
Mila, Abel, dan Vanessa turun menuju Loby penginapan yang tidak terlalu besar itu, di lobi itu, Tomy dan Arya sudah duduk menunggu mereka, Abel seketika berjalan cepat membawa kopernya ke arah 2 laki-laki itu, “apa kalian menunggu lama?, Mila lama sekali dandannya tadi” ucap Abel dengan nada polosnya yang membuat Mila menyipitkan matanya seketika.
“aku pakai cadar, buat apa dandan segala, kamu tuh yang kelamaan di kamar mandi tadi” balas Mila dengan kesal. Abel kemudian memutar badannya dan melihat kepada Mila, ia kemudian tersenyum tipis, “aku lupa kalau kamu pakai cadar, ayo kita ke mobil” ucap Abel langsung berjalan arah pintu lobi itu, sementara itu Arya mendekat pada Mila dan Vanessa, Vanessa kemudian memberikan kunci kamarnya pada Arya setelah melihat Arya memegang kunci kamarnya dan Tomy. Arya kemudian menyelesaikan administrasi dan cek out penginapan itu.
Perjalanan pun dilanjutkan, kali ini sawah luas menghijau menjadi pemandangan yang memanjakan mata mereka, “kalau lihat sawah ini, aku jadi ingat Sulawesi kemarin” ucap Arya dengan singkat.
“emang kamu melihat apa disana?” tanya Tomy pada Arya. Arya kemudian teringat pada sepasang kakek dan nenek yang ia kenal disana, ingatannya kemudian berputar pada kotak kuning pemberian sang nenek, sebuah hadiah pemberian sang nenek untuk istrinya, ‘apa aku harus memberikan hadiah itu untuk Mila?’ batin Arya.
“pelajaran akan kesetiaan” jawab Arya dengan singkat yang membuat Mila menelan salivanya.
Perjalanan 4 Jam dari penginapan telah mereka lalui, mobil yang dikendarai Arya perlahan berbelok meninggalkan jalan raya untuk masuk ke jalan kecil yang kondisinya tidak terlalu bagus. hampir satu jam mereka menyusuri jalan yang terkadang bercampur tanah dan cadas itu, hingga akhirnya mobil itu tepat terpakir di halaman sebuah rumah.
Sepasang suami istri paruh baya yang sedang duduk di ruang tengah rumah itu segera berdiri melihat ke arah halaman rumah mereka. perempuan paruh baya itu berdiri di depan pintu masuk dan melirik dalam ke arah mobil yang terpakir itu, sementara suaminya berdiri tepat di belakangnya.
“ya Allah pak, anak kita pak” ucap perempuan paruh baya itu menangis haru melihat kepulangan kedua anaknya, ia segera berlari cepat pada Arya yang baru saja menutup pintu setelah keluar dari mobil, tanpa basa basi perempuan paruh baya itu langsung memeluk Arya. Tomy yang juga baru saja keluar tersenyum melihat ibunya yang memeluk Arya, ia sadar, ibunya lebih sering mengutamakan Arya dari pada dirinya agar Arya tidak merasa minder sebagai anak angkat di keluarga mereka.
Tomy kemudian mendekat dan memeluk ibunya yang masih memeluk Arya, perempuan paruh baya itu memeluk erat kedua putranya. Pemandangan 3 manusia yang saling berpelukan itu menghadirkan suasana haru disana. Mila, Abel dan Vanessa melihat pemandangan itu ikut terbawa suasana. “ibu rindu sekali sama kalian” ucap ibu Tomy dalam pelukkan kedua putranya.
“kalian benar-benar sudah jauh berkembang sekarang” ucap Ayah Tomy yang sekarang telah berdiri di dekat mereka. Ibu Tomy segera melepaskan pelukkannya pada kedua putranya itu, Arya dan Tomy segera mencium tangan ayah mereka dan kemudian mereka memeluknya laki- laki paruh baya itu bergantian. Tanpa Arya sadari, pipinya sudah basah dengan air mata disana.
__ADS_1
Mila menatap panjang ke arah suaminya itu, dulu ia melihat air mata itu menetes ketika ia menghancurkan hati si pemilik mata itu, dan sekarang ia kembali melihat air mata itu menetes untuk suatu keharuan bahagia si pemilik mata itu.
“Ini siapa nak?” ucap ibu Tomy yang mengelus lembut bahu Abel yang berdiri di dekatnya, Abel kemudian mencium tangan ibu Tomy“Abel bu” jawab Abel dengan lembut.
“jadi ini calon mantu ibu itu ya” ucap ibu Tomy yang membuat Abel merah merona seketika. Tomy pun ikut tersenyum melihat Abel.
Mila dan Vanessa kemudian mendekat pada ibu Tomy dan bergantian mencium tangan ibu Tomy.
Arya segera menghapus air matanya dan mendekat pada Mila yang mencium tangan ibu Tomy, Ia kemudian memegang kedua bahu Mila, “ini Mila bi, menantu bibi yang udah sah” ucap Arya yang membuat ibu Tomy tersenyum, ia kemudian melihat dalam ke arah wajah Mila, “masyaAllah nak, akhirnya ibu bertemu juga denganmu, sejak ibu dengar Arya menikah, ibu ingin sekali melihat dirimu” ucap ibu Tomy yang seketika membuat rasa bersalah menyeruak ke dalam hati Arya dan Mila, setetes air mata lolos kembali dari mata Arya, ia segera menghapusnya dan menghirup nafas panjang, begitupun dengan Mila matanya berkaca-kaca karena rasa bersalah di hatinya.
Sementara Vanessa dan Abel menatap ke arah Arya dengan perasaan yang sama bingungnya, ‘bibi?’
Vanessa kemudian mencium tangan ibu Tomy, “Vanessa bi, aku iparnya Mila”.
Mila kemudian mengusap matanya dengan cepat dan kemudian tersenyum, Abel dan Vanessa mencium tangan laki-laki paruh baya itu secara bergantian, berbeda dengan Mila yang hanya menyalimi ayah Tomy.
“ayo masuk ke dalam, kalian pasti lelah, apalagi jalan kesini juga tidak bagus” ucap Ayah Tomy dengan perasaan senangnya.
“kamu sama Tomy kok nggak bilang dulu mau pulang, kalau kamu bilang kan bibi bisa masak banyak tadi,” ucap Ibu Tomy pada Arya.
__ADS_1
“nggak usah repot-repot bi, nanti mereka juga akan bantu bibi masak kok, kalau bibi masak banyak sendiri nanti bibi capek” ucap Arya pada ibu angkatnya itu.
Vanessa dan Abel menatap panjang pada Mila yang duduk di tengah-tengah mereka di ruang keluarga yang tidak terlalu luas itu, Arya dan Tomy membantu ibu mereka di belakang untuk menghidangkan makanan ringan dan juga minuman. Sementara ayah Tomy mengeluarkan kipas angin agar para tamunya itu tidak kepanasan.
“kenapa Arya memanggil ibunya dengan panggilan bibi?” tanya Abel yang melotot tajam pada Mila,
“kamu tanya sama Tomy aja, Bel, kalau kakak nanti aku jelaskan” ucap Mila yang menyadari rasa kebingungan 2 perempuan di kanan dan kirinya itu.
Arya dan Tomy keluar dari belakang dengan membawa makanan dan juga minuman, “kalian minum dan makan ini dulu ya, kami mengeluarkan barang dulu kita dulu dari mobil" ucap Tomy yang kemudian mengikuti langkah Arya yang telah berjalan ke mobil yang telah terparkir.
Ayah dan Ibu Tomy duduk di depan 3 gadis yang tampak masih canggung itu. “apa kipasnya terasa?, disini memang sangat panas kalau siang-siang gini” ucap ayah Tomy yang melihat kipas tuanya itu berputar.
“terasa kok paman, ini sudah lebih dari cukup“ ucap Vanessa dengan nada sopannya.
“kalian di Jakarta pasti biasa duduk di kursi ya, kalau kami disini lebih sering lesehan aja kayak gini, kalau kalian mau duduk, duduknya ya di depan di ruang tamu” ucap ibu Tomy,
“nggak apa-pa kok bi, kami juga senang duduk lesehan kayak gini” ucap Vanessa lagi.
“Abel, ibu dan bapak minta maaf ya, kemarin nggak bisa ke Jakarta saat acara lamaran kamu, jadi Tomy datangnya cuma ditemani Arya” ucap ibu Tomy dengan lembut pada Abel.
__ADS_1
“nggak apa-apa kok bu, kemarin Tomy juga di temanin sama Mila dan kak Vanessa, orang tuaku juga paham kalau ibu dan ayah juga nggak bisa ke Jakarta” jawab Abel yang membuat Ayah dan ibu Tomy tersenyum mendengar jawaban.
“ibu juga minta maaf ya Mila, bapak dan ibu nggak datang ke pernikahanmu dan Arya, ibu heran juga kenapa Arya tidak mengasih kabar tentang pernikahannya pada kami, padahal ibu ingin sekali melihat pernikahannya” ucap ibu Tomy yang membuat hati Mila tertusuk tajam mendengarnya.