
“ada hal penting yang ingin ku bicarakan dengan kakek untuk menyelamatkan perusahaan keluarga kita" ucap Irman dengan nada datar pada pak Sarman, ia kemudian mendekat dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
“aku sudah tidak peduli lagi dengan perusahaan itu, kesalahan terbesarku adalah memberikan perusahaan itu kepadamu” jawab pak Sarman masih bernada dingin kepada Irman.
“perusahaan benar-benar sekarat sekarang kek, aku mendapatkan penawaran menarik untuk menyelamatkannya” ucap Irman yang mencoba menggoda kakeknya itu.
Bu Saniah menatap dalam wajah Irman untuk mencari tahu kejujuran di wajah anaknya itu. “penawaran apa maksudmu Irman?” tanya bu Saniah dengan nada suara yang terdengar penasaran.
“aku dengar Adinata group akan melakukan rapat pemegang saham, aku butuh saham dari kakek untuk mendapat dana serta proyek dari Adinata group” jelas Irman dengan nadanya yang mulai serius.
Bu Saniah dan pak Sarman serentak menatap dalam mata Irman untuk mencari tahu maksud laki-laki itu. “apa hubungannya rapat itu dengan perusahaan kita?” tanya bu Saniah pada Irman.
“anak CEO mereka menemuiku dan berjanji akan memberikan dana serta beberapa projek di anak perusahaan mereka untuk perusahaan kita, itu akan sangat menguntungkan bagi kita untuk memperbaiki keadaan perusahaan kita bu” jelas Irman dengan semangat.
Pak Sarman menyipitkan matanya mendengar itu semua, “tidak, tidak bisa, masalah saham di Adinata group adalah bagianku, jangan ikut campur masalah itu” ucap pak Sarman penuh penegasan yang membuat Irman menelan salivanya mendengar itu semua.
“ini untuk menyelamatkan perusahaan kita kek, apa kakek tidak ingin perusahaan kita selamat?” ucap Irman yang tak percaya dengan jawaban kakeknya, padahal ia sudah percaya diri bahwa kakeknya itu akan setuju dengan itu semua.
Bu Saniah menatap Irman dan pak Sarman bergantian, di dalam hatinya, masih menyimpan harapan perusahaan yang membawa nama keluarga mereka itu akan terselamatkan dari pailit, dan terus berkiprah di Negara ini.
“masalah saham itu bagianku, sedangkan masalah perusahaanmu itu adalah salahmu, jangan pernah mencampuri urusanku karena aku tidak pernah mencampuri urusanmu” ucap pak Sarman yang masih penuh penekanan.
Irman melengus nafas kesal mendengar jawaban pak Sarman yang tidak seperti diinginkannya. “apa kakek ingin kehilangan semuanya, ada orang yang sengaja menghancurkan perusahaan kita kek, dan sekarang aku harus menyelamatkan perusahaan keluarga kita dari orang jahat itu” jelas Irman yang kali ini juga penuh penekanan.
“aku menjalankan perusahaan tanpa ada musuh yang bermain kotor kepadaku, jika ada yang merusak perusahaan kita sekarang, itu berarti kamu yang telah berbuat salah duluan” ucap pak Irman sembari memalingkan wajahnya dari Irman. “kakek”.
__ADS_1
“keluarlah, aku tidak mau lagi melihat wajahmu” ucap pak Sarman dengan mada dinginnya yang penuh penekanan.
"tapi kek"
"keluarr" ucap Pak Sarman penuh amarah.
Irman melepas nafas kesal, ia kemudian keluar dengan wajah penuh kemarahan, ‘sial, kenapa orang tua itu sekeras ini, aku sudah setengah gila memikirkan masalah perusahaan, tapi dia dengan entengnya mengatakan ini masalahku’ batin Irman.
Akal dan pikirannya sudah tak sanggup lagi memikirkan jalan keluar atas masalah perusahaan yang dipimpinnya, keuangan selalu minus hampir setiap bulan, hutang kepada bank yang di gunakan untuk menutupi kerugian setahun terakhir sudah hampir jatuh tempo karena tak sanggup lagi untuk dibayar.
Jalan keluar yang diberikan oleh Arnes juga di tentang oleh kakeknya, projek yang ada juga tidak dapat menutupi cost perusahaannya, dan juga projek besar dari Bian corp. hampir mustahil ia menangkan. Pikirannya benar-benar buntu untuk menemukan solusi dari segala permasalahannya saat itu.
Bu Saniah menatap ke arah pak Sarman setelah Irman keluar dari kamar itu, “ayah tidak mau membantu Irman sama sekali, ini masalah perusahaan kita yah, masalah harga diri keluarga kita,” jelas bu Saniah penuh emosional.
“jangan pernah mengkhianati orang-orang yang setia pada Gibran Saniah, mereka adalah orang-orang yang pantang dikhianati, mereka sudah melihat seperti apa Gibran dikhianati, jika kita mengkhianati mereka, maka kita akan menjadi musuh mereka, jangan ulangi kesalahan yang sama seperti pada Arjun dulu” jelas pak Sarman yang membuat bu Saniah melepaa nafas kesal mendengarnya.
“aku tidak mau berdebat Saniah, tunggu saja undangan rapat pemegang sahamnya, dan kamu harus datang memberikan dukungan pada Rahman” jawab pak Sarman yang yang membuat bu Saniah menelan salivanya seketika, ada rasa takut di dalam dirinya untuk menghadiri rapat pemegang saham itu. Rasa takut jika ada di antara pemegang saham itu yang merupakan teman tidurnya dulu, hal yang akan mencoreng nama baik keluarga Rakarsa nantinya.
*
Arya menatap kosong kertas dan laptopnya yang saat ini ada di atas meja hias Mila, ia sama sekali tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Pikirannya masih memikirkan apa yang terjadi di dalam mobil ketika ia mengatakan kata sayang untuk Mila.
Sejenak ia memperhatikan wajah Mila yang sedang bermain ponsel di atas ranjang mereka. ‘aku sadar rasa ini sudah kembali seutuhnya untuk Mila, tapi sampai detik ini sulit sekali rasanya untuk percaya seutuhnya pada Mila, aku bahkan merasa takut jika dia jauh dariku, dan dia kembali mengkhianatiku lagi’ Batin Arya yang menatap dalam wajah cantik istrinya itu.
Mila masih asyik membaca artikel tentang istri yang baik dan sholeha, satu-satunya jalan hidup yang akan ia pilih adalah menjadi istri terbaik bagi Arya, tidak ada lagi hal yang ia pikirkan selain itu. Di tengah sedang asyiknya ia membaca berbagai artikel itu, tiba-tiba saja Arya sudah ada di dekatnya dan menaruh kepalanya di paha Mila. Arya menatap dalam ke arah Mila yang juga menatapnya dengan pandangan kesal.
__ADS_1
“kenapa kamu melihatku seperti itu Mil?” tanya Arya yang heran dengan tatapan kesal istrinya itu.
“kamu mengagetkanku Arya, kenapa tiba-tiba menjadikan pahaku sebagai bantalmu seperti ini?” ucap Mila yang membalas tatapan mata suaminya.
“aku hanya ingin seperti ini, kamu tampak lebih cantik sekarang” ucap Arya dengan nada tenangnya. Mila tersenyum mendengar ucapan Arya, ia kemudian menaruh ponselnya dan menyentuh kulit wajah Arya dengan lembut. “kamu juga terlihat lebih tampan sekarang” ucapnya sembari menyisir rambut Arya dengan jarinya.
“kenapa belakangan ini kamu sering sekali memujiku dengan kata-kata itu?, aku rasa kamu terlalu berlebihan sekarang”
“apa aku salah memuji suami ku sendiri?, aku bahkan ingin lebih dari sekedar memujimu sekarang” balas Mila dengan masih mengusap lembut rambut dan wajah Arya dengan kedua tangannya.
Arya tersenyum melihat wajah Mila. “aku sampai sekarang masih belum percaya dengan apa yang aku lakukan Mil” ucap Arya yang membuat Mila heran seketika.
"maksudmu?”
“aku tidak percaya dengan jalan takdirku seperti ini, setelah apa yang terjadi di masa lalu, sekarang aku ditakdirkan memiliki istri secantik kamu, katakan kepadaku Mil, seberapa yakin kamu padaku” ucap Arya mengusap pelan wajah Mila yang masih di baluti jilbab cream itu, Mila sejenak tersenyum dengan ucapan Arya, ia kemudian menundukkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Arya, sebuah kecupan singkat ia berikan di bibir dan kening suaminya itu, “aku bahkan jauh lebih yakin dari ciuman ini” jawab Mila penuh arti pada Arya.
Arya mengusap wajah Mila yang masih sangat dekat dengan wajahnya, jawaban Mila memiliki makna yang sangat dalam yang bahkan tidak bisa digambarkan dengan kata-kata apa pun.
"kamu benar-benar cantik Mil, apa aku benar-benar menjadi suami dari perempuan cantik ini?” ucap Arya dengan nada pelan yang membuat dada Mila terasa bergetar hebat oleh denyut jantungnya yang berdetak cepat.
Ia menelan salivanya menahan rasa malu dan bahagia atas ucapan Arya yang terdengar indah di telinganya.
“apa aku secantik itu? hingga kamu memuji ku berlebihan seperti ini” ucap Mila yang masih membiarkan wajahnya ada di dekat wajah Arya, deru nafasnya bahkan dapat terasa di wajah Arya.
“kamu bahkan lebih cantik dari itu Mil, dari yang kamu bayangkan, aku bicara ini jujur dari hatiku Mil” ucap Arya yang membuat Mila senyum senang seketika, hatinya terasa berbunga-bungan mendengar itu semua, dirinya terasa melayang bebas diangkasa mendengar pujian dari suaminya itu. Ia kembali memberikan kecupan singkat di bibir dan kening Arya.
__ADS_1
“Arya, aku ingin memelukmu sekarang”