Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Ada Yang Aneh


__ADS_3

“kenapa tidak memakai mobil kakak aja sih dek?” tanya Vanessa yang sudah baru saja masuk ke dalam mobil yang di pinjam Arya.


“nggak apa-apa kak, kalau kita bawa mobil kakak, nanti ada yang nyariin” jawab Arya dengan santai.


“ada yang nyariin? siapa?” tanya Vanessa dengan bingung. ‘orang bank kak’ batin Arya.


Vanessa menatap kesal ke arah Arya yang tidak menjawab pertanyaannya.


“sekarang kita kemana?, menjemput Tomy apa Abel dulu?” tanya Mila dengan nada santainya yang duduk di sebelah Arya.


“Tomy dulu bagusnya, biar Tomy bisa ketemu sama orang tua Abel, biar orang tua Abel bisa percaya Abel ikut dengan kita” jawab Arya sembari menjalan mobil itu.


“bisa percaya?, apa orang tua Abel lebih percaya Abel ikut sama Tomy daripada sama aku dan kak Vanessa?” tanya Mila dengan bingung.


“sepertinya begitu, aku lihat sendiri kemarin betapa percayanya orang tua Abel pada Tomy kemarin ketika aku menemaninya menemui mereka” jawab Arya dengan santai.


“itu rumah sakit seperti punya kalian aja, bisa keluar masuk seenak kalian” ucap Mila dengan membuang tatapan ke sisi jalan posisi duduknya.


“semua bisa diurus sama Karina, jadi gampanglah”,,,


Mila langsung mengalihkan pandangannya kepada Arya setelah mendengar nama dokter Karina, ia teringat pada perubahan ekspresi dokter Karina ketika ia mengatakan bahwa ia adalah iparnya Tomy. ‘apa dokter itu juga memiliki perasaan pada Arya?’ batinnya, ia kemudian menarik nafas panjang dan segera membuang perasaan itu, ‘nggak,, nggak mungkin, diakan pacarnya teman Arya’.


“Apa orang tua Abel sepercaya itu sama Tomy?, apa sama seperti kakek mempercayaimu Arya?” tanya Mila yang mengalihkan pikirannya.


“emang sepercaya apa kakek padaku?” tanya Arya balik bertanya.


“kakek bahkan tidak tahu seperti apa latar belakangmu, tapi dia sudah sangat percaya padamu, bahkan memintaku untuk menikah denganmu” jelas Mila pada Arya,


“dan kamu menangis-nangis menolak permintaannya, bahkan sampai berbuat dosa agar aku pergi dari hidupmu” ucap Arya tanpa beban.

__ADS_1


Mila seketika menatap panjang kepada Arya, “apa untungnya bagimu membuka dosa lamaku Arya? Apa kamu masih membenciku?” ucap Mila menahan rasa kesal dan sedih yang bercampur karena mendengarkan ucapan Arya.


Arya kemudian segera meraih tangan Mila dan menciumnya dengan dalam, “agar kamu ingat kalau aku pernah memberi maaf yang besar untukmu, dan aku selalu menerimamu dengan semua kesalahanmu, karena mungkin di masa yang akan datang, akulah yang akan berbuat kesalahan besar kepadamu Mil, dan aku ingin kamu memberi maaf dan menerimaku seperti yang ku lakukan dulu untukmu” ucap Arya penuh makna pada Mila.


Mila dan Vanessa seketika merasakan ada yang aneh pada jawaban Arya, “udah beberapa hari ini kamu selalu seperti ini Arya, apa ada perempuan lain selain aku?, jawab yang jujur” ucap Mila penuh selidik pada Arya, sementara Vanessa berpikir panjang mencari makna ucapan Arya.


“nggak Mil, hanya kamu satu-satunya di hidupku, hanya kamu” jawab Arya dengan nada yang terdengar jelas kesungguhannya.


Vanessa menarik nafas panjang ketika ingatannya memutar kembali pembicaraannya dan Arya di ruangan Arya. ‘apa ini masalah perusahaan yang dibicarakan Arya saat itu?, ya Tuhan, apa reaksi Mila nanti jika tahu semuanya’ batin Vanessa.


*


Setelah menjemput Tomy, Mereka kemudian segera ke rumah Abel untuk menjemput gadis polos itu, ketika Arya dan Tomy keluar dari mobil, mata mereka membulat seketika, bahkan mereka kesulitan menelan salivanya, 3 buah koper disana tengah berdiri, sementara Abel dan kedua orang tuanya berdiri tak jauh dari koper itu.


“tuhh kan Arya, kamu kemarin memarahiku karena membawa banyak barang, sekarang Abel membawa banyak koper malah” kesal Mila melihat ke arah koper Abel.


Tomy kemudian berjalan menuju teras rumah itu, diikuti Arya, Mila dan Vanessa. Ia kemudian mencium tangan orang tua Abel dan kemudian melirik ke arah Abel, “kamu bawa barang sebanyak ini Bel?”, “iya” jawab Abel dengan sikap polosnya.


“kalian pergi berlima, kalau seperti ini nggak akan muat semua barang Abel ini” ucap ibu Abel yang memperhatikan Arya, Mila dan Vanessa.


Arya menarik nafas panjang ia kemudian menatap kesal pada Abel, “mungkin kamu harus mempacking barang kamu lagi Bel, kita mau berkunjung ke rumah orang tuaku, bukan liburan, bawa saja barang pribadimu, barang yang tidak terlalu penting ditinggal saja, nanti bisa kita beli disana” ucap Arya dengan nada seramah mungkin di depan orang tua Abel.


“Mungkin itu lebih baik Bel,” ucap Ayah Abel mengusap lembut rambut anaknya.


“ayah” ucap Abel dengan kesal.


“benar nak, kamu kan juga harus berbagi tempat dengan yang lain,” bela ibu Abel pada pendapat suaminya dan juga Arya.


“ibuuu, seharusnya mereka nggak usah pergi, biar aku dan Tomy aja yang pergi berdua” ucap Abel memelas manja kepada kedua orang tuanya.

__ADS_1


Mila menatap kesal mendengarkan ucapan Abel. ‘bukankah seharusnya hanya aku berdua yang pergi dengan Arya, itukan kesepakatannya saat itu, kenapa malah aku yang disalahkan disini’ batin Mila menahan kesal.


“eehh, kamu pikir ibu dan ayah akan mengizinkan kalian pergi berdua apa, kalian kan menikah masih sebulan lagi, karena mereka ikut makanya ibu dan ayah mengizinkanmu pergi.” ucap Ibu Abel lagi.


“Bel, jangan begitu, kita kan sudah sepakat perginya sama-sama,” ucap Tomy dengan lembut pada Abel. Ayah dan ibu Abel menatap pada Tomy, mereka memberikan tatapan yang penuh kepercayaan pada Tomy, mereka telah mempercayai Tomy menjaga putri mereka yang poloa itu, apa lagi sikap Abel yang sering kekanak- kanakan, mereka merasa Tomy adalah laki-laki yang bertangung jawab yang bisa menerima segala kekurangan Abel yang mereka sendiri sudah sadar seperti apa.


“tapi aku nggak tahu barang apa aja yang akan dibawa Tom, aku membawa barang yang penting semua” ucap Abel dengan wajah cemberutnya.


‘sebanyak ini penting semua, ya Tuhan, bagaimana mungkin aku bisa bawa Abel mendaki nanti, masa aku harus membawa 3 carrier’ batin Tomy tak percaya.


Sementara Arya hanya bisa menelan saliva, ia bahkan 3 minggu di Sulawesi hanya membawa 1 carrier, dengan sleeping bag, tenda kecil, dan matras yang digantung di luar carriernya.


Arya sejenak melepas nafas panjang, ia kemudian berusaha bersikap tenang dengan membuang perasaan tak percayanya.


“tenang aja Abel, Mila akan membantumu, dia sudah tahu mana barang yang harus dibawa dan ditinggal, aku sudah mengajarinya kemarin” Ucap Arya dengan tersenyum menatap wajah Abel.


Sementara Abel menahan kesalnya mendengar itu, berbeda lagi dengan Mila yang kesulitan menelan salivanya disana. ‘astaga, Arya ini apa-apaan, jelas-jelas Abel masih marah padaku’ batinnya.


.


.


.


.


.


jangan lupa like, komen dan vote ya😉😉

__ADS_1


__ADS_2