kak Vanessa seorang diri, mungkin dengan ini aku bisa menjadi istri yang baik untuk Arya’


Setelah selesai mencuci 2 gelas itu, Mila kemudian melangkah ke arah tangga untuk melepas lelahnya di lantai 2 karena Arya melarangnya masuk kamar, hatinya terasa lelah setelah bertarung dengan perasaannya sejak Arya kembali, namun belum sempat ia melangkah ke arah tangga, matanya menatap dalam ke arah pintu kamarnya. Ada perasaan khawatir ia rasakan, ‘bagaimana kalau Arya pergi lagi sementara aku tidur di atas?’.


Mila kemudian mengurungkan niatnya, ia lebih memilih masuk ke kamarnya walaupun Arya telah melarangnya. Saat ia masuk ke dalam kamar, ia dapat melihat Arya yang sedang tidur dengan pulas, ‘kamu pasti lelah ya, tidurmu pulas sekali’ batinnya yang melihat dalam ke wajah Arya yang tenang menikmati tidurnya.


Mila kemudian naik ke ranjangnya dan ikut berbaring di sebelah Arya, ia kembali menatap dalam wajah Arya, lalu ia tersenyum melihat wajah itu ‘akhirnya kita bisa tidur seranjang seperti ini, aku bahkan memohon-mohon kepadamu untuk tidur dengan ku, tapi kamu selalu menolakku’ batin Mila yang tersenyum getir mengingat apa yang pernah terjadi pada mereka.

__ADS_1


Mila masih menatap dalam ke arah wajah Arya yang tenang itu, ia kemudian mengangkat tangannya untuk kembali memeluk Arya, namun belum sempat hal itu terjadi, ponsel Arya terdengar berdering di dekat lampu tidurnya.


‘siapa sih? ganggu orang aja’ batin Mila mendengus kesal, ia kemudian mengambil ponsel Arya untuk segera mengangkatnya, ia tidak ingin tidur nyenyak suaminya terganggu oleh suara ponsel itu.


Saat ponsel itu telah ada di tangannya ia menyipitkan matanya dan menatap nama yang muncul disana dengan sinis.


*


Rita baru saja selesai membersihkan rumahnya, ia memiliki kegiatan rutin bersama suaminya untuk bersama-sama membersihkan rumah setiap hari minggu, kegiatan selanjutnya adalah menonton film bersama anak dan suaminya, kegiatan rutin yang biasa ia lakukan bersama keluarga kecilnya untuk menghabiskan waktu bersama keluarga di hari minggu.


Suaminya sedang sibuk menghidupkan TV dan memilih film yang akan mereka tonton, sementara anaknya sedang duduk disisi Rita sembari memperhatikan sang ayah bekerja. Rita sejenak membuka ponselnya untuk menunggu suaminya selesai dengan pekerjaannya. Rita membuka aplikasi chatnya, dan mulai melihat-lihat beberapa pesan yang masuk.


Matanya kemudian melirik ke arah chat Arya yang telah tercentang biru, ‘apa Arya sudah kembali?’,


Rita kemudian segera menghubungi Arya dan menaruh ponsel di telinganya, Rita tersentak kaget karena suaminya menarik ponsel yang telah menempel di telinganya dengan tiba-tiba. “ini waktu untuk keluarga, bukan untuk pekerjaan” ucap suaminya telah duduk di sebelah Rita, suaminya tahu Rita menelfon Arya karena ia sempat melirik layar ponsel istrinya itu.


“masss, Arya sepertinya sudah pulang, aku harus segera menghubunginya untuk mengatur jadwal pertemuan dengan orang dari Hardi corp, mereka selalu mendesakku untuk pertemuan itu” ucap Rita memelas pada suaminya.


Suami Rita melepas nafas panjang, Rita selalu terbuka kepadanya untuk semua masalah, termasuk masalah pekerjaan. Ia tahu Arya sudah menghilang 3 minggu yang membuat istrinya selalu memasang wajah lelah setiap pulang bekerja. Setiap Arya pergi, istrinya pasti harus menyelesaikan pekerjaan berkali-kali lebih banyak dari biasa, apa lagi Arya menghilang 3 minggu seperti itu, pekerjaan istrinya pasti menumpuk banyak, ditambah kondisi perusahaan yang menurun karena kehilangan Arya, ia tahu betul itu semua, karena mereka bekerja di kantor yang sama.


Rita kembali menempelkan ponselnya di telinganya.

__ADS_1


“Assalamualaikum, ada apa kakak menelfon suamiku?” tanya Mila dengan nada sinisnya yang Rita mendengus nafas kesal mendengar itu, ‘kenapa dia mengangkat sih?’


“walaikumussalam, mana Arya? kenapa kamu yang angkat?” balas Rita dengan kesal, yang membuat suaminya bingung.


“suamiku lagi tidur, jangan ganggu dia” ucap Mila masih dengan sinis yang membuat Rita semakin kesal,


“kalau Arya sudah bangun, suruh dia menelfonku” jawab Rita, ia kemudian mematikan telfon itu dan melemparnya kesal ke sofa disebelahnya.


“kenapa sayang?” tanya suami Rita yang heran dengan apa yang ia dengar. Rita melihat ke arah suaminya.


"nggak usah dibahas mas, malas aku membahas orang itu” jawab Rita ketus, ia masih terbawa rasa kesalnya pada Mila.


“istri Arya yang angkat telfon tadi?” tanya suami Rita yang memang sudah tahu jika Arya sudah menikah.


Rita memang terbuka pada suaminya, ia menceritakan semua masalahnya pada suaminya tanpa ada yang ia sembunyikan sedikit pun, baginya, lebih baik terbuka daripada suaminya harus tahu dari mulut orang lain tentang masalahnya dengan keluarga Rakarsa, masalah ayahnya di Adinata group dan termasuk pernikahan Arya dan Mila yang membuatnya merasa tidak nyaman untuk bekerja dengan Arya.


“Jika kamu tidak nyaman lagi menjadi sekretaris Arya, kamu berhenti saja, biar aku yang bicara sama dia”


“nggak bisa mas, aku sudah berjanji akan bekerja untuknya selagi dia membutuhkanku, dia sudah menyelamatkan nyawa ibu mas, dan memberikan aku dan ibu kehidupan yang lebih baik seperti sekarang, jika bukan karena bantuan dia, mungkin aku akan kehilangan ibu mas, dan aku akan menjadi perempuan ****** di luar sana, dan kamu tidak akan pernah mencintaiku seperti ini, nyawaku pun tak sebanding dengan apa yang diberikan Arya untukku” ucap Rita yang mulai berkaca-kaca menceritakan itu.


Suami Rita memeluk istrinya untuk memberinya ketenangan, ia tahu betul seperti apa baiknya Arya, diantara Arbi, Ari dan Arya, hanya Aryalah yang tampak paling tulus membantu karyawannya yang memiliki masalah, serta yang paling ramah menyapa setiap karyawan di kantornya.

__ADS_1


Di sebelah suami Rita anak mereka yang masih berumur 2 tahun hanya melirik bingung pada tingkah orang tuanya itu.


Sementara itu, dari ruang tamu, Ibu Rita yang baru saja pulang belanja meneteskan air mata mendengar itu semua, ia paham betul hutang budi anaknya pada Arya, ia bahkan berhutang nyawa pada Arya, jika tidak ada Arya, mungkin ia tidak bisa melihat dunia lagi, dan entah seperti apa hidup putrinya sekarang, apa lagi suaminya juga masih harus mendekam di penjara untuk waktu yang lama, tak dapat ia bayangkan seperti apa Rita menjalani kehidupannya dengan keadaan seperti itu.


__ADS_2