Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Abang atau Suami


__ADS_3

Mila berjalan gontai dari kamar mandi ke ruang makan, ia sejenak duduk di ruang makan untuk meminum segelas air. Dari posisinya duduk, Mila menatap panjang ke arah pintu kamar Arya dan Tomy, rasa takut masih ada di hatinya, ponselnya kembali berdering, Mila segera melihat ponselnya itu, ada nama Irman yang kembali muncul disana yang membuatnya seakan diburu oleh rasa khawatir.


‘apa maunya bang Irman?, emang apa yang bisa ku lakukan untuk menyelamatkan perusahaan?, aku sama sekali tidak mengerti masalah bisnis,’ batinnya kebingungan, Ia kemudian mematikan panggilan itu dan menyimpan ponselnya lagi.


‘ya Tuhan, apa benar perusahaan dalam keadaan tidak baik sekarang?, apa benar cuma aku yang bisa menyelamatkan perusahaan sekarang? apa aku harus pulang dan membantu bang Irman, aku harus gimana sekarang?, bibi dan paman akan kecewa jika aku pulang secepat ini, tapi keluargaku membutuhkanku sekarang, apa aku pergi saja ke Jakarta, sepertinya uangku cukup untuk sekedar membeli tiket pesawat ke Jakarta’ batin Mila lagi.


‘Ya Tuhan, tolong jaga keluargaku, tolong jaga kakek dan ibu, aku tak ingin masalah ini menghancurkan keluargaku, aku tak ingin kehilangan semuanya, jika harus kehilangan rumah, kakek pasti benar-benar akan sedih, dan kesehatan kakek bisa menurun lagi, Aryaaa, kenapa kamu setega ini kepadaku, apa kamu ingin membalaskan perbuatanku dulu kepadamu’ batin Mila menaruh kebimbangan.


“Kamu lagi ngapain Mil?, nyari Arya?” tanya Tomy yang datang dari depan dan hendak masuk ke dalam kamarnya, ia melihat Mila yang duduk dengan wajah kebingungan di meja makan.


“Arya dimana Tom?, kenapa shubuh tadi kalian tidak kelihatan?” tanya Mila pada Tomy dengan nada lemahnya.


“Arya lagi kerja di teras, shubuh tadi kami ke masjid bersama ayah, dan itu, kenapa kamu tampak lelah gitu?” tanya Tomy dengan heran.


“Tom, apa kamu masih membenciku?” tanya Mila yang masih teringat ucapan Irman bahwa teman -teman Arya membencinya.


Tomy sejenak menarik nafas panjang mendengar ucapan Mila, “aku sudah bilangkan seperti apa posisiku sebelum ini” ucap Tomy dengan santai.


“jadi kamu bersikap baik kepadaku seperti ini hanya karena Indra, apa Arya juga begitu sekarang?, apa dia hanya bersandiwara dengan sikap baiknya kepadaku?” ucap Mila dengan mata berkaca-kaca, perasaannya masih terpengaruh oleh ucapan abangnya sendiri, abang yang sangat ia percayai akan melindunginya.


“emang Arya bicara apa sama kamu? apa dia tidak bicara bahwa dia menyayangimu?” tanya Tomy penuh selidik.


“dia bilang dia sayang sama aku, dia akan menggenggam erat tanganku, dia akan…” ucapan Mila kemudian terpotong oleh ucapan Tomy.


“dan kamu tidak percaya dengan ucapannya itu” ucap Tomy dengan santai.


Hati Mila seketika tersentak, ia kembali terombang ambing oleh keadaan, antara percaya pada abangnya atau suaminya sendiri. “aku percaya Arya Tom, tapi,,,” ucapan Mila lalu terhenti.


'aku sayang padamu Arya, tapi kenapa masih banyak hal tentang dirimu yang masih kamu sembunyikan dariku?, apa kamu tidak percaya kepadaku?, apa kamu sengaja menyembunyikan ini dariku untuk menghancurkan keluargaku seperti kata bang Irman?, apa kamu memang ingin kami kehilangan segalanya yang kami punya?’ batin Mila lagi.


“kalau kamu tidak percaya sama Arya, lebih baik kamu mundur Mil, jangan buat Arya kecewa lagi, atau kami para sahabatnya benar-benar akan membencimu seumur hidup kami,” ucap Tomy dengan nada datar.

__ADS_1


“aku sayang sama Arya Tom, jangan minta aku melakukan apa yang tidak bisa aku lakukan” ucap Mila dengan nada gemetar dan mata berkaca-kaca.


“kalau begitu percayalah pada dia, masalah Adinata group sangat berat, jika kamu seperti ini terus, yang ada kamu hanya akan menghancurkan Arya, bukan membantunya” ucap Tomy dengan tenang.


“aku,, aku akan selalu ada disisinya, apa pun yang terjadi, aku tidak akan pergi darinya, sekalipun dia ingin membuangku” ucap Mila dengan yakin.


“Tom, apa kamu tahu masalah perusahaan keluargaku dan perusahaan Arya?” tanya Mila pada Tomy. Tomy melepas nafas panjang seketika, ‘apa Mila tahu masalah itu?, batin Tomy.


“Arya lagi kerja di teras Mil, buatkan dia teh dan bicaralah dengan dia, percayalah pada apa yang dia katakan Mil, jangan buat keadaan semakin memberatkan posisinya, dan jangan berpikir buruk tentang apa yang ia lakukan” ucap Tomy berlalu masuk ke dalam kamarnya.


Mila menarik nafas panjang dan segera bangkit menuju dapur untuk menuruti perkataan Tomy. ‘Ya Tuhan kenapa aku harus ada di posisi ini lagi, kenapa sekarang aku dihadapkan pada pilihan antara abang dan suamiku sendiri’ batin Mila.


Arya sedang asyik duduk di teras depan, ia fokus bekerja di depan laptopnya dengan menikmati suasana di desanya itu, ia sedang merancang sebuah konsep taman kota yang baru saja di kirim dokumennya via email oleh Rita.


Mila menarik nafas panjang melihat punggung Arya disana, ia kemudian mendekat dan duduk di kursi di samping Arya, “mau minum” ucap Mila dengan lembut dengan menaruh teh buatannya di samping laptop Arya.


“kamu membawakanku teh, ada angin apa ini?” ucap Arya dengan nada bercandanya sembari melihat ke arah Mila. Ia kemudian meminum sedikit teh buatan Mila.


“kamu walaupun disini masih tetap aja sibuk bekerja” ucap Mila dengan pelan.


“namanya juga kerjaan Mil, nggak bakalan ada habisnya, apa kamu mau kita jalan-jalan?, jika iya, nanti sore mungkin kita bisa jalan-jalan” tawar Arya pada Mila.


“boleh, bahkan aku senang malah” ucap Mila dengan nada datarnya.


“kenapa kamu bicara kayak gitu?, apa ada masalah?” tanya Arya yang bingung dengan nada datar Mila saat berbicara.


“Arya, apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Mila membuka tujuan pembicaraannya.


“menyembunyikan sesuatu?, emang apa yang aku sembunyikan darimu?” tanya Arya dengan nada bingungnya.


“tentang kenapa kamu berbohong pada ibu soal pekerjaanmu, atau soal kenapa Anjani menemui saat ada masalah, atau juga soal dokter di rumah sakit itu, atau juga,,” ucap Mila seketika terhenti karena Arya menutup mulutnya dengan tangannya.

__ADS_1


"tanyakan saja satu-satu, aku akan menjawabnya untukmu” ucap Arya sembari tersenyum pada Mila dan melepas tangannya yang menutup mulut Mila.


“Apa kamu hanya memanfaatkanku untuk kepentingan perusahaanmu?” ucap Mila dengan penuh penekanan pada Arya.


“kenapa kamu berpikir seperti itu?” tanya Arya dengan kebingungan.


“kamu sama sekali tidak menjawab pertanyaanku Arya” ucap Mila dengan nada kesalnya.


“aku tidak memanfaatkanmu untuk apa pun, aku hanya memanfaatkanmu sebagai istriku dan calon ibu dari anak-anakku nanti” jawab Arya dengan setengah bercanda, ia tidak suka suasana serius yang dibawakan Mila kepadanya, karena ia merasakan ada yang aneh dari pertanyaan Mila itu, ‘apa Mila sudah tahu masalah itu?’ batinnya.


Tiba-tiba saja ponsel Mila kembali berdering, Mila membuka ponsel itu dan terlihat nama Irman disana. Arya menangkap perubahan mata Mila saat melihat ponselnya, mata yang tampak tenang seketika berubah menyiratkan ketakutan atas panggilan itu. Seketika saja Arya merebut ponsel Mila dan melihat siapa yang menelfon untuk kemudian mengangkatnya.


“assalamualaikum bang, ada apa?” ucap Arya dengan sopan, Mila seketika ingin merebut ponsel itu dari Arya, namun Arya menahan tangannya.


Dan suara makian keluar dari ponsel itu, hujatan dan kata-kata kotor silih berganti keluar dari sana, Arya dan Mila saling bertatapan dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Arya segera menutup ponsel itu, ia segera menutup laptopnya dan membereskan dokumenya, ia memberikan laptop dan dokumen itu pada Mila “pegang ini’ ucap Arya dengan singkat dan Mila dengan terkaget menerimanya, Arya menarik tangan Mila yang lainnya untuk ikut dengannya ke dalam mobil.


“Arya, kita mau kemana?” tanya Mila yang kebingungan dengan sikap Arya setelah menerima telfon dari abangnya.


“cari angin segar, agar pikiranmu bersih dari semua kata-kata abangmu itu” ucap Arya dengan santai.


“apa yang dikatakan abangku itu memang benar?. apa kamu ingin menghancurkan perusahaan keluargaku Arya?” tanya Mila dengan penuh emosional.


“ini masalah bisnis Mil, tidak ada hubungannya dengan kita,” jawab Arya dengan pelan dan kemudian menjalankan mobil itu.


“jadi itu benar?” tanya Mila dengan dingin.


“aku sayang sama kamu Mil, apapun yang terjadi nanti kamu tidak akan meninggalkanku kan?” ucap Arya dengan menggenggam tangan Mila, namun Mila seketika menepis tangan Arya yang membuat Arya melepas nafas kasar seketika karena kecewa.


“kenapa Arya?, apa salah keluarga ku?” ucap Mila dengan mata berkaca-kaca.


Arya kemudian mengangkat tangannya di depan Mila dan membuka telapak tangannya tepat di depan istrinya itu, sikap yang membuat Mila menatap dalam ke arah mata suaminya itu.

__ADS_1


“apa sekarang kamu ingin melepas genggaman tangan ini Mil, kamu sudah bilang sama aku kalau kamu tidak akan melepas genggaman tangan ini sekalipun semua keluargamu membenciku” ucap Arya yang tidak memperdulikan pertanyaan Mila. Mila menelan salivanya perasaannya diaduk-aduk tak menentu.


__ADS_2