Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Selalu Seperti Ini


__ADS_3

Arya menatap wajah istrinya yang masih terlihat lelah, namun istrinya itu tetap tampak semangat mempersiapkan barang-barang yang akan ia bawa besok ke Vietnam. “kamu yakin Mil?” tanya Arya sembari membantu Mila memasukkan barangnya ke koper.


Mila mengangkat kepalanya menatap mata Arya dengan dalam, ia kemudian mengangguk pelan melihat mata Arya yang menatap lembut kepadanya. Mata itu jelas menggambarkan kekhawatiran. “iya Arya, kamu tenang saja, aku akan baik-baik saja disini” jawab Mila dengan tersenyum, ia berusaha meyakinkan Arya bahwa ia tidak akan kenapa-kenapa saat Arya pergi.


"aku harap Karina mau memberimu izin agar kamu bisa pergi, tapi Ari bilang Karina memarahinya bodoh karena menyuruhmu yang sedang hamil muda untuk ikut denganku ke Vietnam" jelas Arya dengan lemah.


"nggak apa-apa kok Arya, malaikat kecil kita jauh lebih penting dari apa pun" jawab Mila dengan senyuman hangat.


“abangmu gimana Mil?” tanya Arya dengan hati-hati.


Mila menggeleng pelan, “aku nggak mau memikirkannya, Ari juga memikirkan keselamatan keluarga kita, mungkin Arbi dan Tomy juga begitu, aku rasa akan sangat egois jika aku mengabaikan kepedulian mereka kepada kita, aku tidak mau mengecewakan mereka Arya” jawab Mila dengan datar.


Arya menarik tangan Mila yang membuat istrinya itu seketika kaget dengan tarikan Arya. Dalam sekejap, Mila sudah ada dipelukkan Arya, suaminya itu memeluknya dengan erat. “Arya,, ada apa?” gumam Mila dengan pelan.


“maaf Mil, kamu pasti pasti menahan sakit karena ini semua,” gumam Arya menikmati kehangatan tubuh Mila di pelukkannya.


“bukankah kamu juga menahan rasa sakit atas semua kesalahanku dulu, kamu pasti merasakan sakit yang lebih dari ini saat aku seenaknya mempermainkan perasaanmu, sejak aku tahu kamu pangeranku, sejak kamu memberiku kesempatan untuk ada disisimu, aku sudah memutuskan untuk menjadi istri terbaik bagimu, kamu sudah mengenggam tanganku dengan erat disegala keadaan, aku pun akan melakukan hal serupa untukmu, selagi tangan kita masih saling menggenggam, sesakit apa pun itu, aku akan kuat menghadapinya” ucap Mila yang sejenak terhenti, ia mendongakan kepalanya dan menyentuh pipi Arya.


“aku mencintaimu Arya, kamu dan malaikat kecil kita adalah hidupku, jika aku harus memilih antara bang Irman atau kamu dan anak kita, aku sudah pasti akan memilih kalian berdua” ucap Mila dengan matanya yang berkaca-kaca.


Hatinya kecilnya tidak bisa ia bohongi, ketulusan Arya tidak seharusnya ia balas dengan tetap membela abangnya sendiri. Walaupun semuanya masih dugaan Ari, toh ia memang sudah harus memutuskan.


Kata-kata Ari yang mengatakan bawah yang diincar musuh Arya nanti tidak hanya Arya, tapi juga anaknya yang mengalirkan darah Adinata juga akan diincar, hal yang membuat jiwanya tersentak untuk melindungi suami dan calon anaknya.


Mila masih menatap lekat wajah Arya, hingga akhirnya ia merasakan hangatnya bibir Arya di bibirnya, “semuanya akan baik-baik saja Mil, kita akan selalu bersama, menyayangi seperti ini sampai kita tinggal di istana surga kita nanti”


*

__ADS_1


Kehadiran Rena di Adinata group membuat posisi Aliando tidak seberkuasa yang ia harapkan. Gadis itu cukup cerdik mengontrol keuangan Adinata group. Anak perusahaan yang dianggap tidak sejalan dengan konsep bisnis Adinata group, sedang diproses untuk ditutup. Termasuk restoran yang dikembangkan Arnes dibawah bendera Adinata.


Baru 2 hari Rena disana, tapi Aliando sudah dibuat kelabakan olehnya, belum lagi proses audit besar-besaran semua perusahaan dibawah Adinata group yang tengah disiapkan oleh Rena. Orang yang selama ini bermain dibawah perlindungan Aliando dibuat rusuh, mereka tengah berusaha untuk menggagalkan rencana tersebut. Apa yang terjadi di Adinata group tersebut juga ikut membuat Irman gusar di kantornya.


Pagi itu Irman melihat nanar setumpuk dokumen laporan dari stafnya, dokumen itu sudah menumpuk di meja kerjanya. Namun pemikirannya hari itu terasa kusut, waktu 1 bulan yang diberikan Ardian hampir habis, hanya tesisa seminggu lagi, namun dana yang dijanjikan Arnes dari Adinata group tak kunjung menemui titik terang.


‘sabar dulu bro, direksi baru kemarin membuat kondisi perusahaan sedikit berubah, dia memangkas beberapa aliran dana yang tak produktif ke anak perusahaan dan juga aliran dana ke luar dari perusahaan juga di awasi dengan ketat, lo sabar aja, gue pastiin dana itu cair sebelum waktu yang diberikan sepupu lo itu habis’ ucap Arnes saat ia temui semalam.


Irman hanya bisa mengusap rambutnya dengan kasar berkali-kali, keuangan perusahaannya belum stabil. Sayembara Bian corp yang gagal juga ikut membuatnya pikiran panas, karena yang memenang sayembara itu adalah perusahaan 3A Sahabat. Padahal jika ia menang, perusahaannya bisa mendapat dana segar yang cukup besar.


Seorang karyawan Irman masuk ke dalam ruangannya, karyawan itu bergegas berjalan ke arah Irman yang tampak memandang kosong ke arah laptopnya yang terbuka.


“maaf pak, ada kabar buruk” ucap Karyawan itu dengan nafas terengah-engah karena khawatir.


“kabar buruk?”


“di periksa?, atas kasus apa?” tanya Irman yang mulai ikut merasa khawatir atas kabar itu.


“itu,,,itu,,,” ucap Karyawan itu terbata.


“jawab yang jelas” teriak Irman penuh emosi.


“diperiksa soal projek kita pak” jawab Karyawan itu menunduk lemah karena takut.


Irman mengusap kasar wajahnya, jantungnya berdetak cepat tak karuan, “jangan sampai mereka membocorkan semuanya” jawab Irman dengan penuh rasa kekhawatiran.


Irman segera mengeluarkan ponselnya, ia segera menghubungi Rika, memastikan perempuan itu tidak akan membocorkan apa-apa.

__ADS_1


Sejak Ari menggorogoti perusahaanya, Ia kesulitan mendapatkan projek-projek besar dari pebisnis maupun pemerintah. Sehingga cara suap menyuap adalah cara yang ia tempuh untuk bisa mendapatkan projek besar di daerah.


Projek-projek membangun rumah, dan kawasan perumahan keuntungannya tidak sanggup memenuhi biaya operasional perusahaan yang ia pimpin. Irman juga sudah berusaha menutupi semua kegiatan kotornya itu dengan memanfaatkan perempuan -perempuan yang ia percayai untuk mengirim uang-uang kotor itu.


“ada apa sayang?, kenapa menelfonku pagi -pagi gini?” jawab Rika di seberang panggilan Irman.


“kamu udah tahu dapat kabar pemeriksaan pejabat-pejabat itu?” tanya Irman dengan nada tenang.


“pejabat-pejabat apa maksudmu?”


“jika ada yang memeriksamu soal uang yang aku kirim melalui rekeningmu, kamu jangan pernah bawa -bawa namaku, beri saja alasan lain”


Rika yang sedang berada di toilet ruangan Arbi menatap nanar wajahnya di cermin wastafel. “Irmaaannn, apa yang kamu lakukan?, kamu menjebakku?” ucap Rika yang mulai merasakan arah ucapan Irman. Walaupun ia tidak tahu pasti itu apa, tapi ia merasakan itu membahayakan dirinya.


“yang penting jangan bawa-bawa namaku Rika, aku akan melindungimu agar tidak terkena masalah apa pun” ucap Irman sebelum panggilan itu ia tutup, ia harus segera menelfon perempuan lainnya yang juga ia manfaatkan untuk hal serupa.


Rika menelan salivanya, ia merutui Irman yang memutuskan panggilan itu, ia juga merutui dirinya sendiri, membiarkan Irman menggunakan rekeningnya dengan bebas. Selama ini Irman sangat loyal kepadanya, jadi ia tidak masalah lagi jika Irman menggunakan rekeningnya untuk keperluan tertentu. Toh, uang yang ia dapatkan dari Irman juga cukup besar.


Pintu toilet terdengar diketuk 3 kali, “Rika,, kenapa lama sekali?, ayo keluar” suara Arbi terdengar dari luar.


“iya sayang, tunggu sebentar” jawab Rika dengan sedikit berteriak agar terdengar oleh Arbi.


Ia kembali menatap wajahnya di cermin, memperbaiki penampilan agar terlihat seperti biasanya. Arbi sama sekali tidak boleh curiga kepadanya. Rika sedikit tersenyum melihat wajah cantiknya di pantulan cermin. Ia kemudian segera keluar dari toilet.


“kamu lama sekali” rutu Arbi saat Rika keluar dari toilet. “iya maaf, aku membasuh wajahku tadi, jadi harus make up dulu dikit” ucap Rika beralasan.


Arbi hanya diam dengan wajah santai, ia kemudian mengambil kunci mobilnya. “aku antar kamu pulang dulu ya, nanti jam makan siang aku jemput lagi, aku harus menemui beberapa klien dulu” ucap Arbi berbohong, ia hanya ingin perempuan itu tidak berlama -lama di sisinya.

__ADS_1


__ADS_2